
Siang ini Kenzo dan Alana tengah duduk santai sembari menikmati makan siang yang disuguhi view hamparan pantai yang luas.
"My honey, tunggu sebentar", ucap Kenzo seraya mendorong tubuhnya ke depan.
Deg. Deg.
Detak jantung Alana mulai tidak normal hingga rasanya hampir meledak, kala wajah Kenzo hanya berjarak beberapa centi saja. Apa suamiku akan melakukannya di depan umum? Tanya Alana di dalam batinnya.
"Makannya jangan blepotan dong", ucap Kenzo sembari mengusap lembut sudut bibir Alana.
"Hm, terimakasih honey", sahut Alana tersipu malu. Apa yang sudah aku pikirkan barusan. Ucap Alana di dalam batin.
"Apa di sini terlalu panas?" tanya Kenzo kala pipi merah Alana tetlihat nyata.
"Hm, sedikit."
"Bagaimana kalau kita pindah ke dalam ruangan yang ada ACnya saja."
Alana mengibas tangan sebagai penolakan. "Tidak perlu, lagipula makanannya sudah hampir habis", sahutnya dengan cepat. Dia yakin Kenzo sedang melihat rona dipipinya.
"Oke honey." Kenzo menghabiskan sisa makanan yang ada dipiringnya.
Alana pun melakukan hal yang sama, hingga tak bersisa sedikitpun di atas piring.
Saat Kenzo meletakkan gelas kosong di atas meja, tiba-tiba ponselnya berbunyi. "Roni", ucap Kenzo bernada kesal. Entah kenapa asistennya ini selalu muncul baik itu di kantor maupun melalui telepon, di saat dirinya sedang berduaan dengan Alana. Mungkin aku harus menyuruhnya untuk segera menikah. Ucap Kenzo di dalam batin.
"Halo..." sahut Kenzo bersamaan dengan suara bersin Roni. "Apa kau baik-baik saja?"
"Iya, baik-baik saja Tuan", jawab Roni. Namun di dalam batinnya dia curiga seseorang tengah membicarkannya.
"Ada apa?" tanya Kenzo.
"Hm, ada kabar baru Tuan."
"Nanti saja kita bicarakan di kantor. Kami sedang jalan menuju kantor", imbuhnya.
"Baik, Tuan."
Kemudian Kenzo mengakhiri sambungan telepon.
"Ayo, honey."
Alana bangkit dan berjalan mendekati Kenzo. "Ayo..." sahutnya.
Kenzo menarik tangan Alana, agar menggayut ditangannya. "My honey harus melakikan ini setiap saat kita berjalan bersama."
"Oke, honey", jawab Alana tanpa bantahan, karena dia pun senang melakukan itu.
__ADS_1
...---...
20 menit kemudian.
Langkah Kenzo sedikit terburu-buru, kala sahabat masa kecilnya datang menemuinya di kantor.
"Honey, apakah kau bisa pergi ke ruangan divisi Accounting sebentar?"
Alana mengangguk, karena dia paham maksud ucapan sang suami. "Oke, honey. Aku tidak akan mengganggumu", ujarnya sembari berjalan ke arah yang berbeda dengan Kenzo.
Kenzo berjalan dengan langkah lebar menuju pintu ruang kerjanya.
Ceklek.
"Hai, Dave. Maaf sudah membuatmu menunggu lama." Kenzo menyapa seraya menjatuhkan bobot tubuhnya di sofa.
"Ah, tidak juga. Aku baru sampai beberapa menit yang lalu. Bagaimana kabarmu? Aku dengar kau baru pulang dari Bali."
"Kau tahu keadaanku semakin membaik setelah menikah."
Dave tersenyum. "Iya, aku yakin kau juga pasti sangat bahagia bersama wanita baik seperti Alana."
Kenzo tidak ingin ada pria lain yang membahas istrinya. "Ada angin apa yang membawamu kemari?" tanya Kenzo mengalihkan pembicaraan.
"Aku ingin membicarakan tentang permasalahan antara Papaku denganmu", ucap Dave yang telah merubah mimik wajahnya. "Kau tahu kan apa maksudku?"
"Damai!"
"Cih, kau egois Dave!"
"Aku tahu permintaanku ini sedikit egois. Tapi aku tidak ingin dendam ini dibalaskan terus menerus hingga generasi tak terhingga."
