Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Kembali dari Bali


__ADS_3

Saat di bandara, Kenzo tiada henti memikirkan ucapan Roni. Perasaanku juga mengatakan ada yang tidak beres dengan istriku. Sepertinya dia hilang ingatan. Ucap Kenzo di dalam batin.


Suara dari mikrofon menggema di ruang boarding hingga membuyarkan lamunan Kenzo.


"Ayo, Tuan", ajak Roni saat jadwal penerbangan mereka diumumkan dan di minta menuju gate yang sudah ditentukan.


...---...


Malam hari di bandara.


Kenzo dan Roni baru saja turun dari pesawat. Cuaca buruk malam ini sedikit menguji nyali para penumpang pesawat yang kembali ke Jakarta.


"Tuan, sepertinya mobil yang akan menjemput kita mogok. Katanya tadi sempat menerobos banjir."


"Cari mobil lain!" titah Kenzo seraya melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya.


"Baik, Tuan", sahut Roni. Tangannya gegas memesan taksi online.


Tidak lama setelah Roni menyimpan ponselnya, taksi online pesanannya pun datang. "Maaf, saya menyela Tuan. Taksi onlinenya sudah datang", kata Roni saat Kenzo sedang menghubungi seseorang.


Kenzo memberi isyarat menggunakan tangannya, meminta Roni menunggu.


Roni pun manggut-manggut seraya menarik koper miliknya dan Kenzo.


Setelah memutus sambungan telepon, Kenzo gegas masuk ke dalam taksi online pesanan Roni. "Kabarnya Alexa sudah pulang ke rumah, apa kau tidak punya rencana untuk berkunjung?" goda Kenzo saat duduk di samping Roni.


Mendengar nama Alexa di sebut, Roni seperti alergi saja. "Tuan, saya mohon jangan pernah menjodohkan saya dengan wanita itu", pinta Roni dengan nada serius.


Kenzo tidak langsung menyahut ucapan Roni, netranya teralihkan pada sosok yang sangat dia kenal. "Alana..." gumamnya, namun masih dapat di dengar oleh Roni.


Roni mengikuti ekor mata Kenzo, namun dia tak dapat menemukan sosok Alana di tengah keramaian.


"Tunggu sebentar!" pinta Kenzo seraya ke luar dari dalam mobil dan mengejar Alana. "Alana..." teriak Kenzo memanggil nama istrinya, namun wanita yang menurutnya adalah istrinya itu, sama sekali tidak berbalik. Kenzo semakin mempercepat langkah kakinya, hingga tangannya hampir saja menggapai pundak wanita itu.

__ADS_1


Hap.


"Ada apa ya?" tanya wanita itu.


Kenzo menatap intens wanita dihadapannya. Dia tak dapat berkata-kata lagi, karena menahan rasa malu. "Maaf, saya salah mengenali orang", jawabnya dengan gagap. Lalu Kenzo kembali menghampiri Roni. "Ayo, kita pergi!" katanya dengan wajah lesu.


Mobil melaju dengan kecepatan sedang, karena jalanan yang tergenang air tak dapat diprediksi oleh pak supir.


"Roni, siapa yang menjemput Richard di bandara?"


"Ini baru mau saya laporkan, Tuan", jawab Roni seraya menoleh ke arah Kenzo. "Tadi sore pak Richard di jemput supir keluarganya sendiri, Tuan", lanjutnya.


"Owh, begitu ya", sahut Kenzo dengan nada kecewa. "Aku mau kau mengawasi Dave juga", titahnya kemudian.


"Baik, Tuan", sahut Roni dengan tegas.


Setelah itu tidak ada lagi perbincangan di antara mereka. Kenzo membuang jauh mata nanarnya ke luar kaca jendela mobil. Pupilnya pun dipenuhi gemerlap lampu kota, namun keindahannya tak mampu menghapus kesedihan Kenzo. Kini hanya keheningan yang menemani perjalanan mereka menuju rumah.


...---...


"Aku senang bisa bertemu dengan kembaranku, tapi sayang tadi kami belum sempat foto", ucap Ayana dengan wajah sendu.


"Tidak apa-apa, kalau jodoh pasti ketemu lagi", sahut sang suami dengan mengusap lembut rambutnya.


