
Mobil yang ditumpangi Kenzo dan Alana melaju kencang meninggalkan gudang usang itu.
"Apakah perasaanmu sudah membaik?" tanya Kenzo seraya menoleh ke arah Alana.
Alana mengangguk pelan. "Em, sudah", jawabnya.
"Syukurlah tidak terjadi apa-apa padamu. Andai saja tidak ada CCTV di dalam kamar kita, maka aku tidak tahu kemungkinan apa yang bisa terjadi pada istriku ini." Kenzo menghela nafas lega, karena keputusannya memasang CCTV di dalam kamarnya adalah keputusan yang tepat.
Alana menatap Kenzo dengan mata melotot. "Jadi di dalam kamar..."
"Kecuali kamar istriku", potong Kenzo. Dia seolah tahu apa yang sedang Alana pikirkan.
"Berikan rekaman CCTVnya. Aku tidak percaya sepenuhnya dengan ucapan suamiku:, imbuh Alana.
"Nanti saja, setelah kita tiba di hotel", sahut Kenzo dengan mengusap lembut rambut lurus Alana.
Deg.
Ada perasaan yang sulit diartikan oleh Alana saat ini. Dia merasa nyaman saat Kenzo memberinya perlindungan dan perhatian dengan lembut.
Kenapa kau selalu bersikap seperti ini suamiku? Aku takut semakin jatuh hati padamu. Sementara kau masih sangat mencintai Alexa. Hatiku sakit saat kau berduaan dengannya. Ucap Alana di dalam batinnya. Pandangannya kosong menatap keluar jendela mobil.
"Jangan melamun terus!" kata Kenzo dengan nada lembut.
Alana menoleh dan menatap Kenzo dengan tersenyum. "Aku hanya memikirkan apa yang akan terjadi jika perjanjian kontrak kita berakhir."
Kenzo tersentak mendengarmya. Ekspresinya itu terlihat jelas oleh Alana. "Jangan khawatir, aku tidak akan sedih saat kontrak itu berakhir. Artinya kita dapat menjalani kehidupan masing-masing dengan bebas", tutur Alana yang mencoba tegar.
Alana menunggu Kenzo menyahut ucapannya. Namun setelah beberapa menit menunggu, Kenzo tak kunjung mengatakan sepatah kata. Itu artinya, Kenzo tidak peduli dengan kontrak nikah itu. Atau mungkin dia sudah menunggu waktunya tiba? Alana terus bertanya-tanya di dalam batinnya.
Tidak berselang lama, mobil sudah berhenti tepat di depan pintu masuk lobi hotel.
"Ayo, turunlah", ajak Kenzo seraya memberikan telapak tangannya pada Alana.
__ADS_1
Alana pun turun dari mobil seraya menuntun Kenzo. Sampai kapan dia akan berpura-pura buta? Tanya Alana di dalam batinnya, karena dia tidak berani untuk bertanya langsung pada Kenzo.
Mereka berjalan bersama melewati meja resepsionis. Dan betapa kagetnya wanita yang sedang berdiri di balik meja resepsionis.
"Siang, Tuan dan Nyonya", sapa sang resepsionis dengan gugup. Lalu dia bergegas menghubungi supervisornya.
...---...
Alana berjalan menuntun Kenzo masuk ke dalam lift. Mereka bergandengan mesra layaknya pasangan suami istri yang baru saja menikah.
Alana berdehem memecah keheningan di antara mereka. "Em, itu... Suamiku... mengenaii Diva, apa yang harus kita lakukan?"
"Di proses sesuai hukum yang berlaku", jawab Kenzo yang membuat Alana mendelik.
"Ta- tqpi, dia sahabatku. Aku tidak tega, jika dia mendekam di dalam tahanan." Alana melepaskan pegangannya seraya menjauh dari Kenzo.
"Kenapa dilepaskan?" Kenzo kembali mendekati Alana dan menggandengnya.
"Kamu sudah bisa melihat, jadi tidak perlu di tuntun lagi", elak Alana dengan melepaskan tangannya kembali dari genggaman Kenzo.
Perasaan Alana campur aduk saat ini. Dia tidak ingin merasakan sakit yang teramat dalam, saat Alexa kembali ke sisi Kenzo. "Maaf, tapi aku mau kita menjalani kehidupan rumah tangga ini seperti biasanya, sampai masa kontrak nikah kita itu berakhir", sahut Alana bersamaan dengan pintu lift terbuka.
