Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Membawa ke Rumah Sakit


__ADS_3

Wanita yang tengah hamil itu berjalan menyusuri taman yang tampak ramai dengan anak kecil. Seulas senyum terbit di wajah cantiknya kala melihat seoranga anak kecil yang bertingkah sangat lucu.


Wanita itu mendatangi anak kecil yang sangat menggemaskan itu. "Namanya siapa?"


"Farid, Tante", ucap suara khas anak-anak yang tidak begitu jelas lafalnya. "Tante cantik namanya siapa?"


"Nama Tante Ayana, biasa di panggil Ana", jawab wanita itu dengan tersenyum, lalu dia mendekati anak kecil itu dan mengusap lembut kepalanya. "Umur Farid berapa tahun, nak?"


Anak kecil itu mengangkat 4 jarinya dengan menyembunyikan jari jempolnya.


"Owh, 4 tahun", tebak Ayana dengan tersenyum.


Farid menggelengkan kepalanya, yang membuat Ana bingung.


"Tapi jarinya ada 4", kata Ana dengan menghitung jari Farid.


Farid tersenyum seraya menunjukkan jari jempol yang dilipat. "4 tahun setengah tante", katanya dengan tertawa bahagia.


Ayana pun ikut tertawa, rasa bosan setelah lama tidak keluar rumah akhirnya terobati oleh seorang anak kecil.


"Tante udah makan siang?" tanya anak itu seraya mengusap perut kecilnya.


Ayana mengangguk seraya menatap intens anak laki-laki itu. "Kamu belum makan, nak?" tanyanya.


Farid menggelengkan kepalanya. "Ibu belum memanggilku untuk makan", katanya dengan wajah polos.


Ayana terdiam beberapa saat. Entah kenapa ada perasaan sedih saat mendengar ucapan Farid, seolah dia pernah merasakan hal yang sama. "Emangnya Ibu kamu di mana, nak?" tanya Ayana seraya memaksakan senyumannya.


Belum sempat Farid menjawab, seorang wanita lebih dulu memanggil namanya. "Farid, ayo kita makan nak", kata wanita itu. Farid pun berlari menghampiri wanita paruh baya yang sedang menyambutnya dengan tersenyum.


Baru saja Ayana berbalik untuk melihat wajah ibu Farid, mereka sudah berjalan membelakanginya. "Kasihan sekali dia, jam segini baru makan siang", ucap Ana lirih. Lalu dia berjalan mendekati anak kecil lainnya yang tengah asyik bermain, karena rindangnya pepohonan di sekitar taman membuat anak-anak tidak merasakan teriknya mentari.


...---...


Di kantor Thompson group.

__ADS_1


Sifat arogan Kenzo muncul dalam satu bulan belakangan ini. Setiap karyawannya di buat ketar ketir saat akan menyampaikan laporan bulanan, bahkan salah satu Manager di perusahaan Kenzo telah di demosi karena salah mengetik satu angka pada laporan keuangan.


Saat ini rapat yang sudah di mulai oleh Kenzo sejak pukul 10 pagi tadi masih saja berlanjut, walaupun perut keroncong salah satu karyawan Kenzo di dengar jelas oleh semua yang ada di ruang rapat.


Biasanya Roni yang mengingatkan atasannya itu untuk ISOMA (Istirahat, Sholat dan Makan Siang), namun kali ini dia tidak berkutik. Ancaman Kenzo beberapa hari yang lalu membuat Roni tak dapat mengatakan apapun lagi.


Tiba-tiba saja ponsel Kenzo berdering, panggilan telepon itu seolah menjadi penyelamat seluruh karyawan yang ada di dalam ruangan itu, karena Kenzo telah memberi isyarat pada Roni dengan tangannya, agar semuanya keluar dari ruangan.


Setelah 10 menit berlalu, Kenzo memanggil kembali Roni.


"Ya, Tuan", sahut Roni, saat dia sudah berada dihadapan Kenzo.


"Tadi Billy menghubungiku. Katanya dia dan pak Baron ingin menjalin kerjasama dengan kita."


Roni mendelik mendengar ucapan Kenzo. "Apa maksud mereka? Apa mereka ingin menyerang dari dalam?" tanya Roni yang curiga ada maksud terselubung.


"Aku belum memutuskan mau menerimanya atau tidak. Tapi aku ingin melihat seberapa gigihnya mereka membujukku, untuk bisa mendapatkan kontrak kerjasama.