Ayana menggeser sedikit tubuhnya, seakan ada penolakan saat sang suami menyentuhnya. "Owh iya, bagaimana dengan pekerjaanmu di Bali?" tanyanya kemudian seperti ingin mengalihkan perhatian sang suami.


"Tidak ada berita baik", jawabnya tanpa ekspresi. Sikap penolakan sang istri yang terus menerus membuatnya mulai jengah. Kenapa dia selalu menolakku? Tanyanya di dalam batin.


Sementara Ayana hanya bisa diam kala melihat perubahan sikap sang suami. Dia tidak dapat membohongi perasaannya sendiri. Saat sang suami mendekat, reaponnya selalu saja dia mendorong suaminya menjauh. Apa ini bawaan jabang bayi? Tanya Ayana di dalam batin.


"Kita ke rumah utama ya Pak", ucap suami Ayana pada sang supir. Rumah utama yang dia maksud adalah rumah keluarganya.


"Baik, Den", jawab sang supir. Lalu dia melajukan kendaraan menuju rumah utama.

__ADS_1


Ayana menatap nanar ke luar kaca jendela mobil. Tak biasanya dia langsung memutuskan pergi ke rumah ayah mertua. Biasanya dia bertanya padaku lebih dulu. Sepertinya dia benar-benar marah. Tebak Ayana di dalam batin.


...---...


Tak butuh waktu yang lama, kendaraan yang ditumpangi Ayana dan sang suami tiba di halaman luas rumah keluarga mertuanya.


"Ayo, kita masuk", ajak sang suami dengan wajah dingin.


Ayana gegas mengayunkan langkahnya. Dia tidak mau berjalan sejajar dengan sang suami, karena tak ingin melihat wajah garang sang mertua.


"Ayo, duduklah dulu. Aku ingin bertemu dengan papa sebentar. Istriku aku tinggal, gak apa-apa kan?" tanyanya.


Tak ingin masalah sang suami bertambah ruwet Ayana pun terpaksa menyetujui. "Em, aku tunggu di sini saja", jawabnya.


Mendengar jawaban dari Ayana. Dia gegas pergi menuju ruang kerja sang ayah dan meninggalkan Ayana di ruang tamu seorang diri.


Ayana tidak ingin hanya diam di tempat duduknya, dia bangkit seraya berjalan mengitari rumah besar bergaya modern itu. Kenapa rumah ini selalu tampak asing bagiku? Tanya Ayana di dalam batin. Lalu dia terus berjalan, hingga tanpa sadar dia sampai di depan sebuah pintu yang tidak tertutup rapat.


Ayana mencoba untuk melangkah lebih dekat ke pintu itu. "Ruangan apa ini?" tanyanya penasaran. Langkah kakinya terhenti kala dirinya hampir saja menempel ke pintu. "Aduh", ringisnya kala kepala Ayana tidak sengaja kepentok pintu.


"Kenapa kau kemari?" tanya suami Ayana dengan raut wajah kaget.


"Aku bosan cuma duduk doang di sana, jadi aku coba jalan-jalan sambil melihat-lihat isi rumah ini", jawabnya. Lalu dia menjulurkan kepalanya ke dalam ruangan yang hampir dia masuki.


Sang suami spontan mendorong kepala Ayana. "Ini bukan ruangan yang akan kau sukai", ucapnya seraya memalang pintu dengan tubuhnya.


"Owh, begitu ya. Kalau begitu aku ke tempat lain saja", jawabnya dengan enggan. Rasa penasaran Ayana, membuatnya ingin menerobos masuk ke dalam. Sama seperti orang-orang pada umumnya, makin di larang, maka akan semakin dilanggar.


Melihat kepergian Ayana, sang suami bernafas lega. "Syukurlah dia tidak bertanya hal yang aneh-aneh", gumamnya seraya masuk kembali dan menutup rapat pintu.


"Jaga baik-baik istrimu! Kalau tidak maka aku tidak akan segan-segan menjadikannya sandra!" ancam mertua Ayana.


"Baik, Pa", jawabnya dengan menunduk. Dia tahu ayahnya sedang marah besar pada mereka, akibat tidak becus melakukan pekerjaan yang di minta oleh sang ayah.

__ADS_1


"Kalian harus bisa mendapatkan kontrak kerjasama bagaimanapun caranya", tukas sang ayah dengan tatapan serius.


"Baik pa", jawab mereka hampir bersamaan.


__ADS_2