Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Dave di tahan


__ADS_3

Flashback on


Di sore hari selepas pulang kerja, Dave melintasi jalan yang tampak ramai. Para pedagang tengah berlarian, karena sedang ada penertiban.


Citt.


Brak.


Sebuah insiden terjadi. Mobil Dave di tabrak dari samping oleh sebuah taksi online.


Seorang pedang kaki lima tersungkur dan penuh noda merah di aspal. Sementara supir taksi online dan penumpangnya pingsan.


Dave gegas ke luar untuk melihat situasinya. Dia terperangah melihat kejadian itu.


Petugas yang mengejar pun ikut terperangah. Dia menyesali sikap pedagang yang tidak mau patuh itu. Namun dia tetap berusaha menolong dengan memanggil ambulans.


Saat Dave memeriksa taksi online yang telah menabrak mobilnya, dia semakin kaget lagi melihat Alana ada di dalam.


"Tolong bantu keluarkan dia!" ucapnya panik.


Petugas pun membantu mengeluarkan Alana dan ingin membawanya.


"Tunggu dulu! Bapak ini siapa?"


Tanpa berfikir panjang Dave mengatakan. "Saya suaminya. Cepat bawa dia ke mobil", pintanya yang dengan raut wajah cemas.


Lalu petugas itu mengambil kartu identitas Alana dan menanyakan data pribadinya pada Dave. Tanpa ragu Dave menyebutkan data diri Alana dengan lengkap dan benar, hingga petugas mempercayai dirinya.


Dalam perjalanan menuju rumah sakit, Dave telah menghubungi papanya. Baron pun meminta Dave tidak memberitahukan hal itu pada Kenzo.


Setibanya di rumah sakit Dave gegas membawa Alana dan meletakkannya di atas brankar.


"Tolong, Sus. Dia mengalami kecelakaan."


"Baik, Pak", sahut sang suster seraya mendorong brankar ke ruang IGD.


30 menit berlalu, namun dokter maupun suster belum ada yang ke luar dari ruangan itu. Dave pun mulai cemas sesuatu yang buruk mungkin terjadi pada Alana.


Sesaat setelah Dave memikirkannya, tiba-tiba saja lampu operasi padam, seorang dokter ke luar dari ruangan. "Bagaimana keadaannya, Dok?" tanya Dave dengan khawatir.


"Kepalanya membentur keras, tapi syukurlah dia dan janin dalam kandungannya kuat."


Kata janin membuat Dave terkesiap. "Dia hamil, dok?"


"Owh, bapak belum tahu ya. Istri bapak sudah hamil 5 minggu", ucap sang dokter dengan tersenyum.


Dave tersenyum getir sembari membayangkan rencana yang telah di buat oleh Baron.


"Pasien bisa di jenguk setelah dipindahkan ke ruang perawatan ya, Pak", katanya.


"Baik, dok."

__ADS_1


"Kalau begitu saya pamit, pak", lanjutnya seraya berjalan meninggalkan Dave.


Setelah 15 menit menunggu, Alana dipindahkan ke ruang perawatan. Dave masuk dan menyapa Alana. "Hai", ucapnya dengan tersenyum.


Alana mengernyitkan keningnya seolah menatap Dave sebagai orang asing. "Siapa kau?" tanya Alana.


"Aku Dave, apa kau tidak mengingatku?"


Alana menggelengkan kepalanya sebagai jawaban.


"Apa kau mengingat namamu?"


Alana lagi-lagi menggelengkan kepalanya.


Dave gegas memanggil kembali dokter untuk melihat kondisi Alana. Setelah dokter mengecek kembali, dia pun menyimpulkan Alana hilang ingatan.


Sejak saat itu Dave mengatakan pada Alana bahwa dia adalah suaminya dan mereka akan segera memiliki anak. Bahkan Dave mengganti nama Alana dengan Ayana.


Flashback off


Mendengar cerita Dave, Kenzo mengeraskan rahangnya dan ingin melayangkan kepalan tangannya di wajah tampan Dave.


"Kau!" tunjuk Kenzo dengan penuh emosi.


Dave membalas dengan berdecih. "Harusnya kau berterimakasih padaku!" ucapnya dengan nada angkuh.


Spontan Kenzo menarik kerah baju Dave. "Apa kau layak mendapatkan kata terimakasih?" ledek Kenzo.


"Pak polisi bawa dia", katanya seraya melepaskan pegangannya pada kerah baju Dave. Dia tak ingin Alana menyaksikan kekerasan.


Suara tawa Dave terdengar menggelegar untuk memancing emosi Kenzo.


Tiba-tiba saja Roni memasukkan masker miliknya ke dalam mulut Dave.


