
Hujan rintik mewarnai langit kawasan puncak malam itu. Membuat udara lembab langsung memenuhi rongga hidung. Disertai dengan suara katak yang saling bersahutan bak sedang konser di rawa-rawa yang tak jauh dari villa.
Ren masih terus menatap Zinnia yang kini sedang tertidur lelap. Sesekali ia melirik botol infus yang tergantung di sisi tempat tidur. Ia juga tidak lengah mengawasi selang infus yang tertancap di punggung tangan Zinnia.
Melihat wajah Zinnia yang penuh luka itu, Ren jadi pias hatinya. Rasa geli dan lucu karna tingkah gadis itu kini berubah menjadi sebuah kekhawatiran yang menumpuk di dadanya.
Tok. Tok. Tok.
Ramadhan muncul di pintu kamar yang memang sengaja dibiarkan terbuka.
“Kenapa, Dhan?”
“Mau dipanggil sekarang apa gimana dokternya, Den?” Tanya Ramadhan sambil melihat kearah botol infus.
Cairan di dalam botol infus hanya tinggal sedikit lagi. Ren sedang menimbang pertanyaan Ramadhan.
“Boleh. Kamu tolong panggilkan sekarang saja ya..” Pinta Ren kemudian. “Pakai mobil aja, Dhan. Ujan.”
Ramadhan segera mengangguk kemudian kembali meninggalkan kamar itu.
“Zinnia,,, Zinnia,,, kamu ini kok ada-ada aja, sih.” Gumam Ren sambil merapikan helaian rambut pirang Zinnia ke belakang telinga. Padahal rambut itu sama sekali tidak mengganggu Zinnia.
Perlahan, tangan Ren mulai naik dan membelai pipi Zinnia. Ia menangkupkan sebelah pipi Zinnia yang memenuhi telapak tangannya.
Beberapa saat kemudian, Ramadhan sudah kembali dengan membawa seorang perawat bersamanya
“Lho? Kenapa bukan dokter Sinta yang datang?” Tanya Ren heran.
__ADS_1
“Maaf, Pak. Dokter Sinta lagi banyak pasien dan gak bisa di tinggalin. Jadi dia menyuruh saya untuk ikut datang kesini.” Jelas perawat cantik itu.
Perawat itu langsung mendekati dan memeriksa botol infus Zinnia dan kemudian menggantinya dengan yang baru.
“Besok pagi dokter Sinta yang akan kesini, Pak.” Jelas perawat itu lagi.
Ren hanya mengangguk saja. Ia membiarkan perawat itu diantar pergi oleh Ramadhan.
Udara dingin terus menyapu permukaan kulit. Padahal Ren sudah mengenakan jaket yang lumayan tebal, tapi pori- porinya tetap memberontak dan mencuat keluar. Ia merapikan selimut yang membungkus tubuh Zinnia kemudian ia ikut duduk di atas ranjang di samping gadis itu.
Ren mengusir bosan dengan bermain ponsel saja. Saat pinggangnya lelah dan menuntunnya untuk berbaring, ia kemudian meletakkan ponsel ke atas nakas. Mengalihkan tubuhnya menghadap Zinnia yang masih sibuk di alam mimpi.
Ren menumpu kepala dengan lengannya agar lebih terang menatap wajah Zinnia. Dari aksinya itu, berhasil menimbulkan debaran yang menggelikan hatinya. Debaran yang tidak bisa menahannya untuk tidak membelai wajah Zinnia yang penuh luka lecet akibat di sosor soang.
Saat kulit tangannya menyentuh kulit wajah Zinnia, ia semakin tidak puas dan semakin mendekatkan wajahnya kepada gadis itu.
Ren meletakkan jempol tangannya tepat di bibir Zinnia yang padat dan ranum. Perlahan ia mengusapnya pelan sambil menikmati sensasi aneh yang muncul di dalam dirinya.
Ren yang melihat hal itu sudah seperti tersengat aliran listrik di sekujur tubuhnya. Terlebih saat Zinnia beralih dan menghadap kepadanya hingga lebih memperpendek jarak mereka.
Bibir Zinnia yang sudah kelimis memantik sesuatu dalam diri Ren. Tengkuknya mulai meremang saat hembusan nafas gadis itu menerpa wajahnya. Seolah logika dan hatinya saling bertolak belakang, perlahan ia mulai menempatkan tangan di pipi gadis itu kembali.
