
“Malam Mpok.” Sapa Ren kepada seorang wanita paruh baya yang sedang sibuk mengulek sambal di atas cobek super besar.
“Ren!” Pekik wanita itu. Ia tersenyum kepada langganan paling tampannya itu.
“Sibuk, Mpok?”
“Biasa, kalau gak ada ini, gak ada orang yang mau makan disini. Hahahahaha.” Seloroh Mbok Marina. “Sama siapa?” Lanjut Mpok Mar. Ia masih belum ngeh kalau ada wanita pirang berkaus dan bercelana hitam yang berdiri di samping Ren.
“Sama pacar.” Ren santai sekali mengucapkannya. Ia menoleh dan tersenyum kepada Zinnia.
“Wiiih. Pacar baru? Gitu dong, jangan jomblo kelamaan. Keburu tua.” Seloroh Mpok Mar.
Sementara Zinnia dan Ren hanya bisa tersenyum lucu menanggapinya.
Hati Zinnia sedang berbunga luar biasa. Tidak menyangka Ren akan bersikap manis dengan memperkenalkannya sebagai kekasihnya.
“Mau pesen apa?” Tanya Ren membuyarkan lamunan Zinnia.
“Hah? Ehhmm...” Zinnia berfikir sambil membaca daftar menu yang terpampang di meja. “Bebek bakar aja.”
“Oke. Bebek bakar dua ya, Mpok.” Pesen Ren kepada Mpok Mar.
“Okee. Tunggu aja di meja. Nanti di anterin.”
Ren menggenggam tangan Zinnia dan menuntunnya duduk di salah satu kursi panjang yang kosong. Sebenarnya tidak kosong, ada seorang pria yang juga duduk disana.
Ren mengarahkan Zinnia untuk duduk di tempat yang paling pinggir. Sementara ia duduk di tengah dekat pria gemuk yang sedang melahap makanannya itu. Sepertinya ia tidak ingin Zinnia duduk dekat pria lain selain dirinya. Begitulah yang sedang di fikirkan oleh Zinnia hingga ia senyum-senyum sendiri.
Tak berapa lama, pesanan mereka sudah datang dengan di antar langsung oleh Mpok Mar.
“Makasih, Mpok.” Ujar Ren.
“Sama-sama. Silahkan dinikmati ya, Mbak pacar.” Seloroh Mpok Mar.
Zinnia kembali terkekeh senang mendengarnya.
“Gimana kabar Mama sama Papa? Sehat?” Tanya Mpok Mar.
“Sehat, Mpok.”
“Udah lama gak kesini.”
“Lagi sibuk ngurusin nikahannya Ranu, Mpok.”
“Lha? Ranu mau nikah?!” Mpok Mar nampak terkejut dengan berita itu.
“Udah nikah malahan, Mpok. Sekarang Mama sama Papa lagi di Aceh. Acara pestanya Ranu.”
“Dapet orang aceh? Jauhnya. Jodohnya jauh, tapi takdir jodohnya udah duluin kamu. Hahahaha. Jadi kamu kapan nyusulnya?”
“Hehehehehe.” Ranu tidak berani menjawab tentang kepastian akan hal itu. Ia dan Zinnia bahkan baru berpacaran selama dua hari. Dan ia masih belum punya bayang-bayang. Kalaupun ada, ia masih membutuhkan sedikit waktu lagi.
__ADS_1
“Jangan kelamaan. Keburu ubanan.”
“Di semir, Mpok. Gampang.” Seloroh Ren.
“Hahahahaha. Jadi kapan acara ngunduh mantunya di Jakarta?”
“Belum tau, Mpok. Yang jelas gak lama lagi.”
“Awas kalau Mpok gak di undang.” Ancam Mpok Mar.
“Pasti di undang. Ekslusive dari Mama. Hehehehehe.”
“Okelah, ngobrol aja kapan makannya? Mpok balik ke sana dulu, ya? Enakin aja.”
“Iya, Mpok. Makasih.”
Ren mengantarkan kepergian Mpok Nur dengan senyuman. Sementara Zinnia hanya memperhatikan saja. Sepertinya, Ren dan Mpok Mar sangat dekat. Apa mereka saudara? Fikir Zinnia menebak-nebak.
“Ayo, makan.” Ajak Ren.
“Siapa itu, Kak?” Tanya Zinnia menanyakan Mpok Mar.
“Yang punya warung ini.”
“Akrab banget sama Kak Ren.”
“Kami udah langganan disini. Dari kecil aku udah sering ke sini. Dulu, Mama kerja di sini pas pemilik sebelumnya masih ada. Sekarang udah di gantiin sama anaknya, Mpok Marina.” Jelas Ren sambil menyuapkan makanan ke
“Tente kerja disini?” Zinnia menatap heran atas pernyataan Ren. Ia sama sekali tidak pernah menyangka kalau Esta pernah bekerja di warung ini.
“Iya. Dulu pas masih sekolah. Sambil sekolah sambil kerja. Soalnya kalau gak kerja, gak bisa sekolah.”
Zinnia ternganga tidak percaya. Ternyata masa lalu Esta sesulit itu. Sekalipun tidak pernah terlintas di benaknya. Yang ia fikir, wanita penuh kehangatan itu, sudah terlahir kaya sejak kecil. Sikap anggun Esta menunjukkannya.
