Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB10. Bersiap Menyambut Kemandirian.


__ADS_3

Ren membuang botol bekas minuman ke sembarang arah. Kemudian ia melirik kepada Zinnia yang sudah menyelesaikan makannya.


“Minumannya enak, manis. Apa karna bekas bibirmu ya?” Gumam Zinnia tanpa merasa bersalah.


“Hah?!!” Sungguh Ren sedang dibuat heran seheran-herannya dengan tingkah polah Zinnia.


“Eeeoooooooogg.” Zinnia bersendawa dengan kerasnya. Dan Ren hanya bisa mengernyit jijik melihatnya.


“Jorok banget sih ini ayam cemani.” Celoteh Ren.


Dengan posisi pintu mobil yang masih terbuka, Zinnia berniat hendak turun.


“Mau kemana, lagi?”


“Ya mau healing lagi. Kan udah kenyang. Jadi healingnya bakalan makin asyik.” Jawab Zinnia suka-suka.


“Uda malem, lho. Masuk. Aku kasih tumpangan.” Tawar Ren.


Zinnia mencibir karna paksaan Ren. Ia kembali duduk di kursi dan menutup pintu rapat.


Ren mulai melajukan mobilnya pelan. Ia sendiri heran dengan sikapnya yang sok peduli dengan Zinnia padahal gadis itu bukan siapa-siapanya.


“Rumahmu dimana?” Tanya Ren.


“Rumahku? Kenapa nanya rumahku?”


“Ya aku mau nganter kamu pulang.”


“Gak perlu. Aku bisa pulang sendiri.” Tolak Zinnia. Ia tetap bersikeras untuk tidak memberitahu alamat rumahnya kepada Ren. Ia masih enggan untuk pulang setelah apa yang terjadi tadi sore.


Pertengkaran antara dirinya dan Navya benar-benar tak terelakkan. Dan seperti biasa, Navya adalah pemenangnya. Karna itu ia keluar dari rumah untuk menghindari pertengkaran yang lebih besar. Ia akan pulang setelah semua orang sudah tertidur nanti.


“Jadi kamu mau di antar kemana ini?” Tanya Ren setengah kesal karna ia bingung harus menurunkan Zinnia dimana.


“Turunkan aku dimana aja. Terserah sama kamu. Aku gak keberatan.”


“Astaga...”


Dan akhirnya, Ren hanya memutar-mutar saja di daerah itu sampai setengah jam.


“Hei. Aku udah harus pulang ini. Udah malem. Cepetan kasih tau alamatmu.” Desak Ren.


“Pulang tinggal pulang kok. Udah ku bilang turunin aku dimanapun kamu mau.”

__ADS_1


“Hufh.” Ren mendengus kesal.


“Stop, stop, stop. Turunin aku disini.” Kata Zinnia tiba-tiba membuat Ren kelabakan dan langsung menepikan mobilnya. Untung saja tidak ada kendaraan lain di belakang mereka sehingga tidak terjadi tabrakan.


“Kenapa disini?”


“Aku mau beli jagung rebus dulu.” Jawab Zinnia santai. Ia langsung keluar dari dalam mobil dan menghampiri abang-abang penjual kacang dan jagung rebus yang masih menjajakan dagangannya dalam gerobak.


Dan lagi-lagi, Ren dibuat ternganga oleh Zinnia. Ia menggaruk tengkuk kepalanya yang tidak gatal. Ia menyesal karna telah membantu gadis tidak jelas itu.


Ren menunggu sambil mengetuk-ngetukkan jemarinya di kemudi. Ia melihat Zinnia berlari kecil kembali ke arah mobil dan membuka pintu mobil.


“Kak Ren!” Panggil Zinnia.


“Kak Ren?”


“Kenapa? Gak suka ku panggil Kak? Kan kamu lebih tua dari aku, kan? Jadi bukannya aku harus sopan ya manggilnya? Apa harus kupanggil Mas? Akang? Abang? Oppa? oniichan?”


Ren masih ternganga. Zinnia sudah memberikan kejutan padanya berpuluh kali bahkan hanya dalam waktu satu jam.


“Terserah kamulah. Mau manggil aku apa. Ada maunya aja panggil Kak.” Akhirnya Ren menyerah. “Tadi mau bilang apa?”


“Pinjem uang. 20 ribu. Aku udah beli jagung tapi lupa kalau aku gak bawa uang. Hehehehehe.”


Tubuh Ren melemas seketika. Ia menyandarkan punggungnya dengan tanpa tenaga. Ia merogoh dompetnya dan memberikan uang pecahan 50 ribu kepada Zinnia.


“Ya ampun. Udah, terima aja. Cuma ini adanya.” Paksa Ren kesal.


Sruutt. Zinnia langsung menarik uang itu. “Makasih.” Ujar Zinnia yang langsung kembali berlari untuk membayar jagungnya.


Beberapa saat kemudian, gadis itu sudah kembali masuk ke dalam mobil. Ia menyodorkan kembalian uang 30 ribu kepada Ren.


