Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Menjaga sampai akhir hidup


__ADS_3

Langkah Kenzo terhenti bersamaan dengan Roni datang menyapa ke ruang kerjanya.


"Lapor Tuan. Saya sudah menemukan identitas wanita itu." Perlahan Roni menghampiri Kenzo yang sudah berbalik badan.


Kenzo menatap Roni dengan serius "Siapa wanita itu?" tanyanya.


"Dia adalah karyawan yang telah meremehkan Nyonya Alana. Saya memintanya pergi menemui HRD, namun sepertinya dia tidak terima dengan keputusan HRD dan akhirnya dia memutuskan untuk bertindak gegabah dengan merencanakan penyekapan Nyonya di gudang."


Kenzo mengeraskan rahangnya, emosinya seakan naik ke ubun-ubun. "Segera bawa dia pada pihak yang berwajib!"


"Sudah saya lakukan, Tuan", sahut Roni.


"Bagus!"


"Hm, apa saya boleh ikut campur?" tanya Alana yang sedari tadi menyimak perbincangan atasan dan bawahan itu.


"Honey, bukannya aku mau menolak, tapi biar suamimu ini yang membereskannya. Kamu tinggal tenang dan menyaksikan saja."


"Tapi dengan melakukan itu, dia akan semakin dendam padaku. Dan akhirnya saat dia punya kesempatan lagi, dia tidak akan segan-segan untuk membalaskannya."


Guratan di wajah Kenzo dan Roni menunjukkan mereka sedang memikirkan ucapan Alana.


"Tapi kita harus memberinya efek jera", lanjutnya. "Aku tidak ingin dia melakukan hal itu lagi kedepannya."


"Apa my honey punya solusi?"


"Aku tidak terlalu yakin honey. Tapi kita bisa mencobanya dulu", imbuh Alana.


"Oke, kita ikut saran kamu honey."


Alana menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu kita pergi ke kantor polisi sekarang", lanjutnya.


Kenzo mendekati Alana. "Ayo, honey", sahutnya. Namun sesaat kemudian dia menoleh ke arah sang asisten. "Roni, kamu atur makan bersama seluruh karyawan malam ini."


"Baik, Tuan", sahutnya.


"Oke, kami pergi dulu." Kenzo menggandeng tangan Alana. Mereka melangkah ke luar dari ruangan itu.


...---...


Di dalam sebuah mobil, Sally duduk dengan wajah sendu. Entah sudah berapa banyak air mata yang tertumpah kala dia mengingat kebersamaannya dengan Steve.

__ADS_1


"Kenapa kau cepat sekali pergi!" ucapnya dengan isak tangis.


"Maaf, Bu. Apa Ibu sedang ada masalah?" tanya sang supir ramah.


"Pikirkan urusanmu sendiri!" bentak Sally. Lalu dia kembali menangis


Sementara sang supir sempat kaget mendengar teriakan Sally. Dia pun memilih diam daripada nanti mendapat ulasan negatif dari penumpang yang dia bawa dari TPU itu.


Tiba-tiba ponsel Sally berdering. Sally gegas meraih ponselnya dari dalam tas. "Ramond", ucap suara seraknya kala melihat nama kontak di layar ponselnya. "Kenapa dia menelpon jam segini? Apa dia sekarang ada di rumah?" tanya Sally bermonolog.


"Ha- halo, Pa", ucap Sally saat sudah menggeser tombol hijau itu.


"Mama di mana?"


"A- aku di dalam mobil, Pa." Sally semakin gugup saat Ramond mencecarnya.


"Emangnya mama habis dari mana?"


"Melayat teman, Pa. Dia mengalami kecelakaan mobil!"


"Oke, segera pulang!"


"Baik, Pa", sahut Sally. Setelah itu sambungan telepon berakhir.


"Baik, Bu", sahut pak supir seraya menambah kecepatan mobilnya.


...----...


Alana tersenyum puas setelah menyeleaaikan urusannya dengan wanita yang bernama Trisna. Wanita itu telah meminta maaf pada Alana dan berjanji tidak akan mengulangi hal yang sama. Alana juga telah menghubungi kedua orang tua Trisna sebagai saksi pernyataan putri mereka.


Awalnya Kenzo keberatan untuk melepaskan Trisna, karena tindakan wanita itu termasuk tindakan kriminal. Namun Alana mengatakan tidak ingin merusak masa depan seseorang hanya karena rasa dendam sesaat.


