
Kebersamaan Ren dan Zinnia berakhir saat seorang saudara Ren datang dan memintanya untuk kembali ke ballroom. Awalnya Ren enggan untuk beranjak, tapi kemudian Zinnia menyuruhnya pergi.
“Sana, Kak.”
“Kamu gak ikut?”
“Enggak. Aku masih mau disini. Nanti aku nyusul.”
“Ya udah. Jangan kemana-mana ya. Jangan lama-lama sendirian juga. Nanti kamu di gangguin sama cowok.” Seloroh Ren sambil terkekeh kemudian pergi meninggalkan Zinnia yang masih ingin berada di taman itu.
Kekehan Zinnia mengantarkan Ren sampai menghilang dari pandangannya. Kemudian ia kembali menyeruput minumannya sampai habis. Ia melemparkan botol jus itu ke dalam tempat sampah yang tak jauh di depannya. Namun, botol itu malah terpantul dan terlempar ke arah lain.
Seorang wanita cantik menghentikan langkahnya saat botol itu terlempar ke depan kakinya. Kaki jenjang yang terbalut sepatu hak tinggi itu menatap kepada Zinnia.
“Oh, maaf.” Ujar Zinnia cepat-cepat. Ia langsung bangun dan memungut botol sampahnya kemudian baru memasukkan ke dalam tampat sampah dengan benar.
“Gak apa-apa.” Jawab wanita cantik itu. “Boleh aku ikut duduk disini?” Tanyanya kemudian.
“Boleh.”
Wanita itu duduk di sebelah Zinnia. Ia tidak henti-hentinya menatapi Zinnia dari samping. Hingga membuat Zinnia merasa risih sekali.
“Kamu cantik juga.” Ujar wanita itu membuka suara.
“Makasih, Kak.” Zinnia berusaha untuk bersikap sopan karnasepertinya umur wanita itu berada di atasnya.
“Kamu pacarnya Ren, kan?” Tanya wanita itu lagi.
“Hah? Kok Kakak tau?”
“Gimana gak tau? Dari tadi Ren itu terus gandengin kamu gak mau lepas.”
“Ooh.” Zinnia mengangguk mengerti.
“Siapa namamu?”
“Zinnia, kak.”
“Aku Gladis. Salam kenal.” Ujar Gladis mengulurkan tangan kepada Zinnia.
__ADS_1
Zinnia menatap heran kepada Gladis sebentar sebelum ia menyambut tangan wanita itu. Baru saja ia dan Ren membahas wanita itu dan kini malah muncul dan duduk di sampingnya.
“Udah lama pacaran sama Ren?”
Zinnia benar-benar merasa risih saat ada orang asing yang menyelidiki tentang hubungannya. Mau tidak dijawab nanti dia terkesan sombong.
“Belum, Kak. Belum ada sebulan.” Jujur Zinnia.
“Sebelum kalian pacaran. Kamu tau kalau Ren itu di jodohkan sama aku?” Entah apa tujuan Gladis bicara seperti itu kepada Zinnia.
Zinnia hanya diam saja. Ia malas menanggapi ocehan yang tidak jelas tujuannya seperti itu.
“Bisa gak lepasin Ren?”
Pertanyaan Gladis itu langsung membuat Zinnia menoleh kepadanya. Kini ia bisa membaca tujuan Gladis terus bertanya tentang hubungannya.
“Maksudnya?”
“Kalian kan cuma pacaran. Palingan kamu juga cuma buat mainan sama Ren. Sedangkan aku, keluarganya udah dukung aku dan jodohin kami.”
“Bukannya kamu udah punya pacar?” Rasa hormat Zinnia kepada Gladis sudah menguap entah kemana.
“Udah putus. Dia gak mau di ajak nikah. Maunya pacaran aja. Lagian Papaku gak setuju sama hubungan kami. Kok kamu bisa tau?” Selidik Gladis.
Gladis mengkerutkan keningnya. Menatap heran dengan sikap arogansi yang di tunjukkan oleh Zinnia. Padahal Gladis mengira kalau Zinnia adalah gadis lugu yang gampang di tindas karna penampilannya elegan seperti ‘putri yang baik hati’.
“Kak Ren udah cerita semua tentang kamu. Bukan cuma kamu, tapi semua mantan-mantan kekasihnya aku udah tau. Bahkan aku udah kenal beberapa.” Zinnia terpancing untuk memanas-manasi Gladis.
