Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Kecelakaan


__ADS_3

Keesokan harinya.


Kenzo bangun lebih awal dari pagi biasanya, bahkan sudah bersiap untuk pergi ke perusahaan taksi online.


"Pagi, Tuan", sapa Roni dengan rasa malu, karena Kenzo lebih dulu menunggu dirinya.


"Pagi", jawab Kenzo. "Jam berapa kantor taksi online itu buka?"


"Dari informasi online yang saya baca, mereka buka pukul 8 pagi Tuan", sahut Roni.


"Owh, begitu ya", ucap Kenco dengan raut wajah kecewa. Lalu dia melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya. "2 jam lagi", gumamnya.


Sepertinya Tuan Kenzo sangat gelisah. Apa dia tidur nyenyak malam ini? Tanya Roni di dalam batin.


Tiba-tiba Kenzo menghentak kuat kedua telapak tangannya di lutut, lalu dia bangkit dari tempat duduknya saat Roni terjingkat karena kaget. "Ayo, kita sarapan di dekat kampung nelayan", katanya.


"Oke Tuan", jawab Roni dengan mengelus dada. Kenapa Tuan Kenzo mengajak sarapan seperti mau mengajak orang perang. Kesal Roni di dalam batin. Namun dia tetap pergi mengikuti Kenzo dibelakangnya.


Apa aku masih punya nafsu makan, walaupun istriku belum ditemui. Bagaimana jika nanti dia ditemukan dan mengetahui hal ini, bukankah dia akan mengatakan aku ini adalah suami yang kejam? Kata Kenzo di dalam batin. Rasa sayang Kenzo pada Alana, membuatnya tak sanggup melihat Alana bersedih.


Kenzo dan Roni gegas masuk ke dalam mobil. Meskipun mereka belum menemukan di mana Alana berada, tapi untuk urusan kampung tengah itu sepertinya tidak boleh dilewatkan.


Dalam sekejap mobil yang dikendarai Roni sudah melaju kencang membelah jalanan yang mulai tampak ramai. Kenzo membuka kaca mobilnya, saat mereka sedang melewati hamparan sawah penduduk setempat. Angin segar di pagi hari menerpa wajah tampan Kenzo, hingga masuk ke dalam pori wajahnya. "Sejuk sekali", kata Kenzo saat merasakanya lebih lama lagi sambil menutup matanya.


"Tuan, ini adalah jembatan di mana tubuh Steve ditemukan", kata Roni saat tenggorokannya mulai kering karena sedari tadi tidak ada perbincangan di antara mereka.


"Iya, aku tahu. Waktu itu aku membawa Alana sarapan di dekat sini", sahut Kenzo masih dengan menutup mata.


Setelah itu Roni kembali diam, namun dia tetap fokus menyetir, hingga mereka tiba di sebuah warung langganan Kenzo. Mereka sama-sama turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam warung. Tanpa memesan, makanan untuk Kenzo dan Roni sudah terhidang dihadapan mereka. Dalam sekejap makanan itu pun ludes tak bersisa.


Sebelum mereka pulang, Kenzo terlebih dahulu meninggalkan nomor ponselnya dan foto Alana pada pemilik warung, karena pemilik warung sempat menanyakan keberadaan Alana.


"Kami pergi dulu bude", kata Kenzo dengan sopan.

__ADS_1


"Iya, hati-hati di jalan, nak. Kalau bude melihat istrimu, langsung bude kabari", sahut pemilik warung dengan rasa empati.


"Terimakasih ya bude", jawab Kenzo dengan tersenyum. Lalu dia berjalan menuju tempat mobilnya di parkir. Roni pun ikut melangkahkan kakinya, berjalan tepat di belakang Kenzo.


Setelah meninggalkan tempat itu, akhirnya mereka pergi ke kantor taksi online.


"Hm, saya akan mengantar Tuan ke kantor lebih dulu", kata Roni saat mobil yang dikendarainya akan melewati persimpangan.


"Tidak perlu! Saya ikut denganmu saja."


"Tapi, Tuan..."


Tatapan tajam Kenzo melalui spion mobil telah menciutkan nyali Roni, hingga dia tak mampu untuk membantah. Kemudian dia melajukan mobil, dan membawa serta Kenzo, hingga mereka tiba di kantor taksi online.


