Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Paman Kenzo di tahan


__ADS_3

Di dalam ruang rapat, Kenzo mempresentasikan sebuah wacana yang harus di capai perusahaan guna mendongkrak pertumbuhan perusahaan di bawah naungan mereka. Baru saja masuk pada point pertama seseorang menerobos masuk ke dalam ruang meeting.


"Maaf semuanya, saya datang tanpa di undang", ucap pria bertubuh tegap namun tetlihat tidak muda lagi. Dia melangkah ke depan dan berdiri tepat di samping Kenzo. "Mungkin beberapa dari antara kalian ada yang mengenal saya. Tapi saya tetap akan perkenalkan diri", lanjutnya dengan rasa percaya diri. "Saya Alferd Thompson."


Seluruh karyawan Kenzo terperangah mendengar nama belakang pria itu, hingga ruang rapat yang sebelumnya sunyi itu mulai ramai.


"Tenang... Tenang", kata Alferd kala kehadirannya berhasil mencuri perhatian.


"Untuk apa paman kemari?"


Alferd menoleh ke arah Kenzo, lalu dia tersenyum. "Harusnya kau tanyakan dulu kabar pamanmu ini, bukankah kita sudah lama tidak bertemu!"


"Untuk apa aku menanyakannya lagi, kalau aku bisa melihatnya sendiri. Dan tampaknya keadaan paman sangat baik", imbuh Kenzo. Namun Alferd hanya membalas dengan berdecih. "Apa tujuan paman datang kemari?"


Terdengar gelak tawa Alferd. "Semua yang ada di sini, ada yang bisa bantu jawab?" Alferd menatap karyawan Kenzo satu persatu.


Tidak ada yang berani angkat bicara. Mereka menunduk dengan mulut terkunci.


Alferd menoleh pada salah satu karyawan Kenzo yang baru saja mengangkat kepalanya. "Kamu!"


"Baik, Pak", jawabnya. "Menurut saya Pak Alferd adalah pewaris group Thompson setelah orang tua Pak Kenzo tiada."


"Kamu benar sekali! Katakan namamu siapa, aku akan segera mencatatnya."


Segera para karyawan mengangkat kepalanya. Mereka merasa bingung dengan apa yang mereka dengar.


"Saya Freddy, Pak."


"Terimakasih Freddy, silakan temui HRD setelah meeting ini selesai."


"Baik, Pak", jawab Freddy dengan tersenyum.


"Baiklah, saya tidak akan membuat kalian semua bingung", Alfert berjalan mondar mandir seraya menatap para karyawan. "Saya adalah pewaris group Thompson. Jadi saya akan mengambil alih kepemimpinan perusahaan."


"Atas dasar apa paman mengatakannya?"


Jentikan jari Alferd membuat Freddy bangkit dari tempat duduknya dan memberikan pada Alferd sebuah dokumen.

__ADS_1


"Kepemilikan saham perusahaan ini, jelas tertulis di sini", kata Alferd seraya mengangkat dokumen ditangannya.


Roni tersenyum sinis seraya menghampiri Alferd. "Apa Pak Alferd bisa membaca dengan benar?"


Netra Alferd melirik tajam ke arah Roni. "Kau tidak punya hak bicara di sini!"


"Dia perwakilanku. Apa paman keberatan?"


Tawa Alferd menggelegar di dalam ruangan itu. "Ha...ha...ha... Kau masih dalam gendonganku sewaktu pamanmu ini menjalankan bisnis. Jadi apa pantas dia berhadapan denganku!" Seketika raut wajah Alferd berubah garang.


"Cih, kalau begitu paman tidak sebanding dengan asistenku ini", cibir Kenzo. "Coba paman baca lagi dokumen yang ada di tangan Paman."


Gegas tangan kekar Alferd membuka dokumen. Netranya melotot kala membaca isi dokumen di dalam map. "Apa ini? Kenapa isinya seperti ini?" Alferd melempar kasar dokumen ditangannya pada Freddy.


"Ta- tapi saya sudah mengeceknya ulang pagi ini, Pak", sahut Freddy dengan rasa gugup. Lalu dia mencoba mengingat kemungkinan celah yang tidak sengaja dia lakukan. "Jangan-jangan... " Freddy melotot seraya menoleh ke arah Roni yang sedang menyeringai.


"Semua sudah jelas, jadi buat apa paman di sini?"


