Menjadi Pengantin CEO Buta

Menjadi Pengantin CEO Buta
Makan Malam Romantis


__ADS_3

Alexa baru saja memasuki rumah tinggalnya. Kakinya di hentak kasar kala melihat sang Ibu sedang duduk menikmati setiap resapan kopi buatan Tuty.


"Mama..." teriak suara cemprengnya hingga hampir saja kopi dalam mulut Sally muncrat keluar.


"Apa kau tidak bisa memanggil Mama dengan baik-baik?" Sally gegas meletakkan kembali gelas yang ada ditangannya. "Ada apa?" tanyanya kemudian dengan nada kesal.


"Mama tidak akan percaya dengan apa yang baru saja aku alami."


Sally menyandarkan tubuhnya seraya menatap malas putrinya yang selalu datang membawa masalah kehadapannya. "Ceritakanlah!"


"Mama..." rengek Alexa. "Alana sudah memfitnah Mama dan aku. Dia bilang kita telah menyiksanya selama berada di rumah ini."


Ramond yang kebetulan melewati Ibu dan anak itu mendelik. Dia seakan terpanggil untuk ikut berkomentar. "Siapa yang mengatakan itu?"


"Papa..." rengeknya berbelok arah. "Kak Alana yang mengatakannya, Pa. Papa harus segera menghukumnya, karena itu sama saja dia telah menghina Papa."


"Aku akan menghubungi Kenzo", kata Ramond dengan berpura-pura mencari ponselnya.


"Eh, kenapa Kenzo yang Papa hubungi? Harusnya Papa memarahi Kak Alana."


Ramond tersenyum menatap ekspresi gugup Alexa. "Sekarang Alana sudah menjadi istrinya Kenzo." Ramond menghentikan tangannya yang sempat merogoh ponselnya di dalam saku. "Jadi Alana sepenuhnya tanggungan Kenzo. Papa akan bicara pada Kenzo agar menasehati Alana."


"Terlalu berbelat belit, Pa! Langsung saja telepon Kak Alana."


Ramond menoleh ke arah Sally. Sorot tajam mata Ramond menghujam tepat di jantung Sally. Dia gegas menarik paksa tangan Alexa untuk segera menjauh dari suaminya itu.


"Mama, apaan sih!" protes Alexa.


"Jangan bicara lagi atau kita akan di usir dari rumah ini!"


Otak kecil Alexa sulit mencerna ucapan sang Ibu. Dia terus berontak saat Sally memaksanya naik ke lantai atas.


Ramond menghembuskan nafas ke udara. Dia seakan terbangun dari mimpi panjangnya yang telah membuat hidup putrinya Alana menderita dalam waktu yang cukup lama. "Maafkan Papa nak", ucapnya lirih karena telah membiarkan Sally dan putrinya memperlakukan Alana sebagai pembantu.


...---...

__ADS_1


Sally baru saja membawa masuk Alexa ke dalam kamarnya, namun dia harus keluar lagi saat ponselnya berdering. "Mama angkat telepon dulu", katanya seraya berjalan menuju pintu keluar.


"Mama... Tung-- " Alexa berdecak kesal kala sang Ibu sudah keluar dari kamarnya sebelum dia menyelesaikan ucapannya. Gelagat aneh sang Ibu membuatnya tertarik untuk menguping pembicaraan sang Ibu.


Alexa berdiri menyembunyikan diri di balik almari setinggi badannya itu. Dia memasang telinganya dengan baik karena jangkauan pendengarannya yang cukup jauh dari suara sang ibu.


"Steve..." nama yang jelas di dengar oleh Alexa. "Apa hubungan Ibu dengan Steve?" Alexa akhirnya keluar dari tempat persembunyiannya. Netranya tidak dia alihkan dari sang Ibu.


Sally terperangah kala ponsel masih menempel di telinga kirinya. "Nanti aku telepon kembali", kata Sally seraya memutus sambungan telepon. Lalu dia berjalan menghampiri Alexa. "Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya.


"Mama jangan berdalih lagi. Cepat katakan apa hubungan Mama dengan Steve?' Alexa berteriak atas pengkhianatan yang dilakukan oleh kekasih dan Ibunya sendiri. Air mata yang sedari tadi membendung, kini jatuh menjadi bulir kristal yang tiada henti membasahi pipi Alexa.


"Kau salah paham, Nak." Sally menarik tangan Alexa, namun di hempas begitu saja. "Steve kita berbeda!, Nak"


Perkataan sang Ibu membuat Alexa mendelik tidak percaya. "Apa maksud ucapan Ibu?"


