
Alana menarik nafas seraya menormalkan debaran jantungnya yang berdegup kencang. Aksi dadakan Kenzo membuat jantung Alana hampir copot rasanya, karena Kenzo telah mencuri ciuman pertamanya. Namun jauh di dalam lubuk hati, Alana merasa bahagia karena ciuman pertamanya dicuri oleh suaminya sendiri.
Ternyata ini pun kali pertama bagi Kenzo. Selama Kenzo berpacaran dengan Alexa, dia tidak pernah menyentuh atau bahkan mencium kekasihnya itu. Menurut Kenzo Alexa sangat agresif, sementara Alana sedikit pemalu hingga membuat Kenzo ingin mengambil inisiatif lebih dulu. "Ma- maaf, tadi aku refleks melakukannya", ucap Kenzo dengan sedikit gugup.
"Tidak apa-apa. Lagi pula kita adalah pasangan suami istri", sahut Alana dengan membuang pandangannya jauh.
Kenzo senang karena Alana tidak menolak saat Kenzo mengecup bibirnya, bahkan Alana pun tidak marah padanya.
Ting.
Pintu lift terbuka lebar. Kenzo melangkah lebih dulu, di susul Alana dibelakangnya. Meskipun tidak ada karyawan yang menyaksikan apa yang mereka perbuat selain pengawas CCTV, mereka berjalan sedikit malu seolah telah melakukan perbuatan terlarang.
Kenzo membuka pintu ruang kerjanya. "Ayo, masuk", katanya pada sang istri.
Alana membalas dengan berdehem seraya melirik ke dalam ruang kerja Kenzo.
"Duduklah dulu", pinta Kenzo. "Apa kau butuh minuman dingin atau sejenisnya?" tanyanya kemudian saat Alana baru saja menempelkan bokongnya di sofa.
"Hm, nanti saja", jawab Alana dengan rasa gugup. Netranya menjauh saat berbicara dengan Kenzo.
"Jam istirahat makan siang sekitar satu jam lagi. Tapi jika my honey sudah merasa lapar, jangan pernah sungkan untuk mengatakannya."
"Baik, honey", balas Alana yang ingin terbiasa mengatakannya.
Kenzo tersenyum menatap wajah malu-malu Alana. "Owh, iya... Kalau my honey butuh istirahat, di dalam ada springbed. Istirahat saja di sana. Barangkali my honey bosan menunggu di sini."
"Hm, di sini saja. Tapi jika keberadaanku akan mengganggu pekerjaan my honey, apa aku boleh berkeliling di kantor ini?"
"Aku justru senang my honey bisa menemaniku di sini. Tapi kalau ingin berkeliling, nanti ditemani sama Shinta sekretarisku."
"Aku tidak ingin merepotkan my honey", sahut Alana dengan lembut.
"Yang akan menemanimu kan, Shinta. Jadi aku tidak merasa direpotkan."
Alana menatap Kenzo dengan kesal. "Iya, aku tidak ingin merepotkan siapapun. Aku bisa jalan sendiri."
Kenzo berjalan menghampiri Alana. "Iya, aku tahu. Kalau begitu pergilah, tapi tolong ponselmu diaktifkan terus. Aku hanya tidak ingin my honey tersesat nantinya."
Alana terkekeh mendengar ucapan sang suami. "Ini kantor honey, bukan daerah perkampungan."
__ADS_1
"Pokoknya ponsel my honey tidak boleh mati!"
"Iya, iya, honey", jawab Alana dengan tersenyum. Sudah lama dia tidak mendapatkan perhatian seperti yang ditunjukkan oleh Kenzo. "Apa aku boleh pergi sekarang?" tanyanya saat melihat Kenzo mematung diposisinya.
Kenzo mendekati Alana, lalu dia mengecup lembut kening Alana. "Hati-hati my honey", katanya dengan tersenyum.
Alana pun membalas dengan tersenyum. Lalu dia berjalan menuju pintu keluar.
...----...
Sepeninggal Alana, Roni pun masuk ke dalam ruangan Kenzo. Dia terlihat panik saat membawa kabar pada Kenzo.
"Kenapa wajahmu tampak panik gitu?" tanya Kenzo penasaran.
"Steve sudah tiada Tuan!"
Kenzo mendelik saat mendengar ucapan Roni. "Kapan kejadiannya?"
"Pagi ini seseorang menemukannya di bawah jembatan."
Kenzo seakan mengingat sesuatu, kala dirinya dan Alana hendak pergi sarapan pagi. "Apa dia ditemukan di jembatan jalan Harapan?" tanya Kenzo memastikan.
