
"Malam, Tuan", sapa Roni yang baru saja turun ke ruang pesta. Lalu pandangannya beralih menatap Alana.
"Malam, Nyonya", sapanya pada Alana. "Nyonya berbeda malam ini... sangat cantik", pujinya yang membuat Kenzo berdehem.
"Tapi sayang suaminya tidak bisa menikmati kecantikan Alana", timpal Dave seraya tertawa seorang diri, hingga dia sendiri merasa canggung. "Maaf, Tuan Kenzo. Saya tidak bermaksud untuk meledek", lanjutnya dengan perasaan gugup. Dia khawatir sepulang dari Bali namanya langsung di coret dari kartu keluarga, karena telah gagal mendapatkan tender.
Kenzo kesal hingga dia pun mengabaikan ucapan Dave. "Roni, bawa kami berkenalan dengan para tamu."
"Baik, Tuan", sahut Roni seraya berjalan di depan. Kemudian Alana mengikuti tepat di belakang Roni sambil menggandeng mesra tangan Kenzo.
"Tolong maafkan saya Tuan Kenzo. Setidaknya ingatlah persahabatan kita dari kecil." Dave terus berusaha membujuk Kenzo, agar dia tidak marah padanya. Karena jika Kenzo marah, maka akan berakibat fatal bagi perusahaan keluarganya.
"Kamu siapa, ya? Maaf aku tidak bisa mengenali wajahmu!" seru Kenzo sebagai balasan.
Roni yang masih melangkah di depan Alana dan Kenzo berusaha untuk. menahan tawanya. Dia tahu Dave sahabat Tuannya itu tidak pernah serius dengan ucapannya.
Dave yang tahu persis sifat Kenzo. Tiba-tiba memikirkan ide jahil. "Sayangku, Kenzo. Jadi sekarang kau melupakanku hanya karena wanita ini, ha", ucapnya lirih yang membuat Kenzo jijik.
Kenzo mengibaskan pakaiannya. "Pergilah, aku sudah memaafkanmu!" Dia bergidik ngeri kala mendengar ucapan Dave. Dia tidak menyangka sahabat masa kecilnya itu nekad melakukan hal memalukan itu.
"Yes!" seru Dave. Lalu dia berjalan mendekati Kenzo, seolah ingin membisikkan sesuatu di telinga Kenzo, hingga tanpa sengaja bibirnya menyentuh pipi Kenzo.
"Aish!" kesal Kenzo seraya mengusap pipinya. "Pergilah! Jangan berada di sekitarku lagi!" teriak Kenzo. Dia tampak marah dengan tingkah konyol Dave.
Alana gegas mengusap bekas ciuman Dave di pipi Kenzo menggunakan tisu. Kenzo tersenyum saat merasakan setiap usapan yang menegenai pipinya. Ini adalah kali kedua dia mendapatkan perlakuan manis dari sang istri.
"Manis sekali", ucap seseorang tepat di belakang Alana.
Alana menoleh ke sumber suara. "Diva..." ucapnya.
"Iya, ini aku Diva sahabatmu. Ini Albert kekasihku", sahut Diva.
"Owh hai, saya Alana", ucap Alana dengan ramah seraya menjulurkan tangannya. Albert langsung menyambut tangan Alana. Dia mulai menatap Alana dengan tersenyum penuh arti, hingga tanpa dia sadari genggaman tangannya belum terlepas. Alana sudah berusaha melepaskannya, namun Albert tak urung melepaskannya.
"Sayang, lepaskan!" bisik Diva seraya merapatkan giginya.
__ADS_1
"Owh, Sorry. Aku tidak sengaja", elaknya.
"Tidak apa-apa", sahut Alana, namun batinnya berkata lain. "Kenalin ini suamiku", lanjutnya dengan menunjuk Kenzo yang sedari tadi sudah mengeraskan rahangnya. Kenzo pun berbalik saat Alana memperkenalkannya.
Albert mulai gemetar saat Alana menyebut kata suami. "Maaf sudah mengganggu kalian, kami ke sana sebentar", ucapnya seraya menggandeng tangan Diva.
"Tunggu dulu!" Seru suara bariton Kenzo.
"I- iya, Tuan", sahut Albert dengan gugup.
"Roni, cari nama perusahaannya dalam list dan segera hapus!" tegas Kenzo.
"Jangan lakukan itu, Tuan!" bujuk Albert. "Aku hanya bercanda tadi, tidak ada niat untuk menggoda istri Tuan", lanjutnya yang membuat Kenzo semakin emosi.
