Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Kesedihan Kenzo


__ADS_3

Dalam waktu kurang dari 20 menit Kenzo dan Roni sudah tiba di depan pintu rumah Ramond. Tangan Kenzo terjulur untuk memencet bel.


Cklek.


Tak sampai menunggu lama pintu rumah sudah dibuka oleh seseorang. "Tuan mau mencari Pak Ramond ya?" tanya Tuty yang mengenal betul wajah tampan Kenzo.


"Bukan!" jawab Kenzo.


Mendengar nada bicara Kenzo, Tuty sedikit takut, karena tidak ada siapapun di rumah selain dirinya. "Jadi, Tuan mau mencari siapa?" tanya Tuty lagi.


"Mencarimu!" jawab Kenzo yang membuat Tuty beringsut mundur.


"A- ada apa Tuan mencariku?" tanya Tuty yang mulai waspada.


"Apa kami tidak boleh masuk dulu?"


Tuty semakin gugup, dalam benaknya dia terus berfikir tujuan Kenzo dan Roni datang menemui dirinya secara khusus. "Hm, maaf Tuan. Saya tidak biasa membawa tamu pria ke dalam rumah jika di dalam rumah hanya ada saya sendiri", sahut Tuty dengan hati-hati.


"Oke, kita bicara di sini saja", sahut Kenzo yang tak mau memperpanjang masalah. "Saya datang kemari ingin menanyakan tentang Pak Ramond. Bagaimana dia bisa terkena serangan jantung? Apakah sebelumnya dia bertengkar dengan Alexa?"


Di cecar dengan banyak pertanyaan membuat Tuty bingung. "Saya tidak tahu apapun Tuan. Tiba-tiba saja Non Alexa berteriak minta tolong, dan saya pun datang ke kamar Pak Ramond, di sana saya melihat pak Ramond sudah tergelerak di lantai", sahut Tuty menjelaskan. Dia tidak ingin terlibat dalam masalah keluarga majikannya itu.


"Oke, kalau begitu kami tidak mengganggumu lagi. Kami pamit", kata Kenzo dengan terpaksa. Dia tak ingin ART mertuanya itu berteriak hingga menarik perhatian para tetangga.


...---...


Menurut Kenzo, hari ini sungguh bukanlah hari keberuntungan baginya. Semua usaha yang telah dia lakukan tak ada satu pun yang membuahkan hasil.

__ADS_1


"Kita ke kantor saja", kata Kenzo yang sempat menunda untuk menjawab pertanyaan Roni.


"Baik, Tuan", sahut Roni. Lalu dia mengambil jalan menuju kantor.


Sementara Kenzo masih saja termenung sembari menatap jauh ke luar kaca jendela mobil. Roni pun melirik wajah sendu Kenzo melalui spion. Dia paham akan kesedihan atasannya itu, karena dia pernah merasakan kehilangan seseorang yang sangat dicintai.


Dimana sekarang istriku berada? Kenapa aku tidak bisa menemukan petunjuk apapun? Apakah dia di culik atau...huft, aku tak mau memikirkan hal buruk tentang istriku Ucap Kenzo di dalam batin. Lalu dia mengusap kasar wajahnya dan menatap ke depan.


Jalanan yang lengang membuat mereka sampai di kantor dengan cepat. Kenzo dan Roni turun dari mobil dan berjalan menuju lift.


"Roni, tolong kamu selidiki Pak Billy!" titah Kenzo saat mereka sudah berada di dalam lift.


"Baik, Tuan", jawab Roni sambil menekan angka lantai yang ingin di tuju.


...---...


Waktu berlalu begitu cepat hingga tanpa terasa sudah sebulan berlalu, namun pencarian Kenzo tak kunjung membuahkan hasil. Dia tidak dapat menemukan keberadaan Alana.


Siang ini Ramond tiba-tiba pulang ke rumah. Ada flashdisk yang harus di ambil dari dalam brankas pribadinya, makanya Ramond tidak menyuruh orang lain untuk mengambilnya. Setelah Ramond mendapatkan flashdisknya, dia berencana untuk makan siang di rumah.