Perasaan yang sedang menggeliat membuat nafas Ren memburu. Ia sedang berperang dengan diri sendiri untuk menahan godaan itu. Biar bagaimanapun, ia adalah pria normal yang sudah dewasa. Mustahil ia tidak tergoda dengan pemandangan yang memantik nafsu itu. Dan hal yang sedang tersaji di hadapannya itu seolah menuntut hasratnya untuk di penuhi.
Bibir ranum Zinnia seperti sedang menarik tangannya untuk menyentuhnya. Dan Ren tidak sadar saat melakukan itu. Yang ia tau, sekarang jemarinya sudah sempurna menempel di bibir gadis itu. Membuatnya enggan untuk menariknya kembali.
Nafas Zinnia yang teratur terus berhembus mesra di wajahnya. Tubuhnya sudah sempurna meremang dan membangkitkan Gerry yang sedang tertidur. Dan Ren masih asyik memandangi wajah Zinnia seolah sedang mematri lekuknya di dalam hati.
__ADS_1
Ren terkesiap saat tiba-tiba Zinnia membuka matanya. Netra dengan kelopak mata yang sayu itu menatapnya dalam-dalam. Tapi pandangan Zinnia terlihat aneh, kosong dan tidak fokus.
“Kak Ren... Aku suka sama kakak...” Lirih Zinnia seperti bergumam.
Ucapan itu terdengar dengan sangat jelas di telinga Ren. Membuat gejolak dan debaran di hatinya semakin menjadi. Tangan gadis itu bahkan hendak menarik Ren hingga membuat selang infusnya menegang. Untungnya Ren menyadari hal itu dan segera menolak tubuh Zinnia untuk kembali ke posisi semula.
Selang infus sudah tidak beraturan dan Ren berencana untuk membenahinya. Ia menopang tubuhnya melewati atas tubuh Zinnia. Gadis itu masih terjaga, namun sepertinya masih belum sadar dari pengaruh halusinasi dari buah kecubung yang ia makan.
Tubuh Ren menegang saat tiba-tiba Zinnia melingkarkan kedua tangan di lehernya. Gadis itu terus menarik kepalanya hingga bibir mereka sempurna menempel satu sama lain.
Ren terbelalak dan sangat terkejut dengan serangan tiba-tiba itu. Zinia bahkan melu mat lembut bibir Ren seolah sedang menikmatinya.
Ini memang bukan ciuman pertama bagi Ren, tapi kelakuan Zinnia yang tiba-tiba tanpa persiapan, membuat bulu kuduknya berdiri. Dan tentu saja bukan hanya bulu kuduknya yang berdiri. Tapi bagian tubuhnya yang lain juga ikut berdiri.
Zinnia terus melu mat bibir Ren tanpa henti. Lembut dan hangat. Membuat Ren tidak bisa menolak gejolak yang kini sudah menguasai 75% bagian dirinya. Dan akhirnya Renpun membalasnya dengan keahlian yang ia punya.
Ren berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya yang sedang tersengal. Menatapi wajah Zinnia yang berada di bawahnya dengan tatapan penuh nafsu. Sementara kedua tangan Zinnia masih terkait di lehernya.
“aku suka sama Kak Ren.” Gumam Zinnia lagi.
Ren hanya tersenyum saja. Ia ingin membalas tapi percuma kalau ia menanggapi ocehan Zinnia sekarang. Gadis itu sedang tidak sadar dengan apa yang dia katakan.
Ren menelusupkan tangannya ke bawah leher Zinnia kemudian kembali memagutnya dengan lembut. Kali ini, ia yang memulainya terlebih dahulu. Ia bisa merasakan bibir Zinnia yang tipis tapi padat itu membalas ciumannya.
Ren dan Zinnia terlarut dalam adegan penuh kebahagiaan itu. Sampai tiba-tiba Ren teringat ucapan Esta.
“Kalau kamu sayang sama seseorang, jaga dia baik-baik. Jangan merusaknya. Itu adalah sikap pria hebat. Jangan sampai nafsumu mengalahkan logikamu.”
__ADS_1
Seketika Ren melepaskan pagu tannya. Ia memaksa tangan Zinnia untuk terlepas dari tengkuknya.
Ia tidak ingin merusak Zinnia. Ia ingin menjaga Zinnia dengan baik seperti yang selalu di ingatkan oleh ibunya. Ia akan menjaga wanita yang benar-benar disayanginya dengan setulus hati itu.