Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Bertemu Alana


__ADS_3

Setelah berbincang lama dengan sang ayah, dia pun kembali menghampiri Ayana yang sedang membuka lebar mulutnya, karena rasa kantuk.


"Maaf membuatmu lama menunggu", katanya seraya mendekati Ayana dan duduk tepat di sisi kirinya.


Ayana membalas dengan tersenyum canggung. "Apa kita sudah boleh pulang?" tanyanya, karena merasa bosan berada di sana, bahkan sang ayah mertua tidak menyapanya sama sekali.


Suami Ayana manggut-manggut. "Iya, kita pulang sekarang. Aku juga lelah", sahutnya dengan wajah tak bersemangat.


Mereka pun bangkit dari tempat duduknya. Lalu berjalan menuju pintu ke luar.


Sang ayah mertua benar-benar tidak menyapa Ayana, bahkan hingga mereka sudah berada di luar rumah. Ayah mertuanya hanya menatap dari lantai 2 kepergian anak dan menantunya itu.


"Kenapa papa masih membiarkannya melakukan pekerjaan kantor?" tanya Richard, kakak ipar Ayana.


Baron, sang ayah mertua menyeringai. "Lihat saja nanti. Saat ini dia masih berguna", jawabnya.


...----...


Dalam perjalanan pulang, Dave, suaminya Ayana tiada henti memikirkan perintah dari sang ayah angkatnya. Apa aku harus melakukan sesuai perintah papa? Tanya bingung di dalam benak.


"Suamiku!" panggil Ayana, hingga membuyarkan lamunannya.


"Em, ada apa?"


Melihat respon Dave, Ayana sedikit kaget. "Apa sedang ada masalah?" tanyanya.


Sadar perkataannya membuat Ayana curiga, Dave langsung merubah ekspresi wajahnya. "Owh, aku cuma lelah saja", jawabnya dengan tersenyum canggung.


Benarkah tidak ada yang dia sembunyikan? Kenapa aku selalu merasa asing saat di dekatnya? Batin Ayana. Dia membuang jauh pandangannya ke luar kaca jendela, menikmati keindahan gemerlap lampu kota, hingga akhirnya dia pun tertidur.


...----...


Keesokan paginya Ayana mendapati dirinya sudah berada di atas tempat tidur. "Kemana suamiku?" tanyanya saat tidak menemukan Dave disisinya. Ayana bangkit dari atas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi. "Dia tidak ada di sini", katanya. Namun tiba-tiba ponselnya berdering. Dia pun berlari untuk mengambil ponselnya. "Kenapa dia menelpon?" tanya Ayana kala melihat nama kontak di layar ponselnya adalah Dave, suaminya.


"Halo suamiku", jawab Ayana seraya naik ke atas tempat tidur dan menjatuhkan bobot tubuhnya disana.

__ADS_1


"Sayang, maaf tadi aku tidak membangunkanmu. Pagi ini ada rapat mendadak, jadi aku berangkat pagi sekali", ucap Dave dengan terburu-buru.


"Owh, iya gak apa-apa", sahut Ayana sembari menyandarkan punggungnya.


"Oke, udah dulu ya sayang", lanjut Dave. Lalu dia menutup sambungan telepon setelah Ayana membalas ucapannya.


Ayana meletakkan kembali ponselnya di atas nakas. Lalu dia menghela nafas panjang sembari menatap nanar langit-langit kamarnya, namun sesaat kemudian pendengarannya terusik oleh suara tawa anak kecil. "Apa itu Farid?" tanyanya bergumam. Gegas dia bangkit dari tempat tidur dan berlari menuju jendela kamarnya.


"Farid!" teriaknya memanggil bocah pria yang pernah bertemu dengannya di taman.


Merasa namanya di panggil Farid celingak celinguk mencari sumber suara.


"Farid, tunggu di sana!" pintanya seraya berlari ke luar kamar. Kemudian dia menuruni anak tangga dan meneruskan langkahnya menuju ke luar rumah. Langkahnya semakin cepat kala dirinya sudah berada di luar gerbang.


"Alana!" ucap wanita paruh baya yang sedang menggandeng Farid dengan mata melotot.


"Maaf, nama saya Ayana Bu, bukan Alana", sahut Ayana dengan tersenyum. Dia mengira wanita itu salah melafalkan namanya.


Wanita itu meraih ponsel dari dalam tas jinjing yang selalu dia bawa saat ke luar rumah. "Ini fotomu!" tunjuk wanita itu pada foto yang ada diponselnya.


