
Setelah Alana selesai melakukan ritual malam dan berganti pakaian tidur, telinganya mendengar sayup suara seseorang dari ruang TV.
"Apa suamiku sedang berbicara di telepon?" tanyanya bergumam seraya menempelkan daun telinganya pada pintu. "Kenapa aku kepo, sih?" lagi-lagi Alana bergumam saat sadar dengab apa yang dia lakukan. Dia pun menjauhkan daun telinganya dari pintu. Sebenarnya dia masih penasaran dengan siapa Kenzo bicara, namun dia tidak ingin sampai ketahuan.
Perlahan tangan Alana membuka handle pintu. Dia menahan nafasnya, agar suara pintu di buka tidak terdengar oleh Kenzo. Kini pintu kamarnya terbuka sedikit, Alana pun dapat mendengar jelas suara Kenzo.
Seketika hati Alana runtuh mendengar kata sayang yang keluar dari mulut Kenzo. "Itu pasti Alexa", ucapnya bergumam. Lalu dia menutup pintu kamarnya tanpa Kenzo sadari.
Alana berjalan, lalu naik ke atas tempat tidurnya. Dia menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya.
"Alana, kenapa kau terlalu percaya diri? Kenzo memanggilmu istri hanya karena urusan bisnis. Dia tidak akan pernah menganggapmu sebagai istri sesungguhnya, tidak akan... ingat itu!" ucap Alana bermonolog. Rasa bahagianya setelah pesta malam tadi seakan tak dapat menutupi kesedihannya saat ini.
Drrt... Drrt.
Tiba-tiba ponsel Alana bergetar. Dengan malas Alana menjulurkan tangannya meraih ponsel yang ada di atas nakas.
"Diva", ucapnya.
"Halo, Div", sahut Alana setelah menggeser tombol hijau di layar ponselnya itu.
"A-al..." ucap Diva sesenggukan dari seberang telepon.
"Kau kenapa, Div?" Alana terlihat panik. Tidak biasanya sahabatnya itu menangis sampai sesenggukan.
"Aku b*doh Al. Aku tidak mendengarkan nasehat darimu. Sekarang... Hiks. Hiks.." Diva kesulitan untuk melanjutkan ucapannya. Dia merasa kesal bercampur benci pada pria yang sudah menjadi kekasihnya selama 1 tahun itu.
"Kau di mana sekarang, Div?:
"Aku di dalam kamar, Al. Albert meninggalkanku setelah dia melakukan perbuatan b*jad itu."
Alana mulai tersulut emosi kala mendengar penuturan Diva. Dia ingin menemui Albert, tapi dia tidak tahu kemana harus mencari pria tidak bermoral itu.
"Datanglah ke kamarku, Div. Jangan tinggal bersama pria itu lagi!"
"Tidak bisa, Al. Setelah apa yang dia lakukan, aku tidak mau tinggal diam. Aku akan melaporkannya pada pihak yang berwajib."
"Aku akan mendukungmu, apapun yang ingin kau lakukan, maka lakukanlah Div. Tapi setidaknya untuk malam ini kau tidur di kamarku dulu." pinta Alana.
__ADS_1
"Aku takut suamimu akan marah padamu, Al."
"Tidak perlu takut, Div. Dia pasti tidak akan marah, kalau aku jelaskan masalahmu padanya. Malah dia pasti akan membantumu."
Diva tidak langsung menyahut ucapan Alana. Dia berfikir sejenak sebelum memutuskan. "Baiklah, aku ke sana", putusnya.
Lalu mereka mengakhiri perbincangan di telepon.
Diva langsung beranjak dari posisinya seraya menahan rasa perih, akibat perbuatan kasar Albert. Dia mendorong kopernya perlahan menuju pintu keluar. Lalu dia berjalan menghampiri pintu kamar Alana. Dia langsung menghubungi Alana untuk membukakan pintu, karena takut Kenzo akan terganggu kalau membunyikan bel.
Ceklek.
Alana membukakan pintu dan membawa masuk Diva tanpa meminta persetujuan Kenzo.
"Ayo, kita ke kamarku", ajak Alana dengan berbisik agar tidak mengganggu Kenzo.
Diva berjalan mengikuti langkah Alana menuju kamarnya. Setelah berada di dalam kamar, Alana langsung merangkul sahabatnya itu. "Aku turut prihatin atas apa yang baru saja menimpamu." Alana mengusap lembut punggung Diva untuk menenangkannya yang sedang menangis.
