
Billy mendengus kasar kala putranya tak kunjung memberi kabar padanya.
"Anak ini tidak bisa diharapkan!" ucapnya kesal. Netranya tiada henti menatap ke luar jeruji besi, barangkali ada seseorang yang datang untuk menemuinya.
Tiba-tiba petugas datang menghampiri, seketika guratan di kening Billy berubah. Kini lengkungan di sudut bibirnya mulai muncul. "Akhirnya", gumamnya seraya menatap lekat petugas itu.
"Bona!" teriak petugas kala memanggil nama tahanan yang bersama dengan Billy.
Senyuman di wajah Billy memudar. "Pak, tunggu sebentar", ucapnya kala petugas akan membawa Bona.
"Ada apa?"
"Apa ada orang yang datang menemuiku?" tanya Billy penuh harap.
"Jika ada, aku pasti sudah memanggilmu! Jangan cari alasan, aku tahu apa niatmu!"
"Saya bertanya baik-baik, Pak. Jangan emosi dong!" balas Billy berteriak kala petugas pergi begitu saja. "Awas saja kalau aku sudah keluar dari tempat ini, akan aku buat kalian semua menyesal!' gumamnya dengan tatapan tajam.
...----...
Di ruang kerja Kenzo, Alana sedang merapikan beberapa berkas milik divisi Accounting yang sudah selesai dia kerjakan. Namun saat Alana akan beranjak dari posisinya duduk, seseorang membuka pintu tanpa mengetuk. Hampir saja dia marah, karena prilaku tidak sopan orang yang membuka pintu.
"Honey... " panggil Alana seraya menghampiri Kenzo.
"Apa kau merindukanku, honey?" tanya Kenzo kala melihat senyuman manis di wajah Alana.
Alana mengangguk. "Hm, iya honey."
"Aku juga sangat merindukanmu, honey." Kenzo memeluk erat tubuh ramping Alana. "Maaf, telah menunda bulan madu kita", ucapnya kemudian bersamaan dengan pintu di buka.
Roni kelabakan kala dirinya masuk tanpa izin. Alhasil dia melihat adegan mesra Kenzo dan istrinya. "Maaf, Tuan. Saya salah", ucapnya seraya keluar.
"Roni sudah pergi", kata Kenzo kala Alana masih saja menyembunyikan wajahnya di dada bidang Kenzo.
Alana menyentak lembut Kenzo dengan tersipu malu. "A- aku hendak pergi ke pantry, apa my honey butuh sesuatu?" tanya Alana dengan rasa gugup, karena ini pertama kali mereka sangat dekat setelah empat bulan masa pernikahan mereka berlalu.
"Aku hanya butuh my honey menemaniku di sini."
"Hm, iya. Tapi apa my honey mau kopi atau yang lainnya, biar aku buatkan."
__ADS_1
"Tidak perlu!" tolak Kenzo dengan lembut. "Tadi kami sudah ngopi di bandara."
"Owh, gitu. Hm, bagaimana dengan masalah di Bali, apa semuanya sudah selesai?" tanya Alana untuk menutupi rasa gugupnya.
"Sudah selesai, honey. Aku juga sudah mengatur waktu bulan madu kita", sahut Kenzo dengan raut wajah bahagia, namun berbeda dengan Alana. Dia semakin gugup kala mendengar kata bulan madu.
"Owh, kapan?"
"Nanti juga honey tau", sahut Kenzo seraya mengedipkan mata. "Sebentar lagi aku pergi ke ruang rapat, tunggu aku untuk makan siang ya."
"Oke, honey", jawab Alana dengan bernafas lega, setidaknya Kenzo tidak berada dalam ruangan itu. Jika tidak kondisi jantung Alana pasti tidak aman.
...---...
Beberapa jam kemudian.
Berita besar kembali tersiar, yakni mengenai saham perusahaan milik orang tua Alana yang tiba-tiba anjlok. Kenzo gegas mencari tahu penyebabnya.
"Bagaimana honey?" tanya Alana dengan rasa khawatir.
"Tenang honey, aku akan segera menemukan penyebabnya", sahut Kenzo dengan wajah serius. "Sepertinya orang itu sudah menunjukkan dirinya, dia ingin menyerang perusahaan di mana aku telah menanamkan modal."
Roni yang duduk di sisi Kenzo manggut-manggut, sementara Alana menatap bingung Kenzo dan Roni.
