Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 76. Orang Baik Tidak Benar-Benar Baik.


__ADS_3

Zinnia terhenyak dari tidurnya dan langsung duduk. Jantungnya berdegup dengan sangat kencang sekali. Ia terkejut saat terdengar gedoran di pintu kamarnya.


“Zinnia!!” Teriak Roni, anak Pak Burhan.


“Ya, Bang!” Jawab Zinnia. Dia langsung bangun dan membuka pintu. “Kenapa, Bang?”


“Cepetan cuci ini. Aku mau pakai nanti siang. Cuci pakai tangan.” Ujar Roni yang melemparkan kemeja putih ke arah Zinnia.


Zinnia hanya terdiam. Ie menoleh kepada jam dinding. Masih jam setengah tiga dinihari.


“Buruan! Awas kalau gak kering!” Ancam Roni yang kemudian masuk dan membanting pintu kamarnya.


Masih sepagi ini, dan Zinnia sudah mendapatkan tugas dari Roni.


Roni nampak berbeda dengan semalam. Padahal semalam pria itu nampak ramah mengobrol dengannya saat dia sedang mencuci piring selesai makan malam. Tapi pagi ini, Roni nampak sangar dengan mata yang memerah.


Zinnia tidak berani membantah. Ia kemudian pergi ke kamar mandi dan bersiap melakukan pekerjaannya. Ia mengernyit saat melihat banyak noda hitam yang menempel di kemeja itu. Dan sepertinya akan sulit hilang.


Sudah satu jam Zinnia berusaha untuk mengilangkan noda di kemeja Roni. Walaupun sulit,namun akhirnya ia berhasil juga.


Sudah kepalang bangun, Zinnia tidak melanjutkan tidurnya kembali. Ia memilih untuk membersihkan rumah kemudian memasak sarapan. Dan pukul 6 pagi, dia sudah menyelesaikan pekerjaannya.


Keadaan rumah masih sepi. Pak Burhan dan Roni masih di dalam kamarnya masing-masing. Zinnia tidak  berani membangunkan mereka.


“Zinnia!” Panggil Pak Burhan saat ia sedang menyirami tanaman.


“Ya, Pak.” Zinnia segera menghampiri Pak Burhan yang berdiri di depan kamarnya.


Zinnia mengernyit saat mencium bau asap yang mengepul dari kamar Pak Burhan. Baunya menyengat dan membuatnya pusing.


Rokoknya Pak Burhan apa, sih? Bathin Zinnia.


“Kamu cuci ini, ya. Pakai tangan aja. Kalau pakai mesin nanti gak bersih.” Perintah Pak Burhan kemudian.


Zinnia hanya mengangguk kemudian mengambil keranjang berisi pakaian kotor milik Pak Burhan.


“Sarapannya udah siap, Pak.” Zinnia memberitahu. Pak Burhan bergeming dan malah kembali masuk ke dalam kamarnya.


Zinnia sedang harap-harap cemas perihal kemeja milik Roni. Ia takut Roni marah kalau kemejanya tidak kering.


Entah kenapa, ada perasaan aneh yang menyelimuti hati Zinnia. Sikap Pak Burhan berubah drastis. Tidak seperti kemarin.


Selesai mencuci dan sarapan, Zinnia kemudian membereskan piring kotor.

__ADS_1


Pak Burhan hanya sendirian duduk di meja makan. Sedangkan Roni masih ada di dalam kamarnya.


“Pak, boleh saya ijin keluar sebentar?” Tanya Zinnia memberanikan diri.


Pak Burhan mengangguk. “Jangan lama-lama. Nanti hilang.” Pesan Pak Burhan.


Selesai melakukan pekerjaannya, Zinnia lantas bergegas untuk keluar.


Kemarin, saat ia berjalan menuju ke rumahnya Pak Burhan, ia melihat ada konter ponsel yang ada di dekat gapura perumahan. Zinnia berencana untuk menjual ponselnya karna ia tidak punya uang sama sekali.


Mengandalkan bayaran dari Pak Burhan juga tidak mungkin. Dia baru sehari bekerja di rumah itu. Sudah di beri tempat tinggal dan makan gratis saja, dia sudah bersyukur. Walaupun begitu, dia tetap harus memiliki pegangan sendiri. Tidak mungkin mengandalkan Pak Burhan terus menerus.


“Permisi.” Ujar Zinnia kepada penjaga konter.


“Ya?”


“Ehm, aku mau jual hape ini, kira-kira laku berapa ya, Kak?” Kata Zinnia menyodorkan ponselnya ke atas etalase.


Penjaga koner yang seorang perempuan itu lantas menerima dan meneliti ponsel Zinnia.


“Rusak apa gimana? Kok udah mati?”


“Gak rusak, Kak. Itu cuma abis batrenya aja.”


“Kalau ini palingan bisa tiga jutaan aja, Kak.”


