
Dalam sekelebat jari Alexa menghapus pesan yang baru saja dia kirim.
"Aku hanya ingin menanyakan tentang ini!" Alexa buru-buru menunjukkan artikel yang sempat dia baca, untuk mengalihkan perhatian Kenzo.
Dan benar saja Kenzo penasaran dengan apa yang dikatakan Alexa. Dia meraih ponsel Alexa dan membaca artikel yang dimaksudnya. Hanya dalam sekejap, dia sudah mengembalikan ponsel Alexa.
"Cepat sekali! Apa kau sudah selesai membaca?" tanya Alexa yang tidak percaya kalau Kenzo telah membacanya.
Tak ingin membahasnya dengan Alexa, Kenzo mengalihkan perhatiannya pada sang asisten. "Roni, coba kamu cari tahu siapa yang sudah menyebar berita itu!" titah Kenzo.
"Baik, Tuan", jawab Roni tanpa tahu berita apa yang Kenzo maksud.
Lalu Kenzo pamit pada sang mertua, sementara Roni gegas mendekati Alexa. Dengan gerakan tangan cepat, dia meraih ponsel tanpa seizin pemiliknya dan buru-buru membaca artikel yang di bahas Kenzo.
"Hei! Kembalikan ponselku!" pinta Alexa dengan wajah cemberut.
"Nih!" kata Roni tanpa mengucapkan terimakasih.
Alexa gegas menyimpan ponselnya. "Aku akan melaporkanmu pada Lembaga perlindungan wanita!" ancam Alexa yang membuat Roni dan Ramond yang sedari tadi mendengar perdebatan mereka sama-sama mendelik. "Karena kau telah mengambil apa yang bukan milikmu, kau juga sudah membuatku merasa tidak nyaman!" terang Alexa.
Mendengar perkataan Alexa, Roni dan Ramond menatap Alexa dengan muka cengo. Lalu Roni dan Ramond menoleh hingga saling tatap.
"Pak Roni, tolong bantu saya", pohonnya dengan nada lirih.
"Bapak kenapa? Apa jantung bapak sakit lagi?" tanya Roni panik.
Alexa pun sama paniknya. "Papa kenapa?" tanyanya dengan mata melotot.
"Bantu nikahi putri saya ini", lanjut Ramond.
"What?"
"Apa?" teriak Roni dan Alexa hampir bersamaan.
"Jika di dunia ini hanya tersisa dia seorang!" tunjuk Roni pada Alexa. "Maka saya lebih baik melajang seumur hidup!" tegasnya.
"Apa papa tega putri cantik papa ini dinikahi pria tak tahu malu ini?" tanya Alexa dengan ledekan. "Jika di dunia ini tidak ada pria selain asisten belagu ini, maka Alexa akan pindah ke dunia lain!" lanjutnya dengan penuh kebencian.
Ramond tak bisa berkata-kata lagi. Rasa saling benci keduanya membuat Ramond sulit untuk menyatukan mereka.
"Maaf Pak. Saya harus pamit, karena Tuan Kenzo sudah menunggu", ucap Roni menghindar.
__ADS_1
"Owh, oke kalau begitu", sahut Ramond. "Tapi tolong pikirkan lagi apa yang saya katakan tadi", pinta Ramond yang terus berusaha menjodohkan Alexa dengan Roni.
"Sekali lagi saya minta maaf, Pak. Hal itu tidak akan mungkin terjadi. Saya harap bapak buang jauh-jauh pikiran itu", pintanya seraya berjalan meninggalkan Ramond dan Alexa.
"Papa" rengek Alexa memanggil Ramond. "Alexa gak mau dijodohkan sama pria yang tak punya hati itu!" tukasnya.
Suara rengekan Alexa membuat Ramond pusing. "Iya, iya, papa tahu", jawab Ramond, namun dia masih berencana mencarikan jodoh untuk putrinya itu. Padahal putrinya baru berusia 20 tahun dan masih berstatus mahasiswa.
...---...
Sementara di tempat lain, Ayana sedang duduk santai sembari menonton video bayi yang tampak sangat cute saat bibir mungilnya menyebut kata mama dan papa.
"Kamu lagi nonton apa sayang, dari tadi aku lihat senyum-senyum sendiri?" tanya suami Ayana seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Lihat deh!" pinta Ayana dengan menggeser tubuh rampingnya agar suaminya ikut menonton. "Lucu kan?" tanyanya dengan tatapan berbinar.