"Pagi ini kami kebetulan melewati jembatan itu. Dan kami melihat banyak kerumunan orang di sana", terang Kenzo.
"Owh, begitu. Tapi ada kabar lainnya Tuan", kata Roni yang membuat Kenzo semakin penasaran. "Kebetulan sekali anak buah Tuan yang sedang mengawasi Steve, tadi malam melihatnya pergi dengan seseorang. Ini fotonya", kata Roni seraya menyodorkan ponsel miliknya.
"Dia!" ucap Kenzo dengan mulut yang menganga.
"Apa Tuan mengenalnya?"
"Aku sangat mengenalnya!" sahut Kenzo dengan tatapan penuh kebencian.
Flashback On
Kenzo masih berusia 15 tahun saat itu. Dia yang menyukai klub bola, tidak sengaja menendang bolanya masuk ke dalam rumah. Saat dia masuk untuk mencari bolanya. Di sana dia melihat sang Paman, Benny sedang berdiri di depan kakeknya.
Kenzo mendengar Benny berteriak dihadapan sang kakek untuk menuntut agar warisan yang diberikan padanya sama seperti yang didapatkan oleh Papa Kenzo.
Kenzo diam di dekat sudut ruangan, kala suara sang Kakek meninggi. "Seharusnya kau tidak mendapatkan apa-apa, tapi aku sudah berbaik hati memberikanmu seperempat bagian, tapi kau malah menolaknya!"
__ADS_1
"Harusnya Papa bersikap adil. Walaupun aku anak angkat Papa!" balas Benny dengan berteriak pula.
Kenzo menutup mulutnya. "Jadi Paman hanya anak angkat Kakek", gumamnya. Lalu dia kembali mengintip.
Plak.
Kenzo mendengar suara tamparan keras. Jarak yang jauh menyulitkannya untuk melihat siapa yang sedang di tampar. Tak lama kemudian sang Paman tertawa membahana, seperti orang kesetanan saja.
"Dasar tua bangka! Jangan salahkan aku akan bertindak kasar padamu!" gertak Benny.
Tak sengaja Kenzo melihat bolanya berada di kaki sang paman, namun dia tidak berani untuk pergi mengambilnya. Netranya kemudian terbelalak kala melihat sang paman bersiap untuk menendang bolanya.
Dug.
Bola mengenai dada sang Kakek yang sedang duduk di kursi. Kakek Kenzo merintih kesakitan, karena dia memiliki penyakit jantung. Dadanya sesak dan mulutnya tidak sanggup untuk meminta tolong.
Kenzo berlari menghampiri sang kakek. "Kakek..." teriaknya kala melihat sang kakek jatuh ke lantai. Lalu Benny berpura-pura mendekati sang kakek dan membantu mengangkatnya. "Cepat panggil supir", katanya pada Kenzo.
Kenzo berlari memanggil supir ke luar rumah. Lalu mereka membawa sang kakek ke dalam mobil. Benny melarang Kenzo ikut ke rumah sakit.
Setelah menunggu beberapa jam, akhirnya Kenzo melihat sang kakek pulang ke rumah di bawa oleh mobil ambulance, tapi sudah tiada.
Kenzo menangis kala melihat tubuh kaku sang Kakek. Dia yakin sang Paman telah mencelakai kakeknya, namun dia tidak berani mengatakannya pada Papanya sendiri, karena dia tidak punya bukti. Dan sejak itu pula Kenzo tidak berminat lagi untuk ikut dalam klub bola.
Beberapa tahun kemudian, tersebar berita bahwa perusahaan Papa Kenzo bangkrut. Di saat itu pula pamannya menghilang.
Saat keadaan perusahaan kacau balau, Papa Kenzo terkena serangan jantung dan akhirnya tiada, sementara Mama Kenzo syok saat papa Kenzo pergi meninggalkannya selamanya. Mama Kenzo pun jatuh sakit, hingga menyusul sang suami.
Flashback Off
Roni manggut-manggut. "Saya pernah melihatnya di restoran sewaktu Tuan dan Nyonya sedang makan malam bersama", imbuh Roni.
"Kau benar. Aku pun melihatnya", sahut Kenzo.
"Selidiki apa hubungannya dengan Steve!" titah Kenzo.
"Baik, Tuan", sahut Roni.
Tidak lama kemudian Kenzo mendapat pesan singkat dari seseorang. Netranya terbelalak kala melihat foto Alana.
__ADS_1