
Baru saja Ren dan Zinnia berjalan hendak menuju ke tempat cincin, tiba-tiba Zinnia mematung. Gandengannya di lengan Ren sampai terlepas.
“Kenapa?” Tanya Ren. Ia mengikuti arah pandangan Zinnia dan menemukan hal yang mengejutkan.
Zinnia tidak berkedip menatap sepasang kekasih yang tengah sibuk bermesraan di hadapannya. Ada guratan luka di matanya.
“Ma....” Lirih Zinnia tidak percaya. “Ma!” Pekik Zinnia dengan suara lantang.
Arsa yang baru saja mencium pipi seorang pria muda disampingnya langsung menoleh kepada Zinnia. Pria itu bahkan terlihat sumuran dengan Zinnia. Tak kalah terkejut, Arsa sampai melotot kepada putrinya.
Sudah, rasa malu kembali menumpuk di dalam hati Zinnia. Kali ini, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi bagaimana ia merasa malu kepada Ren.
Kemarin ayahnya. Dan sekarang ibunya. Harga diri Zinnia sudah hancur berkeping-keping. Sudah tidak ada harapan lagi. Rasanya, dia sudah tidak punya lagi kebaikan dari keluaganya yang bisa ia tunjukkan kepada Ren.
Zinnia menatap pias kepada Ren yang berdiri di sampingnya. Kemudian tiba-tiba pandangannya berubah menjadi gelap dan berkunang-kunang. Zinnia jatuh terduduk di lantai. Kakinya sudah tidak ada tenaga.
“Zinnia!” Ren berteriak sambil berusaha menahan tubuh kekasihnya itu.
Semua itu karna rasa malunya kepada Ren. Kejadian memalukan itu membuat fikiran Zinnia menjadi kalut. Ia buntu. Tidak lagi menemukan jalan untuk melarikan diri. Bahkan kepada Ren.
Perasaan Zinnia sangat hancur. Dadanya sesak dan nafasnya tercekat.
“Kamu gak apa-apa?” Tanya Ren lagi.
Pandangan Zinnia terlalu samar. Tapi ia masih bisa melihat ibu dan kekasihnya yang masih berdiri di tempatnya semula.
“Kak Ren. Ayo kita pulang aja.” Ujar Zinnia kemudian.
Ren membantu Zinnia untuk berdiri. Ia bisa merasakan betapa hancurnya hati Zinnia yang menyaksikan perselingkuhan ibunya. Bahkan menurut Ren, ini lebih parah dari ayahnya waktu itu.
Sebuah ketakutan muncul di benak Ren. Kali ini, ia harus menjaga Zinnia agar gadis itu tidak melarikan diri lagi seperti dulu.
Padahal Zinnia sudah tidak punya tenaga untuk melarikan diri. Tubuhnya lemas. Jangankan tenaga, harga dirinyapun rasanya sudah tidak ada di hadapan Ren.
Zinnia sedang berada di titik terendahnya. Kali ini, entah bagaimana dia bisa bangkit dari situasi menyakitkan ini. Sesakit-sakitnya melihat perselingkuhan ayahnya, mengetahui perselingkuhan ibunya adalah pukulan terhebat Zinnia sebagai seorang anak.
Di tengah rasa sakit, Zinnia masih harus memikirkan perasaan Ren juga. Rasa sakit dan malu yang membumbung mampu menutupi seluruh perasaan cinta Zinnia kepada Ren. Menenggelamkan perasaan itu jauh kedasar hatinya.
__ADS_1
Perasaan itu, ikut runtuh beserta hati dan harga dirinya.
Di dalam mobil, Zinnia mengatupkan mulutnya rapat-rapat. Sementara Ren pun hanya terdiam saja. Dia takut salah bicara dan malah membuat Zinnia semakin sakit.
Bahkan saat mereka sudah sampai di rumah Zinnia, gadis itu hanya keluar dari dalam mobil tanpa berkata sepatah katapun. Ren menatapnya penuh khawatir.
Zinnia benar-benar sudah tidak peduli dengan keadaan sekitar. Ia hanya mengurung diri di kamar begitu sampai di rumah.
Ren yang khawatir terus menelfon dan mengirima pesan. Tapi tidak ada satu panggilanpun yang ia angkat. Dan tidak ada satu pesanpun yang ia balas. Ia hanya meringkuk di dalam selimut tebalnya.
Menangis? Zinnia tidak menangis. Mungkin airmatanya sudah habis. Ia hanya memejamkan mata berharap bisa kabur ke alam mimpi.