"Tuty", panggilnya. Namun ARTnya itu tak kunjung menjawab panggilan darinya. "Di mana dia?" gumam Ramond seraya berjalan menuju dapur. "Tidak ada di sini!" ucapnya. Lalu Ramond memutuskan untuk mencari Alexa di lantai atas. "Apa mereka merasa bebas saat aku tidak di rumah?" Ramond tiada henti bermonolog dengan menggerutu, karena tidak menemukan siapapun di dalam rumah. Namun saat kakinya baru saja menaiki beberapa anak tangga dia mendengar samar suara dari arah ruang keluarga.


"Siapa di sana?" tanyanya dengan bergumam. Langkahnya berbelok arah. Dia berjalan menuju ruang keluarga dengan mengendap-endap. Saat sudah berada di ambang pintu, telinganya dapat mendengar jelas ucapan Alexa di telepon.


"Gak bisa gitu dong, kita kan sudah sepakat sebelumnya", keluh Alexa pada ponsel yang menempel ditelinganya, lalu dia diam beberapa saat. "Boleh saja kalau kau ingin bersama dengannya selamanya, tapi kau harus tetap mengirimiku uang setiap bulan, jika tidak maka aku tidak akan segan-segan membongkar semuanya!" ancam Alexa di telepon.


Ramond buru-buru mendekati Alexa dan meraih ponselnya. "Siapa ini?" tanya Ramond. Lalu panggilan telepon tiba-tiba terputus. Ramond tak tinggal diam, dia mencoba menelpon kembali nomor itu. "Sayang", ucapnya kala membaca nama kontak yang muncul di layar ponsel Alexa. Namun Ramond tak dapat menghubunginya lagi, yang terdengar hanya suara operator.

__ADS_1


"Em, dia kekasihku Pa", kata Alexa kala Ramond terus menatapnya.


Tanpa mengatakan apapun Ramond melangkah lebih dekat, seakan memberi tekanan pada Alexa.


"Di- dia benar-benar kekasihku Pa!" tegas Alexa.


"Papa tidak lupa kalau Steve masih di penjara sampai sekarang."


"Ini bukan Steve Pa, tapi kekasih baruku. Dia berasal dari keluarga berada", sambung Alexa dengan tersenyum sumringah.


Ramond menggeleng-gelengkan kepalanya. "Sifatmu tak ubahnya seperti mamamu, sama matrenya!" ledek Ramond seraya mengembalikan ponsel Alexa, lalu dia pergi meninggalkan Alexa yang masih mematung diposisinya.


Melihat Ramomd benar-benar keluar dari ruangan itu, Alexa pun bernafas lega. "Huft, syukurlah papa tidak mendengar semuanya, kalau tidak habislah aku", kata Alexa saat menjatuhkan bobot tubuhnya di atas sofa.


...---...


Sementara di tempat berbeda, seorang pria tengah menuntun wanitanya dengan begitu lembut "Hati-hati sayang", kata pria itu penuh perhatian.


"Kandunganku ini baru 2 bulan, jadi aku masih bisa jalan sendiri", sahut wanita itu yang jemu diperlakukan terlalu berlebihan.


"Walaupun begitu, aku tidak mau sesuatu terjadi padamu", sahut pria itu seraya menangkup wajah wanita dihadapannya.


Wanita itu menepis perlahan tangan kekar pria yang tak pernah menjauhkan pandangannya dari dirinya. "Maaf, aku sedikit bosan. Boleh gak aku jalan-jalan di taman sendirian", pintanya dengan memohon.


"Boleh, asalkan aku ikut menemanimu!" sahut pria itu yang membuat wanita itu merengut.


"Hanya sebentar saja, aku pasti akan berhati-hati", ucapnya dengan nada kesal.

__ADS_1


Tak ingin melihat wajah murung wanitanya dia pun terpaksa mengizinkannya pergi seorang diri. "Baiklah", katanya dengan menghela nafas panjang. "Tapi sebentar saja, dan hanya di sekitar taman", lanjutnya dengan nada serius.


"Hm", jawab wanita itu dengan singkat. Lalu dia pergi, sebelum suaminya itu berubah pikiran. Sifat suamiku sungguh kuno, hanya jalan ke taman sebentar mana mungkin akan terjadi apa-apa. Ucapnya di dalam batin. Lalu dia melangkahkan kakinya, berjalan menuju taman di sekitar rumah.


__ADS_2