Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 75. Hancur Untuk Yang Kedua Kalinya.


__ADS_3

Zinnia terus menyusuri trotoar jalan raya. Ia melangkah kemanapun kakinya ingin pergi. Dia pergi dengan tidak membawa apapun selain yang menempel di tubuhnya. Hanya ponsel yang terus ia genggam di tangannya itu. Ponsel yang sudah mati karna habis baterainya.


Matahari sudah berada di tengah peraduannya. Teriknya tidak menyurutkan langkah kaki Zinnia untuk pergi sejauh mungkin dari rumahnya.


Kali ini, ia benar-benar tidak berencana untuk kembali. Hatinya yang runtuh membuat ia juga tidak peduli dengan Ren. Lebih tepatnya, malu.


Rasa malu yang sudah tidak terperi. Hancurnya perasaan dan hatinya membuat ia tidak mempedulikan kekhawatiran Ren. Fikirannya menjadi buntu untuk berfikir jauh kesana. Ia bahkan sudah melupakan tentang pekerjaannya


Zinnia tengah duduk di pembatas trotoar. Melihati ponsel lipatnya yang sudah mati itu. Kemudian ia menaruhnya ke dalam saku.


Zinnia lapar. Hanya ada uang lima ribu di saku belakang celananya. Ia sedang menimbang apa yang bisa dia dapatkan dengan uang itu untuk mengganjal perutnya. Makanan yang murah tapi dapat porsi yang banyak.


Dikejauhan, ia melihat penjual gorengan kaki lima. Ia berfikir untuk membeli gorengan saja. Tapi ia juga tergoda dengan gerobak mi ayam di sampingnya.


Zinnia bangkit setelah membaca sebuah tulisan yang terdapat di gerobak mi ayam. Disana tertulis kalau harga seporsi mi ayam itu cuma lima ribu rupiah saja.


Zinnia memesan seporsi mia ayam dan duduk di sebuah bangku plastik. Di sebelahnya, duduk seorang pria paruh baya yang nampaknya juga sedang menunggu pesanannya.


Aroma gurih mie ayam yang sudah terhidang di hadapannya membuat perut Zinnia semakin meronta. Ia segera melahap makanan itu bahkan tanpa membumbuinya terlebih dahulu.


Sambil makan, ia sedang memikirkan cara untuk bisa bertahan hidup setelah benar-benar lepas dari keluarganya. Dan satu hal yang pasti, ia tidak akan meminta bantuan kepada Ren. Rasa malunya tidak membiarkan hal itu. Setidaknya, dia harus menyelamatkan sisa harga diri yang dia punya.


Padahal Zinnia masih punya Joham. Tapi situasinya sekarang berbeda. Joham sudah berpacaran dengan Navya. Kalau ia memberi tahu Joham, pria itu pasti akan memberitahu Navya.


Kira-kira, apa yang bisa dia lakukan untuk mendapatkan uang? Untuk menyambung hidup?


Seorang pemulung yang lewat di depannya memberinya ide. Dia bisa jadi pemulung saja.


Merasa sudah kenyang. Zinnia lantas berniat untuk membayar makanannya. Ia menyodorkan uang lima rubu, satu-satunya uang yang dia punya.


Si penjual mie ayam nampak mengernyit walaupun tetap menerima uang itu.


“Trimakasih, bang.” Ujar Zinnia yang hendak pergi. Tapi, si abang penjual mie ayam langsung menarik lengannya.


“Kurang, Mbak.” Ujar penjual.


“Kurang? Itu kan lima ribu.”


“Ya kurang. Harganya lima belas ribu seporsi.”


“Tapi itu tulisannya lima ribu.” Zinnia berdebat atas pembenarannya.


“Itu ada angka 1 di belakangnya tapi udah hilang. Hari gini, lima ribu dapet apa, Mbak? Modalnya aja gak nutup.” Si abang malah adu nasib.

__ADS_1


“Tapi saya gak punya uang lagi.” Jujur Zinnia.


“Ya gak bsia gitu dong. Ini saya juga jagain dagangan orang. Masak saya harus nombok sepuluh ribu? Abis gaji saya hari ini.”


“Saya bener-bener udah gak punya uang lagi, Bang.”


“Pokoknya saya gak mau tau. Mana sini. Sepuluh ribu lagi.” Paksa abang penjual.


Zinnia pias menatap penjual itu. Itu adalah satu-satunya uang yang dia punya. Darimana dia mendapat kekurangannya?


“Bang!” Panggil pria paruh baya yang tadi duduk bersama dengan Zinnia. “Biar saya yang bayar kurangnya.”


