Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 25. Tidak Bisa Diam Saja.


__ADS_3

Keadaan di dalam kamar mandi semakin tidak terkendali. Baik Navya maupun duo uler keket tidak mau melepaskan tangan mereka. Bahkan kondisi itu sudah berlangsung lebih dari lima menit.


Sebenarnya Zinnia malas melerai. Itu adalah tontonan langsung terbaik saat ini. Sebagai penonton VIP, dia ingin melihat akhir dari pergulatan itu.


Zinnia bimbang antara ingin terus melihat mereka berkelahi, atau melerai mereka. Namun pada akhirnya ia memilih untuk melerai mereka karna ia harus segera kembali ke pekerjaanya.


“Hei! Udah, udah!” Lerai Zinnia.


Sepertinya, tidak ada yang mendengarnya. Karna yang berkelahi tetap meneruskan aksi mereka.


Akhirnya Zinnia merangsek maju untuk memisahkan mereka secara langsung. Namun yang terjadi adalah, salah satu di antara mereka malah menyenggol Zinnia hingga gadis itu terhempas dan terjatuh hingga kakinya keseleo.


Zinnia mengernyit kesakitan sambil mencoba berdiri kembali. Sikunya yang terbuka bahkan tergores terkena gagang ember hingga mengeluarkan sedikit darah.


Karna kejadian itu, Zinnia berubah menjadi sangat geram. Ia meraih ember kemudian mengisinya dengan air. Dan


BYUR!!!!


Zinnia menyiram ketiga gadis yang sibuk menjambak satu sama lain itu hingga ketiganya terhenyak dan menghentikan aksi mereka. Setelah basahkuyup, barulah mereka saling melepaskan satu sama lain kemudian kompak melotot kepada Zinnia.


“Mau ku siram lagi?!” Hardik Zinnia kesal. “Udah pada tua, juga. Gak malu!” Ia balas melotot kepada mereka.


BRAK!


Zinnia melemparkan ember kosong dengan kesal kemudian pergi keluar dari kamar mandi dengan kaki kanan yang pincang.


Navya hanya mengikuti kepergian kakaknya itu dengan ekor matanya. Kemudian mengalihkan tatapannya kepada duo uler keket, kemudian kembali menatap pakaiannya yang sudah setengah basah. Ia menghentakkan kakinya dengan kesal kemudian pergi meninggalkan kamar mandi.


Zinnia berjalan terseok-seok menuju ke ruangan tim legal untuk mengambil mangkuk bakso.


“Lho? Kenapa kakimu?”


“Jatuh tadi, Kak. Di kamar mandi.” Jawab Zinia. “Udah selesai makannya, Kak?”


“Iya, udah. Ini.” Wanita berkacamata itu menyerahkan nampan beserta mangkuk yang sudah kosong. Ia juga membayar untuk makanannya.


“Makasih ya, Kak. Kalau gitu aku balik dulu.” Pamit Zinnia kemudian berjalan perlahan keluar dari ruangan.


Zinnia terus meringis menahan sakit di pergelangan kaki kanannya. Semakin di buat melangkah, rasa sakitnya semakin bertambah. Tapi ia berusaha menahan diri walaupun langkahnya agak pincang.

__ADS_1


Di loby, Ren nampak masih berbincang bersama dengan tamunya di tempat semula. Kali ini, Zinnia yang tidak berani menatap Ren langsung dan memilih untuk berjalan saja melewati pria itu.


Ren mengernyit melihat Zinnia berjalan dengan pincang. Tatapannya juga menangkap luka di siku gadis itu.


Sebongkah perasaan khawatir menyergap di dadanya dan membuat Ren langsung berdiri dari duduknya. Membuat Ariga dan tamunya menatap heran padanya. Namun ia tidak peduli. Ia langsung berlari meghampiri Zinnia dan menghentikan langkah gadis itu dengan menggapai lengannya.


“Kamu kenapa?” Tanya Ren. Dari netranya terpancar sebuah kekhawatiran.


Zinnia yang masih terkejut karna Ren menghentikannya, hanya melongo saja sambil menatap kepada pria itu.


“Zinnia?”


“Hah?”


“Kakimu kenapa?”


“Oh, barusan jatuh di kamar mandi, Kak.”


“Kenapa kamu ceroboh sekali, sih?! Gak bisa apa hati-hati gitu?!” Ren tidak sadar kalau nada suaranya naik beberapa oktaf. Hingga membuat beberapa orang mendengarnya dan melihat kepadanya.


Zinnia ternganga melihat kemarahan Ren. Ia heran kenapa Ren sampai semarah itu padanya.