Roni terdiam sembari memikirkan niat Billy dan Baron. "Bagaimana kalau langsung Tuan tolak saja, karena dari hasil penyelidikan saya, pak Billy bukan orang sembarangan. Dia bahkan berani berkhianat pada pak Baron", kata Roni saat dia mendapatkan informasi tentang penyebab saham Baron terjun bebas.


Roni mendelik mendengar ucapan Kenzo. Tuan Kenzo sepertinya sudah putus asa. Aku harus segera menemukan keberadaan Nyonya, sebelum Pak Billy dan Baron memanfaatkan situasi ini. Ucap Roni di dalam batin.


Tok. Tok.


Suara ketukan pintu membuat Kenzo dan Roni saling pandang.


"Siapa?" tanya Kenzo.


"Saya, Shinta Pak", sahut suara sang sekretaris dari balik pintu.


"Masuk!" ucap Kenzo.


"Permisi, Pak", kata Shinta saat membuka pintu dan melangkah masuk.


"Ya, ada apa Shinta?"

__ADS_1


"Di bawah ada Alexa yang ingin bertemu dengan Bapak. Seperti biasa Pak, lagi-lagi dia membuat keributan di lobi kantor."


"Roni, segera tangani dia!" titah Kenzo yang membuat Roni mendelik. Kenzo langsung menatap tajam Roni. "Apa kau tidak..."


"Baik, Tuan", jawab Roni buru-buru sebelum Kenzo menyelesaikan ucapannya. Wanita ini sangat tebal muka! Sudah di tolak berulangkali masih saja datang. Gerutu Roni di dalam batin seraya berjalan menuju pintu ke luar.


...---...


Tak berselang lama, saat Roni mencoba mengusir Alexa, terjadi perdebatan yang cukup alot antara Roni dan Alexa, hingga aksi nekad yang dilakukan Alexa, membuatnya buru-buru dilarikan ke rumah sakit.


"Kenapa kau tidak bisa menghalanginya berbuat nekad?" tanya Kenzo dengan nada kesal.


"Maaf, Tuan. Tadi Saya terlambat meraih benda t*jam ditangannya. Dia bertindak sangat cepat, sebelum saya berhasil menangkapnya", jawab Roni dengan raut wajah kesal. Dia kecewa pada Kenzo, karena Kenzo selalu saja menyalahkan dirinya sebelum menyelidiki kebenarannya.


Kenzo sadar ucapannya sedikit keras pada Roni. Dia menghela nafas panjang. "Oke, aku tahu kau sudah berusaha dan aku pun berterimakasih atas usaha kerasmu itu", sahut Kenzo seraya menepuk pelan pundak Roni.


Roni tertunduk lesu. "Saya minta maaf, Tuan. Jika tadi ucapan saya sedikit kasar", katanya dengan penuh penyesalan.


Belum sempat Kenzo menjawab, mobil sudah berada di depan lobi rumah sakit. Roni gegas membawa tubuh Alexa dan menaruhnya di atas brankar dorong.


Dengan sigap para tim medis medorong brankar menuju ruang IGD.


Sembari menunggu di luar ruang IGD, Ramond tiba-tiba datang dan menghampiri Kenzo.


"Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Ramond dengan raut wajah marah. Dia telah salah mengira bahwa Kenzo yang menjadi penyebab Alexa celaka.


"Maaf, Pak. Sepertinya bapak telah salah paham", bela Roni dan mencoba menjelaskan. "Pada saat kejadian, Tuan Kenzo sedang di dalam lift hendak turun ke lobi. Bapak bisa cek CCTV kalau mau", lanjut Roni dengan nada serius.


"Kalau begitu saya juga mau minta maaf", ucap Ramond lesu. "Tadi saya panik saat mendapat kabar Alexa, jadi saya sempat berfikir kalau Kenzo mencelakainya", sesalnya.


Kenzo menghela nafas seraya menatap Ramond. "Papa mertua, bagaimana kalau Alexa dinikahkan saja? Saya khawatir kedepannya dia akan bertindak lebih nekad dari ini", ujar Kenzo.


"Kau ada benarnya juga. Tapi dengan siapa aku akan menikahkannya?" tanyanya seraya berfikir.


Tiba-tiba Kenzo melirik ke arah Roni. Ramond pun mengikuti arah pandangan Kenzo. "Alana!" teriak Ramond. Sontak Kenzo dan Roni ikut menoleh ke arah Ramond memandang.

__ADS_1


__ADS_2