Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 27. Rintik Hujan Menambah Malu.


__ADS_3

Zinnia masih menunggu jawaban dari Ren atas pengakuannya. Ia menatap lurus kepada netra pria itu namun ia tidak bisa membaca ekspresinya.


“Gak mau.” Tegas Ren. Kemudian ia membalikkan badannya dan tersenyum samar. Ia berjalan pelan meninggalkan gadis itu.


Zinnia ternganga mendengar jawaban Ren.


“Apa itu? Aku di tolak mentah-mentah?!” Pekik Zinnia tidak percaya. “Hahahahahahahaaha. Waaahhh bercandaku aja udah di tolak. Gimana kalau serius?”


Zinnia tertawa untuk menutupi rasa malunya. Ia melangkah untuk menyusul Ren yang sudah jauh berjalan. Namun kakinya semakin terasa sakit.


“Kak! Tunggu!” Pekik Zinnia yang berusaha menahan sakit.


Ren yang baru teringat kalau kaki Zinnia cidera, langsung menghentikan langkahnya dan berbalik. Ia kembali menghampiri Zinnia dan langsung berjongkok di depan Zinnia dengan memberikan punggungnya.


“Cepetan naik.” Perintah Ren kemudian.


Zinnia trdiam dan berfikir beberapa kali. Pungggung kekar itu sedang menawarkan sebuah kenyamanan untuknya.


“Tapi aku berat lho, Kak.”


“Emang.” Jawab Ren santai. Membuat Zinnia mencibirinya dari belakang.


Zinnia kesal dan sengaja ‘menubruk’ untuk naik ke punggung Ren. Pria itu sampai terhuyung ke depan karna ulah Zinnia itu. Untung Ren segera menahan tubuhnya dengan tangannya yang langsung ke tanah.


“Pelan-pelan, dong.” Protes Ren. Namun ia tetap menyelipkan kedua tangannya di bawah bokong Zinnia dan kemudian mulai berdiri. Pria itu menggendong Zinnia menuju ke mobil mereka.


“Kak.” Bisik Zinnia. “Aku tadi bercanda. Jangan di ambil serius, ya.” Ia mencoba untuk meralat perkataannya.


Ren tidak menanggapi. Ia hanya terus fokus berjalan sambil menggendong. Ia juga berfikir kalau Zinnia pastilah sedang menggodanya. Lagipula Zinnia sudah punya kekasih, mana mungkin serius berkata begitu kepadanya.


Ariga terkejut dengan pemandangan yang ada di depannya itu. Ia mengernyit karna melihat Ren menggendong Zinnia di punggungnya. Hal baru bagi Ren.


“Malah bengong. Bukain pintu.” Perintah Ren membuyarkan lamunan Ariga.


Ariga segera membukakan pintu dan Ren segera menurunkan Zinnia ke dalam mobilnya. Dan mobil segera melaju ke jalan raya.


Sepanjang perjalanan, Zinnia mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Ia masih malu untuk menatap Ren. Karna malu, ia jadi tidak punya bahan untuk mengobrol.


“Udah hampir malam, mau makan dulu, gak?” Tawar Ren di tengah perjalanan.


“Enggak, Kak. Belum laper. Aku pengen cepet sampe rumah dan istirahat.”


“Ya udah kalau gitu.”


Dan sisa perjalanan itu terasa hening dan sunyi. Tidak ada satu orangpun yang berbicara di dalam mobil itu. Hanya alunan musik sendu yang terdengar lewat pemutar musik.

__ADS_1


Rintik hujan menambah suasana bertambah kelabu. Zinnia hanya ingin cepat sampai ke rumahnya dan meminta Lida untuk memijiti kakinya.


Mobil sudah memasui kawasan perumahan mewah. Dan Ariga segera menghentikan mobilnya di depan rumah Zinnia.


“Kak Ren disini aja. Gak usah turun. Aku bisa turun sendiri.” Zinnia buru-buru berkata padahal Ren tidak melakukan apa-apa dan baru hendak memegang handle pintu.


Ren hanya mengangguk sambil mengantarkan Zinnia dengan ekor matanya. Gadis itu bahkan tidak menoleh kepadanya sebelum menghilang ke dalam pintu gerbang.


“Udah pulang, Non?” Sapa Pak Tio.


“Udah, Pak.”


“Itu kakinya kenapa?”


“Biasa, Pak. Jatuh tadi.”


“Ya ampun, Non. Kok bisa sih...”


“Hehehehe. Ya udah, Pak. Aku mau masuk dulu. Mau minta pijit sama Mbak Lida.”


“Iya, iya, Non. Cepet di pijit biar gak tambah sakit.”


Zinnia berjalan masuk ke dalam rumah yang masih terlihat sepi itu. Sepertinya belum ada yang pulang.


“Mbak Lida!” Panggil Zinnia segera.


“Ya ampun, Non! Kenapa lagi kakinya?” Tanya Lida dengan raut wajah khawatir.