Alferd mengepalkan tangannya, karena semua rencananya telah gagal. "Jangan merasa senang dulu. Sebentar lagi kau akan mendengar berita yang bisa membuat jantungmu tidak aman. Aku sarankan kau bersiap-siaplah, agar apa yang telah dialami orang tuamu tidak terjadi padamu!" Alferd menyeringai seraya beranjak dari posisinya berdiri.


"Tunggu dulu, Paman!" Kenzo menatap Alferd dengan tersenyum. "Apa paman punya waktu sebentar lagi."


Tidak berselang lama pihak yang berwajib masuk ke dalam ruang meeting. "Selamat pagi, kami datang membawa surat penahanan atas nama Alferd."


"Lelucon apa ini? Hei, Kenzo aku bukan anak kecil yang bisa kau permainkan!"


"Pak Alferd, anda kami tahan!"


"Jangan coba-coba menyentuhku! Apa kalian tidak kenal dengan group Thompson? Aku ini pewarisnya!" Alferd berteriak seakan kehabisan akal, hingga pihak yang berwajib memaksanya ikut.


"Singkirkan tangan kalian! Aku harus menelpon pengacaraku dulu!" Alferd semakin menggila dan tiada henti berceloteh, namun pak polisi tidak menghiraukan ucapannya, mereka membawanya ke luar dari kantor Kenzo.


Setelah Alferd di bawa ke luar. Roni langsung menahan Freddy yang mencoba melarikan diri. "Kau punya dua pilihan! Menjadi saksi dan kau selamat, atau kau kabur namun tak lama lagi kau akan di tahan pihak yang berwajib!"


Freddy bingung menentukan pilihannya. Tatapan sinis para rekan kerja seolah membuatnya tidak punya kepercayaan diri lagi. "Pak Roni, jika saya jadi saksi, apakah saya masih tetap bekerja di sini?"


"Menurut kamu?"

__ADS_1


"Kalau begitu, aku lebih baik memilih di tahan. Mungkin kalian tidak tahu siapa yang selama ini mendukung Pak Alferd." Freddy beranjak dari posisinya dan berjalan meninggalkan ruangan itu.


Kenzo menahan langkah Roni saat dia akan pergi mengejar Freddy. "Biarkan saja!"


"Baik, Tuan."


"Rapat kali ini di tunda hingga minggu depan. Saya harap kalian sudah punya jawaban atas pertanyaan saya tadi." Kenzo meninggalkan ruang rapat dengan ekspresi kesal. Dia tidak menyangka sang Paman masih saja berbuat hal kejam untuk memuluskan niatnya.


"Roni, apakah bukti-buktinya sudah diserahkan?"


"Sudah Tuan. Hanya saja orang yang mendukung Pak Alferd tidak sesederhana itu."


"Aku tahu, dia juga telah membebaskan putranya di Bali", imbuh Kenzo saat membuka pintu ruang kerjanya.


"Apa? Albert sudah bebas?"


Kenzo menganggukkan kepalanya. "Ayah Albert bukan orang sembarang yang bisa membuat perusahaan Papaku goncang. Tapi dia punya kebiasaan buruk." ucap Kenzo seraya duduk di kursi kerjanya.


Roni menatap serius ke arah Kenzo, sambil menanti ucapan Kenzo selanjutnya.


"Dia suka tidur bersama banyak wanita."


Roni mendelik mendengar ucapan Kenzo. "Ayah dan anak sama saja!"


"Dia sendiri sudah mengatakannya, like father like son. Kau juga pasti tahu tentang pribahasa buah tidak jatuh jauh dari pohonnya."


Roni manggut-manggut. "Apakah Tuan sudah punya rencana?"


"Belum! Tapi aku harus mencari istriku dulu, kemana dia pergi."


"Mungkin Nyonya pergi ke kantin, Tuan."


"Aku akan menghubunginya", imbuh Kenzo seraya mencari kontak Alana diponselnya.


Ceklek.


Alana tersentak kaget saat masuk ke dalam ruang kerja Kenzo, ponselnya tiba-tiba berdering. Lalu dia tersenyum kala melihat nama kontak di layar ponselnya. "Honey, aku di sini", ucapnya dengan raut wajah bahagia. Dia mengayunkan kakinya berjalan mendekati Kenzo. "Apa meetingnya sudah selesai?"

__ADS_1


Kenzo menganggukkan kepalanya. "Hm, iya honey", jawabnya tanpa penjelasan apapun. Dia tidak ingin Alana khawatir dengan menceritakan masalah yang baru saja terjadi di ruang meeting.


__ADS_2