Walaupun pak polisi menyaksikan perbuatan Roni. Dia tidak melarangnya sama sekali. Justru dia sedang berusaha menahan tawanya.


"Ayo, jalan!" titah pak polisi tanpa peduli dengan apa yang ingin dikatakan Dave.


Sementara Kenzo tengah berusaha mendekati Alana. "Honey, ayo kita pulang", ajaknya kembali.


"Ayo, nyonya", timpal Roni.


Alana masih terlihat kebingungan. Dia menatap Kenzo dan Roni bergiliran. Apa aku harus ikut dengan orang yang tidak ku kenal ini? Tanya Alana di dalam batinnya. Dengan ragu dia pun melangkah.


Kenzo tersenyum kala melihat Alana mulai mengayunkan langkahnya. Namun sesaat kemudian raut wajahnya berubah kecewa di saat Alana berbelok arah.


"Ayo, silakan Nyonya", ulang Roni.


Kenzo menghunuskan tatapan tajam pada Roni. "No, naik gaji", ancam Kenzo dengan merapatkan giginya.


Seolah tak peduli dengan ucapan Kenzo, Roni malah berjalan beriringan dengan Alana.

__ADS_1


"Aku sedikit mengingatmu", ucap Alana seraya menoleh ke arah Roni.


"Benarkah Nyonya?" Mata Roni melotot, tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


Alana manggut-manggut seraya tersenyum pada Roni.


Melihat senyuman Alana hanya ditujukan pada Roni, hati Kenzo merasa diiris sembilu. "Inilah yang dikatakan sakit tapi tak berd*rah", gumam Kenzo.


...---...


Saat tiba diparkiran mobil. Roni gegas membuka pintu untuk Alana.


"Saya di depan saja", ucap Alana yang membuat Roni mendapat tatapan membunuh.


"Maaf, Nyonya. Saya tak biasa duduk dengan wanita selain pacar saya", ucap Roni dengan sedikit gugup. Kali ini dia tak dapat mengacuhkan tatapan Kenzo.


"Kalau begitu anggap saja saya pacar kamu", jawab Alana enteng yang membuat Kenzo semakin emosi.


Lalu Kenzo meminta Roni duduk di belakang dengan menggunakan isyarat mata.


Mobil pun melaju kencang. Ini adalah pertama kalinya Roni merasakan disupirin oleh Kenzo. Dia duduk layaknya seorang bos. Sementara Kenzo terpaksa menjadi supir, hanya karena Alana tidak mau duduk bersama dengannya.


Hanya dalam waktu 15 menit mobil yang dikendarai oleh Kenzo tiba di halaman rumah kediaman Ramond.


"Ayo, kita turun", ucap Kenzo seraya ke luar dari mobil. Lalu dia berlari dengan buru-buru untuk membukakan pintu. "Ayo, honey", ajaknya dengan menjulurkan tangan.


Untuk beberapa saat, Alana hanya memandangi Kenzo. Namin setelah itu dia menyambut uluran tangan Kenzo. Lalu mereka berjalan menuju pintu.


Tok. Tok.


Tidak perlu menunggu lama, Tuty telah membuka lebar pintu.


"Pak Kenzo dan Non Alana, ayo masuk", ajak Tuty. Tanpa dia sadari telah melupakan Roni.


Roni bergeming diposisinya. Dia merasa sedih karena tidak dianggap.


"Bapak mau masuk?" tanya Tuty.


"Enggak!" sahut Roni bersamaan dengan tangan Tuty menutup pintu.


Kenzo merasa puas, karena Tuty berhasil membuat Roni marah. Dalam batinnya dia mentertawakan Roni.


"Alana...!" teriak Ramond seraya buru-buru turun menghampiri Alana. "Bagaimana kabarmu, nak?" tanyanya dengan meneteskan air mata. Rasanya sudah sangat lama sekali dia tidak bertemu dengan putri sulungnya itu.


Melihat Alana tak merespon, Ramond pun melirik ke arah Kenzo, seolah meminta penjelasan.


"Dia hilang ingatan", ucap Kenzo lirih.


Perlahan Ramond meraih kedua tangan Alana. Ramond senang karena tidak ada penolakan dari Alana. Lalu dia menatap sendu wajah cantik putri sulungnya itu. "Maafkan papa ya, nak", ucapnya sambil menggenggam tangan Alana. "Seandainya papa tidak melakukan kesalahan di masa lalu, mungkin kau tidak akan mengalami hal buruk ini."


Merasa tak sanggup lagi melanjutkan ucapannya, Ramond gegas menarik tangan Alana dan membawanya masuk ke dalam pelukannya. "Papa sayang Alana", ucapnya lirih dengan isak tangis.

__ADS_1


Tiba-tiba Alana pun ikut menangis.


__ADS_2