Alana menyentak lembut tubuh Diva. "Aku harap kau tidak gegabah dalam bertindak, karena aku tidak mau kau malah mendapat serangan balik dari pria bus*k itu."
Diva mengusap kasar sisa air matanya. "Kau tenang saja, Al. Aku tahu apa yang harus aku lakukan", imbuhnya.
Diva mengangguk sebagai jawaban. Lalu dia pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
...---...
Malam terasa begitu singkat bagi Alana dan Diva. Rasanya baru saja mereka berdua memejamkan mata, pagi sudah menyapa.
Tok. Tok.
"Istriku..." terdengar suara bariton Kenzo yang sedang memanggil Alana.
Alana mendengar sayup namanya di panggil seseorang. Dia mengerjap untuk menetralkan penglihatannya dengan cahaya di dalam kamar, Kemudian dia melihat ke sekeliling. "Siapa yang memanggilku?" ucapnya bergumam.
Saat Alana akan bangkit dari atas tempat tidur terdengar kembali namanya di panggil dengan jelas oleh Kenzo. Dia pun turun dari atas tempat tidur, melupakan sahabatnya yang masih tidur di atas ranjangnya.
Ceklek.
__ADS_1
"Pagi suamiku", sapa Alana dengan tersenyum manis saat pintunya terbuka sebagian.
"Pagi istriku. Tumben istriku bangun lama."
Alana menutup mulutnya yang sedang menguap lebar. "Mungkin karena semalam tidur terlalu lama", jawab Alana tanpa berfikir terlebih dulu.
Kenzo menaikkan alismya. "Kenapa istriku tidur larut malam? Apa ada masalah?"
"Bukan aku, tapi - " Alana terlanjur menunjuk ke dalam kamarnya. Kenzo pun melihat ke arah dalam kamar Alana.
Habislah aku, semalam tidak izin membawa teman menginap. Ucap Alana di dalam batin.
"Siapa dia?" tanya Kenzo seraya membalikkan badannya.
Alana langsung menoleh ke arah Diva saat melihat reaksi Kenzo. "Dia sahabatku Diva. Di pesta itu, dia dan kekasihnya Albert datang menyapa kita", sahut Alana. Dia merasa malu karena sahabatnya tidur hanya menggunakan kutang.
"Iya, aku ingat. Kekasihnya itu pria yang sudah aku coret namanya dari dalam daftar!"
Alana mengangguk sebagai jawaban. Lalu dia menceritakan apa yang sudah dialami oleh Diva. Kenzo tampak marah saat mendengar penuturan Alana.
"Kemana Albert pergi?"
"Aku tidak tahu suamiku. Tapi Diva bertekad akan melaporkan Albert pada pihak yang berwajib."
Kenzo diam sesaat. Dia tidak ingin Alana terlibat terlalu jauh dengan permasalahan Diva. "Biarkan suamimu ini yang membantunya. Jika kalian ingin pergi ke luar, biarkan pengawal yang menemani ", ucap Kenzo. Dia tahu persis orang seperti apa Albert itu dan bagaimana dukungannya di dalam maupun di luar negeri.
"Baik, suamiku", sahut Alana patuh.
"Aku sudah meminta karyawan hotel membawa sarapan. Jika ada yang tidak sesuai dengan selera istriku, mintalah untuk dibawakan yang lain", ujar Kenzo dengan lembut. "Aku akan turun ke bawah untuk menemui seseorang. Jangan membuka pintu dengan sembarangan!" tegasnya. "Mungkin pengawal akan tiba dalam satu jam ke depan."
"Baik, suamiku", sahutnya dengan memaksakan senyumannya. Apakah Kenzo ingin menemui Alexa? Tanyanya di dalam batin. Entah kenapa hatinya sedih saat mengantar kepergian Kenzo.
"Pagi, Nyonya", sapa Roni yang sudah menunggu di luar kamar mereka.
"Pagi, Pak", balas Alana dengan tersenyum kaku.
"Kami pergi dulu", ucap Kenzo saat Roni mulai menuntunnya berjalan. Roni yang sudah tahu alasan Kenzo berpura-pura buta, dia menuntun Kenzo dengan sangat hati-hati, agar tidak ada yang curiga pada Tuannya itu.
__ADS_1
Sepeninggal Kenzo, Alana langsung menutup rapat pintu kamarnya.
"Ouch..." Alana terkejut saat membalikkan badan, Diva berdiri dibelakangnya dengan tatapan aneh. "Kau membuatku kaget!" ucap Alana seraya mengelus dada, namun sesaat kemudian Alana jatuh pingsan.