
Kenzo mengakhiri pembicaraannya di telepon, dia berdehem seraya menatap ke arah Roni. "Setelah itu, apalagi?" ulang Kenzo.
Roni tidak menduga Tuannya itu masih kekeh dengan soalan yang sama, untung saja dia telah memikirkan jawabannya selagi Kenzo menerima panggilan telepon. "Tuan bisa mengajak Nyonya pergi ke tempat yang romantis dan menyatakan perasaan di sana."
"Semudah itu? Apa kau yakin ini akan berhasil?"
Roni kesal karena Kenzo telah meragukan idenya. "Saya melakukan hal itu pada cinta pertama saya Tuan, dan terbukti berhasil."
"Tidak bisa! Aku tidak mau menggunakan cara yang sudah pernah kau gunakan", tolak Kenzo. "Pikirkan cara yang lain."
Roni hanya punya satu pengalaman cinta, itupun telah kandas karena terhalang restu orang tua sang mantan kekasih. Namun dia teringat pada satu adegan romantis saat mantan kekasihnya mengajaknya menonton drakor. "Bagaimana kalau Tuan mengajak Nyonya pergi ke taman hiburan. Di sana nanti Tuan ajak Nyonya naik bianglala. Saat sudah berada diketinggian Tuan langsung nyatakan cinta pada Nyonya."
Kenzo mencoba menelaah ide hasil nyontek Roni. "Bagaimana kalau dia takut ketinggian, trus dia langsung menolakku."
Tinggal dorong aja Tuan, kan beres. Ucap Roni dengan tersenyum jahat.
"Apa kau sedang meledekku?" sembari duduk Kenzo sudah melihat senyuman Roni.
"Saya tidak akan berani Tuan. Saya hanya teringat mantan saya dulu. Dia paling suka saya ajak ke taman hiburan."
"Kalau begitu aku akan pergi menjemput istriku di kampus. Saya akan pikirikan cara lain sembari di jalan menuju kampus, kau pun bantu berfikir", ujar Kenzo seraya bangkit dari tempat duduknya.
...---...
Di tempat berbeda, di sebuah rumah tua namun masih terlihat mewah dan terawat, seorang pria beruban namun masih terlihat kekar menatap tajam pada pria dihadapannya.
"Apa aku membayarmu hanya untuk mendengar berita sampah ini?" Suara yang mendominasi membuat pria dihadapannya tidak berani walau hanya sekedar untuk mengangkat kepalanya.
"Maafkan saya Tuan", kata pria paruh baya yang sudah bermandi peluh itu.
"Maaf...! Apa kata itu yang ingin ku dengar?" sarkasnya.
Pria paruh baya itu mendongak, menatap pria gila dihadapannya dengan wajah mengiba. "Saya tahu Tuan kecewa. Tapi saya janji untuk kedepannya, saya tidak akan gagal lagi."
__ADS_1
Ha. Ha. Ha. Suara tawa pria beruban yang di sapa Tuan itu menggelegar, menerbangkan kawanan burung yang sedang bertengger di tepi jendela kaca ruangan itu.
"Steve... Steve... Apa kau pikir kita sedang casting adegan bos dan bawahan?" Pria itu menarik salah satu sudut bibirnya meremehkan Steve. "Pergilah, jangan pernah muncul lagi dihadapanku!"
Kedua lutut Steve masih menempel di lantai ubin yang mulai memudar itu. "Saya mohon Tuan. Satu kali lagi saja. Jika masih gagal, saya tidak akan pernah lagi muncul dihadapan Tuan."
"Cih, di sini bukan tempat untuk kau melakukan penawaran!" Pria yang di sapa Tuan itu bangkit dari tempat duduknya dan meninggalkan Steve tanpa jawaban yang jelas.
...---...
Sementara di kampus tampak kerumunan para wanita pengagum pria tampan sedang berdiri menatap pria berkacamata hitam yang bersandar dengan bergaya di depan mobilnya.
Roni menggeleng atas sikap narsis Tuannya itu. Dia pun meragukan bahwa pria yang sedang tebar pesona itu adalah Tuannya.
Tidak lama kemudian sosok wanita yang sangat di kenal oleh Roni berlari menghampiri Kenzo.
"Sayang" sapa Alexa manja. "Aku sungguh tak menduga kau datang menjemputku. Ini sungguh kejutan yang terindah." Alexa menghamburkan diri memeluk tubuh tegap Kenzo yang bergeming diposisinya. "Ayo, kita pergi", lanjutnya dengan mendongak seraya mengulam senyum.
