Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 32. Tidak Menemukan Alasannya.


__ADS_3

Mobil yang di kendarai oleh Ren sudah memasuki kawasan villa yang ada di tengah-tengah perkebunan teh. Mereka segera di sambut oleh Mang Bardi, penjaga villa. Beserta dengan putranya, Ramadhan.


Zinnia segera turun dari mobil begitu mobil berhenti dengan sempurna. Padahal ia baru saja memejamkan mata dan hendak di bangunkan oleh Ren.


“Tante!” Pekik Zinnia saat melihat Esta yang sedang berdiri di luar villa. Ia segera berlari kecil mendekati Esta.


“Kalian udah sampai? Maaf ya, tadi Tante harus mampir dulu. Jadinya gak bisa berangkat bareng.”


Zinnia mengangguk. “Gak apa-apa kok, Tan. Waahh. Udaranya sejuk banget. Padahal masih siang.”


“Ayo, masuk. Mana barangmu?” Tanya Esta.


Zinnia menunjukkan tas punggung mungil yang bertengger di punggungnya. “Cuma ini, Tan.”


Esta dan Zinnia langsung masuk ke dalam villa. Meninggalkan Ren yang baru menyusul beberapa saat kemudian.


Esta menunjukkan kamar untuk Zinnia yang berada di lantai 2. Di sebelah kamar Ren. Villa sudah banyak di renovasi dengan di tambah beberapa kamar. Karna memang keluarga mereka sudah banyak.


“Kamu bisa tidur di sini.” Ujar Esta sambil mengajak Zinnia masuk ke dalam kamar atap yang memiliki sunroof itu.


“Wahhh. Kamarnya kerenn. Bisa lihat pemandangan juga.” Zinnia kegirangan sambil berdiri di depan dinding kaca dengan hamparan kebun teh sebagai pemandangannya.


“Ini kamarnya Ren. Kalau lagi kesini, biasanya dia tidur disini.”


“Kalau aku tidur disini, nanti kak Ren tidur dimana, Tante?”


“Hehehehe. Di kamar sebelah. Kamar yang biasanya di tempati sama Ranu.”


“Ooh.”


“Tante turun duluan, ya. Tante tunggu di bawah. Kita makan siang dulu.”


“Iya, Tante.”


Esta meninggalkan Zinnia sendirian di kamar. Meninggalkan Zinnia yang masih betah menikmati pemandangan di depan jendela. Gadis itu sibuk berfoto hingga tidak sadar kalau Ren sudah bersandar di pintu kamar dan sedang memperhatikannya.


“Nanti aja fotonya. Nanti kita keluar. Fotolah sepuasmu.” Ujar Ren mengejutkan Zinnia.


“Pemandangannya keren banget, Kak.”


“Iya, nanti kita keluar. Sekarang ayo turun. Udah di tungguin sama Mama di bawah. Makan siang dulu, abis itu kita jalan-jalan keluar.” Janji Ren.


Mendapat janji itu, tentu saja mata Zinnia jadi berbinar senang. Ia mengangguk kemudian keluar kamar mengikuti Ren di belakangnya.


Pungung kekar di balik kemeja itu menyihir Zinnia. Ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sana. Ingin menyentuhnya sekali saja. Tapi sayang, punggung itu sudah ada calon pemiliknya.

__ADS_1


Sesampainya di meja makan, ternyata Esta dan Rai sudah menunggu mereka.


“Siang, Om.” Sapa Zinnia. Karna tadi ia tidak bertemu dengan pria paruh baya itu.


“Siang juga.. Sini, duduk.. Kita makan siang dulu.” Ajak Rai ramah.


Mereka semua sedang menyantap makan siang dan di selingi dengan obrolan ringan. Sesekali tertawa karna kekonyolan Zinnia.


“Zinnia baru kali ini ke sini, Om. Ternyata pemandangannya bagus banget.” Ujar Zinnia sambil menyuapkan sendok terakhir ke mulutnya.


“Emangnya kamu belum pernah ke daeran sini?” Tanya Esta.


“Belum, Tante.”


“Ya udah. Abis ini, minta Ren buat ajak kamu keliling sampai puas, ya?”


“Siap, Tante. Hehehehehe.”


Sementara Ren hanya bisa tersenyum samar sambil mendengarkan dan terus menyuapkan makanan ke mulutnya.


Setelah selesai makan, seperti yang sudah di janjikan, Ren mengajak Zinnia untuk berkeliling ke kebun. Disana nampak beberapa pekerja yang sedang membersihkan lahan. Ada juga yang sedang memanen daun teh.


“Wahhh. Keren, keren....” Zinnia tak henti-hentinya berdecak kagum dengan pemandangan yang membentang di sekitarnya. Ia menghirup udara sejuk sebanyak mungkin sehingga memenuhi paru-paru-parunya. Ia ingin menyimpan kesegaran yang tidak akan ia temukan di Jakarta.