“Makasih ya, Kak Ren. Nanti aku bayar kalau kita ketemu lagi.” Ujarnya.


Ren tetap menerima uang kembalian itu dan memasukkannya ke laci dashboard. Kemudian ia kembali melajukan mobilnya.


Zinnia tengah asyik menikmati jagung rebusnya. Ia sudah menawarkan kepada Ren namun pria itu menolaknya. Jadi ia menikmatinya sendiri.


Ren melihat jam tangannya. Sudah pukul 00.32 wib. Sudah lewat tengah malam. Dan ia berencana untuk benar-benar meninggalkan gadis itu di sembarang tempat. Kalau perlu di kantor polisi sekalian.


“Kak Ren udah bisa antar aku pulang sekarang.” Ujar Zinnia kemudian menyebutkan alamat rumahnya.


Ren baru bisa bernafas lega. Padahal ia sudah berniat untuk menurunkan  gadis itu. Lantas iapun mengarahkan mobil ke alamat yang diberitahu oleh Zinnia.

__ADS_1


“Makasih, Kak.” Ujar Zinnia seperti kepada pengemudi ojek saja. Ia menutup pintu mobil dan Ren langsung kembali melajukan mobilnya.


Zinnia mnegendap-endap masuk kedalam rumahnya setelah dibukakan pintu oleh security. Dan untungnya, rumahnya sudah dalam keadaan sepi. Semua penghuninya sudah tertidur.


Ia langsung masuk ke dalam kamarnya dan menguncinya rapat. Ia melihat ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Terdapat puluhan panggilan yang tidak terjawab dari Joham. Karna memang tadi ia tidak membawa ponselnya itu.


Zinnia hanya melihatnya saja. Kemudian ia masuk ke dalam kamar mandi dan langsung berendam air hangat.


Selesai mandi, ia sudah siap dengan piyamanya dan bersiap untuk tidur. Ia harus cepat istirahat kalau tidak mau terlambat bekerja dihari pertamanya. Sprei yang terkena noda mangga tadi sudah di ganti oleh Lida.


Zinnia mencoba untuk memejamkan matanya dan sudah siap di bawah selimut. Namun deringan ponsel membuatnya kembali bangun dan meraih benda kotak itu dari atas nakas. Itu adalah telfon dari Joham.


“Jin!!!!! Kemana sih di telfonin dari tadi juga gak di angkat-angkat!! Kamu apain mukaku?!!! kok susah hilangnya?!” Joham langsung berteriak dan menggerutu kesal. Ia kesal karna wajahnya yang sudah seperti kandang gajah tak bisa di hapus dan akibatnya ia di tertawakan oleh anak buahnya.


 “Apa sih? Teriak-teriak? Kelebihan pita suara apa gimana? Nyaring bener teriakanmu, Joo.”


“Jahat banget kamu, Jin! Mana aku di ketawain sama anak-anak!!!! Kenapa gak angkat telfon?”


“Hahahahahahaha. Ya maap. Tadi lagi di luar. Gak bawa hape.” Jelas Zinnia. “Kenapa sih?”


“Aku ada lowongan buat kamu. Di cafenya temenku. Jadi waitress. Gimana?”


“Yaaahhh. Telat kamu, Joo. Aku udah dapet kerjaan.” Ujar Zinnia bangga memberitahu temannya itu.


“Hah? Serius? Dimana?”


“Di baksonya Pak Jaya.”


“Pak Jaya? Siapa itu? Dimana warungnya?” Cecar Joham.


“Bukan warung, sih. Cuma gerobak pinggir jalan. Tapi rame Kaket lho. Pelanggannya banyak.”


“Jin! Kamu jadi tukang bakso?!” Joham nampak mengasihani nasib sahabatnya itu yang menjadi penjual bakso gerobak.


“Emangnya kenapa kalau jual bakso? Kan halal. Daripada nyopet.” Zinnia tidak terima Joham merendahkan pekerjaan Pak Jaya.


“Hillliiih. Gayamu. Siapa yang tukang nyopet? Pake ngomong segala lagi. Tapi bener, sih. Yang penting halal.”


“Ya udah, ya. Aku mau tidur. Aku gak mau telat besok pergi kerja.” Ujar Zinnia memaksa menyudahi obrolan. Gayanya sudah seperti mendapat pekerjaan wah saja.


“Oke, deh. Selamat ya, Jin. Udah dapet kerjaan. Semoga betah dan awet. Inget, jujur yang utama.”


“Iya, tau. Bawel. Udah.”

__ADS_1


Tut.


Zinnia melempar ponsel ke sembarang arah di ranjangnya. Namun ia kembali mengambilnya dan meletakkannya ke atas carger portable di atas nakas. Kemudian barulah ia bersiap untuk terlelap. Mempersiapkan fisiknya untuk menyambut hari pertamanya menjadi gadis mandiri.


__ADS_2