
Dave semakin mengeratkan pelukannya. "Maafkan aku sayang. Pemberitaan miring itu mengganggumu", ucapnya dengan lembut.
Ayana menyentak kasar tubuh Dave. Lalu dia menatap intens pria yang telah mengaku sebagai suaminya itu. "Jika pemberitaan itu salah, ayo kita klarifikasi!" pinta Ayana dengan nada serius.
"Untuk apa diklarifikasi, nanti Kenzo merasa besar kepala karena berhasil memprovokasi hubungan kita", tolak Dave.
Ayana mulai curiga dengan sikap Dave. "Dia tidak sedang memprovokasi hubungan kita. Tapi dia sedang mengatakan kebenarannya!" jebaknya dengan kata-kata.
Dan benar saja, Ayana melihat reaksi gugup Dave.
"Apa yang kau katakan sayang? Lihatlah Kenzo sudah berhasil memprovokasi hubungan kita."
"Jika kita sudah menikah, kenapa cincin nikah yang aku kenakan baru di beli sebulan yang lalu?" tanya Ayana seraya menunjukkan nota pembelian cincin yang tidak sengaja dia temukan pada tumpukan berkas yang berserakan pagi ini.
Dave membeku. Lidahnya seakan tak mampu untuk berucap. "Itu bukan nota pembelian cincin kita", jawabnya dengan berusaha santai. Lalu dia berjalan menuju sofa dan menjatuhkan bobot tubuhnya di sana.
Ekor mata Ayana mengikuti setiap gerakan Dave. Dia menunggu Dave melanjutkan ucapannya.
"Aku berencana memberikannya pada kak Richard. Tapi dia gak menyukainya, jadi aku menyumbangkannya pada yang membutuhkan. Tapi aku lupa menaruh notanya", ucapnya sembari menghela nafas. "Ternyata baru nemu sekarang", lanjutnya dengan tersenyum.
Ayana menelisik ke dalam netra Dave, barangkali ada kebohongan di sana. "Ayo, kita tanyakan pada kak Richard", sahutnya yang membuat Dave tersentak kaget.
"Untuk apa menanyakannya lagi? Itu sama saja istriku menoreh luka lama", imbuhnya.
"Aku mau sekalian memberinya nasehat, agar tidak sembarangan menolak pemberian orang", tukas Ayana.
Dave diam sejenak, namun guratan didahinya menunjukkan dia tengah memikirkan sesuatu yang sangat serius. Apakah kebohonganku akan segera berakhir? Tanyanya di dalam batin.
"Berikan ponselmu. Biar aku saja yang menelpon kak Richard", ucapnya dengan telapak tangan terbuka.
Tangan Dave sedikit ragu saat akan menyerahkan ponsel miliknya.
"Lama!" sergah Ayana seraya meraih ponsel Dave dengan kasar. Lalu dia gegas mencari kontak Richard, dan langsung menghubunginya dengan mengaktifkan pengeras suara.
"Halo, ada apa lagi kau menghubungiku?" tanya Richard dari seberang telepon dengan nada kasar.
"Maaf, kak. Aku hanya ingin menanyakan cincin pernikahan."
"Kenapa kau menanyakan itu lagi?" tanyanya masih dengan nada kasar.
__ADS_1
"Ini Ayana..."
"Sudah! Jangan ganggy aku lagi", sela Richard. Lalu dia memutus sambungan telepon.
"Yah, padahal aku masih mau bicara dengan kak Richard", sesal Ayana kala sambungan telepon sudah di putus. "Ini ponselmu", katanya kemudian seraya duduk di sisi kiri Dave. Dalam benaknya dia masih memikirkan perkataan Kenzo, tiba-tiba dia mengingat telah menyimpan nomor nenek Farid. "Suamiku, aku pergi ke supernarket sebentar, ya", ucapnya meminta izin.
"Oke, tunggulah sebentar. Aku akan berganti pakaian", sahut Dave seraya bangkit dari atas sofa.
"Tidak perlu ditemani, supermarket hanya selangkah dari gedung ini", katanya yang tak ingin Dave mengikutinya.
"Hem, oke", jawab Dave setelah berfikir sejenak.
Ayana gegas meraih dompet miliknya yang ada di atas meja.
"Kenapa membawa ponsel?" tanya Dave kala melihat Ayana memasukkan ponselnya ke dalam dompet.
"Kenapa aku tidak boleh membawa ponsel?" tanyanya balik.
