
Alana memakai gaun merah marun yang tampak menawan saat melekat di tubuhnya.
"Kau cantik sekali, Al", ucap Diva yang membuat Alana tersenyum. "Aku akan membuatmu lebih cantik lagi. Tunggu di sini sebentar ya, aku akan kembali." Diva berjalan keluar kamar Alana dan pergi menuju kamarnya.
Tidak berselang lama Diva datang dengan kotak makeup ditangannya.
"Bagaimana kau bisa keluar masuk kamar ini dengan bebas?" tanya Alana.
"Owh, tadi aku mengganjal pintu kamarmu", sahut Diva dengan santai.
Alana menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak habis pikir dengan sikap slengean sahabatnya itu. "Jangan diulangi lagi! Kalau tadi ada yang masuk kekamarku bagaimana?"
"Kau jangan kuatir, aku memegang kecepatan lari tingkat Nasional", jawabnya asal. Walaupun dia cepat saat berlari, namun tidak pernah sekalipun dia ikut dalam pertandingan lari apapun.
"Sudah jangan bercanda lagi." Alana tersenyum seraya menepuk angin. "Untuk apa kau membawa itu?" tunjukknya pada kotak makeup Diva.
"Owh, ini dia alat ajaibnya. Ini akan melengkapi penampilanmu malam ini."
Krukkk...
Tiba-tiba terdengar suara perut keroncongan Alana.
"Apa kau belum makan siang?"
Alana menggelengkan kepalanya. "Tadi cuma makan beberapa cemilan."
"Astaga! Kenapa kau bisa mengabaikan perut kecilmu itu", ucap Diva. "Kalau begitu gaunmu dilepas dulu. Acaranya juga masih lama, jadi kau masih sempat memesan makanan atau memasak sendiri."
"Bantu aku memesan makanan", pinta Alana.
"Oke, tapi lain kali kau harus melakukannya sendiri ya", tukas Diva. Dia mengatakan itu bukan karena merasa keberatan untuk melakukannya, namun dia mau Alana terbiasa melakukannya tanpa bantuan orang lain.
"Pesan apa, Al?" lanjutnya saat memegang menu restoran hotel.
"Nasi dan ayam teriyaki", teriak Alana dari dalam kamarnya.
"Oke", sahut Diva. Dia tidak menanyakan minumannya, karena Diva tahu Alana lebih menyukai air mineral.
...---...
Alana bersendawa kala makanan pesanannya habis tak bersisa.
"Ternyata muatan perut kecilmu banyak juga, Al." Diva mendelik saat melihat piring kosong Alana.
__ADS_1
Alana tersenyum malu. "Sudah dong Div, jangan meledekku terus!" seru Alana yang ditanggapi dengan tersenyum pula oleh Diva. "Owh, iya aku lupa menanyakan tujuanmu datang ke kota ini."
Diva berdehem untuk menghilangkan rasa gugupnya. "Hem, aku menemani pacarku meeting di hotel ini", jawabnya.
"Apa? Menemani Pacar?" ulang Alana. Dia tidak menyangka sahabatnya itu berani tidur sekamar dengan pria yang masih berstatus pacarnya.
"Kau tahu sendiri kehidupanku di LN, Al. Lagipula kami tidak melakukan seperti yang kau pikirkan", kilah Diva.
"Bagaimana kau bisa menjamin, kalau pacarmu itu tidak akan melakukan apapun padamu, Div?"
"Kau tenang saja, Al. Sahabatmu ini bisa menjaga diri dengan baik!" sahutnya dengan yakin.
"Hem, tapi kau tetap harus waspada. Jangan sampai kau tergoda oleh bujuk rayunya!" tegas Alana.
"Iya, iya, aku tahu kok. Kalau begitu aku mau ke kamarku dulu. Kau pun bersiaplah. Nanti aku datang lagi kemari untuk meriasmu."
"Oke", jawab Alana singkat.
Lalu Diva berjalan menuju pintu keluar.
...---...
Alana yang sudah bersiap dan selesai di rias oleh Diva duduk di depan cermin sembari menunggu kedatangan Kenzo.
Tok. Tok.
"Sepertimya istriku sudah tidak sabar mau pergi ke perjamuan makan", ucap Kenzo saat Alana membuka pintu dan menunjukkan penampilan cantiknya.
"Istrimu ini hanya mengikuti sesuai arahan saja."
"Tapi ini masih pukul 6", kata Kenzo saat melihat jam yang melingkar dipergelangan tangannya. "Sementara pesta akan diadakan jam 7 malam", lanjutnya dengan menaikkan alis.
