
Semakin siang pengunjung warung sarapan pagi sang nenek semakin ramai saja. Bahkan mereka sampai melupakan untuk memberitahu tentang Alana.
...---...
Sore hari di rumah tempat tinggal Ayana. Dave di sambut hangat oleh Ayana.
"Hai, suamiku. Bagaimana pekerjaannu hari ini?" tanya Ayana.
Dave mendelik kala Ayana mulai perhatian pada dirinya. Spontan tangannya menangkup wajah Ayana dan menatapnya intens. "Pekerjaanku hari ini lumayan melelahkan, tapi sayangku jangan risau ya, semuanya akan terkendali", jawabnya dengan tersenyum. "Sekarang ceritakan tentang dirimu. Hari ini sayangku bertemu dengan siapa saja?"
"Hm, tidak banyak. Hanya seorang ibu bersama cucunya. Tapi anehnya ibu itu memanggilku dengan panggilan Alana."
Dave tersentak kaget kala mendengarnya. "Apa istriku pernah bertemu dengannya sebelumnya?" tanyanya sembari membawa sang istri duduk di sofa.
Ayana menggelengkan kepalanya sebagai balasan. "Tidak pernah", jawabnya.
"Trus ibu itu ada bilang apa lagi?"
Ayana mulai mendesah. "Tadi dia memaksaku untuk ikut ke warungnya. Tapi aku curiga dia bukan orang yang baik, jadi aku tolak."
"Bagus", jawab Dave spontan yang membuat Ayana kaget. "Mak- maksudku, jangan sembarang mengikuti orang yang tidak di kenal."
Hening seketika, hingga membuat Dave khawatir. Namun baru saja dia akan menanyakan kenapa sang istri tidak mengatakan apapun, Ayana sudah berbicara lebih dulu.
"Ayo, mandilah. Biar aku buatkan teh hangat. Aku sudah membuatkan beberapa cemilan", sahut Ayana dengan tersenyum.
"Oke, sayang."
Dave bangkit dari atas sofa, lalu berjalan menaiki anak tangga. Sementara Ayana berjalan menuju dapur untuk menyiapkan apa yang baru saja dia tawarkan pada Dave.
...---...
Malam hari pun tiba, sebagian orang mungkin sudah terlelap untuk mempersiapkan hari esok, agar dapat mengais rezeki. Namun nenek Farid tersentak dari tidurnya. "Aku benar-benar lupa memberitahu Kenzo", ucapnya seolah terbawa sampai ke mimpi.
Wanita paruh baya itu turun dari atas tempat tidur dan mencari ponselnya. Setelah dia mendapatkan ponselnya, tangannya gegas mencari kontak Kenzo yang pernah dia simpan.
"Ini masih jam 10 malam, harusnya Kenzo belum tidur", gumamnya seraya menghubungi Kenzo.
Panggilan pertama tidak di angkat oleh Kenzo. "Apa dia benar-benar sudah tidur", gumamnya. Namun baru saja dia akan menghubungi kembali Kenzo, telponnya sudah berdering.
"Halo", jawabnya setelah menggeser tombol hijau itu.
"Halo bude. Apa tadi bude mau menghubungiku?" tanya Kenzo dari seberang telepon.
"Iya, Zo. Bude mau memberitahu keberadaan Alana."
__ADS_1
"Bude menemukan istriku?" tanyanya dengan nada bahagia.
"Iya, nak. Tapi dia menyebut namanya Ayana. Bude khawatir dia sedang dihipnotis seseorang."
"Bude, maaf mungkin aku akan mengganggu waktu istirahat bude. Aku segera ke sana sekarang", ucapnya dengan tidak sabar. Lalu dia memutus sambungan telepon sebelum wanita yang dia panggil bude itu menjawab.
"Kasihan sekali Kenzo, istrinya dihipnotis orang lain", gumamnya lirih. Lalu dia berjalan ke luar kamar dan menunggu kedatangan Kenzo di ruang tamu.
...---...
20 menit pun berlalu, mata nenek Farid sudah hampir terpejam, karena bosan menunggu. Entah sudah berapa kali dia mengisi kerongkongannya dengan air untuk menghilangkan rasa kantuknya.
Tok. Tok.
Nenek Farid tersentak kaget kala mendengar suara gedoran pintu yang cukup keras. "Itu pasti dia", katanya seraya bangkit dari tempat duduknya.