Apa yang tidak bisa dia lakukan sementara ia juga mengerjai Fandi habis-habisan? Apalagi dengan Gladis yang masih muda.
“Masih gak ngerti juga? Kak Ren itu serius sama aku. Kami udah mau tunangan. Kalian di jodohin? Sama siapa? Cuma Kakek aja kan yang jodohin kalian. Apa Tante Esta sama Om Rai juga jodohin kalian? Setauku enggak.”
Gladis kehabisan kata-kata. Tiba-tiba nyalinya menciut seketika setelah mendapatkan perlawanan sengit dari Zinnia. Ia malu dan marah.
“Memangnya kamu sehebat apa sih sampai bisa percaya diri begini?”
“Memangnya kamu sehebat apa sampai berani nyuruh aku putus dari Kak Ren?” Balas Zinnia.
“Aku ini anak Gubernur.”
__ADS_1
“Terus?”
Gladis fikir Zinnia akan takut dengan jabatan yang disandang sang ayah? Tentu saja tidak.
“Status keluargaku lebih tinggi dan lebih hebat dari kamu. Yang jelas, keluargaku bakalan lebih bisa menguntungkan keluarga Ren daripada kamu.”
“Ya ampun. Sayangnya. Tapi Kak Ren udah punya banyak keuntungan. Jadi gak perlu dukungan darimanapun lagi. Gimana dong?”
“Kamu ini remeh banget ya sama keluargaku.”
“Permisi, Kakak yang masih sembunyi diketek papanya. Jabatan itu cuma sementara, Kak. Sewaktu-waktu bisa habis masa berlakunya. Gak malu banggain status keluarga melulu? Bangga itu sama pencapaian sendiri, bukan orang lain.” Dengus Zinnia. Ia kesal setengah mati.
Zinnia berdiri dan berniat meninggalkan Gladis. Karna kalau ia meladeni wanita itu lebih lama lagi, ia tidak akan bisa menahan diri. Ia tidak ingin membuat masalah di tempat dimana semua keluarga Ren sedang berkumpul bahagia.
Gladis sudah mati kutu. Emosinya memuncak karna merasa terpukul dengan ucapan Zinnia. Ekspektasinya terlalu rendah kepada Zinnia. Ia sudah salah menganggap Zinnia adalah wanita kalem dan lemah. Dan ternyata Zinnia lebih galak darinya.
Gladis tidak terima di ejek seperti itu oleh Zinnia. Ia kemudian bangkit dan hendak memukul Zinnia dari belakang. Ia melemparkan tas tangannya yang mengarah tepat ke kepala Zinnia yang sedang berjalan meninggalkannya.
BUK!
Gladis terkejut saat tasnya justru mendarat di punggung kekar yang tiba-tiba muncul entah darimana. Pemilik punggung itu langsung mendekap dan melindungi tubuh Zinnia.
“Kamu gak apa-apa?” Tanya Ren saat ia sudah melepaskan pelukannya.
“Aku gak apa-apa, Kak.” Jawab Zinnia yang nampaknya juga terkejut.
Ren dan Zinnia sontak menatap marah kepada Gladis. Tatapan Ren yang tajam membuat Gladis menunduk ketakutan.
“Kamu ini kenapa? Udah gila? Ke rumah sakit jiwa. Bukan malah berkeliaran disini.” Dengus Ren. Ia benar-benar marah kepada Gladis.
Gladis tidak berani menjawab. Ia ketakutan dan menyesal atas tindakan bodohnya tadi.
“Ayo, kita pergi dari sini. Di cariin Mama. Diajak makan siang.” Ajak Ren kemudian. Ia merangkul bahu kekasihnya dan menggiringnya pergi.
Setelah beberapa langkah, Zinnia berhenti dan kembali membalikkan badannya. Menatap Gladis dengan seringai licik di kedua ujung bibirnya.
“Makasih ya Kak Gladis. Karna waktu itu Kak Gladis dateng ke kencan bawa pacar, jadi aku ketemu sama Kak Ren. Kalau difikir-fikir, ini semua berkat Kakak juga. Pokoknya makasih banyak.” Ujar Zinnia dengan mengembangkan senyuman mengejek kepada Gladis.
Sontak Gladis langsung terbelalak tidak terima. “Hei!!” Teriak Gladis lagi.
__ADS_1
Tapi Zinnia malah langsung menggandeng mesra lengan Ren. Ia semakin memanas-manasi Gladis. Biar saja, biar semakin meledak. Batin Zinnia dengan senyuman puas di wajahnya.
BERSAMBUNG...