"Akhirnya aku menemukanmu!" jawab wanita itu dengan bernafas lega.


Ayana mengernyitkan keningnya seraya menatap wanita yang sedang menggandeng tangan Farid. "Maksud ibu apa?"


"Ceritanya sedikit rumit. Bagaimana kalau kamu ikut ibu ke warung", ajaknya.


Namun Ayana tidak membalas ajakan wanita itu. Nasehat sang suami agar tidak mau di ajak oleh siapapun membuatnya tetap waspada.


"Ayo, nak. Bude harus buru-buru ke warung!"


"Em, lain kali aja ya, bude. Masih banyak pekerjaan di rumah", sahut Ayana dengan tersenyum canggung.


"Tante ikut aja. Masakan nenek enak lo", bujuk Farid. Namun Ayana tetap bersikeras tidak mau ikut.


"Oke, nak. Kalau kau butuh sesuatu, hubungi saja bude", tawar wanita paruh baya itu. "Kamu catat nomor bude, ya", lanjutnya sembari menyodorkan ponsel miliknya.

__ADS_1


"Baik, bude", jawab Ayana. Lalu dia memasukkan nomor kontaknya ke ponsel wanita itu. "Nomor saya sudah ada di ponsel bude", katanya sesaat setelah selesai melakukan panggilan ke nomor kontaknya sendiri. Kemudian nenek Farid meraih ponselnya dan menyimpannya kembali.


"Kami pergi dulu", ucapnya pamit sembari menggenggam tangan Farid.


Ayana menatap curiga pada nenek Farid, karena dia tiada henti menoleh ke belakang saat sedang berjalan menuntun Farid.


"Apa ibu itu mengenalku?" gumamnya seraya menatap kepergian Farid dan neneknya dengan tatapan sendu. Setelah bayangan mereka tak bersisa, Ayana gegas beranjak dari posisinya berdiri, lalu berjalan masuk ke dalam gerbang rumah.


Sementara nenek Farid tampak bahagia setelah bertemu Ayana. ",Aku harus segera memberitahu Kenzo, dia pasti senang", gumamnya yang masih dapat di dengar Farid.


"Nenek lagi ngomongin siapa?" tanyanya khas suara anak kecil dengan wajah polosnya.


Sang nenek mengusap lembut rambut cepak Farid. "Bukan siapa-siapa sayang", jawabnya lirih. Dia tahu Farid sangat merindukan ibunya yang telah pergi mendahului mereka sebulan yang lalu, akibat sebuah kecelakaan.


"Owh, Farid pikir nenek lagi omongin ibu", ucap bibir mungilnya dengan raut wajah penuh harap.


Sang nenek membawa Farid dalam dekapannya. "Farid rindu ibu ya?" tanyanya yang di balas dengan anggukan oleh Farid. "Besok kita pergi ke makam ibu ya", lanjutnya yang membuat Farid senang. Lalu mereka kembali berjalan hingga sampai di warung.


"Kenapa lama sekali datangnya?" tanya kakek Farid dengan raut wajah tidak senang.


"Iya, maaf", jawab sang nenek dengan rasa bersalah. "Tadi cucumu gak mau di tinggal, makanya kami berkemas sedikit lama", jawabnya sembari memberi sarapan Farid.


"Kakek cuma sedikit kepayahan melayani pembeli yang datang", ucap kakek Farid menjelaskan.


"Kakek, nenek mau memberitahu satu hal", ucap nenek Farid bersamaan dengan datangnya pembeli.


"Nanti saja ceritanya! Layani dulu pembeli", sahut kakek Farid seraya menanyakan keinginan pembeli.


"Tapi, kek", sela nenek Farid. Dia yang pelupa tak ingin menunda memberitahukan berita baik yang ingin segera dia beritahukan pada sang kakek.


"Sudah di bilang, nanti saja!" tukas sang kakek dengan suara berbisik, namun cukup tegas.


Seraya membantu memasukkan bahan-bahan bubur ayam sang nenek bercerita. "Tadi nenek ketemu Alana", ucapnya yang membuat sang kakek tersentak kaget. Kuah bubur ayam hampir saja tertumpah ketangannya.


"Sudah kakek bilang, nanti saja ceritanya!" ulang sang kakek dengan nada kesal. Namun sesaat kemudian dia mengubah mimik wajahnya agar tidak mengganggu para pembeli.

__ADS_1


Si kakek aneh, nenek cuma mau ceritain Alana cuma takut entar kelupaan. Gerutunya di dalam batin.


__ADS_2