"Hem, iya. Tapi entar pasti lebih lucu anak kita", sahutnya yang membuat Ayana tersenyum lebar. "Sayang, bagaimana kalau aku gak jadi pergi ke Bali?" tanyanya mengalihkan perhatian Ayana, karena dia sama sekali tak tertarik dengan video yang ditunjukkan Ayana.
"Jangan dong. Entar papa marah, kalau kamu gak jadi pergi."
"Tapi aku gak tega ninggalin kamu sendirian di sini", lanjutnya dengan memelas.
Tiba-tiba tangan kekar suami Ayana melingkar di perut kecilnya. Sontak Ayana menepisnya dan berbalik menghadap sang suami. "Tolong jangan lakukan itu!" pinta Ayana dengan tatapan kesal.
"Maaf, sayang. Tadi itu aku terbawa suasana."
Tanpa mengucapkan sepata kata Ayana meraih ponselnya dan beranjak dari posisinya berdiri.
Pria bertubuh tinggi itu menatap kepergian Ayana dengan tatapan sendu. "Sampai kapan kau akan menolakku?" tanyanya dengan nada lirih. Lalu dia meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.
...---...
Di dalam sebuah mobil, Kenzo duduk sambil fokus mengetik sesuatu di layar ponselnya.
"Oke, beres!" katanya dengan tersenyum puas. "Roni, apa jadwal saya besok?" tanyanya saat memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.
"Maafkan saya Tuan. Saya lupa memberitahu kalau besok Tuan ada rapat di Bali", kata Roni dengan gugup. Dia khawatir Kenzo akan marah besar padanya.
"Jam berapa?" tanya Kenzo santai yang membuat Roni bingung.
"Jam 10 pagi Tuan. Tapi tiket Tuan sudah saya pesan berangkat jam 8 malam ini", jawab Roni dengan cepat. Syukurlah dia tidak marah. Ucap Roni di dalam batin.
__ADS_1
"Oke! Kau juga harus ikut!"
"Baik, Tuan." sahut Roni sembari fokus menyetir.
Jalanan yang mulai ramai, karena jam makan siang yang hampir habis membuat Roni berdecak kesal. "Kenapa sih mereka harus ke luar di jam yang sama?" gerutunya.
"Itu bukan salah mereka", jawab Kenzo sembari mengotak atik laptopnya.
Sontak Roni melirik Kenzo melalui spion mobil.
"Kita yang salah!" lanjut Kenzo yang membuat Roni semakin bingung. "Harusnya kita jangan ke luar di jam segini."
Roni manggut-manggut. "Owh, begitu ya Tuan", sahut Roni tanpa memperpanjang masalah itu. Dia tahu kondisi Kenzo sedikit tidak stabil sejak kehilangan Alana.
Sepanjang perjalanan menuju kantor tak ada lagi perbincangan di antara mereka, kini alunan musik yang mengisi keheningan di dalam mobil.
...---...
"Kita sudah sampai Tuan", kata Roni saat melihat Kenzo masih fokus dengan laptopnya.
"Oke", jawab Kenzo dengan menghela nafas. Lalu dia turun dari mobil.
Roni pun ikut turun dari mobil dan dia mengejar langkah Kenzo.
"Roni, tadi saya kirim email. Print dan segera antar ke meja saya!" titah Kenzo saat masuk ke dalam lift.
"Baik, Tuan", jawab Roni sembari menekan tombol angka lantai yang ingin di tuju.
"Tuan, sepertinya ada yang ingin bertemu dengan Tuan", kata Roni bersamaan dengan pintu litt terbuka.
"Siapa?" tanya Kenzo seraya berjalan ke luar lift.
"Tuan sudah sangat mengenalnya", jawab Roni bak sebuah teka teki.
Kenzo menatap tajam ke arah Roni. Dia paling tidak suka di buat penasaran. "Apa kau sudah tidak menginginkan pekerjaanmu lagi?" tanya Kenzo bernada ancaman.
"Itu orangnya Tuan", tunjuk Roni pada seorang pria yang sedang menatap mereka dengan tersenyum.
Kenzo terbeliak menatap pria dihadapannya. "Apa urusanmu datang ke mari, ha?" tanyanya dengan nada tidak ramah.
"Hai, Zo. Lama tak bertemu kamu makin garang aja!" seloro pria itu.
__ADS_1