Kenzo tahu sang istri berhati baik, mungkin itu salah satu alasan kenapa dia mencintai Alana. Namun Kenzo khawatir orang lain memanfaatkan kebaikan sang istri. Aku akan menjagamu sampai akhir hidupku. Ucap Kenzo di dalam batinnya. Netranya tidak dia lepaskan dari menatap wajah cantik Alana, yang sedang menatap ke luar kaca jendela mobil.


Mobil yang mereka tumpangi berhenti di halaman luas milik Kenzo.


"Pak Heri, siapkan mobil untuk jam 7 malam nanti."


"Baik, Tuan", sahut Heri saat Kenzo dan Alana turun dari mobil.


Kenzo tak lupa menggandeng mesra tangan sang istri kala memasuki rumah mewah miliknya itu. "My honey, aku menantikan kado spesial darimu", bisik Kenzo di telinga Alana.

__ADS_1


Alana melangkah dengan gugup. Walaupun dia belum tahu apa yang sebenarnya akan di minta oleh Kenzo nantinya, namun pikirannya tertuju pada satu hal. Dia sama sekali belum siap, jika Kenzo benar-benar memintanya.


"My honey kenapa melamun? Waktunya masih lama, jadi jangan terlalu dipikirkan", kata Kenzo yang membuat Alana semakin gugup.


Tanpa terasa mereka sudah berada di depan pintu kamar. Kenzo masuk lebih dulu di susul Alana di belakangnya.


"Owh, iya satu hal lagi. Aku mau kita tidur satu ranjang", katanya yang membuat tangan Alana terlepas dari handle pintu.


"A- apakah itu harus honey?"


Kenzo melangkah mendekati Alana. "Apakah my honey belum menerimaku sebagai suami?"


"Bu- bukan seperti itu maksudku. Aku khawatir my honey akan terganggu dengan keberadaanku, karena sudah terbiasa tidur di kasur king size seorang diri."


"Justru itu, honey. Aku ingin membiasakan diri tidur bersama istriku."


Alana menelan salivanya dengan susah payah. "Baiklah", jawabnya dengan tersenyum canggung.


Kenzo tersenyum puas mendengar jawaban dari Alana. "Aku mandi dulu. Mungkin sebentar lagi ada yang akan mengantarkan dress yang akan istriku pakai, terima saja ya", imbuh Kenzo.


"Oke", sahut Alana singkat.


Lalu Kenzo berjalan menuju kamar mandi. Tidak berselang lama pintu kamar di ketuk seseorang. Alana langsung membuka pintu, karena dia yakin bahwa orang itu adalah suruhan Kenzo


"Pak Roni", ucap Alana saat melihat Roni sedang memegang paparbag ditangannya.


"Ini Nyonya." Roni menyodorkan paperbag pada Alana.


"Terimakasih", sambut Alana dengan muka cengo.


"Sama-sama, Nyonya. Kalau begitu saya pamit."


Alana mengangguk sebagai jawaban. Lalu dia menutup rapat pintu seraya menenteng paperbag ditangannya. "Sepertinya ini gaun yang dikatakan suamiku", katanya saat tangannya menyeruak masuk ke dalam paperbag. "Wah, cantik sekali." Netra Alana berbinar melihat gaun merah muda berbahan sutra itu.


Sesaat kemudian perhatian Alana teralihkan pada suara pintu kamar mandi yang baru saja di buka. Dia menatap Kenzo yang keluar dari dalam kamar mandi dengan bertelanjang dada.


"Owh, gaunnya sudah datang", ucap Kenzo santai seraya berjalan mendekati Alana. Kenzo tidak menyadari ekspresi malu Alana. "Apa my honey sudah mencobanya?"


"I- iya honry, nanti aku coba", jawabnya sembari memalingkan wajah.


"Kenapa my honey tidak menatapku?" goda Kenzo, yang semakin membuat Alana semakin salah tingkah.

__ADS_1


"Hm, aku mandi dulu", sahut Alana seraya berjalan terburu-buru menuju kamar mandi.


"Oke, my honey. Aku memunggumu", lanjut Kenzo dengan tersenyum. Perasaan cinta yang baru saja tumbuh di dalam hatinya seolah membuatnya tak ingin jauh dari Alana..


__ADS_2