"Sudah sampai Tuan", kata Roni saat mobil sudah terparkir sempurna.


Kenzo gegas turun dari mobil dan berjalan dengan buru-buru menuju pintu masuk.


"Permisi", ucap Kenzo dan Roni hampir bersamaan.


"Ya, ada apa Pak?" tanya seorang wanita dengan sopan.


Lalu Roni tampil ke depan. Dia mulai menjelaskan duduk perkaranya dan memberikan nomor plat mobil yang mereka dapat dari pak polisi.


Wanita itu tampak syok, karena supir yang telah membawa mobil itu mengalami kecelakaan, tapi tidak ada siapapun selain pak supir di dalam mobil.


Tanpa menunda-nunda, Roni meminta alamat rumah sakit dan nama pak supir.


"Terimakasih, Bu", ucap Roni saat mendapatkan apa yang dia butuhkan. Lalu dia berpamitan pada wanita itu.


"Tuan, kita ke rumah sakit", katanya pada Kenzo.


"Hm", jawab Kenzo singkat, karena dia telah mendengar perbincangan antara Roni dan wanita itu.

__ADS_1


...---...


Setelah pulang dari rumah sakit, wajah Kenzo tampak semakin murung. Sang supir mengakui kalau dia membawa Alana sebagai penumpang. Tapi tiba-tiba sebuah kecelakaan terjadi hingga membuat dirinya pingsan. Saat pak supir itu bangun, dia mendapati dirinya sudah berada di rumah sakit.


"Kemana istriku?" tanyanya dengan nada lirih.


Roni melajukan kendaraan menuju tempat kecelakaan terjadi. "Kita sudah sampai Tuan", kata Roni yang membuat Kenzo mendelik.


"Di sini tidak ada jurang", ucapnya bingung. Namun dia tetap turun dari mobil dan berjalan menyusuri semak belukar yang berjarak beberapa meter dari bibir jalan.


"Tuan, biar saya saja", kata Roni sembari berjalan mendahului Kenzo.


"Lebih baik kita mencarinya sama-sama, biar lebih cepat ditemukan", sahut Kenzo.


Sepuluh menit berlalu, namun pencarian Kenzo dan Roni tidak membuahkan hasil.


"Tuan, sepertinya memang tidak ada apa-apa di sini. Lebih baik kita kembali saja", ujar Roni.


"Tunggu sebentar lagi", kata Kenzo dengan nada lirih. Hatinya begitu pedih, karena kelalaiannya sang istri tidak tahu di mana keberadaannya. Dia menyesal tidak menuruti kata hatinya untuk segera menemui Alana di rumah orang tuanya. "Aaa...." pekik Kenzo penuh emosi, hingga dia menjadi tontonan pengendara lain yang sengaja berhenti di tempat itu.


"Ada apa Pak?" tanya pria bertubuh gempal yang terkejut mendengar suara teriakan Kenzo.


"Bukan apa-apa, Pak", jawab Roni seraya menatap pria itu. Lalu dia pun membubarkan pengendara lain yang masih menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Kirain ada apa!" kesal pengendara lain sembari menyalakan kembali kendaraannya dan pergi dari tempat itu.


Roni gegas menghampiri Kenzo yang tampak menyedihkan, karena kewibawaannya telah hilang. "Tuan, ayo kita pergi dsri tempat ini", bujuk Roni.


Kenzo beranjak dari posisinya tanpa bersuara, lalu dia berjalan menuju mobil di parkir. Roni pun melakukan hal yang sama.


Setelah mereka sudah berada di dalam mobil, Roni gegas melajukan kendaraan meninggalkan tempat kejadian kecelakaan itu. Kenzo meraih ponselnya dan menghubungi Shinta. Dia meminta sekretarisnya itu untuk mereschedule semua jadwal meeting seminggu ke depan.


"Tuan, saya curiga Pak Billy dalang dari semua ini", ucap Roni yang telah mengetahui dalang dari penguntit tiga hari yang lalu.

__ADS_1


"Jangan berasumsi apapun. Sekarang kita ke rumah mertuaku dulu", ucapnya tanpa ekspresi.


"Baik,.Tuan", jawab Roni. Lalu dia melajukan kendaraan menuju rumah orang tua Alana.


__ADS_2