"Makanya ikut Mama sebentar!"


"Oke, Ma." Alexa terpaksa mengikuti sang Ibu. Langkahmya di seret sebagai bukti protes atas sikap sang Ibu.


Pintu bercat putih itu di buka lebar. Sally lebih dulu melangkah masuk di susul Alexa tepat dibelakangnya. "Kenapa harus di tempat ini sih, Ma?" tanya Alexa berdecak kesal.


"Owh, namanya saja yang kebetulan sama, ya. Syukurlah kalau begitu, Alexa sudah mikir yang enggak-enggak dari kemaren", sahut Alexa.


"Kau mau kemana?" tanya Sally saat melihat Alexa pergi begitu saja.


"Keluar dari sini. Alexa benci kamar ini, Ma."


"Tunggu sebentar. Mama belum selesai bicara."


Alexa membalikkan badannya dengan malas. "Kalau tidak penting-penting amat, Mama kan bisa mengatakannya nanti. Setidaknya Mama hibur putri Mama ini dulu."


"Ini penting, Alexa. Kau harus tahu, kalau Steve adalah mantan kepala pelayan di rumah Kenzo."


Alexa terbeliak mendengar sang Ibu menyebut nama Kenzo. Pikirannya terusik ingin tahu lebih lagi cerita tentang kepala pelayan itu.

__ADS_1


"Steve di pecat oleh Kenzo, karena dia penyebab perusahaan Papanya bangkrut."


Alexa mengernyitkan keningnya. "Bagaimana bisa seorang kepala pelayan mampu melakukan itu, Ma?"


"Steve mencuri dokumen penting atas suruhan seseorang. Akibatnya saham perusahaan Papa Kenzo mengalami penurunan. Beberapa anak perusahaannya terpaksa di tutup."


Alexa terperangah kala mendengar segala tindak perbuatan Steve. "Apa jangan-jangan Steve itu Papanya Alexa?"


"Bukan, Nak. Kau putri kandung Papamu. Steve tidak bisa memiliki keturunan, makanya Mama mencari pria lain. Mama tidak mau selamanya tidak memiliki seorang anak pun."


Alexa menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tidak menyangka, Ibunya bisa melakukan hal seperti itu. "Kenapa Mama masih berhubungan dengan Steve?"


Kluntang...


Sebuah benda jatuh ke lantai yang menimbulkan bunyi suara yang nyaring membuat Sally dan Alexa terdiam sesaat. Gurat khawatir wajah Sally memaksanya untuk keluar dan melihat siapa yang telah menguping pembicaraan mereka.


"Tidak ada siapa-siapa!" katanya saat kepalanya terjulur keluar seraya melihat ke kanan dan kiri, bahkan benda jatuh yang sempat di dengar oleh Sally dan Alexa tidak terlihat sama sekali.


Sally menutup pintu. "Kita lanjutkan lain kali saja. Mama khawatir Papamu mendengar obrolan kita."


"Oke, Ma", sahut Alexa. Lalu mereka melangkah keluar dari kamar bekas Alana itu.


...---...


Di sebuah restoran mewah.


Dua insan sedang duduk saling berhadapan dalam kebisuan. Makanan mewah buatan chef terkenal mulai terhidang di atas meja yang menjadi pemisah keduanya. Nyala lilin seakan menambah nuansa romantis makan malam mereka.


"Ayo, di makan." Kenzo membuka suaranya. Netranya berulang kali menatap wajah gugup Alana. Tidak ada Roni di antara mereka. Sejak kabar tentang ketidakbutaan Kenzo menyebar, kini dia berani tampil tanpa kaca mata hitam dan orang yang menuntunnya.


"Baik, Tuan", jawab Alana yang membuat Kenzo kecewa. Namun dia tidak ingin merusak suasana romantis itu.


"Mulai saat ini dan seterusnya, jangan pernah lagi memanggilku dengan sebutan itu!" tegas Kenzo. "Aku akan memanggilmu dengan sebutan Honey."


Alana mendelik tak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.

__ADS_1


"Honey, aku mencintaimu!" kata itu keluar begitu saja dari mulut Kenzo, hingga membuat Alana tersedak saat baru saja meneguk segelas air. "Kau tidak apa-apa, honey?" tanya Kenzo seraya bangkit dari tempat duduknya.


Alana batuk seraya menepuk-nepuk dadanya. Perubahan sikap Kenzo yang tiba-tiba membuat Alana terkejut. "Aku ke toilet sebentar", katanya tanpa menatap Kenzo. Dia gegas meninggalkan Kenzo dan berjalan menuju toilet.


__ADS_2