"Bude", panggil suara dari luar pintu rumahnya.
"Iya, sebentar", katanya seraya berjalan menuju pintu.
Cklek.
"Kenapa lama se- " ucapannya tergantung kala melihat pria yang ada dihadapannya. "Siapa kalian?" tanyanya.
...---...
"Kita sudah sampai Tuan", kata Roni.
Kenzo gegas turun dari mobil dan berjalan menuju teras rumah. Lalu dia mengetuk pintu, namun tidak ada yang menyahut dari dalam. Kenzo pun panik, dia buru-buru menendang pintu rumah nenek Farid.
Brakk.
"Zo...!" teriak nenek Farid dengan mata melotot saat dia membawakan nampan berisi dua gelas kopi panas.
"Maaf bude", ucap Kenzo seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Nenek Farid hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak habis pikir dengan tindakan terburu-buru dirinya. Roni pun melongo saat akan masuk melihat pintu sudah rusak.
"Dua orang lagi di mana?" tanya Roni saat melihat dua orang suruhannya yang mengikuti Dave ada di rumah nenek Farid.
"Sedang dalam perjalanan Pak", jawab pria yang memakai kaos biru.
"Ayo, kita ke sana", ajak Kenzo yang sudah tidak sabar untuk bertemu sang istri.
Kedua pengawal itu pun bangkit dari tempat duduk mereka dan hendak berjalan menghampiri Kenzo.
__ADS_1
"Satu orang berjaga di sini", ucap Kenzo yang tak tega membiarkan keluarga nenek Farid berada dalam bahaya, karena pintu rumah sudah dia rusak.
"Baik, Tuan", jawab pria yang memakai kaos merah. Dia pun duduk kembali.
"Kami pamit, bude", ucap Kenzo saat akan beranjak pergi.
"Iya, nak. Hati-hati", jawabnya sembari mengantar kepergian Kenzo.
...---...
Tak butuh waktu yang lama, mobil Kenzo sudah terparkir tidak jauh dari tempat tinggal Dave.
"Ayo, kita ke sana", ajak Kenzo dengan tidak sabar Rasa rindu yang berat dan rasa khawatir karena sang istri sedang hamil, membuat Kenzo ingin segera bertemu dengan Alana.
"Em, bagaimana kalau kita tunggu dua orang pengawal lagi datang?" tanya Roni.
"Oke, kalau begitu kita tunggu mereka datang."
5 menit berlalu, akhirnya yang mereka tunggu pun datang.
"Kalian coba cari celah bagaimana caranya kalian bisa masuk tanpa melalui pintu utama", titah Kenzo dengan tatapan serius. Lalu kedua pengawal itu berpencar. Sementara Kenzo dan Roni masuk melalui pintu depan.
Ting. Tong.
Tangan Kenzo mulai memencet bel, namun tidak ada seorang pun yang keluar dari dalam rumah. Dia mencoba mengulanginya, hingga sampai yang ke sepuluh kali, namun hasilnya tetap sama.
"Apa dia tidur mati?" gerutu Kenzo. Emosinya sudah berada di puncak kala mengetahu Dave yang selama ini menyembunyikan istrinya.
Tiba-tiba gerbang rumah di buka.
"Akhirnya", ucap Kenzo dengan menghela nafas.
"Tuan", kata sang pengawal yang berhasil masuk dengan memanjat tembok.
Kenzo kecewa karena bukan Dave yang muncul. "Bagaimana kita bisa masuk ke dalam rumah?" tanyanya yang tak ingin menambah pintu rumah yang rusak.
Tiba-tiba pengawal satunya lagi muncul dari dalam rumah. "Tuan, saya sudah memeriksa keadaan di dalam, sepertinya mereka tidak ada di rumah", ucapnya dengan nada serius.
Mendengar perkataan sang pengawal, Kenzo mendengus kasar. "Apa lagi ini? Apa dia tahu kedatangan kita?"
"Mungkin Nyonya menceritakan pertemuannya dengan bude, dan dia mulai curiga", sahut Roni.
"Arrggg..." teriak Kenzo gusar.
"Ayo, kita susuri tempat ini. Barangkali kita menemukan petunjuk", titah Kenzo seraya berjalan masuk ke dalam rumah Dave.
__ADS_1
"Baik,.Tuan", sahut ketiganya. Lalu mereka pun mengikuti langkah Kenzo.