
Hari ini, Selvi datang sekitar jam 10 pagi untuk menjemput Zinnia. Gadis itu harus meminta maaf sesuai dengan tuntutan yang di layangkan kepadanya.
“Gak bisa apa Kak Selvi aja yang minta maaf wakilin aku?” Tanya Zinnia yang masih meringkuk di balik selimut. Ia bahkan malas bangun untuk sekedar sarapan.
“Gak bisa. Itu permintaan khusus dari mereka supaya tuntutannya di cabut.” Jelas Selvi yang masih menunggu Zinnia dengan duduk di sofa kamar.
“Padahal aku gak masalah kalau harus di penjara juga.” Ujar Zinnia santai.
“Kalau kamu di penjara, aku yang di pecat sama Ibu. Udah buruan bangun. Nanti terlambat.” Paksa Selvi.
Zinnia menyingkap kasar selimutnya. Menatap kesal di sertai cibiran kepada Selvi sambil duduk di atas tempat tidur.
“Zinnia, orang tuamu bukan orang sembarangan. Gimana jadinya kalau sampai kamu di penjara? Karir mereka bisa langsung hancur. Dan mereka bakalan lebih marah sama kamu.” Jelas Selvi.
Dengan mendengus kesal, Zinnia tetap berjalan masuk ke dalam kamar mandi. Setelah beberapa menit kemudian, ia kembali keluar dengan hanya mengenakan bathrobe yang membungkus tubuhnya. Masuk ke dalam ruang ganti kemudian berpakaian seperti biasa. Kaus lengan pendek dan celana jeans berwarna hitam kesukaannya.
“Wahh. Kamu bener-bener gak suka sama warna lain? Ini lemari isinya gelap semua.” Protes Selvi. Dan Zinnia hanya memanyunkan bibirnya saja.
Selvi segera keluar dari ruang ganti begitu melihat Zinnia yang langsung membuka bathrobenya. Ia menunggu di dalam kamar sambil bermain dengan ponselnya.
“Mama sama Papa udah pergi kan, Kak?” Tanya Zinnia saat sudah selesai berpakaian.
“Udah dari tadi.”
“Yuk.” Ajak Zinnia sambil menyambar tas dari gantungan dan ponsel dari atas nakas.
Zinnia memilih untuk memejamkan matanya di sepanjang perjalanan. Ia tidak peduli kemana Selvi akan membawanya. Yang ia tau, mobil sudah berhenti di sebuah tempat parkir basement sebuah gedung.
“Udah sampe. Yuk turun.” Suara Selvi mengingatkan.
Zinnia segera turun dari mobil dan mengikuti Selvi yang terus berjalan naik dan berhenti di depan meja resepsionis. Wanita berumur 30 tahun itu nampak berbicara kepada pegawai resepsionis sementara Zinnia memilih untuk menyandarkan punggung di mejanya saja sambil mengedarkan pandangannya.
Ia bisa melihat kalau beberapa orang melihat kepadanya dengan aneh. Karna hanya dirinyalah yang mengenakan pakaian super santai itu disana. Sementara yang lain mengenakan pakaian formal ala kantoran. Termasuk Selvi.
__ADS_1
Namun Zinnia tetaplah Zinnia. Ia tidak peduli dengan apapun yang orang fikirkan tentang dirinya. Karna hatinya sudah terlanjur kebal. Kalau hanya melihat tatapan aneh seperti itu bukanlah apa-apa baginya. Jadi ia tetap bersikap santai saja.
“Ayo.” Ajak Selvi kemudian setelah selesai bicara dengan resepsionis.
Dan Zinnia kembali mengikuti Selvi masuk ke dalam lift. Lift berhenti di lantai 21 dari 30 lantai yang ada. Setelah pintu lift terbuka, Selvi kembali mengajaknya untuk keluar.
Selvi dan Zinnia terus berjalan menuju ke sebuah ruangan. Di depan ruangan, mereka di sambut oleh Heru dan Ariga.
“Selamat datang, Bu Selvi.” Ujar Heru sopan sambil menyalami Selvi dan Zinnia bergantian. Begitu juga dengan Ariga.
“Mari, silahkan masuk. Pak Ren sudah menunggu anda.” Jelas Ariga mempersilahkan Selvi dan Zinnia masuk ke dalam ruangan Ren.
Zinnia berjalan di belakang Selvi dengan menundukkan wajahnya. Namun ujung matanya tetap jelalatan untuk meneliti keadaan di sekitarnya.
