
Pijatan lida ternyata memang mampu menyembuhkan cideranya. Hanya dalam waktu dua hari saja, Zinnia sudah bisa berjalan dengan normal kembali.
Hari ini Zinnia tidak masuk kerja. Pak Jaya melarangnya masuk kerja karna cidera yang dialami Zinnia. Kemarin Zinnia sempat menceritakan kejadian dikejar petugas yang akhirnya menyebabkan kaki gadis itu bertambah sakit. Pak Jaya tidak tega jika memaksa Zinnia bekerja. Sehingga ia meminta gadis itu untuk beristirahat sampai benar-benar sembuh total.
Zinnia meregangkan otot-ototnya dengan masih berada di atas tempat tidur. Kemudian ia menyeret kakinya menuju ke kamar mandi. Padahal ia masih mengantuk tapi lambungnya tak bisa di ajak kompromi. Dan juga, kemarin ia mendapat telfon dari Esta kalau hari ini ia di ajak jalan-jalan ke villa keluarga mereka yang ada di kawasan puncak. Jadi mau tidak mau, Zinnia harus memaksa tubuhnya untuk bangun.
Bahkan setelah mencuci mukapun, kelopak mata Zinnia hanya bisa terbuka separuhnya saja. Seolah ada yang bergelayut disana sehingga membuatnya sulit untuk membuka dengan sempurna.
Setelah dirasa kesadarannya sudah cukup untuk menggerakkan tubuhnya, Zinnia keluar dari kamar dan turun ke bawah. Ia langsung menuju ke dapur untuk sarapan. Dan ternyat di meja makan sudah ada ibunya dan juga Navya yang juga sedang menyantap sarapan mereka.
Arsa menoleh kepada putri sulungnya yang sudah bisa berjalan normal dan sudah tidak pincang lagi.
“Udah sembuh kakinya?” Tanya Arsa.
“Udah, Ma. Udah di bengkel sama Mbak lida.” Ucap Zinnia sambil tersenyum kepada Lida yang sedang menaruh minuman air putih untuk Zinnia.
“Lain kali pecicilan lagi, biar jatuh lagi. Biar nanti bukan cuma kaki yang patah.” Sindir Arsa.
“Mama ih! Kok doanya jelek gitu sih?” Dengus Zinnia. Melihat situasinya, sepertinya bibit pertengkaran sedang tumbuh di sana.
Merasakan hal itu, Navya segera memangkas bibit pertengkaran itu dengan pembahasan yang lain.
“Ma, hari ini kita nge-mall yuk.” Ajak Navya.
“Boleh, soalnya Mama juga lagi pusing mikirin putusan sidang. Tapi Mama mau ke kantor dulu sebentar. Ada berkas yang ketinggalan. Nanti kita ketemu di mall aja, ya?” Jawab Arsa sumringah.
“Oke.”
“Zinnia gak ikut. Soalnya mau pergi ke puncak sama Mamanya temen.” Zinnia memberitahu. Tapi sayangnya, ibunya sama sekali tidak peduli apalagi tertarik dengan ucapannya.
__ADS_1
“Siapa juga yang ngajak Kakak.” Hardik Navya. Membuat Zinnia mencibir kesal pada adiknya itu.
Selesai sarapan, Arsa sudah pergi lebih dulu ke kantornya. Sedangkan Navya sedang menonton tv. Melihat itu, Zinnia jadi ikut duduk di ruang tv.
Di antara adik kakak itu, tidak ada yang memulai obrolan. Masing-masing sibuk dengan ponselnya sendiri.
Saat melirik jam dinding, ternyata sudah lewat jam 9. Dan kini saatnya bagi Zinnia untuk bersiap-siap dan pergi ke rumah Esta.
Namun saat ia sedang mengemas baju, ia mendengar ponselnya berbunyi. Dan itu telfon dari Esta. Langsung saja ia mengangkatnya dengan sumringah seperti biasa.
“Halo, Tante.” Sapanya.
“Zinnia, kamu gak usah ke rumah Tante ya, Tante sama Om udah berangkat duluan. Kamu sama Ren aja. Itu dia udah berangkat jemput kamu.” Terang Esta dari seberang.
“Kak Ren? Ehmm. Iya, Tante.”
