Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Istri?


__ADS_3

Rapat pun diakhiri dengan terjalinnya kerjasama yang baru. Kenzo gegas pamit pada semua kolega bisnisnya.


"Apa Tuan yakin itu bukan foto editan?" tanya Roni saat mereka sudah berada di luar ruangan.


Kenzo menoleh ke arah Roni dengan tatapan sendu. Kemudian dia memalingkan wajahnya seraya menghela nafas panjang. "Aku sangat mengenal istriku. Jadi aku yakin foto itu adalah Alana."


Melihat bosnya begitu yakin, Roni pun manggut-manggut. "Kalau begitu, apa perlu kita samperin Pak Richard, Tuan?"


"Tidak perlu! Lakukan seperti yang saya intruksikan sebelumnya. Ikuti saja kemana pun dia pergi."


"Baik, Tuan", jawab Roni masih dengan mengikuti langkah Kenzo. Apa Tuan Kenzo yakin, Richard tidak akan mencelekai Nyonya? Tanya Roni dalam batinnya. Dia masih bingung melihat sikap santai Kenzo menanggapi pesan ancaman dari Richard, padahal Kenzo yakin bahwa foto yang dikirimkan Richard adalah foto Alana.


...---...


Tempat yang berbeda di salah satu Mall terbesar di kota Jakarta, Alexa sedang berbelanja kebutuhan hariannya. "Sayangku semakin pelit saja. Jatah bulananku udah tipis aja, nih", gerutu Alexa seraya melihat-lihat beberapa produk kecantikan di sebuah stand kosmetik bermerk.


"Permisi mba..." terdengar suara seorang wanita yang tidak asing bagi Alexa. Dia pun menoleh ke sisi kirinya.


"Ya, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita yang mengenakan seragam ciri khas merk kosmetik yang sedang dia jajakan.


Netra Alexa membulat sempurna, hingga hampir saja keluar dari dudukannya. "Ka- kau.." gagapnya.


Sontak wanita disamping Alexa menoleh. "Hm, iya mbanya manggil saya?" tanyanya dengan ramah. Namun sesaat kemudian wanita itu menyadari ada yang menarik dari wajah Alexa. "Wajah kita mirip sekali, apa mbanya kenal dengan saya?" tanyanya dengan tatapan serius.


Alexa sedikit gelagapan. "Ah, mana mungkin kita saling kenal", jawabnya dengan tersenyum canggung.


"Tapi mba berdua memang mirip", timpal penjaga stand.


"Itu hanya kebetulan. Di dunia ini saja ada 7 kembaran manusia, walau bukan dari garis keturunan yang sama", jawab Alexa yang kebetulan pernah membaca artikelnya.

__ADS_1


"Wah, aku beruntung kalau begitu. Aku sudah menemukan salah satu dari sisa 5 orang lagi kembaranku", ujar wanita itu dengan raut wajah bahagia. "Moment Ini harus dijadikan story!" lanjutnya seraya meraih ponselnya dari dalam tas. "Yuk, foto bareng." Tangannya terjulur ke depan siap menekan tombol untuk mengambil foto.


Alexa menunduk ragu. Apa dia benar-benar tidak mengenalku? Tanya Alexa di dalam batin.


"Ayo", ajak wanita itu kembali saat melihat Alexa belum juga siap untuk di foto. "Owh, iya sangking senangnya jumpa kembaran, sampai lupa nanya nama kamu", ucapnya dengan tersenyum.


"A- Alexa", sahutnya dengan gugup.


"Aku Ayana", balasnya dengan menjulurkan tangan.


Alexa mendelik mendengar nama wanita itu. Namun tangannya tetap terulur. "Ayana?" ulangnya.


Ayana manggut-manggut, namun tatapannya sedikit curiga saat mendengar nada bicara Alexa. "Hm, apa kita saling kenal?" tanyanya.


Alexa menggeleng dengan cepat. "Tidak", jawabnya untuk menghindari kecurigaan Ayana. "Senang bisa berkenalan denganmu", lanjutnya tersenyum canggung.


Alexa mencoba menguping pembicaraan Ayana. Namun usahanya itu sia-sia belaka, karena yang terdengar hanya suara lembut Ayana yang sedang berbicara pada seseorang yang dia panggil dengan sebutan suamiku. Merasa bosan, Alexa pun pergi meninggalkan Ayana tanpa berpamitan.