“Gak nyangka, ya?”
Zinnia mengangguk. “Aku fikir dari kecil Tante udah kaya. Kan punya bisnis laundry juga?”
“Hahahaha. Kalau lihat sekarang semua orang pasti berfikir begitu. Padahal dulu, hidup Mama penuh perjuangan. Dia juga susah payah bangun laundry itu.”
Ternyata, sikap hangat yang Esta punya adalah hasil dari pelaran hidup yang pernah di rasakan olehnya. Pantas saja dia bisa bersikap sebijaksana itu dalam memutuskan sesuatu.
“Gak nyangka aku, Kak.” Zinnia langsung membayangkan betapa sulitnya hidup yang di jalani oleh Esta dulu. Sekolah sambil kerja.
Satu pertanyaan muncul di benak Zinnia. Apakah Esta pernah mengeluh tentang nasibnya?
Padahal dia sendiri, yang sejak lahir hidupnya sudah berkecukupan, masih mengeluh akibat perlakuan orangtuanya. Memang, setiap orang punya permasalahannya sendiri.
Yang terlahir miskin sibuk berjuang demi menyambung hidup. Dan yang terlahir kayapun, masih tetap berjuang untuk bertahan dari luka yang mematikan, seperti Zinnia.
Tidak ada yang mudah dalam kehidupan. Hanya yang melihat hasilnya saja yang akan menganggap kalau kehidupan itu sempurna. Bagi yang menjalani prosesnya, tidak akan semudah kelihatannya.
__ADS_1
Terkadang, kita hanya melihat yang enaknya saja dari orang lain. Tanpa peduli bagaimana proses untuk sampai pada titik itu. Yang jelas, penuh kerikil dan luka.
Zinnia kembali menyantap makanannya walaupun fikirannya masih melayang tentang Esta. Ia takjub hanya dengan sekelumit kisah yang di ceritakan Ren padanya.
Padahal Ren belum meceritakan detail tentang kehidupan ibunya dahulu. Yang bisa dikatakan sama dengan kisah Zinnia saat ini. Perbedaannya hanya terletak pada status sosial mereka saja. Ibunya terlahir miskin, sedangkan Zinnia terlahir dari keluarga kaya dan terpandang. Persamaannya, mereka sama-sama punya luka yang mendalam akibat kekerasan fisik dan psikis dari orang-orang terdekat.
Mungkin itu sebabnya Esta seperti bisa memahami perasaan Zinnia dengan sangat baik.
“Mau nambah, gak?” Pertanyaan Ren membuyarkan lamunan Zinnia. Pria itu melihat ke arah piring Zinnia yang sudah kosong melompong.
“Enggak, Kak. Udah kenyang.” Zinnia lantas mencuci tangannya.
Ren juga sudah menyelesaikan makannya. Ia kemudian mencuci tangan dan menyeruput es jeruk miliknya.
“Abis ini mau kemana lagi?” Tawar Ren.
“Emangnya Kak Ren gak ke kerja lagi?”
“Kerja itu siang. Kalau malem, pacaran.” Jawab Ren terkekeh.
“Idiih.”
“Serius.”
“Hehehehe. Pulang aja lah kak. Aku capek.”
“Kok pulang? Baru juga jam 7.” Protes Ren. Ia tidak ingin sesingkat itu menghabiskan waktu bersama Zinnia. Ia ingin lebih lama lagi.
“Jangan di keluarin semua kangennya. Besok-besok gak ada alasan buat ketemu...” Seloroh Zinnia.
“Kangenku itu, udah dikeluarin semua juga masih numbuh lagi. Gak mau abis-abis. Gimana dong?” Ren menggenggam tangan Zinnia dengan lembut.
Zinnia ikut terkekeh lucu. Ren juga seperti anak remaja yang sedang jatuh cinta. Wajar saja, mereka baru dua hari berpacaran. Masih panas-panasnya.
“Oh iya. Aku lupa. Aku punya ini.” Ujar Ren sambil merogoh sakunya. Ia mengeluarkan dua lembar tiket dan memberikannya kepada Zinnia. “Gak apa-apa ya nonton konser band lokal.”
Zinnia ternganga tidak percaya. Itu adalah tiket konser ekslusive dari salah satu band rock terkenal di Indonesia. Konser itu hanya menyediakan 500 tiket saja. Maka dari itu di sebut konser ekslusive.
“Kok kak Ren bisa dapet ini? Padahal susah banget lho dapetnya. Mana mahal banget lagi. Aku kemarin pesen aja udah abis tiketnya. Lima menit penjualan langsung ludes.”
“Itu pentingnya punya orang dalam. Hahahaha.” Bangga Ren.
Selorohan itu berhasil menyulut pukulan manja dari Zinnia. Dia senang setengah mati. Membuat gadis itu langsung bergelayut senang di lengan Ren
“Makasih, Kak.”
Cup.
Wajah Ren langsung merona setelah mendapat ciuman di pipinya. Ia malu karna nampaknya beberapa orang sedang memperhatikan mereka.
BERSAMBUNG.....
__ADS_1
*wajib like sama komentar kalau mau di lanjut.. hahahahaha.