
Esta dan Zinnia masih melanjutkan obrolan mereka di taman samping rumah. Zinnia terus membuka lembar demi lembar foto-foto Ren. Dari bayi, remaja, hingga dewasa.
Sesekali Zinnia akan tertawa lucu melihat ekspresi gemas yang di perlihatkan oleh Ren.
“Disini kayaknya seger gitu ya, Tan.” Ujar Zinnia sambil menunjuk foto-foto keluarga Esta yang sedang berada di villa dengan latar belakang kebun teh.
“Emang iya. Kamu mau gak kesana?”
“Ke sini?” Tunjuk Zinnia lagi.
Esta mengangguk. “Akhir pekan ini Tante sama Om Rencana mau liburan disana satu malam. Kalau kamu mau, kamu boleh kok ikut.”
“Beneran, Tante? Wahhh. Mau, mau banget.”
“Ya udah. Nanti Tante bilang sama Ren biar ajak kamu.”
“Kak Ren juga ikut?”
“Udah jadi tradisi keluarga. Sebulan sekali, harus piknik ala-ala.”
Zinnia mengangguk senang.
“Udah yuk, kita bikin kue aja.” Ajak Esta.
Suasana dapur rumah Esta jauh lebih meriah dari biasanya. Dengan dibantu oleh Mbak Sur dan Zinnia, Esta sedang membuat adonan kue. Tingkah Zinnia selalu membuat Esta dan Mbak Sur tergelak tertawa.
“Bikin kue apa, Tante?” Tanya Zinnia.
“Mau bikin kue bika.”
“Wah. Pasti enak.”
Esta mengajari Zinnia tahapan-tahapan dalam membuat kue bika. Dan gadis itu memperhatikannya dengan antusias. Ia senang Esta memperlakukannya seperti anak sendiri. Sesekali di selingi dengan obrolan seputar Ren dan Ranu.
“Jadi Ranu udah nikah, Tante?”
“Udah. Baru aja. Belum lama.”
“Terus, gak pake acara?”
“Pake. Tapi gak sekarang. Nunggu istrinya selesai wisuda dulu. Gak lama lagi. Palingan sebulanan lah.”
“Aku jadi penasaran pengen ketemu mereka.”
“Nanti pas mereka kesini, Tante kanalkan sama mereka.” Janji Esta.
“Iya, Tante.”
Zinnia pamit keluar saat ia mendapatkan telfon dari Joham. Ia berjalan ke taman samping dan duduk di kursi tadi.
__ADS_1
“Joo?”
“Jin. Kamu udah pulang?”
“Belum. Kenapa?”
“Kenapa gak pulang?”
“Aku lagi di rumah kenalanku dan aku gak punya uang. Jemput aku, Joo.” Ujar Zinnia. Ia merasa tidak enak juga jika harus berlama-lama merepotkan keluarga Ren.
“Kirim alamatnya. Nanti selesai rapat aku langsung jemput kamu.”
“Oke..” Zinnia mematikan ponsel kemudian mengirimkan lokasinya kepada Joham. Setelah itu ia kembali ke dalam dan membantu Esta.
“Udah selesai, Tante?” Tanya Zinnia yang melihat Esta sedang mengeluarkan kue dari oven. “Waahhh. Wangi banget.” Zinnia menyesap aroma manis itu hingga memenuhi rongga pernafasannya.
“Udah. Sini. Kita cobain kuenya.” Ajak Esta.
Zinnia langsung duduk di meja makan. Tidak sabar menunggu kue hasil buatannya dan Esta.
“Emmmhhh. Enak banget, Tante.” Zinnia memuji rasa kue legit yang sudah lumer di mulutnya.
“Iya. Apalagi masih anget gini. Kamu tau, gak? Ini tu kue kesukaannya Ren.” Esta memberitahu.
“Oh ya? Wahhh. Kapan-kapan aku coba buat sendiri buat Kak Ren.” Gumam Zinnia. Ingatannya sedang mengingat kembali cara-cara pembuatan yang diajari oleh Esta.
“Ngomong-ngomong, Kak Ren gak punya pacar ya, Tan? Aku gak pernah lihat dia jalan sama cewek.”
“Ehmm.. Dulu sih ada. Tapinya udah putus. Kalau gak salah udah hampir setahun.” Esta mengingat-ingat.
“Katanya pacarnya banyak ya, Tan?” Selidik Zinnia lagi. Ia ingin mengetahui lebih banyak tentang Ren. Tentang masa lalunya.
“Siapa yang bilang banyak?”
“Kak Ren sendiri yang bilang. Katanya mantan pacarnya hampir 20 orang.”