Zinnia sedang terpukau dengan kondisi sekelilingnya. Ia bahkan tidak mempedulikan Ren yang sejak tadi mengikutinya di belakang. Sesekali ia sibuk mengambil foto dengan ponselnya sendiri.


Namun Zinnia segera menarik ponselnya. “Gak usah, Kak. Aku bisa sendiri.” Tolak Zinnia. Lantas ia melanjutkan berburu spot-spot untuk berselfi.


Ren mengernyit. Ada yang tidak biasa dengan sikap Zinnia. Tapi ia tidak tau apa, itu.


Srek! Buk!


“Ahk!” Pekik Zinnia yang wajahnya sempurna mencium tanah.


Melihat itu Ren segera mendekati gadis itu dan hendak menolongnya. Namun lagi-lagi Zinnia menolak bantuan Ren. Ia mengabaikan uluran tangan Ren dan berusaha untuk bangun dan mengusap-usap hidungnya yang pegal karna membentur tanah.


“Hati-hati.” Pesan Ren.


“Iya...” Jawabnya singkat.


Zinnia menepis-nepiskan kotoran yang melekat di pakaiannya. Sedikit kotor, tapi tidak apa. Dia membawa pakaian ganti.


“Aden!” Panggil seorang pemuda yang berlari kecil mendekat kepada mereka. Dia adalah Ramadhan. Anaknya Mang Bardi si penjaga villa.


“Ada apa, Dhan?”

__ADS_1


“Disuruh Ibu nganter ini.” Ujar Ramadhan menunjukkan plastik berisi buah dan minuman dingin.


“Oh, makasih.” Jawab Ren sambil menerima pemberian Ramadhan.


Pandangan Ramadhan beralih kepada Zinnia yang masih sibuk berfoto sendiri. Dan ia mengangguk saat gadis itu melambaikan tangan ramah kepadanya.


Zinnia menghampiri Ramadhan dan mengajaknya bersalaman.


“Hai. Aku Zinnia.” Zinnia memperkenalkan diri dengan ramah.


“Saya Ramadhan, Neng.”


“Neng? Gak usah terlalu formal gitu, lah. Kayaknya kita seumuran.”


“Iya, kah?”


“Bisa minta tolong?”


“Apa?” Tanya Ramadhan penasaran.


“Jadi fotograferku sebentar.” Ujar Zinnia sambil memberikan ponselnya kepada Ramadhan.


Melihat kelakuan aneh dari Zinnia, membuat Ren hanya bisa berkacak pinggang sambil melihat aneh kepada gadis itu. Ia mengernyitkan sebelah alisnya dengan heran. Tadi ia menawarkan diri, tapi di tolak. Sekarang malah minta bantuan Ramadhan. Bathin Ren.


Namun yang di tatap hanya melengos dan nampak tidak peduli. Masih tersenyum ramah kepada Ramadhan yang nampak ragu menerima ponsel milik Zinnia.


Dan pada akhirnya Ramadhan tetap menuruti kemauan Zinnia. Ia sigap memotret saat Zinnia sudah berpose di tempat yang ia sukai.


“Besok pagi, bisa lihat sunrise di belakang villa. Di sana. Pasti bagus kalau buat foto.” Ujar Ramadhan memberitahu sambil menunjuk ke arah yang di maksud.


“Beneran?”


Ramadhan mengangguk.


“Oke. Besok kamu temenin aku lagi, ya.” Pinta Zinnia yang langsung di sambut dengan anggukan kepala oleh Ramadhan.


Sementara Ren, masih bingung dengan perubahan sikap dari Zinnia. Gadis itu benar-benar mengabaikannya. Seolah ia telah melakukan sebuah kesalahan.


Ren sedang mengingat dimana letak kesalahannya. Apa mungkin ia telah menyinggung perasaan Zinnia tanpa ia sadari? Tapi apa? Ren masih berusaha mengingat dengan jelas.


Kali ini, Zinnia menghampiri sekumpulan ibu-ibu yang sedang memetik teh. Ia berbicara dengan mereka sebentar. Sepertinya dia sedang meminta di ajari memetik teh. Membuat Ren hanya bisa memperhatikannya dari jauh saja.


Sesekali, ia ikut tersenyum samar melihat Zinnia yang sedang tertawa bersama dengan ibu-ibu itu.


Gadis itu, dia selalu ceria dimanapun berada. Membuat orang-orang di sekelilingnya selalu tertawa karna tingkah konyolnya yang tidak bisa di prediksi.

__ADS_1


BERSAMBUNG...


*Jangan lupa like sama komentarnya yaaa....


__ADS_2