"Oke, sampai jumpa besok suamiku", ucap Ayana di akhir permbicaraannya. Lalu dia menutup sambungan telepon. "Em, maaf..." ucapan Ayana terhenti kala dirinya menoleh dan tidak melihat sosok Alexa disampingnya. "Kemana dia pergi?" gumamnya seraya mencari keberadaan Alexa disekelilingnya. Dia sedikit kecewa, karena belum mengambil satu foto pun bersama Alexa. "Hm, ya sudahlah. Kalau ada jodoh, pasti nanti kami ketemu lagi", lanjutnya bermonolog.


Sementara di tempat yang tersembunyi Alexa sedang mengawasi Ayana. Saat Ayana beranjak dari posisinya, Alexa pun mengikutinya dengan sangat hati-hati.


...---...


Di Bali


Saat Dave dan Richard telah mengisi kampung tengahnya, kini mereka kembali masuk ke dalam kamar. Setelah beberapa menit berada di dalam kamar, tiba-tiba saja terdengar suara keributan. Dave dan Richard bertengkar hebat. Mereka saling adu argumen, setelah Baron menghubungi keduanya dengan mengucapkan kata makian.


"Ini semua gara-gara kerjamu yang gak becus!" sergah Richard. Tangannya sibuk memasukkan kembali semua pakaiannya. "Coba saja kau cek dengan benar presentasi itu, kita pasti sudah mendapatkan kerjasama dengan mereka dan papa pun bangga pada kita berdua", lanjutnya sembari menutup kopernya.

__ADS_1


Tak terima dengan perkataan Richard, Dave mulai tersulut emosi. Dia berjalan mendekati Richard dan langsung menarik kerah bajunya. "Jadi menurutmu kerjamu saja yang becus, ha!" balas Dave dengan menekan Richard.


"Lepaskan tanganmu!" pinta Richard dengan tatapan penuh emosi, namun Dave mengabaikannya.


Dave semakin mengeratkan genggamannya hingga membuat Richard kesulitan bernafas.


"Apa yang kau lakukan! Lepaskan aku!" teriak Richard yang mulai merasa sesak.


Tiba-tiba saja Dave melepaskan genggamannya. Lalu dia tersenyum sinis sembari merapikan kemejanya yang sempat di tarik oleh Richard.


"Kau pikir aku takut padamu, karena tubuhmu lebih tinggi dariku?" tanya Richard seolah melupakan bagaimana kepayahannya dia lolos dari cengkeraman Dave.


"Aku malas berdebat denganmu!" tukas Dave. Lalu dia membalikkan badannya hendak berjalan menuju pintu ke luar.


"Jangan sombong Dave. Apa kau pikir, karena kau lebih pintar dariku soal bisnis, maka papa akan memberimu semua warisannya!" teriak Richard yang menghentikan langkah Dave. "Big no!" tegas Richard. "Selama ini Papa hanya menjadikanmu sebagai bidak!" lanjutnya dengan tertawa keras.


Mendengar suara tawa Richard, Dave mulai mengeraskan rahangnya, hampir saja dia berbalik dan melayangkan kepalan tangannya tepat di mulut yang telah mencibirnya. Namun entah apa yang melintas dalam pikirannya hingga dia bisa menahan emosinya dan pergi meninggalkan Richard.


"Hei, Dave. Mau kemana? Apa kau sudah tidak menginginkan warisan orang tuaku lagi?" tanyanya di saat Dave sudah ke luar dari dalam kamar. Tidak mendapatkan balasan pesan dari Kenzo, Richard pun memutuskan kembali ke kota Jakarta. Dia gegas mendorong kopernya menuju pintu ke luar.


...---...


Sementara Dave belum merencanakan kepulangannya. Dia duduk di sudut ruang terbuka sambil merenungkan sesuatu. Rasa kesalnya pada Richard membuatnya tak ingin lagi bertemu dengan kakak angkatnya itu. Saat tangannya terangkat untuk melihat jam, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Netranya berbinar saat membaca nama kontak diponselnya. Dengan cepat Dave menggeser tombol hijau di layar ponselnya.


"Halo, istriku", ucapnya dengan wajah bahagia.


"Istri?" ulang seseorang dari arah belakang Dave.


Merasa tak asing dengan suara itu. Dave pun menutup sambungan teleponnya.

__ADS_1


__ADS_2