Kenzo menyentak lembut tubuh Alexa. "Maaf, anda salah orang", jawab Kenzo dengan tegas.
Mahasiswa yang lalu lalang menggosipi kedua sejoli yang sedang menunjukkan kemearaannya itu. Lebih tepatnya, sikap sok mesra Alexa yang terlalu berlebihan.
Ketahanan Kenzo akhirnya runtuh. Dia beranjak dari posisinya berdiri seraya menghampiri salah satu mahasiswa. "Permisi mba, apa kau kenal dengan Alana, mahasiswa jurusan Akuntansi?"
"Kenal dong. Bukankah Alana itu anak pembantu di rumahnya Alexa", tunjuk mahasiswi berambut gelombang itu pada Alexa.
"Dimana dia sekarang?"
"Nah, itu dia", jawab mahasiswi itu. Lalu dia beranjak pergi meninggalkan Kenzo.
Mahasiswa yang lain akhirnya bergosip. Mereka mengatai Alexa sebagai wanita yang tidak tahu malu. Jelas Kenzo tidak datang untuk menjemput dirinya, namun Alexa seolah pamer kemesraan di depan teman kampusnya.
Alexa meraih tangan Kenzo. "Jangan bercanda lagi, sayang. Lihat mereka sudah meledekku."
__ADS_1
Kenzo menghempas tangan Alexa yang masih menggenggam kuat. Lalu dia lebih dekat pada Alana. "Istriku, ayo kita pulang", ajak Kenzo pada Alana yang baru saja menghentikan langkahnya. Kenzo mengulurkan tangan kanannya dengan telapak tangan terbuka.
Alana menatap bingung atas sikap manis Kenzo yang menurutnya sangat tiba-tiba. Apakah dia benar-benar sedang menungguku. Ucap Alana di dalam batinnya. Dia mencoba untuk mengangkat tangan kanannya.
"Sudah cukup bercandanya!" Alexa mendorong Alana hingga berada dibelakangnya. "Aku tahu kau sedang mengujiku. Kau menang sayang, aku cemburu saat kau menatap wanita lain."
Kenzo menggeser penghalang dihadapannya. Dia langsung menarik tangan lamban Alana, hingga sikap romantisnya berubah sarkas.
Roni yang sedari tadi mendapat tontonan gratis drama cinta segitiga itu, tiada hentinya terkekeh melihat Alexa yang berulang kali mendapat penolakan dari Kenzo, namun masih memiliki kepercayaan diri. Hingga akhirnya Alexa terdiam kala Kenzo membawa masuk Alana ke dalam mobil.
"Dasar tidak tahu malu. Sudah di tolak masih saja menempel sama pacar orang lain", cibir seorang pria berkepala plontos pada Alexa.
"Jaga bicaramu!" sarkas Alexa. Dia pun menggila kala melihat mobil Kenzo melaju tanpa membawa dirinya. Aaaa... Teriaknya histeris, hingga orang yang sedang lalu lalang menganggapnya kurang waras.
...----...
"Bagaimana kuliahmu hari ini?" Kenzo membuka suara memecah keheningan di dalam mobil.
"Tidak ada yang spesial. Kemungkinan bulan depan aku akan mengikuti magang, jadi harus pergi ke kantor setiap hari."
"Istriku magang di perusahaan mana?"
"Untuk saat ini aku cuma kepikiran perusahaan Papa."
Jawaban Alana sedikit mengecewakan Kenzo. Dia membuang pandangannya jauh ke luar kaca jendela dan tidak ingin melanjutkan obrolannya bersama sang istri.
Roni paham saat melihat perubahan sikap Kenzo. Dia pun berniat ingin membantu bos introvertnya itu. "Hem, Nyonya", sapa Roni disertai deheman.
"Iya, Pak Roni."
"Di kantor kami butuh anak magang, lo", katanya yang membuat Kenzo tersentak. Dia menatap heran ke arah Roni melalui spion.
"Owh, really. Kalau begitu aku coba daftar di sana saja", sahut Alana dengan penuh antusias. Kenzo pun mulai mengubah mimik wajah murungnya kala mendengar penuturan Alana. Seulas senyum terbit di sudut bibir Kenzo saat melihat Roni tersenyum padanya.
__ADS_1
Yes, naik gaji. Ucap Roni di dalam batinnya.