Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 57. Menawarkan Sandaran Dan Perlindungan.


__ADS_3

Zinnia membuat Ren kalang kabut luar biasa. Bahkan sampai siang hari, ia masih belum menemukan dimana keberadaan kekasihnya itu.


Rasa khawatir mampu mengalahkan rasa kantuk dan lelahnya. Yang ia tau, ia harus segera menemukan Zinnia secepatnya.


Dengan di bantu oleh Pak Heru, akhirnya Ren menemukan titik terang keberadaan Zinnia.


“Ada laporan pencurian yang masuk ke polres, Pak. Setelah saya cek, ciri-ciri pelaku sama persis dengan Mbak Zinnia.”


Ren yang tidak pulang semalaman dan menunggu di kantor hukum milik Pak Heru, langsung bangun dengan wajah yang berbinar. Ia segera menyambar ponsel dari atas meja.


“Ayo kita kesana sekarang.” Desak Ren.


Dengan di antar oleh Heru, Ren meluncur ke polsek tempat Zinnia di tahan. Sesampainya di sana, Heru segera  menjelaskan situasinya kepada petugas yang berjaga.


Setelah Heru mendapat ijin, Ren segera mengikuti petugas yang mengantarkannya ke penjara belakang. Sementara Heru masih memproses kepulangan Zinnia.


Disana, ia bisa melihat Zinnia yang masih meringkuk denga menjepitkan tangan di antara pahanya. Tubuhnya membelakangi Ren. Jadi gadis itu tidak tau tentang kedatangan Ren.


Ren menatap pias kepada Zinnia. Ia mendekat ke sel dan mencengkeram besi dengan sangat kuat. Seolah ia ingin melampiaskan kesedihannya setelah melihat kondisi Zinnia yang menyedihkan.


Petugas membuka pintu sel dan Ren segera masuk ke dalamnya. Ia mendekat dan berjongkok di belakang gadis itu.


Nampaknya Zinnia masih tertidur pulas. Ren bisa mendengar suara dengkuran halus yang keluar dari gadis itu.


Perlahan, ia menyentuh pundak Zinnia. Sakit sekali hatinya melihat kondisi Zinnia yang seperti itu.


“Zinnia?” Lirihnya.


Zinnia mendengar seseorang memanggil namanya. Ia kemudian menolehkan wajahnya.


Saat melihat keberadaan Ren di belakangnya, Zinnia sontak terbangun dan melotot melihat kepada Ren. Rasa malu yang berhasil ia singkirkan tadikembali muncul setelah melihat wajah Ren yang nampak lesu.


“Kak Ren kok bisa ada disini?” Tanya Zinnia. Ia memang tidak mengharapkan kedatangan Ren di tempat itu.


Ren tidak menjawab. Ia hanya membelai lembut wajah Zinnia yang sudah dipenuhi bentol akibat gigitan nyamuk.


“Ayo kita pergi sekarang.” Ajak Ren yang langsung memaksa Zinnia untuk berdiri.

__ADS_1


“Mau kemana, Kak?” Tanya Zinnia yang seolah berat untuk meninggalkan sel.


Ren tidak perduli saat Zinnia sedikit memberontak kala dia menariknya. Ia terus menarik Zinnia menuju ke mobil dan memasukkan gadis itu ke dalamnya. Disana, Heru juga sudah siap di balik kemudi.


Zinnia sudah tidak bisa berbuat banyak. Ia hanya bisa melihat kepada Ren yang nampak marah padanya. Padahal tadi pria itu mengkhawatirkannya. Dan sekarang malah marah padanya.


Sepanjang perjalanan, Ren sama sekali tidak mengucapkan sepatah katapun. Ia hanya terus menatap ke depan dengan tatapan tajamnya.


“Ini kita mau kemana, Pak?” Tanya Pak Heru yang mengemudikan mobil.


“Tolong antar ke hotel pusat, Pak.” Pinta Ren.


Sesampainya di hotel, Ren kembali menarik tangan Zinnia masuk ke dalam. Saking marahnya, ia bahkan tidak mempedulikan saat manajer hotel mengangguk hormat padanya di loby.


“Kak, jangan kuat-kuat megangnya. Sakit.” Protes Zinnia yang masih tidak berani melawan Ren. Pria itu, entah kenapa Zinnia seperti bisa merasakan kemarahan yang terpancar dari auranya. Membuatnya meringsut takut.


Ren terus membawa Zinnia ke kamar presidential room yang biasa ia tempati. Sesampainya disana, ia baru melepaskan tangan Zinnia. Namun ia masih tidak mau menatap kepada gadis itu.