“Hehehehe. Abis jatuh, tadi. Minta di urut ya, Mbak. Aku nunggu di kamar.” Ujar Zinnia kemudian berjalan pincang menaiki tangga.


Zinnia mendudukkan tubuhnya perlahan di sofa di kamarnya. Menunggu Lida yang akan memperbaiki kakinya.


Tidak berapa lama kemudian, Lida sudah datang dengan membawa sebotol minyak urut di tangannya. Ia segera menghampiri Zinnia dan duduk di depan gadis itu.


“Mama sama Papa belum pulang, Mbak?”


“Ibu tadi udah pulang. Tapi udah pergi lagi. Katanya mau arisan sama temen-temennya. Kalau bapak katanya pergi ke Vietnam tadi siang. Kalau Non Navya, belum pulang dari tadi.” Jawab Lida lengkap.


Zinnia hanya bisa mengangguk-anggukkan kepala saja. Ia penasaran kenapa Navya belum pulang padahal tadi pakaiannya pasti basah kuyup. Tentang ayahnya, ia tidak percaya kalau ayahnya pergi ke Vietnam. Itu hanyalah alasan klasik yang selalu di ucapkan oleh ayahnya saat ingin pulang ke rumah istri simpanannya.


“Kok bisa jatuh sih, Non? Ngapain lagi?”


“hhhhhuuuffffhhh..” Zinnia malah menghela nafas kesal jika mengingat kejadian tadi siang di kantor FD Corp.


“Gara-gara si Navya, ini.”

__ADS_1


“Non Navya? Memangnya dia kenapa?”


“Tau gak, Mbak? Tadi siang itu, Navya berantem sama temen kantornya. Pakai acara jambak-jambakan lagi. Pas kebetulan aku ada disana. Aku mau lerai mereka, eh,, malah aku yang di tendang sampe jatuh. Ya akhirnya begini kakiku.” Zinnia meluapkan kekesalannya.


“Non Navya berantem di kantor? Masa sih?” Lida tidak mempercayai cerita itu.


“Yyeee. Mbak kok gak percaya, sih?”


“Soalnya Mbak gak pernah lihat Non Navya bertengkar, apalagi sampai jambak-jambakan segala.”


“Iya,, iya,, anak teladan. Siapa yang percaya kalau dia arogan?” Zinnia tersinggung.


“Hehehehe. Bukan begitu, Non. Maksud Mbak...”


“Iya, aku ngerti.” Zinnia memotong ucapan Lida. Ia tidak ingin mendengar pujian untuk Navya setelah kakinya terluka gara-gara adiknya itu. Masi untung ayah dan ibunya tidak di rumah.


Zinnia menyandarkan kepalanya di pegangan sofa. Memandang lukisan kesukaannya di langit-langit sambil sesekali meringis menahan sakit saat Lida menekan kakinya.


“Mbak, tolong remot.” Zinnia meminta Lida untuk mengambilkan remote MP player yang ada di atas meja.


Dan langsung saja, Zinnia memutar musik rock kesukaannya dengan suara yang lumayan keras  hingga memenuhi seluruh ruangan kamarnya.


Awalnya, Zinnia hanya mengangguk-anggukkan kepalanya saja. Namun lama kelamaan, ia mulai ikut bernyanyi sambil setengah berteriak. Mengikuti alunan musik dan penyanyinya.


Lida hanya diam saja. Itu sudah pemandangan sehari-hari jika ada Zinnia di rumah. Jadi ia sudah tidak heran lagi.


“Udah selesai, Non.” Ujar Lida yang suaranya bahkan masih kalah oleh suara musik.


“Non!” Panggilnya lagi.


“Hah?!!” Jawab Zinnia juga dengan berteriak.


“Udah selesai urutnya!!”


“Oke! Oke! Makasih ya, Mbak!!”


Lida hanya mengangguk kemudian menunjuk ke arah luar untuk meminta permisi. Zinnia meng-iyakan saja.


Zinnia melanjutkan aksinya dengan bernyanyi. Fikirannya sedang teringat dengan Ren sekaligus Navya. Tadi ia bahkan tidak sempat untuk berterimakasih kepada Ren dan Ariga karna sudah mengantarkannya pulang.


Zinnia mengambil ponselnya kemudian memgirimkan pesan ucapan terimakasih kepada Ren.


‘Kak Ren. Tadi lupa belum bilang makasih. Makasih ya udah di anterin pulang.”


Pesan itu bahkan tidak di baca oleh Ren. Membuat Zinnia hanya menghela nafas saja. Kemudian kembali meletakkan ponselnya ke atas meja dan kembali menikmati musik. Musik yang membawanya ke gua kenyamanan miliknya karna tidak ada yang mengganggunya.

__ADS_1


Navya, Zinnia masih penasaran kemana adiknya itu pergi. Ia penasaran apa yang dilakukan Navya dengan pakaian yang basah kuyup begitu.


__ADS_2