Bahkan setelah mereka semua duduk di sofa Zinnia tetap tidak berani melihat kepada Ren.
Baru setelah Selvi menyenggol lengannya, ia baru mengangkat wajahnya. Dan hal pertama yang terjadi adalah netranya bertemu dengan netra milik Ren.
Zinnia memperhatikan Ren dari ujung kepala sampai kaki. Ia hampir tidak mengenali pria itu dengan pakaian dan gaya yang berbeda. Sangat berbeda dengan pria di commuter line yang ia ingat.
“Oh, eh. Saya mau minta maaf atas kejadian kemarin, Pak.” Ujar Zinnia terbata.
Ren hanya mengernyit saja. Bukan seperti itu permintaan maaf yang ia harapkan.
“Zinnia.” Selvi kembali memperingatkan dengan berbisik. Ia menyadari kalau Ren tidak suka dengan cara Zinnia meminta maaf. Sama sekali tidak terlihat tulus.
“Apa?” Tanya Zinnia yang merasa tidak melakukan kesalahan.
“Yang bagus minta maafnya.”
Zinnia memutar bola matanya dan bersiap mengulangi perkataannya. Ia menarik nafas kemudian membenahi posisi duduknya.
“Pak...” Zinnia berhenti karna tidak tau nama pria di hadapannya.
__ADS_1
“Ren.” Bisik Selvi memberitahu.
“Baiklah, Pak Ren. Saya khusus datang kesini untuk meminta maaf dengan tulus kepada Pak Ren atas kesalahan saya tempo hari.” Zinnia akhirnya bisa bernafas lega. Begitu juga dengan Selvi.
“Kesalahan yang mana?” Tiba-tiba Ren bersuara. Membuat Zinnia dan Selvi bingung dan saling tatap.
Zinnia melihat Ren dan Heru yang duduk di sebelah pria itu bergantian.
“Hah? Maksudnya?” Tanya Zinnia tidak mengerti maksud dari pertanyan Ren.
“Kamu minta maaf karna berusaha nyopet aku, atau karna udah nuduh aku melakukan pelecehan seksual sama kamu?”
Zinnia sontak mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Ia baru menyadari kalau ia sudah melakukan dua kesalahan sekaligus pada orang yang sama.
“Dua-duanya, Pak. Dua-duanya.” Jawab Zinnia secepat kilat. Ia tak mau memperpanjang masalah yang sebenarnya sudah hampir selesai itu.
“Oke. Tapi inget. Jangan di ulangin lagi.” Hardik Ren. Ia menatap sinis kepada Zinnia.
Dalam hati Ren tidak menyangka kalau gadis pencopet itu adalah seorang putri dari kalangan berada. Itu adalah hal yang tidak pernah ia temui sebelumnya. Anak orang kaya dan pejabat, kenapa memilih untuk mencopet?
Ren begitu penasaran dengan kehidupan macam apa yang di jalani oleh Zinnia. Tapi ia tak lantas bertanya dengan lantang dan menyimpan rasa penasarannya di dalam hati saja.
“Terimakasih, Pak Ren. “ Selvi yang berucap. “Jadi, dengan ini, permasalahan kita sudah selesai disini.”
Heru mengeluarkan sebuah dokumen sebagai perjanjian damai antara keduanya. Untuk kemudian diurus ke kantor polisi agar permasalahan tuntut menuntut ini selesai sampai disini saja dan tidak harus berlanjut ke meja hijau.
Setelah menyelesaikan urusan mereka dengan Ren. Zinnia dan Selvi pamit untuk kemudian keluar dari ruangan Ren.
“Kak Selvi antar aku ke kantor JOHAM.” Pinta Zinnia saat mereka sudah berada di dalam mobil.
Selvi tidak menjawab. Namun ia tetap menuruti keinginan Zinnia dan mengantarkan gadis itu ke kantor Joham.
“Jangan diulangin lagi, Zinnia. Please. Sayangi badanmu sendiri.”
__ADS_1
Zinnia mengerti apa yang di maksud oleh Selvi. Karna memang bukan hal baru bagi Selvi melihat ia di tampar oleh ayah ataupun ibunya.
Zinnia tidak menanggapi. Ia hanya melengos menghadapkan wajahnya ke arah luar jendela. Memperhatikan para pengendara motor yang mereka lewati ataupun melewati mereka.