Kenzo mengusap kasar rambutnya. "Kenapa Paman Baron melakukan ini?" tanya Kenzo bergumam.
"Apa tindakan kita selanjutnya, Tuan?" tanya Roni kala melihat Kenzo membisu dengan tatapan sendu.
Dalam pikiran Kenzo terlintas kenangan antara Papanya dan Baron. Dia tidak pernah melihat keduanya bertengkar, bahkan mereka selalu tertawa bersama saat sedang duduk sembari menikmati secangkir kopi. "Kenapa?" Kenzo kembali bergumam kala dirinya tidak percaya bahwa orang terdekat yang telah mengkhianati Papanya.
"Tuan..." panggil Roni yang berusaha membuat Kenzo sadar dari lamunannya.
Alana tidak tinggal diam. Dia melangkahkan kakinya mendekati Kenzo. "Honey, apa masalah ini mengganggu pikiranmu?"
"Honey, saat ini kau adalah orang terdekatku. Apa kau juga akan mengkhianatiku?"
Alana langsung mengusap lembut pipi yang tidak begitu mulus itu, karena sisa cukuran rambut di wajah. "Honey, aku bukan wanita sempurna. Tapi aku masih bisa membedakan mana yang baik dan buruk", sahut Alana yang melupakan keberadaan Roni.
"Aku percaya padamu, honey."
__ADS_1
Senyum manis di wajah Alana membuat Kenzo sadar, bahwa dirinya hampir saja kehilangan akal sehatnya dan melakukan tindakan balas dendam.
"Roni, berikan semua bukti-bukti yang kita punya pada pihak yang berwajib!" titah Kenzo. Dia yakin Baron akan menerima ganjaran atas apa yang telah dia lakukan pada orang tua Kenzo.
"Baik, Tuan. Kalau begitu saya pamit." Roni gegas melangkah ke luar.
Sementara Kenzo tetap mengajak Alana pergi makan siang. Dia tidak ingin masalah yang terjadi membatalkan janjinya.
"Apa honey yakin kita makan di luar?" tanya Alana memastikan.
Kenzo menarik tangan Alana dan menaruhnya dipinggangnya. "Aku akan selalu menepati setiap janji yang aku ucapkan padamu. Jadi aku harap my honey tidak akan mengkhianatiku!"
Dagu Alana terangkat saat menatap Kenzo. "Aku akan berusaha tetap setia padamu, honey."
Senyum di wajah Kenzo begitu lebar, lalu dia menghapus jarak diantara dirinya dan sang istri. "Honey..." panggilnya dengan lembut. Lalu dia mengecup singkat bibir Alana.
Dia selalu begitu, hanya menciumku sebentar saja. Ucap Alana di dalam batinnya. Entah kenapa buku novel yang dia baca kemaren membuatnya ingin segera mempraktekkannya.
"Honey, kenapa?" tanya Kenzo yang bingung melihat ekspresi Alana.
"Ah, bukan apa-apa", jawabnya cepat. "Ayo, kita pergi makan", lanjutnya mengalihkan perhatian Kenzo.
Mereka berjalan menuju pintu keluar. "Honey, apa perusahaan Papa akan membaik?" tanya Alana saat membuka pintu.
"Untuk saat ini mungkin Ayah mertua akan sulit menyelesaikan masalah di perusahaan. Tapi aku janji akan membantu Ayah mertua."
"Terimakasih, honey."
Kenzo mengernyit. "Untuk apa?"
"Karena kau mau membantu perusahaan Papa", sahut Alana seraya masuk ke dalam lift yang terbuka.
"Aku ini menantunya, mana mungkin aku tega membiarkan Ayah mertuaku kesusahan."
Alana tersenyum manis sebagai balasan. "Aku mencintaimu", ucap Alana spontan sebagai ungkapan rasa kagumnya pada sang suami.
Cup.
Kenzo kembali mengecup bibir Alana, namun kali ini berbeda. Kenzo mengecup bibir sang istri begitu lama, hingga ciuman itu menuntut lebih.
__ADS_1
Begini toh rasanya. Ucap Alana di dalam batin, kala dia mempraktekkan isi buku yang sempat dia baca.
Kenzo hampir me*umat kembali bibir sang istri, jika saja pintu lift tidak terbuka. Sial. Rutuk Kenzo di dalam batinnya.