Kenzo langsung menarik tangan Alana, saat dia berjalan mendahului Kenzo. "Setidaknya lakukan hal ini selama kita masih berada di kota ini", bisik Kenzo.
Alana pun terpaksa menuruti permintaan Kenzo. Dia kembali menuntun Kenzo menuju kamar mereka. Saat mereka tiba di depan pintu, Alana melepaskan gandengannya dan membuka pintu.
Netra Alana melotot kala hendak berjalan menuju kamatnya, dia melihat sosok yang tidak asing baginya sedang memakai bikini dan duduk santai di atas sofa.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Kenzo. Dia lupa untuk berpura-pura buta.
"Sayang... Apa kau sudah bisa melihat?" tanya Alexa yang membuat Kenzo merasa canggung. "Syukurlah kalau kau sudah bisa melihat. Kita bisa segera melakukan pernikahan kita", katanya dengan berjalan menghampiri Kenzo, kemudian dia memeluknya.
"Bukankah kau sudah tahu kalau suamiku tidak buta?" tanya Alana pada Alexa.
__ADS_1
Alexa menghentak lembut tubuh Kenzo. "Apa maksud ucapan Kakak?" tanya Alexa dengan tatapan sinis "Apa belum puas kakak merebut calon suamiku, sekarang Kakak malah menfitnahku!"
"Aku sudah memberitahu pada Papa dan Bibi mengenai suamiku yang tidak buta. Pasti Bibi juga sudah memberitahukan hal ini padamu."
"Memberitahu apa? Kakak jangan berpura-pura lagi. Aku tahu Kakak pasti sudah punya rencana untuk memiliki Kenzo selamanya!"
"Ucapanmu semakin ngawur, aku mau ke kamar dulu", imbuh Alana seraya berjalan menuju pintu kamarnya.
Kenzo yang sedari tadi diam mencoba menahan Alana. "Kau mau kemana?" tahan Kenzo. Alana pun terpaksa membalikkan badannya. "Aku sudah mengingatkanmu untuk tidak menceritakan hal ini pada siapapun. Tapi kenapa saat ini seluruh keluargamu tahu mengenai kebutaanku?"
"Maaf, suamiku. Tapi... "
"Aku kecewa denganmu!" kata Kenzo memotong ucapan Alana. Lalu dia menghentak tangan Alana seraya berjalan meninggalkan kakak beradik itu. Dia masuk ke dalam kamarnya dan mengunci rapat pintu.
Alexa berjalan menghampiri Alana. Lalu bibirnya mendekat ke telinga Alana. "Pulanglah! Biar aku yang menemani Kenzo di sini", bisik Alexa.
Alana membalikkan badannya tanpa menyahut perkataan Alexa. Dia tidak ingin menghabiskan waktunya berdebat dengan ratu drama itu.
"Mau kemana Kakakku sayang?" tanya Alexa.
Alana terus berjalan menuju kamarnya. Namun saat pintu kamarnya terbuka, dia kaget melihat perubahan kamarnya.
"Sekarang ini adalah kamarku, jadi aku bebas mau melakukan apapun pada kamarku sendiri", ucapnya dengan santai. "O, iya satu lagi. Kopermu sudah aku taruh di situ", tunjuknya pada sudut meja TV.
Alana mendengus kasar saat melihat apa yang telah dilakukan Alexa. Dia berjalan menuju meja TV seraya meraih kopernya. Kemudian dia pergi meninggalkan tempat itu sambil menarik kedua kopernya menuju pintu keluar.
Alexa tersenyum puas saat berhasil membuat Alana pergi. "Bye..." ucapnya saat Alana berjalan keluar dari pintu.
Di luar pintu, Roni sudah menunggu. "Mari saya antar ke kamar Nyonya", tawar Roni.
"Tidak perlu. Bantu antar saya ke bandara saja, saya mau pulang", tukas Alana.
"Tapi, kenapa Nyonya?"
__ADS_1
"Untuk apa saya ada di sini? Sementara Alexa, kekasihnya Kenzo juga ada di sini!"
Roni merasa iba atas perbuatan Kenzo pada Alana. Kenapa Tuan Kenzo melakukan hal ini pada istrinya, padahal dia sudah tahu kalau Alana adalah gadis kecil 12 tahun yang lalu. ucap Roni di dalam batinnya. Dia tidak mengerti jalan pikiran Tuannya itu.