"Em, istriku kan perginya cuma sebentar. Jadi buat apa membawa ponsel!"
Ayana semakin curiga melihat sikap gugup sang suami. "Iya, aku tahu. Tapi apakah itu berarti aku tidak boleh membawa ponsel?" Pertanyaan Ayana semakin membuat Dave merasa tertekan.
Netra Ayana melotot kala melihat sikap kasar Dave. "Bukankah kau seorang dosen?" tanya Ayana dengan mengkerutkan keningnya.
"Iya, emang benar aku seorang dosen. Tapi kenapa kau menanyakan itu?"
"Karena sikapmu tidak seperti seorang pendidik! Kalau begitu aku pergi tanpa ponselku", ucapnya yang mencoba kabur dari apartemen itu.
Tiba-tiba Dave menahan tangan Ayana. "Kau tidak boleh pergi kemana pun!" tegas Dave. Lalu dia menarik Ayana dan membawanya masuk ke dalam kamar.
"Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!" teriaknya saat Dave menguncinya dari luar.
"Patuhlah, maka aku tidak akan bertindak kasar padamu!" sahut Dave seraya menjauh dari pintu.
Namun Ayana kembali berteriak seraya memukul pintu. "Jangan kurung aku seperti ini, aku janji akan patuh", ucapnya dengan isak tangis.
Dave mengabaikan permintaan Ayana. Dia tampak sibuk menghubungi beberapa orang pengawalnya untuk tetap mengawasi si sekitar apartemennya. Setelah selesai berbicara di telepon, Dave menyimpan ponselnya dan duduk di sofa. "Kenapa dia tidak bersuara lagi?" tanyanya bergumam. "Ah, mungkin dia lelah", lanjutnya bermonolog.
Sudah 15 menit berlalu, namun tidak terdengar suara dari dalam kamar Ayana. Dave pun panik, dia gegas membukakan pintu.
__ADS_1
"Ayana!" teriaknya kala melihat Ayana tergeletak di atas lantai. Lalu dia buru-buru membopong tubuh Ayana dan membawanya ke luar.
...---...
"Apa yang terjadi, Tuan?" tanya pengawal Dave kala mereka melihat Ayana tak sadarkan diri.
"Ayo, kita ke rumah sakit sekarang", ucapnya seraya buru-buru masuk ke dalam mobil.
"Baik, Tuan", sahut sang pengawal. Lalu dia duduk di bangku kemudi dan melajukan kendaraannya hingga sampai ke rumah sakit.
Tak butuh waktu yang lama, mereka sudah berada diparkiran rumah sakit. Dave buru-buru turun dan membopong Ayana hingga menuju resepsionis. "Tolong istriku, sus", katanya seraya meletakkan Ayana di atas brankar.
"Bapak tenang ya. Kita pasti akan periksa istri bapak", ucap sang perawat dengan ramah. "Nama istri bapak siapa?"
"Ayana" jawab Dave.
"Tolong nanti registrasi data pasien ya, Pak", kata sang perawat serayamendorong brankar menuju ruang IGD.
"Baik, Sus", jawab Dave saat mereka sudah berada di pintu masuk ruang IGD.
"Bapak tunggu di sini saja. Kami akan memeriksa keadaan istri Bapak."
"Hm, oke sus", jawab Dave sedikit ragu. Dia tampak begitu cemas memikirkan keadaan Ayana.
15 menit menunggu, Dave tampak gelisah. "Lama sekali", ucapnya seraya berjalan mondar mandir. Baru saja Dave selesai berucap, sang suster pun keluar. "Dengan keluarga pasien Ayana", panggil sang suster.
"Iya, sus. Bagaimana keadaannya?"
"istri bapak sudah sadar. Sebelumnya tekanan darahnya sangat rendah, makanya dia sangat lemah dan pingsan", terang sang suster.
"Apa saya boleh menjenguknya, sus?"
"Silakan, Pak", jawab sang suster.
Dave gegas berjalan masuk menemui Ayana. "Sayang, maafkan aku. Tadi itu aku panik karena kau mencecarku dengan banyak pertanyaan. Jadi aku bertindak sedikit keterlaluan", ucapnya seraya memegang tangan Ayana.
Spontan Ayana menepis tangan Dave. "Maaf aku tidak mengenalmu", ucapnya
Dave mengernyit bingung. "Kenapa kau berkata seperti itu sayang?"
__ADS_1
"Karena dia bukan istrimu!" tegas seseorang yang tiba-tiba masuk.