Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Masalah Perusahaan Kenzo


__ADS_3

Kenzo menatap ke arah Roni. "Tolong siapkan satu meja untuk istriku tepat di sebelah Shinta."


"Baik, Tuan", sahut Roni. Lalu dia gegas keluar dari ruangan Kenzo.


"Honey, mejamu berada di sebelah Shinta supaya kau tidak berada jauh dariku. Tapi pekerjaanmu tetap berkaitan dengan jurusan yang kau ambil."


"Hm, tapi bukankah jadinya tidak efisien, honey. Divisi accounting pasti akan kejauhan mencariku setiap saat."


"Ini kantorku honey. Jika mereka tidak mau, aku bisa menggantikannya dengan orang lain."


Alana mendelik mendengar ucapan Kenzo. "Oke, honey", jawab Alana dengan cepat. Dia tidak ingin membantah ucapan suaminya, agar orang lain tidak kehilangan pekerjaan karena dirinya. Nanti biar aku saja yang pergi ke Divisi Accounting, kan beres. Ucap Alana di dalam batinnya.


Tidak lama kemudian Roni datang melaporkan bahwa meja kerja Alana sudah dia siapkan tepat di samping sekretaris Kenzo.


"Kalau begitu aku pergi melihat mejaku dulu ya, honey", kata Alana seraya beranjak dari posisinya.


"Tunggu dulu!" tahan Kenzo.


Alana membalikkan badannya. "Ya, ada apa lagi honey?"


"Sepertinya aku berubah pikiran!" ujar Kenzo yang membuat Alana mendelik. "Taruh meja istriku di dalam ruangan ini saja."


Tanpa menunda waktu, Roni gegas berjalan ke luar, meminta karyawan pria itu mengangkat kembali meja Alana ke dalam ruangan Kenzo. "Tuan, ini mau diletakkan di mana?" tanya Roni.


Kenzo menunjuk di depan meja kerjanya. "Di situ", ujarnya.


Karyawan suruhan Roni meletakkan meja sesuai arahan Kenzo. Sementara Alana merasa kesal atas tindakan Kenzo. "Honey, bukankah nantinya aku akan semakin sulit berkomunikasi dengan Divisi accounting?"


"My honey jangan khawatir. Di sini ada pakar segalanya. Apa honey lupa siapa suamimu ini?" tanya Kenzo.


"Suamiku CEO diperusahaan group Thompson", sahut Alana dengan wajah datar.


"Itu my honey tahu. Jadi tidak perlu khawatir, karena Suamimu ini bisa melakukan banyak hal."


Alana tidak ingin berdebat dengan sang suami. Dia berbalik, lalu berjalan mendekat ke meja. "Terimakasih honey", ucap Alana seraya duduk di kursi walaupun sebenarnya dia protes di dalam benaknya.


"Sama-sama, honey", sahut Kenzo dengan tersenyum.


Roni bisa bernafas lega, kala Kenzo tidak banyak permintaan lagi. Dia pun dapat melanjutkan tugas penting dari Kenzo. "Kalau sudah selesai, saya pamit Tuan."


"Oke", sahut Kenzo.


"Terimakasih, Pak Roni", ujar Alana menghargai rasa lelah Roni.

__ADS_1


"Sama-sama, Nyonya", balas Roni seraya beranjak dari posisinya dan berjalan menuju pintu keluar.


"Honey, aku akan mengirimkan laporan keuangan perusahaan. Tolong sebutkan emailmu", pinta Kenzo.


"Jangan honey. Biarkan aku mengerjakan apa yang Divisi Accounting berikan saja. Jadi aku bisa belajar dari mereka."


Raut wajah Kenzo berubah sedih. Dia tidak suka sang istri lebih memilih tugas dari bawahannya ketimbang dari dirinya. "Terserah honey saja", sahutnya tanpa menatap Alana.


Alana beranjak dari tempat duduknya seraya berjalan mendekati Kenzo. "Aku paham apa yang honey inginkan. Tapi aku tidak mau ada perlakuan khusus untukku di sini. Biarkan aku memahami tugas itu dengan hasil pikiranku sendiri, setelah itu jika aku menemukan kesulitan nantinya, my honey bisa membantuku, bagaimana?"


Kenzo belum merubah ekspresi wajahnya, dia seakan tidak suka akan argumen Alana. "Hm, oke. Apa yang membuat istriku nyaman saat bekerja, aku akan tetap mensupportnya", sahut Kenzo. Lalu dia menghapus jarak antara dirinya dan Alana.