“Tiga juta?” Zinnia bimbang. Itu sangat jauh dari harga belinya. Dulu dia membeli ponsel itu dengan harga tiga kali lipatnya.


“Ya udah, Kak. Segitu juga gak apa-apa.” Zinia pasrah. Saat ini, uang tiga juta juga sudah lumayan banyak.


Zinnia menerima kompensasi atas ponsel itu sebesar tiga juta rupiah. Ia segera memasukkannya ke dalam saku kemudian kembali pulang ke rumah Pak Burhan.


Sesampainya di rumah Pak Burhan, Zinnia melihat ada mobil box yang terparkir di depan rumah. Sepertinya itu adalah mobil pengantar paket.


Zinnia segera berlari untuk membantu pria itu memasukkan barang-barang. Kotak-kotak kardus itu sangat berat. Namun Zinnia memaksa diri untuk membawanya naik ke lantai dua.


“Kamu bantu selesaikan ya, Zinnia.” Pinta Pak Burhan. Sementara pria itu duduk di ruang tamu.


“Siap, Pak. Apa ini, Pak?” Tanya Zinnia.


“Obat-obatan. Sebagian besar obat batuk besok bawa ke klinik.”


Pak Burhan adalah seorang perawat yang membuka klinik pengobatan sendiri setelah pensiun dari rumah sakit. Zinnia baru tau setelah Pak Burhan memberitahunya.

__ADS_1


“Sekalian tolong bangunkan Roni suruh makan siang. Abis itu, beresin kamarku dan kamarnya.”


“Iya, Pak.”


Zinnia meletakkan kardus terakhir kemudian mengetuk kamar Roni.


“Apa!” Teriak Roni dari dalam kamarnya.


“Disuruh Bapak makan, Bang.”


“Bentar lagi. Bawel!”


Zinnia hanya menghela nafas pelan. Ternyata kesan pertama yang ia baca dari Roni salah. Pria itu sangat kasar dan arogan.


Setelah membangunkan Roni, Zinnia bergegas untuk membereskan kamar Pak Burhan. Pria itu sudah berpakaian rapi dan siap untuk berangkat ke klinik.


“Kamu tolong bersihkan. Saya mau ke klinik.” Pesan Pak Burhan mengingatkan.


“Iya, Pak.”


Zinnia mengantarkan kepergian Pak Burhan beserta dengan mobilnya. Kemudian menutup pintu gerbang dan kembali masuk.


“Uhuk! Uhuk!” Zinnia tidak bisa bernafas saat masuk ke dalam kamar Pak Burhan. Kamar tanpa ventilasi itu sudah penuh sesak oleh asap rokok. Nampak puntung rokok berserakan di segala arah.


Zinnia segera membuka pintu depan lebar-lebar. Berharap asap yang mengepul itu akan segera keluar sehingga ia bisa membersihkannya.


Sementara menunggu asap menghilang, Zinnia duduk di kursi meja makan. Ia melihat Roni yang turun dari tangga dengan penampakan yang urakan. Mata merah dan tubuhnya mengeluarkan aroma tidak sedap.


Roni langsung duduk di meja makan dan mengambil makanan. Sementara Zinnia langsung bangkit dan naik ke atas. Ia berencana untuk membersihkan kamar Roni terlebih dahulu.


Zinnia tercengang sambil berdiri di ambang pintu kamar Roni. Ia memegang sapu di tangan kanannya. Suasana kamar pria itu jauh dari kata bersih. Sangat berantakan. Bau menyengat membuat kepala Zinnia pusing.


Tapi Zinnia tidak ada pilihan. Ia harus membersihkan kamar itu atas perintah Pak Burhan. Lantas iapun segera melaksanakan pekerjaannya.


Zinnia terpaku menatapi beberapa bungkus plastik kecil yang berserak di atas meja. Disana juga terdapat bong (alat penghisap sabu). Zinnia tau karna pernah melihatnya di TV.


Tiba-tiba ada perasaan takut yang menyerang Zinnia. Ia jadi gemetaran dengan segala fikiran berbahaya yang bergentayangan di kepalanya. Ia menjadi panik dan takut. Apalagi saat melihat Roni yang sudah berdiri di pintu dengan menatapnya marah.


BERSAMBUNG...


Maaf ya warga. Gak sempet balesin komenan kalian semua. Tapi aku tetep baca kok.


Ceritanya agak terkesan lambat dan muter-muter ya? Maaf kalau kalian ngerasa begitu. Tapi ini baru sehari zinnia hilang. Kalau lompat jauh nanti malah gak nyambung. Karna aku upnya satu episode makanya terkesan lambat. Harap bersabar ya.. Kerjaanku belum beres. Dunia nyata masih membutuhkanku. Mohon pengertiannya ya wargaa...

__ADS_1


__ADS_2