Entah kenapa, hati Zinnia sakit melihatnya. Tanpa ia sadari, ada genangan yang membentuk di pelupuk matanya.


Ren mengangkat wajahnya dan menatap Zinnia. Kali ini, bukan tatapan kemarahan yang terlihat. Tapi tatapan kekhawatiran di sertai kerinduan yang menggunung.


Ren langsung menarik tubuh Zinnia kedalam pelukannya. Mendekap erat tubuh itu kedalam dekapannya. Erat sekali. Sampai Zinnia kesulitan untuk bernafas.


“Berhenti buat aku khawatir, Zinnia.” Lirihnya. Dan Zinnia mengangguk di dalam pelukannya. Kemudian Ren mengelus kepala gadis itu dengan lembut.


Setelah puas berpelukan, Ren melepaskan pelukannya. Ia fokus menatap wajah Zinnia yang penuh bentol akibat gigitan nyamuk. Kemudian ia mengangkat tangan Zinnia dan disana juga terdapat banyak bentol.


“Ya ampun. Lihat ini. Bentol semua.” Ujar Ren menatap tangan dan wajah Zinnia bergantian. “Sebentar, ya.” Ujarnya kemudian kemudian pergi menuju interkom yang ada di atas nakas. Ia meminta seseorang untuk datang ke


kamarnya.


Tidak berapa lama kemudian, datang seorang wanita muda dan Ren segera mempersilahkannya untuk masuk.


“Saya mau minta tolong, bisa?” Ujar Ren.


“Silahkan, Pak.”

__ADS_1


“Tolong carikan pakaian buat dia. Sekalian sama obat gatal ya.” Pintanya.


“Baik, Pak.” Wanita itu memperhatikan Zinnia dari ujung kepala hingga kaki. Ia sedang menimbang-nimbang berapa kira-kira ukuran tubuh Zinnia.


Setelah mendapat kepastian, wanita itu lantas meminta ijin untuk pergi.


“Bajuku masih bagus kok, Kak.” Sela Zinnia.


“Udah kotor. Udah dari kemarin pake baju itu. Belum lagi semalam kamu di sel......” Ren menghentikan kalimatnya. Ia menatap Zinnia dengan tatapan menyesal.


Ren tidak ingin membahas masalah semalam. Tapi ucapan itu keluar tanpa ia sadari. Ia kemudian mengusap kepalanya kasar sambil membalikkan badannya membelakangi Zinnia.


“Makasih Kak Ren udah ngelurin aku dari sana.”


Ren jadi kembali menatap Zinnia. Kali ini nampak wajah kesal yang terpampang nyata.


“Kamu ini. Apa yang kamu fikirin sih? Sampai niat banget nyopet?” Kesal Ren.


Zinnia menggigit bibirnya kemudian menundukkan wajah. Ia tidak punya penjelasan untuk itu.


Ingatan akan pertemuan pertama mereka kembali berkelebat. Saat itu juga Zinnia mencoba mencuri dompet Ren. Saat itu juga ia habis bertengkar dengan ibunya.


Zinnia memang punya kebiasaan buruk. Saat ia sedang kalut karna masalah dan membuat suasana hatinya memburuk. Ia akan melarikan diri dengan melakukan keburukan untuk menutupi rasa sakit hatinya.


“Plis, Zinnia. Tolong jangan di ulangi lagi. Aku gak mau kamu kenapa-napa. Mana sampai masuk ke kantor polisi segala.”


“Maaf, Kak.” Sesal Zinnia. Ia siap di omeli oleh Ren.


“Mulai sekarang aku yang bakalan ngelindungi kamu. Saat kamu butuh pelarian, kamu bisa berlari ke aku. Jadi please, jangan nyakitin dirimu sendiri lagi. Ada aku sekarang. Aku siap jadi sandaranmu, Zinnia.” Ucapan Ren terdengar dalam dan tulus. Jelas menyiratkan sebuah kekhawatiran dan harapan disana.


Zinnia hanya bisa menatap pria itu dengan mata yang berkaca-kaca. Ia terharu dengan ketulusan Ren menawarkan sandaran padanya. Itu adalah ketulusan yang baru pertama kali di dapatkan oleh Zinnia. Ketulusan tentang rasa yang membangkitkan kebahagiaan di hatinya.


Zinnia tersenyum. Kemudian ia melemparkan dirinya kedalam pelukan Ren. Ia melingkarkan kedua tangannya ke pinggang pria itu dan mendekapnya kuat-kuat.


Apa ini pertanda kalau kebahagiaannya akan datang?


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2