Cup.


Tanpa aba-aba Kenzo kembali mengecup sang istri, hingga wajah Alana bersemu merah. Dia menyadari sikap sang suami berubah padanya.


Cup.


Entah keberanian dari mana, Alana membalas dengan mengecup Kenzo.


Wajah Kenzo tersenyum sumringah, dia menarik tangan Alana hingga istrinya itu jatuh ke dalam pelukannya. "Aku mencintaimu istriku", ucapnya dengan perasaan yang dalam.


Tok. Tok.


"Awas saja kalau pengganggu ini tidak membawa sesuatu yang sangat penting", ancamnya seraya mempersilakan pengganggu itu masuk.


"Permisi, Pak", ucap Shinta gugup kala melihat ekspresi menyeramkan bosnya.


"Iya ada apa?"


"Saya barusan menerima email dari Pak Billy. Email beliau sudah saya forward ke Pak Kenzo. Mohon diperiksa Pak."


"Apa kamu sudah membaca emailnya?"


"Sudah, Pak."


"Katakan apa inti dari email itu!"


"Sepertinya berkaitan dengan perjalanan bisnis Pak Kenzo di Bali. Jadi beberapa rekan bisnis Pak Kenzo beralih ke perusahaan Pak Billy di LN."


"Jadi ini maksud perkataan Paman", gumam Kenzo. "Oke, terimakasih infonya. Kau selamat!"


Shinta mengangguk bingung. Dia pun pamit dengan rasa penasaran yang besar, karena tidak dapat memahami arti kata selamat yang baru saja diucapkan oleh Kenzo.

__ADS_1


Kenzo langsung meminta Roni masuk ke dalam ruangannya. Sementara Alana hanya diam seraya memperhatikan setiap gerak gerik sang suami. Dia terlihat sangat berwibawa saat bekerja. Ucap Alana di dalam batinnya.


"Honey, jika kau merasa bosan. Kau boleh pergi ke Divisi Accounting", usir Kenzo secara halus. Dia tidak ingin Alana mendengar apa yang akan dia bicarakan dengan Roni nantinya.


"Oke, honey. Aku ke sana sebentar." Alana berjalan ke luar ruangan Kenzo bersamaan dengan kedatangan Roni.


"Nyonya, mau ke mana?" tanya Roni saat berpapasan dengan Alana.


"Saya ke Divisi Accounting sebentar Pak."


"Nyonya sudah tahu dimana ruangannya, kan?"


"Sudah, Pak. Saya pamit dulu."


"Oke, Nyonya", jawab Roni bersamaan dengan Alana melangkah melewati dirinya.


"Ya,.Tuan. Apa yang bisa saya bantu?"


"Duduklah dulu. Saya mau membahas masalah perusahaan kita yang ada di Bali. Sepertinya Pak Billy ingin menyerang kita seperti yang dia lakukan pada Papa."


Roni tersentak kaget mendengar penuturan Kenzo. "Oke, Tuan. Jadi apa yang harus kita lakukan?"


"Bantu aku memikirkannya. Sepertinya dia punya maksud terselubung, karena dia terang-terangan mengirimkan ancaman."


"Bagaimana kalau kita..."


Tok. Tok.


Ucapan Roni terputus kala dia mendengar suara ketukan pintu.


"Masuk!"


Shinta menjulurkan kepalanya dengan perasaan takut. "Ma- maaf Pak", ucapnya dengan gugup. "Saya mendapat kabar bahwa Hotel Pak Kenzo yang ada di Bali sepertinya terkena masalah, coba Bapak nonton berita ini." Tangan Shinta terjulur memberikan ponsel miliknya pada Kenzo.


Gegas Kenzo meraihnya dari Shinta. Matanya mulai memerah kala menonton berita tentang keadaan hotel miliknya. "Aku yakin ini perbuatan Billy", kata Kenzo seraya mengepalkan tangannya.


"Pak... A- ada satu berita lagi!" seru Shinta dengan gugup. "I- itu, hotel Pak Kenzo yang di kota ini juga kena masalah."


Kenzo terduduk lesu. "Apa dia ingin menyerangku habis-habisan?"


"Tuan tenanglah! Bukankah Tuan sudah pernah melewati masa-masa seperti ini?"


"Kau benar. Tapi aku tidak mau mengulang kisah lama", sahut Kenzo dengan penuh emosi.

__ADS_1


__ADS_2