“Hah? Yang bener? Tante gak pernah tau. Setau Tante, cuma 3 sih. Gak tau deh kalau ternyata sebanyak itu.”
Esta berfikir, mungkinkah ada yang tidak ia ketahui dari putra sulungnya itu? Karna Ren selalu menceritakan dengan siapa dia berteman ataupun menjalin asmara. Jadi tidak mungkin dia tidak tau kalau Ren punya banyak mantan pacar.
“Kalau kamu sama Ren, kalian ketemu dimana? Cerita dong. Tante penasaran.”
Zinnia berubah jadi salah tingkah. Ia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Bingung mau menceritakannya dari mana. Tidak mungkin ia bilang kalau dia mencuri dompet Ren dan menuduhnya melakukan pelecehan seksual. Bisa malu dia.
“Ehm,, di kereta, Tante.”
“Ooh. Gitu. Terus, kalian langsung akrab, gitu? Ren yang deketin kamu dulu?” Esta nampak antusias ingin mendengar cerita lengkapnya.
“Aku sih yang ngajak ngobrol duluan. Soalnya dia itu gak perasaan banget, Tan. Masak ngelihat aku berdiri di depannya bukannya dia ngalah dan kasih tempat duduk buat aku. Jadinya aku protes lah sama dia. Tau apa yang dia bilang, Tan?”
__ADS_1
“Apa?”
“Situ belum termasuk ke dalam kategori yang harus diberi prioritas. Kalau dilihat-lihat, situ bukan salah satu penyandang disabilitas. Juga bukan ibu hamil, apalagi nenek-nenek. Apa jangan-jangan, situ remaja Jompo?” Adu Zinnia mengikuti gaya bicara Ren saat di kereta dulu. “Kan bikin kesel, Tan. Harusnya dia tuh ngalah sama cewek. Dia itu gak tau apa ada istilah ‘lady first’?” Dengus Zinnia.
Esta terpantik untuk tertawa dengan sangat keras. Lucu sekali mendengar kisah pertemuan mereka. Yang tentu saja, itu bukanlah keseluruhan ceritanya.
Kini Esta bisa faham, kenapa putranya itu nampak tertarik dengan Zinnia. Dia gadis yang berbeda dari gadis-gadis yang pernah di pacari Ren.
Selama ini, gadis yang di perkenalkan oleh Ren pada Esta, nampak sangat menjaga sikap ‘anggun’ mereka. Seolah ingin memberi kesan terbaik kepada Ren dan keluarganya. Gaya berpakaiannya juga sudah seperti gadis-gadis sosialita tingkat akut.
Dan mereka ini selalu menjaga jarak dengan Esta. Seolah tidak ingin dekat dengan Esta dan hanya ingin memiilki Ren saja.
Tapi Zinnia, dari segi penampilan memang bisa di katakan kalau gadis ini memiliki wajah biasa saja. Cara berpakaiannyapun sangat biasa.Tapi daya tariknya terletak pada sikapnya yang ceria dan selalu membuat mereka tertawa. Dia tidak jaim (jaga image). Bertingkah apa adanya dan terlihat nyaman dengan keadaannya.
“Tante... Makasih banyak ya atas bantuannya. Aku seneng banget bisa kenal sama Tante, sama Om, dan Kak Ren.”
“Sama-sama. Tante juga seneng bisa kena sama kamu.”
“Abis ini aku mau pulang, Tante.”
“Pulang? Sama siapa?”
“Sebentar lagi di jemput sama temen.”
“Jadi kamu mau pulang? Yaah, Tante sendirian lagi dong.” Esta memasang wajah sedih.
“Aku janji lain kali bakalan main kesini lagi.”
“Janji, ya.”
Sekitar jam 3 sore, Zinnia mengganti pakaiannya dengan miliknya kembali.
“Maaf ya Mbak, udah ngotorin bajunya Mbak Sur.”
“Gak apa-apa, Neng.” Ujar Mbak Sur.
Saat ponsel Zinnia berbunyi, ia segera mengangkatnya. Dan ternyata itu adalah Joham yang sudah menunggunya di depan rumah.
“Tante, aku pulang dulu, ya. Itu temenku udah dateng jemput.” Pamit Zinnia.
“Iya. Hati-hati ya, Zinnia. Tante tunggu kamu main lagi kesini.”
Zinnia mengangguk. Ia menyalami Esta kemudian berjalan keluar dari rumah dengan di antar oleh Esta.
*****
Maaf ya warga...
baru bisa apdet... pemadaman eui... nasib tinggal di pelosok ya gini, kalau udah pemadaman bisa seharian bahkan lebih. manalah aku nulisnya pake laptop butut, gak ada baterai pula. harap maklum ya, warga...
__ADS_1