Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Ingatan Alana


__ADS_3

"Papa...hiks, hiks" Tangis Alana pecah kala dirinya merasakan kehangatan pelukan sang ayah. 12 tahun yang lalu sang ayah seolah melupakannya dan tak pernah lagi memeluknya.


"Apa kau membenci papa, nak?" tanya Ramond dengan nada lirih.


Alana menggeleng dengan cepat. "Walaupun ada luka di masa lalu, Alana tetap sayang papa", sahut Alana.


Tangis Ramond pecah memenuhi ruangan itu, Alana pun merasakan kesedihan yang sama, hingga mereka yang ada di sana ikut terbawa suasana.


Tuty dan Roni ikut merasakan kesedihan ayah dan anak itu. Tanpa mereka sadari, air mata mereka sudah jatuh bebas.


Sementara Kenzo hanya menatap sendu istri dan mertuanya itu. Otak kecilnya masih saja bekerja, memikirkan Alana yang sedang lupa ingatan tapi dapat mengingat papanya.


Ramond menyentak lembut tubuh putrinya, lalu dia menatap mata sembabnya. "Alana sudah ingat papa?" tanyanya dengan tatapan serius.


Kenzo, Roni dan Tuty pun menunggu jawaban Alana.


Setelah menunggu beberapa saat, Alana pun mengangguk sebagai jawaban.


"Terimakasih, nak. Kau membuat papa bahagia dengan mengingat papamu ini."


"Bagaimana dengan suamimu ini? Apa kau juga mengingatku walau sedikit saja, honey?" harap Kenzo.


Alana mengernyitkan keningnya. "Apa kita pernah saling mengenal?" tanyanya.


Mendengar ucapan Alana, wajah sendu Roni seketika berubah. Hampir saja dia tertawa, saat melihat ekspresi bosnya itu.


"Sayang", panggil Ramond seraya menatap intens Alana. "Dia memang suamimu, nak. Percaya pada papa."


Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Alana. Dia hanya melirik Kenzo sekilas. "Tapi Alana cuma ingat papa. Alana tinggal dengan papa aja, ya?" pohonnya.


Ramond tak dapat menolak pernintaan Alana. "Oke, kalau putri papa maunya seperti itu."


Kenzo tak ingin lagi kehilangan istrinya. Dengan terpaksa dia menuruti keinginan Alana. "Papa mertua, mungkin tak lama lagi aku akan kembali merepotkanmu", ucap Kenzo tanpa penjelasan.


Sepertinya hanya Roni yang paham arah ucapan Kenzo. Dia kembali tertawa di dalam batinnya.


"Roni", panggil Kenzo.


Sontak Roni menutup mulutnya. "Ya, Tuan."


"Ayo, kita kembali ke rumah", ajaknya seraya berpamitan pada ayah mertua dan sang istri.


"Baik, Tuan", sahutnya. Lalu dia beranjak pergi, mengikuti langkah Kenzo.


...---...


.


Ucapan Kenzo seakan teka-teki bagi Ramond. Tak ingin meminta penjelasan lebih dari menantunya itu, Ramond pun memutuskan untuk masuk ke dalam kamarnya. Namun baru saja dia mengunci pintu kamar, terdengar suara ketukan pintu. "Siapa?" tanya Ramond.

__ADS_1


"Saya Tuty, Pak", sahutnya.


Cklek.


"Ada apa?" tanya Ramond dengan malas.


"Tuan Kenzo di bawah", katanya yang membuat Ramond mendelik.


"Bukankah dia sudah pulang?"


Tuty menggelengkan kepalanya. "Saya tidak tahu, Pak."


Ramond gegas keluar dan menutup pintu. Dia buru-buru menuruni anak tangga, ingin melihat apa yang menantunya itu lakukan.


"Malam papa mertua", ucap Kenzo.


Ramond tersentak kaget melihat koper milik Kenzo. "Untuk apa kau membawa koper?"


"Bukankah tadi saya sudah mengatakan akan merepotkan ayah mertua?"


Akhirnya Ramond paham arti ucapan Kenzo, namun dia tidak ingin menunjukkannya. "Kapan aku mengizinkanmu tinggal di sini?"


"Tadi saya sempat bertanya, tapi papa mertua diam saja, itu artinya setuju kan", jawab Kenzo dengan santai.


Mendengar penuturan Kenzo, Ramond tak habis pikir menantu sekaligus investor diperusahaan miliknya itu bertindak sesuka hatinya.


"Tapi di sini tidak ada lagi kamar kosong", dalih Ramond agar tidak terlalu sering bertemu dengan menantunya itu.


Alana terperangah kala melihat Alexa. "Kau!" tunjuk Alana.