Suara ponselnya kembali terdengar. Ponsel yang ada di atas nakas itu sudah kesekian kali meraung. Zinnia acuh. Ia sudah kepalang malu untuk mengangkat telfon dari Ren.
Ia memang pengecut. Tapi ini masalah keluarga, bagaimana dia bisa membaginya dengan Ren?
Ponsel itu terus berbunyi. Panggilan dan pesan masuk bertubi-tubi tanpa henti. Yang pada akhirnya memaksanya untuk mengangkat telfon dari Ren.
“Ya, Kak?” Zinnia berusaha mengatur nada suaranya sebiasa mungkin.
“Kenapa gak diangkat?”
“Oh, gitu. Jadi aku ganggu?”
“Enggak kok.”
“Ya udah kalau gitu. Lanjut istirahat aja. Kalau mau apa-apa, bilang sama aku ya.” Pesan Ren.
“Iya.”
Zinnia kembali melemparkan ponsel ke sembarang arah. Kemudian kembali meringkuk di bawah selimut.
Hari sudah gelap. Matahari juga sudah kembali ke peraduannya. Perut Zinnia sudah berteriak minta di isi sejak tadi. Tapi dia malas beranjak dari kamar.
Merasa lelah, Zinnia bangkit dan berjalan menuju ke balkon. Dia sedang memperhatikan ke arah halaman rumah saat melihat sebuah mobil berhenti di depan gerbang. Ia bisa melihat ibunya yang turun dari mobil itu kemudian masuk ke dalam rumah.
Arsa terkejut saat melihat Zinnia yang berdiri tanpa ekspresi di ujung tangga. Walaupun kaget, Arsa mencoba untuk tetap tenang.
__ADS_1
Di saat yang bersamaan, Navya juga muncul dari kamarnya.
“Kenapa Mama sama Papa gak cerai aja?” Malam ini, Zinnia sudah bertekad untuk memulai perang. Biar sekalian sakit. Fikir Zinnia.
Arsa yang sudah hampir masuk ke dalam kamarnya, tidak jadi membuka pintu dan menoleh kepada Zinnia.
“Apa gunanya tidur dalam satu kamar kalau kalian punya selingkuhan masing-masing?! Udah pada tua, gak malu apa?!”
“Zinnia! Jaga omongan kamu, ya.”
“Kenapa? Kenapa aku harus jaga omongan aku? Semua yang ku bilang ini bener. Kenapa sama keluarga ini!!!!!!” Pekik Zinnia dengan frustasi.
“Pacar mama itu, kayaknya lebih muda dari aku. Apa Mama gak malu sedikitpun? Wajah Mama udah keriput begitu. Seenggaknya tau diri.” Zinnia benar-benar melewati batasnya malam ini. Ia meluapkan semua yang ada di fikriannya.
“Zinnia kamu semakin ngelunjak ya!” Arsa sudah terpancing emosi.
“Apa gunanya pangkat dan kedudukan? Apa gunanya nama baik? Apa gunanya pendidikan bagus? Keluarga ini sudah hancur. Persetan nama baik!”
“Zinnia!” Arsa merangsek mendekati Zinnia. Menatap marah kepada putri sulungnya itu.
“Aku malu jadi anak kalian.” Suara Zinnia terdengar lirih tapi penuh penekanan.
Navya hanya memperhatikan saja. Tidak berani ikut campur. Dia masih belum punya cukup keberanian untuk melawan ibunya.
“Aku malu punya orang tua yang busuk semua!”
“Zinnia! Mulutmu itu! Kalau kamu malu jadi anakku, pergi dari rumah ini!!” Ucap Arsa kemudian.
Zinnia tidak menjawab. Ia hanya meluapkan kemarahan lewat tatapan tajam kepada Arsa.
Kali ini, Zinnia memang sudah di ujung tanduk. Saat memulai pertengkaran ia sudah mempertaruhkan semua yang ia bisa. Jadi ia sudah siap dengan kemungkinan terburuk yang terjadi. Bahkan kalau ia di usir dari rumah ini, ia sudah siap.
“Ya! Aku juga udah gak sudi jadi anak Mama!”
Itu adalah kalimat terakhir yang Zinnia ucapkan sebelum ia benar-benar keluar dari rumah itu.
“Kak!” Navya berusaha mengejar Zinnia. “Kakak mau kemana?” Tanya Navya yang sudah berhasil mengejar Zinnia di halaman rumah.
__ADS_1
Zinnia hanya menoleh dan diam menatap adiknya. Kemudian ia kembali berbalik tanpa mengucapkan sepatah katapun kepada Navya.
BERSAMBUNG...