
Kenzo memutuskan berangkat ke Bali hari itu juga, karena menurutnya hotel yang ada di Bali lebih membutuhkan kehadirannya, sementara hotel satunya lagi hanya di fitnah. Dari hasil analisa Kenzo, foto yang beredar bukanlah Alana, melainkan Alexa yang terlihat mirip dengan Alana.
"Atur jadwal penerbanganku hari ini!" titahnya pada Roni.
"Baik, Tuan", sahut Roni seraya memesan tiket tanpa melalui Shinta. "Apakah Nyonya Alana ikut?"
Kenzo menggelengkan kepalanya. "Tidak! Aku tidak mau melibatkannnya!" tegas Kenzo. "Tapi selama kita di sana, atur pengawalan untuknya. Aku tidak mau Billy memanfaatkan kondisi ini."
"Baik, Tuan."
...----...
Di rumah keluarga Ramond. Terdengar suara isak tangis Alexa dari dalam kamarnya. Ramond yang sedari tadi menahan emosinya, gegas membuka pintu kamar Alexa.
"Apa yang sudah anakmu ini lakukan, ha?" teriak Ramond dengan amarah yang besar. Dia harus menahan rasa malu kala karyawannya di kantor melihat foto putrinya tanpa busana terekspos di media sosial. "Dasar anak tidak tahu diri!" Hampir saja tangan Ramond melayang, jika tidak di tahan Sally.
"Papa harus ingat, Alexa yang telah berhasil membujuk Kenzo untuk menanamkan modal di perusahaan Papa."
"Cih, apa kau pikir itu karena usaha putrimu ini?" tanya Ramond seraya menatap tajam ke arah Sally. "Kalau bukan karena sifat anakmu yang turun darimu, bagaimana mungkin seorang Kenzo mengenalnya?"
Raut wajah Sally berubah seketika. Dia tidak terima Ramond berkata buruk tentang dirinya dan putrinya. "Apa maksud Papa?"
"Apa kau sudah lupa atau berpura-pura lupa?"
Sally tersentak kaget mendengar ucapan sang suami. Apa dia mengetahui sesuatu? Sally mulai gusar mendengar perkataan Ramond. "Aku tidak melupakan apapun, Pa. Jelas Papa tahu Alexa tidak merebut Kenzo dari Alana, tapi Alana yang tidak tahu diri itu malah kesenangan menikmati semua kekayaan Kenzo."
"Jaga bicaramu!" sergah Ramond. "Dia itu putri kandungku!"
"Alexa juga putri kandungmu, Pa!"
"Apa kau yakin?" Ramond menaikkan satu alisnya menatap tajam ke arah Sally. Sementara Alexa akhirnya berhenti menangis, pertengkaran kedua orang tuanya.menarik perhatiannya, karena telah menyinggung tentang dirinya.
"Apa maksud ucapan Papa?" tanya Alexa dengan suara paraunya.
"Tanyakan pada Mamamu. Sebelum dia menikah denganku, siapa saja pria yang sudah bersama dengan Mamamu itu!"
__ADS_1
Alexa terperangah mendengar ucapan Ramond. "Emangnya ada berapa pria, Ma?" Alexa menatap serius ke arah Sally.
"Papamu hanya bercanda, Nak", elak Sally dengan tersenyum kaku.
"Bagaimana dengan Steve atau Alferd? Siapa di antara mereka kekasihmu sebenarnya?"
Sally mendelik kala Ramond mengetahui kedua pria yang dia kenal baik itu. "Aku tidak tahu siapa yang Papa bicarakan. Lagi pula Alexa memang putri kandung Papa, aku bisa menjaminnya."
"Cih, kau masih berdalih. Bahkan mungkin kau lupa bagaimana kau telah menggodaku dan aku pun juga telah mengkhianati cinta Mama Alana", imbuh Ramond seolah sadar akan perbuatannya yang telah berselingkuh dengan pembantunya itu di saat istrinya sedang hamil.
"Aku tidak pernah menggodamu, Pa. Selama ini kita saling suka."
"Bagaimana mungkin seorang majikan menyukai pembantunya? Apalagi saat itu istri majikanmu sedang hamil!" tukas Ramond.
"Apa! Mama dulunya seorang pembantu di sini?"
