Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Anniversary


__ADS_3

Hari-hari berlalu terasa begitu cepat, hingga hari ulang tahun pernikahan Alana dan Kenzo pun tiba. Layaknya pasangan yang suka merayakan anniversary, Kenzo juga melakukan hal yang sama. Dia telah melakukan segala persiapan untuk merayakan hari yang sangat spesial itu.


"Roni, bagaimana dengan Pak Baron? Apa dia menerima undangannya?"


"Maaf, Tuan. Saya hanya bisa menitipkannya pada sekretarisnya."


Kenzo mengernyit. "Kenapa?"


Pertanyaan Kenzo di jawab dengan helaan nafas Roni. "Pak Baron jatuh sakit, setelah Dave tidak dapat dia bebaskan."


Merasa iba dengan adiknya itu, dia pun berniat untuk membebaskannya. "Walaupun Dave tidak memberitahu keberadaan Alana, tapi setidaknya dia tidak mencelakainya. Aku akan mencabut tuntutannya."


"Saya sependapat dengan Tuan. Tapi apa perlu Tuan membebaskannya? Sementara dari hasil penyelidikan saya, Pak Dave yang telah merusak rem mobil Tuan."


Kenzo tersentak kaget menengar penuturan Roni. "Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?"


Roni menunduk sebagai rasa bersalah. "Maaf, Tuan", sahut Roni lesu. Perlahan dia mendongak hanya untuk melihat reaksi Kenzo.


Merasa aman Roni pun melanjutkan ucapannya. "Saya lihat Tuan terlalu sibuk dan tampak bahagja saat mempersiapkan anniversary Tuan, jadi saya tidak ingin merusak suasana hati Tuan dengan berita yang akan saya sampaikan."


Kenzo menghela nafas panjang. "Iya aku paham, karena terlalu sibuk dengan perayaan, aku jadi lupa dengan penyelidikan yang sedang kau lakukan selama ini."


"Saya minta maaf, Tuan. Bagaimanapun juga sudah seharusnya saya memberitahukannya pada Tuan."


Seulas senyum terbit di wajah tampan Kenzo. "Dalam hal ini kau tidak bersalah, justru aku senang dengan hasil kerjamu selama ini", puji Kenzo. "Kau adalah asisten terbaikku, sudah sepantasnya kau ku beri hadiah", lanjut Kenzo yang membuat Roni melongo.


Apa dia akan menaikkan gajiku lagi? Batin Roni. Namun sebenarnya dia sudah cukup puas dengan kenaikan gaji sebelumnya.


"Tapi bukan kenaikan gaji", sambung Kenzo.


Raut wajah Roni tampak sedikit kecewa. "Jadi Tuan mau kasi hadiah apa?"


"Aku akan memberimu satu unit rumah..."


Mata Roni berbinar mendengar hadiah yang akan diberikan Kenzo. "Tuan sungguh murah hati", puji Roni dengan tersenyum bahagia.


"Aku belum selesai bicara" ujar Kenzo. "Aku akan memberikanmu beberapa foto wanita cantik. Kau bisa pilih satu diantaranya. Setelah kau sudah menentukan pilihanmu dan kalian menikah, maka aku akan memberikan satu unit rumah sebagai kado pernikahan kalian nanti."


What? Itu sih bukan hadiah. Rutuk Roni di dalam batin. "Kalau begitu hadiahnya Tuan simpan saja", tolak Roni dengan tersenyum tipis.


Mendengar penolakan Roni, Kenzo menghela nafas berat. "Tidak baik menolak pemberian seseorang, karena itu artinya kau sama sekali tidak menghargai orang itu", sambung Kenzo bernada ancaman.

__ADS_1


"Baiklah, Tuan. Saya akan menerimanya", sahut Roni lirih.


"Bagus!" ujar Kenzo dengan tersenyum. "Ayo, kita ke ruang rapat", lanjutnya seraya bangkit dari atas kursinya dan berjalan menuju pintu ke luar.


Aku pikir Tuan emang murah hati, tapi ternyata itu hanya alasan saja untuk memaksaku menikah. Batin Roni menangis.


...---...


Sudah dua jam lamanya Kenzo dan Roni berada di dalam ruang rapat.


"Oke, Tuan Kenzo. Saya sepakat dengan apa yang anda paparkan", ucap klien dari negara Jepang itu.


Kini mereka saling berjabat tangan sebagai tanda kerjasama baru disepakati.


"Senang bekerja sama dengan anda, Tuan Hito." Kenzo mengeratkan genggaman tangannya seraya tersenyum pada Hito. Kemudian mereka sama-sama melepaskan jabatan tangan.