Alana berdiri dengan gugup. Dia malu untuk menatap wajah tampan sang suami yang juga sedang menatapnya saat ini.
"Ternyata kau sangat pemalu", katanya dengan tersenyum. "Sudah, jangan berdiri di situ terus. Nanti istriku tidak akan kuat berdiri lama di pesta", lanjutnya.
Alana membalas hanya dengan deheman. Dia buru-buru membalikkan badannya, agar Kenzo tidak melihat rona merah pipinya yang sudah mengalahkan blushon yang dia pakai.
Kenzo tersenyum tipis seraya berjalan menuju kamarnya. "Kenapa aku baru sadar, kalau dia sangat menggemaskan", gumam Kenzo saat tangannya berhasil memegang handle pintu. Lalu dia berjalan masuk ke dalam kamarnya.
...----...
Kenzo yang terlihat tampan dengan setelan jas hasil karya designer ternama, berjalan dengan gagah sambil menggandeng mesra tangan Alana.
__ADS_1
"Malam Tuan Kenzo", sapa seorang pria berperut buncit, seraya tersenyum menatap Alana.
"Malam, kenalkan istri saya", sahut Kenzo yang mulai kesal dengan tatapan liar pria yang sudah berumur itu.
"Cantik", pujinya masih dengan tersenyum pada Alana.
Alana menoleh menatap mata Kenzo yang ada di balik kaca mata. Sepertinya dia sedang marah, ucap Alana di dalam batinnya.
"Terimakasih atas pujiannya, Pak Tapi saya lebih suka kata itu keluar dari mulut suami saya!" tegas Alana. "Walaupun suamku sudah sangat sering mengatakannya, namun aku tetap suka", bual Alana dengan tersenyum.
Pria yang juga berbobot tubuh lebih itu tampak merasa canggung. "Ba-bagus kalau begitu. Kalian memang pasangan yang romantis", lanjutnya dengan gugup. Pria itu takut Kenzo tahu kalau dia sedang menggoda istrinya.
"Apakah hubungan Pak Viktor dengan istri tidak romantis?" tanya Kenzo santai, namun suara baritonnya seakan sedang mengintimidasi pria berperut buncit itu.
Wah, namanya kenapa bisa sejalan dengan sifat genitnya, Viktor (vikiran kotor). Ucap Alana di dalam batinnya. Dia tersenyum saat memikirkan kebetulan yang sama arti nama pria itu.
Viktor bingung. Dia tidak tahu harus menjawab apa.
"Kalian sedang membicarakan hal apa?" tanya seorang gadis muda yang tampak anggun. Dia berdiri tepat di samping Viktor.
"Apakah dia istrimu?" tanya Kenzo.
"Em, iya." Viktor mulai gugup saat menjawab setiap pertanyaan dari Kenzo. Dia takut Kenzo mengenali suara wanita yang berada didekatnya dan mengakibatkan namanya di coret dari hubungan kerjasama.
"Kenapa gugup, Pak?"
"Tuan Kenzo!" panggil seorang pria dari arah belakang Kenzo.
Selamat... ucap Viktor di dalam batinnya.
Alana membantu Kenzo membalikkan badannya. "Aku mengenal suaramu, Dave", sahut Kenzo yang masih berpura-pura buta.
"Hai, Alana", sapa pria tampan yang ternyata mengenal Alana.
"Apa kau mengenal istriku?" tanya Kenzo sebelum Alana menjawab sapaan Dave.
"Siapa yang tidak kenal dengan Alana, mahasiswi berprestasi di kampus."
Kenzo mengernyitkan keningnya. "Apa kau juga mengajar sebagai dosen?"
"Mau bagaimana lagi. Aku ini hanya anak kedua yang mewarisi harta sisa dari kakakku. Jadi aku harus mengikuti apa kata Papa, karena Papa tidak akan memberikan aku warisan sepeserpun jika aku tidak bisa memajukan kampus warisan eyang itu."
"Tapi kenapa kau yang datang ke tempat ini?"
__ADS_1
Dave menghela nafas panjang seraya menatap Kenzo "Karena dia sedang pergi berlibur ke luar negeri untuk merayakan ulang tahun kekasihnya itu, yang katanya putri konglomerat."
Kenzo membalas dengan manggut-manggut. Dia tidak ingin mengurusi permasalahan keluarga orang lain. Tba-tiba netranya melotot kala melihat Dave menatap Alana dengan tersenyum penuh arti. Apa mereka mengira aku benar-benar buta, makanya mereka mencoba menggoda istriku. Ucap Kenzo berdecak kesal di dalam batinnya.