"Entah sudah berapa banyak kebohongan yang Mamamu ini sembunyikan. Tapi satu hal yang jelas, Mamamu adalah wanita penggoda!" tegas Ramond. "Selama ini Papa di tipu olehnya, bahkan putri kandungku dia jadikan pembantu di rumah ini!" Ramond menghembuskan nafas ke udara, menjeda ucapannya. "B*dohnya aku selama ini menganggap putriku pembawa sial."
Alexa mendekati Ramond. "Pa, tolong maafkan semua kesalahan Mama. Alexa yakin Mama pasti punya alasan, kenapa dia sampai melakukan itu."
"Jangan memohon apapun! Kau dan Mamamu sama saja, lihat apa yang sudah kau dan pria tua itu lakukan di kamar hotel!"
"Cih, jangan-jangan kau yang telah menyebarkan fitnah kalau itu adalah foto Alana."
"Tapi foto wanita itu memang bukan Alexa."
"Lebih baik aku kembali ke kantor saja. Dari pada di sini, banyak sekali drama yang akan aku lihat." Ramond beranjak dari posisinya dan berjalan ke luar.
Sally tidak ingin mengejar Ramond, karena dia belum punya alasan yang tepat untuk membujuk suaminya itu.
"Semua ini karena perbuatanmu!"
"Kenapa Mama malah menyalahkanku. Bukankah Papa marah karena Mama telah berselingkuh dari Papa!"
"Jika saja kelakuanmu itu tidak terekspos, mana mungkin Papamu semarah ini. Setidaknya kau harus bermain cantik, jika ingin melakukannya."
__ADS_1
Alexa berfikir sejenak. "Tapi berita yang beredar itu adalah foto Alana. Kenapa Papa yakin kalau itu fotoku?"
Sally menoyor kepala putrinya itu. "Kau memang b*go! Pantas saja perbuatanmu ini diketahui banyak orang."
Alexa mengusap lembut kepalanya. Dia tidak terima dengan ucapan Sally. "Aku kan putri Mama, kenapa Mama mengataiku seperti itu?"
"Mungkin saat aku mengandungmu aku lupa beli nutrisi untuk otak, karena saat itu Mamamu ini masih jadi pembantu di rumah ini."
"Jadi benar Mama dulunya pembantu di rumah ini?"
Sally kembali menoyor Alexa. "Mama kan sudah pernah cerita sama kamu, tapi kamunya yang suka main ponsel kalau Mama lagi ngomong."
"Alexa pikir Mama cuma bercanda."
Sally berdecak kesal menghadapi sikap putrinya. "Sia-sia semua usaha Mama selama ini. Jangan sampai Papa mengusir kita dari rumah ini."
"Separah itu, Ma?"
"Renungkanlah sendiri!" tukas Sally seraya beranjak dari posisinya dan berjalan keluar meninggalkan Alexa yang masih termenung memikirkan ucapan Mamanya itu.
...---...
Sementara di tempat berbeda, Alana membuat sebuah pernyataan kalau foto yang beredar adalah bukan dirinya. Dia juga menunjukkan bukti-bukti yang menguatkan pernyataannya itu.
Kenzo menonton siaran live sang istri, saat dirinya dan Roni dalam perjalanan menuju hotel.
"Nyonya memang hebat ya, Tuan", kata Roni saat melihat sikap tegas Alana.
"Jelas, dia istri seorang CEO terkenal." Kenzo tersenyum kala melihat wajah serius sang istri namun masih terlihat cantik. Tunggu aku pulang istriku, aku akan memenuhi janjiku padamu. Ucap Kenzo di dalam batinnya.
"Kita sudah sampai.Tuan", kata sang supir saat melihat Kenzo belum juga turun dari mobil.
"Oke", sahut Kenzo seraya keluar dari mobil. "Roni, tolong hubungi Shinta. Minta dia mengirimkan bunga untuk istriku atas namaku."
"Baik, Tuan." Roni gegas menghubungi Shinta dan memintanya melakukan sesuai keinginan Kenzo. "Apa ada catatan tambahan Tuan?" tanya Roni saat masih terhubung dengan Shinta.
__ADS_1
"Tambahkan kata I love you pada kartu ucapan", sahut Kenzo seraya berdehem.
"Sudah dengar sendiri kan", ujar Roni sebelum mengakhiri panggilan telepon. Setelah selesai berbicara di telepon dengan Shinta, Roni berjalan mengikuti langkah Kenzo. Ternyata bos introvert ini bisa romantis juga. Ucap Roni di dalam batin.