"Dia adik tirimu", jawab Ramond. "Bukankah kau sudah mengingat papa, jadi seharusnya kau juga mengingat Alexa.


"Tapi aku hanya mengingat papa", sahut Alana.


Hampir saja Alexa melupakan pertemuannya dengan Alana di mall waktu itu. "Em, kami pernah bertemu sebelumnya", ucap Alexa dengan pelan.


Mendengar ucapan Alexa, Ramond kesal. "Jadi, kenapa kau tidak segera memberitahu papa?"


"Lupa", jawab Alexa enteng seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Ekspresi semua orang yang ada di dalam ruangan itu menunjukkan tidak ada yang percaya dengan perkataannya.


"Katakan pada papa! Kalau kau bukan bagian dari rencana Baron!"


Alexa beringsut mundur. Dia merasa di tuding langsung oleh sang ayah. "A- aku", tunjuknya pada diri sendiri. "Gak mungkin dong, pa." elak Alexa seraya memikirkan alasan kenapa dirinya tidak langsung memberitahu ayahnya.


Ramond masih menatapnya dengan tatapan mengintimidasi. "Katakan alasannya!"


"I- itu karena namanya berbeda. Alexa pikir dia bukan kak Alana, melainkan orang yang memliki wajah kembar dengan kak Alana."

__ADS_1


"Iya, benar pa. Alexa mengatakan kalau setiap orang memiliki 7 kembarannya di dunia", timpal Alana.


Alexa tersenyum tipis saat mendapat pembelaan dari Alana.


"Honey, jangan percaya pada omongannya. Dia hanya berdalih", ucap Kenzo. Dia tidak mau Alexa mengambil keuntungan saat Alana lupa ingatan.


"Maaf, aku tidak meminta pendapatmu!" tegas Alana.


Ucapan Alana membuat Kenzo terhenyak. Dia seolah kehabisan akal untuk menghadapi sang istri yang lupa ingatan.


Sementara Alexa tampak bahagia melihat keadaan Alana. Rencana selanjutnya. Ucapnya didalam batin.


...---...


Kini rumah Ramond tampak ramai dari biasanya. Dia bukan tidak senang melihat keramaian itu. Hanya saja dia pusing melihat menantunya yang lebih sulit di atur dari pada dua anak perempuan.


"Alana, bagaimana kalau kau bawa pulang saja suamimu? Papa pusing tiap hari harus meeting di rumah ini", kesalnya saat melihat para karyawan mondar mandir hanya untuk menemui Kenzo.


Alana tersenyum melihat raut wajah sang ayah. "Papa ngomomg aja. Dia kan menantu papa."


"Papa nyerah, makanya minta tolong kamu."


Baru saja Ramond menyelesaikan ucapannya, Kenzo tiba-tiba datang menghampiri mereka di meja makan.


Alana berdehem untuk menarik perhatian Kenzo. "Ehem, Tuan Kenzo", panggil Alana.


Kenzo menoleh seraya menatap wajah cantik Alana. "Ya, honey."


"Papa memintamu segera pindah dari rumah ini", ucap Alana dengan lembut.


"Aku akan tinggal bersama dengan istriku. Honey, pahamkan maksud ucapanku?"


Alana membisu untuk beberapa saat. Lalu dia menghela nafas panjang. "Baiklah, aku akan ikut pulang ke rumahmu."


"Rumah kita!" ralat Kenzo dengan tersenyum.


...---...


Hari ini Kenzo sangat bahagia. Walaupun Alana belum mengingat dirinya, namun dia yakin suatu saat nanti sang istri dapat mengingatnya.


"Alana pergi dulu ya, pa", pamitnya dengan nada lirih.


"Iya, sayang. Kamu harus jaga diri baik-baik. Kalau ada masalah cerita sama papa", ucap Ramond dengan penuh perhatian.


Alana menganggukkan kepalanya. "Iya, Pa", jawabnya.


Kenzo pun ikut berpamitan. Ramond membalas dengan tersenyum tipis. Syukurlah dia pergi dari rumah ini, kalau tidak. Entah apa yang akan terjadi dengan kepalaku. Ucap Ramond di dalam batin.


"Papa mertua, jangan terlalu senang dulu", bisik Kenzo dengan tiba-tiba yang membuat Ramond terjingkat

__ADS_1


"Dasar menantu tak punya sopan santun!" sergah Ramond seraya menjewer telinga menantunya itu. Kapan lagi aku bisa melampiaskan amarahku pada investor galak ini. Batin Ramond.


Sementara Roni yang sempat menyaksikan adegan itu, membalikkan badannya seraya menahan tawa.


__ADS_2