"Itu kan menurutmu. Artinya kau punya niat untuk membalas dendam, jika aku membawa masalah ini ke ranah hukum. Begitu kan?"
"Kau salah paham Kenzo, aku hanya tidak ingin keluargaku dan keluargamu saling bermusuhan. Itu saja."
"Apa kau pernah kehilangan orang tuamu?"
"Tidak."
"Aku tidak punya niat buruk pada orang tuamu, aku hanya meminta pihak yang berwajib agar segera memprosesnya sesuai hukum, supaya dia menerima ganjaran atas perbuatannya."
"Aku paham. Maaf jika aku sudah mengganggu waktumu." Dave bangkit dari atas sofa, lalu pergi meninggalkan Kenzo dengan raut wajah kesal.
"Roni, apa kau sudah menyerahkan semua buktinya.
"Sudah, Tuan."
__ADS_1
"Oke, kalau begitu kita tinggal menunggu hasil putusannya saja."
"Iya Tuan."
...---...
Semua bukti kecurangan Baron yang diberikan oleh Kenzo sebagian besar berhasil dia dapatkan dari tumpukan berkas usang milik papanya yang sempat ditemukan oleh Papanya, namun belum dilaporkan.
Harapan Kenzo para pelaku mendapat hukuman setimpal, namun dia tidak akan membiarkan Baron bebas, begitupula dengan pamannya.
Hari berlalu begitu singkat, tanpa terasa langit sudah mulai gelap.
"Maaf honey, telah membuatmu menungguku hingga malam", ucap Kenzo dengan rasa bersalah.
"Tidak apa-apa, honey. Lagipula semuanya itu terjadi ada sebabnya", sahut Alana, namun sebenarnya Alana senang, karena Kenzo pasti kelelahan dan tidak punya niat untuk memintanya melakukan tugas seorang istri di tempat tidur.
"Kita sudah sampai, Tuan", kata Roni kala mereka sudah berada di halaman kediaman Kenzo.
Kenzo dan Alana keluar dari dalam mobil.
"Roni, besok kita harus ke kantor pagi sekali. Aku minta kau menginap saja", ucap Kenzo kala Roni turun dari mobil.
"Baik, Tuan", sahut Roni patuh.
...---...
Di dalam kamar Kenzo.
Sesuai dugaan Alana. Setelah mereka selesai melakukan ritual mandi masing-masing, kini Kenzo tertidur setelah mengecup kening Alana.
Dia pasti sangat lelah. Setelah kembali dari Bali harus mengikuti meeting, bahkan menyelesaikan masalah dengan Pak Dave. Aku harus memberi suamiku semangat. Ucap Alana di dalam batin seraya mengusap lembut wajah tampan Kenzo.
Tiba-tiba Kenzo menangkap tangan Alana. "Apa istriku menginginkan sesuatu?"
Alana tersentak kaget mendengar penuturan Kenzo. Dia tidak menyangka suaminya itu belum tidur sama sekali. "A- aku ngantuk honey", kata Alana seraya menunjukkan ekspresi menguap.
Namun Kenzo tidak mempercayainya. Dia mulai mengulang perbuatannya yang sempat tertunda di dalam lift. Entah kenapa tubuh Alana tidak menolak setiap sentuhan yang diberikan oleh Kenzo.
"I love you, honey", kata Kenzo dengan lembut seraya membenamkan ciumannya, hingga ciuman itu menuntut lebih. "Boleh, honey?" tanya Kenzo kala dirinya tidak kuasa untuk menahan h*sratnya.
Alana mengangguk pelan disertai rasa malu. Ini adalah pengalaman pertama baginya, jadi dia harus benar-benar yakin pada siapa dia akan menyerahkannya.
Tanpa menunggu aba-aba, Kenzo melancarkan aksinya dengan memagut bibir ranum Alana, hingga mereka saling membutuhkan oksigen untuk menetralkan nafas masing-masing. Setelah di rasa cukup, Kenzo perlahan memberikan sentuhan yang membuat sang istri me*ikmatinya. Bahkan sesekali terdengar l*nguhan suara Alana.
"Maaf, honey. Ini mungkin akan terasa sakit", kata Kenzo yang akan melanjutkan s*rangannya, walaupun dia juga belum memiliki pengalaman itu, namun dia melakukannya dengan sangat hati-hati, hingga terdengar suara rintihan dari sang istri.
"Terimakasih sayang", ucap Kenzo kala mereka melakukannya dengan rasa cinta.
__ADS_1