"Maaf, kalau saya tidak bisa hadir di acara ulang tahun pernikahan Tuan Kenzo", ucap Hito dengan raut wajah menyesal.


"Itu tidak jadi masalah. Terjalinnya kerjasama kita, itu saja sudah cukup bagi saya", sahut Kenzo.


Hito tersenyum mendengar ucapan Kenzo. "Oke, kalau begitu saya bisa pamit dengan perasaan tenang."


Hito membalasnya dengan tersenyum seraya berbalik dan melangkahkan kakinya menuju pintu ke luar.


Sepeninggal Hito, Roni buru-buru melaporkan kabar Baron. "Maaf, Tuan. Ada berita duka", ucap Roni lirih.


Sontak Kenzo menatap Roni. "Siapa?" tanyanya dengan perasaan gusar.


"Pak Baron, Tuan."


Kenzo terdiam sesaat, lalu dia mengusap kasar wajahnya. "Aku tidak akan mengatakan kalau itu pantas dia dapatkan. Aku hanya bisa berkata turut berduka cita." Kenzo beranjak dari posisinya berdiri dan berjalan menuju pintu keluar.


Roni pun mengikuti Kenzo. Barangkali Kenzo akan memerintahkannya untuk memberikan karangan bunga pada keluarga yang sedang berduka.


"Roni, kirimkan karangan bunga", ucap Kenzo sesuai dugaan Roni.


Kemudian terdengar helaan nafas Kenzo. "Tolong kamu sampaikan juga pada EO yang mengatur acara nanti malam, agar acaranya di ubah dengan durasi 30 menit saja."


"Baik Tuan", sahut Roni. Dia pun gegas menelpon EO, sebelum semuanya terlambat.


...---...

__ADS_1


Siang ini Kenzo datang ke rumah duka. Walau dia tahu Richard akan menghalaunya, Kenzo tetap mengikuti prosesi hingga sahabat ayahnya itu di bawa ke tempat perhentian terakhir.


Kenzo tampak diam, hingga mereka pulang dari tempat pemakaman. Roni pun ikut diam sambl fokus menyetir, membelah jalanan yang tampak ramai.


"Kita langsung ke rumah", ucap Kenzo di sela lamunannya.


"Baik, Tuan", sahut Roni. Lalu dia menambah laju kendarannya menuju kediaman Kenzo.


Sepanjang perjalanan menuju rumah, Kenzo tiada henti memikirkan Baron. Mungkin orang-orang akan berfikir dialah penyebab Baron tiada. Untuk itu Kenzo telah mempersiapkan jawaban, jika ada yang mempertanyakan hal itu nantinya.


"Kita sudah sampai Tuan", kata Roni kala melihat Kenzo tengah asyik dengan lamunanya.


"Oke", jawab Kenzo seraya turun dari dalam mobil, lalu dia mengayunkan langkahnya menuju pintu masuk.


Cklek.


Netra Kenzo terbelalak kala pintu di buka sebelum dia mengetuk pintu.


"Sore, Tuan", sambut Alana.


Kenzo mengernyit bingung. "Sore", jawabnya seraya memikirkan perubahan sikap Alana.


"Apa pekerjaan Tuan seharian ini melelahkan?" tanyanya dengan mengikuti langkah Kenzo. Bobot tubuhnya yang mulai bertambah membuat Alana kesulitan saat akan berjalan.


"Hati-hati", ucap Kenzo dengan lembut dan penuh perhatian. Dia tak ingin sesuatu terjadi pada sang istri.


"Iya, aku akan hati-hati", jawab Alana.


Tak puas dengan jawaban Alana, Kenzo pun menghampiri Alana dan menuntunnya.


"Apa kau sudah mengingatku, honey?" tanya Kenzo kala Alana tidak melakukan penolakan.


Mendengar ucapan Kenzo, Alana tersentak kaget. "I- itu mungkin karena kita memang suami istri. Bukankah itu reaksi yang normal?" tanya Alana gugup.


Ucapan Alana semakin membuat Kenzo curiga. "Apakah memang seperti itu?" tanya Kenzo dengan menatap intens Alana. Tanpa Alana duga, Kenzo langsung mengangkat tubuh Alana ala bridal style.


"Apa yang kau lakukan? Turunkan aku!" teriak Alana yang merasa gugup berada sedekat itu dengan Kenzo, setelah beberapa bulan berlalu.


Kenzo tidak peduli dengan suara teriakan Alana. Dia tetap menggendongnya menaiki anak tangga.


"Kasihan anak kita...ups", Alana menutup mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2