Pria itu bangkit dari duduknya lantas mengeluarkan dompet. Kemudian membayar makanannya beserta uang kekurangan Zinnia.


“Makasih, Pak Haji.” Jawab si abang penjual.


“Trimakasih, Pak.” Ujar Zinnia kepada pria itu.


“Sama-sama. Kamu lagi butuh kerjaan?” Tanya si bapak baik hati itu.


“Iya. Kok bapak tau?”


“Hahahaha. Saya bisa kasih kamu kerjaan. Tapi cuma sebagai pembantu. Gimana?”


“Bagus. Kalau gitu ayo kita ke rumah saya.”


“Makasih banyak, Pak. Makasih banyak.” Ujar Zinnia yang kegirangan. Kini dia sudah tidak pusing lagi memikirkan cara untuk mendapatkan pekerjaan.


Zinnia mengikuti si bapak baik itu berjalan meninggalkan gerobak mie ayam. Ia merasa senang bukan main.


“Namanya siapa?”


“Zinnia, Pak.”


“Sinnia. Ehm. Saya Burhan.”


“Terimakasih banyak udah ngasih saya kerjaan, Pak Burhan.”


“Sama-sama. Semoga nanti kamu betah kerja di rumah saya.”


“Pasti, Pak. Saya akan melakukan yang terbaik, Pak.” Janji Zinnia.


Pak Burhan hanya mengangguk-anggukkan kepala saja. Tidak lama berjalan, mereka sudah memasuki sebuah perumahan dan Pak Burhan berhenti di salah satu rumah yang ada di dekat lapangan volly.

__ADS_1


“Ini rumah saya. Ayo, masuk.” Ajak Pak Burhan.


Zinnia mengikuti Pak Burhan masuk ke dalam rumah permanen berukuran 5x10 meter persegi itu. Rumah itu berlantai dua. Ada taman mini dan garasi mobil di bagian depannya.


Lantai pertama, ada ruang tamu yang merangkap ruang tv. Setelah itu ada kamar tidur. Di depan kamar tidur, ada meja makan. Dapurnya berada di ujung dekat tangga.


“Kamu bisa masak, kan?”


“Kalau masakan biasa, saya bisa, Pak.” Untungnya dia sering membantu Lida di dapur. Tidak menyangka kalau itu akan berguna juga.


“Gak apa-apa. Kami gak pilih-pilih makanan kok. Asal matang. Ini dapurnya, ya.”


Zinnia mengangguk mengerti.


Pak Burhan mengajak Zinnia berkeliling dan memperkenalkan seluk beluk rumahnya. Selesai di lantai satu, Pak Burhan mengajak Zinnia untuk naik ke lantai dua.


Disana, terdapat dua kamar tidur. Satu berukuran besar dan satu lagi berukuran kecil.


“Kamu bisa pakai kamar ini.” Ujar Pak Burhan menunjukkan kamar berukuran 2x2 meter persegi. Ada singgle bad dan juga lemari yang penuh dengan pakaian disana.


“Kamu juga bisa pakai semua baju yang ada di sini.”


“Iya, Pak. Terimakasih. Tapi kok sepi ya, Pak. Ibu kemana?”


“Istri saya sudah meninggal 5 tahun yang lalu. Disini saya cuma tinggal sama anak laki-laki saya. Itu kamarnya. Sekarang lagi main kayaknya.”


“Ooh. Maaf, Pak.” Zinnia merasa bersalah setelah menyinggung kenangan sedih itu.


“Gak apa-apa. Dan ini kamar mandinya. Kamu bisa mandi dan nyuci di sini.” Ujar Pak Burhan lagi. Menunjukkan kamar mandi yang ada di sebelah kamar yang di peruntukkan untuk Zinnia.


Pak Burhan adalah orang yang baik hati. Itu adalah kesan pertama yang Zinnia dapatkan. Pria paruh baya itu bahkan memberinya pekerjaan dan tempat tinggal. Sebuah keberuntungan ia di pertemukan dengan Pak Burhan.


“Kamu bisa mulai sekarang, kan?” Tanya Pak Burhan lagi.


“Bisa, Pak.”


“Tugas pertamamu, tolong buatkan kami makan malam. Semua bahan-bahan ada di dalam kulkas. Saya mau istirahat dulu.”


“Baik, Pak.”


Zinnia melihat Pak Burhan yang masuk ke dalam kamarnya. Kemudian ia berjalan ke arah kulkas dan melihat apa yang bisa dia masak.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


__ADS_2