Zinnia sedang menunggu Ren yang akan datang menjemputnya di teras depan rumahnya. Sementara Navya sedang bersiap-siap pergi juga. Gadis itu masih menelfon ibunya di dekat mobil.
Sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di depan pintu gerbang yang terbuka lebar. Sosok Ren yang mengenakan kacamata hitam, kaus abu-abu yang dipadu dengan kemeja kotak-kotak yang tidak di kancingkan, serta mengenakan celana pendek selutut berwarna kream, nampak keluar dari mobil dan berjalan hendak mendekati Zinnia.
Ren berhenti saat ia melihat sosok Navya yang sedang berdiri di dekat mobilnya dengan tatapan terkejut dan mulut ternganga. Ia segera melepas kacamatanya dan menatap Zinnia dan Navya bergantian.
“Pak Ren? Kok bisa ada disini?” Tanya Navya yang terkejut dengan kedatangan rai.
“Kamu juga kenapa bisa ada disini?” Ren balik bertanya.
“Ya karna ini rumah saya, Pak.” Jawab Navya.
Ren tak kalah terkejut. Ia tidak tau kalau ternyata karyawan teladannya itu tinggal di rumah yang sama dengan Zinnia. Zinnia tidak pernah menceritakan perihal hal ini padanya.
__ADS_1
“Dia adikku, Kak.” Akhirnya Zinnia ikut nimbrung karna sudah terlanjur ketahuan. Ia bangkit dari duduknya dan berjalan mendekati Ren.
Navya melotot tajam kepada Zinnia. Seolah ia tidak terima kalau Zinnia memberitahu Ren tentang hubungan mereka. Ren menyadari hal itu, namun tetap tidak berani bertanya lebih lanjut lagi.
“Jadi kalian Adik Kakak? Wahhh. Kebetulan banget.” Seloroh Ren.
“Kak Zinnia bilang mau ke puncak sama mamanya temen? Kok bisa Pak Ren yang jemput?” Selidik Navya.
“Kami memang mauke puncak. Mamaku udah duluan.” Jawab Ren.
Navya mengernyit dan menatap tidak suka kepada Zinnia. Ia memang pernah beberapa kali melihat kedekatan Zinnia dengan direkturnya itu. Namun tidak pernah menyangka kalau Zinnia ternyata juga akrab dengan keluarga Ren.
“Ayo. Kita berangkat sekarang.” Ajak Ren kemudian. Ia bisa merasakan keadaan yang mulai canggung di antara mereka.
Sama halnya dengan Ren, Zinnia juga bisa merasakan kemarahan Navya lewat sorot matanya. Ia mengerti kenapa Navya nampak sangat terganggu dengan hubungannya dengan Ren. Tapi Zinnia tetaplah Zinnia, ia merasa tidak pedulli dengan hal itu.
“Kami berangkat dulu ya, Navya. Sampai ketemu di kantor.” Ujar Ren berpamitan.
Dan entah kenapa ucapan Ren itu terdengar seperti ancaman bagi Navya. Ucapan Ren itu, seolah sedang mengancamnya untuk memberitahu seluruh karyawan kalau penjual bakso di depan gedung itu adalah kakaknya.
Zinnia berjalan mengikuti langkah Ren masuk ke dalam mobil. Ia tau kalau Navya terus menatap mereka dengan tatapan tajam. Seolah takut dan tidak terima kalau Ren mengetahui hubungan mereka.
Zinnia hanya menghela nafas saja sambil menoleh lewat kaca jendela mobil. Ia tau kenapa Navya melihat penuh kebencian seperti itu kepadanya. Hal yang ditakutkan Navya akhirnya terjadi. Padahal ia sudah di wanti-wanti untuk tidak memberitahu siapapun di FD Corp kalau mereka kakak beradik.
Tapi apa boleh buat?
Zinnia menepati janjinya untuk tidak mengumbar hubungan mereka. Hanya saja Ren mengetahuinya dengan sendirinya. Jadi bukan salah Zinnia. Dan ia memang tidak merasa bersalah karna hal ini.
Satu pertanyaan di benak Zinnia yang belum sempat ia tanyakan kepada Navya. Kenapa adiknya itu merasa malu mengakuinya sebagai kakak? Apa karna penampilannya yang tidak cantik sehingga Navya malu? Atau ada hal lain yang membuat Navya malas mengakuinya? Entahlah, ia akan menanyakannya nanti.
__ADS_1