Ren baru tersadar kemudian mengedarkan pandangannya. Ia baru menyadari kalau beberapa orang melihat kepadanya dengan tatapan aneh.


“Aku bukan marah...”


“Udah ah...” Hardik Zinnia kembali. Ia mengibaskan sikunya sampai tangan Ren terlepas darinya. Kemudian ngeloyor begitu saja meninggalkan Ren yang tidak jadi memanggil Zinnia.


Zinnia jadi kesal karna Ren memarahinya di depan banyak orang. Sudahlah kakinya sakit, malah di marahi pula. Siapa yang tidak kesal?


Pak Jaya mengernyit heran melihat kedatangan Zinnia. Ia segera menerima nampan yang di bawa oleh Zinnia kemudian meletakkannya ke bak pencuci piring.


“Kamu kenapa? Jatuh?” Tanya Pak Jaya.


“Tadi aku ke kamar mandi, Pak. Ada orang berantem. Akunya berniat mau melerai, eh malah aku yang kedorong sampai jatuh.” Adu Zinnia menceritakan kejadian yang menimpanya.


“Ya ampun. Kasihan kamu. Udah bener gak usah peduli aja. Aturan biarin aja mereka bunuh-bunuhan sekalian. Hehehehehe” seloroh Pak Jaya.


“Gak mau ah, Pak. Nanti aku di suruh jadi saksi di kantor polisi. Hiiii.” Zinnia bergidik seolah tak pernah menginjakkan kaki di kantor polisi.

__ADS_1


“Hahahaha. Itu kakimu nanti jadi bengkak itu. Pasti jadi tambah sakit.”


“Pak Jaya gak usah khawatir. Aku gak apa-apa. Bapak buruan pulang sana. Katanya mau kondangan.”


“Tapi nanti kamu gimana dorong gerobaknya kalau kaki kamu begitu?”


“Gak apa-apa. Gak terlalu sakit kok. Yang penting masih bisa di pakai buat jalan ini. Hehehe.”


Pak Jaya hanya mengegleng-gelengkan kepala saja. Ia kasihan dengan Zinnia, tapi ia juga tetap harus pergi. Dan tidak mungkin membawa sisa barang dagangan pulang sekarang karna pasti akan basi.


“Udah. Bapak gak usah khawatir. Sekarang bapak pulang aja. Ibu pasti udah nunggu di rumah.” Paksa Zinnia.


Dan pada akhirnya Pak Jaya tetap meninggalkan Zinnia sendirian walaupun dengan perasaan khawatir.


Untung bagi Zinnia, walaupun banyak pelanggan, tapi ia tetap bisa melayani mereka dengan baik.


Hingga pukul 16.00 lewat semua barang dagangan sudah habis terjual. Dan Zinnia sudah selesai beberes dan bersiap untuk mengantarkan gerobak Pak Jaya ke rumahnya.


Dengan susah payah, Zinnia mendorong gerobak yang ternyata berat itu. Menyusuri jalan raya menuju ke rumah Pak Jaya yang berada lumayan jauh dari tempat berjualan. Dengan menahan linu dan sakit di pergelangan kakinya.


Zinnia terhenyak dan langsung menghentikan langkahnya seketika saat sebuah tangan mendorongnya dengan perlahan dan menggantikan posisinya mendorong gerobak. Ia melihat Ren yang sedang mendorong gerobaknya dengan kemeja putihnya yang di gulung sampai siku.


“Kak Ren? Ngapain?” Tanya Zinnia heran.


“Bantuin kamu lah.”


“Aku bisa sendiri.”


“Udah gak usah bawel. Jalan udah pincang begitu.” Dengus Ren. Ia terus berjalan mendorong gerobak itu.


“Ngapain pakai bantuin aku? Kan Kak Ren lagi marah sama aku?” Sindir Zinnia. Ia mengikuti langkah kaki Ren dan berusaha menyeimbangkan langkahnya.


“Siapa juga yang marah? Aku gak marah, kok.” Elak Ren.


“Tapi tadi Kakak gak mau senyum sama aku. Kak Ren cuek pas ngelihat aku di lobi. Bukannya itu karna Kak Ren lagi marah sama aku?”


“Aku gak marah. Cuma lagi sibuk dan fokus sama kerjaan. Soalnya tadi itu tamu penting.” Ren memberikan alasannya.


Zinnia hanya mencibir saja. Tapi dalam hati ia senang kalau ternyata Ren tidak sedang marah padanya. Iapun tersenyum kemudian kembali berjalan menyusul Ren.

__ADS_1


Pergelangan kakinya yang sakit membuatnya sangat sulit untuk berjalan. Hingga beberapa kali ia harus tertinggal dibelakang Ren.


__ADS_2