"Cih, kau membongkar aibmu sendiri!" Kenzo langsung menggandeng tangan Alana. "Ayo, kita pergi dari sini", ajaknya pada Alana, agar sang istri menuntunnya pergi. Alana terpaksa mengikuti keinginan Kenzo, walaupun dia tidak tega melihat kekasih sahabatnya mendapat malu.
"Tuan Kenzo, jangan lakukan ini! Apa Tuan tidak takut kehilangan dukungan dari perusahaan Luar Negeri?" Albert terus berusaha membuat Kenzo berubah pikiran. Namun Kenzo mengabaikannya. Albert mengepalkan tangannya dengan menatap tajam punggung Kenzo yang mulai menjauh.
"Sayang, jangan marah, ya", bujuk Diva dengan mengelus dada bidang kekasihnya itu. Dia tidak ingin Albert bertindak gegabah saat sedang marah.
Albert buru-buru menarik tangan Diva. Dia tidak ingin mendapat amukan dari para pria seumuran papanya itu.
Alana menatap dari kejauhan, Diva sahabatnya itu di tarik paksa oleh kekasihnya. Aku akan bicara denganmu nanti, ucapnya di dalam batin. Lalu dia mengalihkan pandangannya pada kolega bisnis sang suami yang sedang berbincang serius.
"Apa istriku sudah lelah?" tanya Kenzo saat para koleganya sudah meninggalkan mereka untuk menikmati makanan yang tersaji di buffet.
"Aku lelah dan lapar", jawabnya jujur.
"Kalau begitu kita duduk dulu", ajaknya.
Roni yang mendengar ucapan bos dan istrinya itu, bergegas menuntun mereka berjalan menuju meja yang disiapkan khusus. "Silahkan Tuan", kata Roni saat dia menarik salah satu kursi yang kosong.
"Tunggu di sini sebentar, aku akan mengambil makanan untukmu", ucap Alana seraya berjalan menuju buffet.
...---...
__ADS_1
Tidak lama kemudian Alana datang dengan membawa piring berisi makanan dan segelas air mineral. Lalu dia meletakkannya dihadapan Kenzo. "Ini makanlah, suamiku. Tidak ada makanan pedas didalamnya, semuanya bisa suamiku makan tanpa ada rasa kuatir", ujar Alana.
"Terimakasih", sahut Kenzo. "Jangan lupa bawa juga makananmu."
"Oke, suamiku", jawab Alana dengan tersenyum.
Para kolega bisnis Kenzo merasa iri dengan sikap manis yang ditunjukkan Alana pada Kenzo. Tidak seperti istri mereka yang sibuk dengan arisan dan kumpulan sosialita.
...---...
Malam ini Alana sangat bahagia, walaupun tidak ikut berdansa. Hatinya gembira, karena merasa dihargai oleh orang disekelilingnya, meskipun mereka melakukannya hanya karena statusnya sebagai istri Kenzo.
"Aku tidak akan pernah melupakan malam ini", gumamnya yang masih dapat di dengar oleh Kenzo dan Roni, karena saat ini mereka sedang berada di dalam lift.
Ting.
Pintu lift terbuka lebar. Alana berjalan keluar dan mengabaikan tatapan Kenzo dan Roni.
"Eh, aku lupa", kata Alana seraya berbalik dan menghampiri Kenzo. "Pak Roni kembalilah ke kamar, biar saya yang mengurus suami saya", ucapnya seraya menggandeng tangan Kenzo.
"Baik, Nyonya", sahut Roni.
"Saya tunggu info terbaru", pinta Kenzo sebelum mekangkah keluar dari dalam lift.
"Baik, Tuan", sahut Roni.
Lalu Alana menuntun Kenzo keluar, sebelum pintu lift menutup.
"Apa istriku sangat bahagia malam ini?" tanya Kenzo saat berjalan bersama Alana di lorong menuju kamar mereka.
"Sangat bahagia", sahut Alana riang. Kenzo pun tersenyum menatap wajah bahagia Alana. Tanpa terasa mereka sudah berada di depan pintu kamar. Alana langsung menempelkan kartu kamarnya.
"Ternyata istriku sudah mahir."
Alana memegang handle pintu dan membukanya. Lalu dia menuntun Kenzo melangkah masuk sembari menyembunyikan wajahnya yang sedang tersenyum. Entah kenapa hatinya bahagia saat mendengar setiap pujian yang keluar dari mulut Kenzo.
__ADS_1