
Zinnia menatap pias kepada Ren. Ia mengernyit setelah mendengar kalimat Ren yang baru saja terucap.
Bagaimana Ren bisa memahaminya sebaik ini?
“Orang lain merindukan ‘rumah’ untuk tempatnya kembali. Tapi ‘rumah’ku, gak pernah menerimaku. Aku pengen punya rumah yang nyaman. Rumah yang hangat dan penuh kebahagiaan.” Lirih Zinnia setelah lama terdiam.
“Kamu tau arti namamu? Nashira, itu berarti bintang terbesar. Jadi jangan berkecil hati. Aku yakin, suatu saat nanti, kamu bisa bersinar seperti namamu, Zinnia. Dan saat itu, kamu bisa menciptakan rumahmu sendiri. Rumah yang hangat dan penuh kebahagiaan.” Ren menatap lurus kepada netra Zinnia. Ia tersenyum seolah ingin gadis itu merasakan keyakinannya.
“Apa menurut Kak Ren gitu?”
Ren mengangguk dengan mantab. “Tentu aja.”
“Cchhh! Akhirnya, aku punya temen cerita selain Joo.” Ujar Zinnia. Perasaannya berangsur tenang.
“Oh ya. Ngomong-ngomong soal temenmu itu, apa dia gak pernah nembak kamu?” Selidik Ren. Ia sengaja mengalihkan suasana dengan pembicaraan yang ringan saja.
“Hah??! Nembak? Ya enggak lah, Kak. Gak mungkin dia nembak aku. Dia itu sukanya sama Navya. Lagian aku juga gak punya rasa sama dia. Kami itu temenan. Cuma sebatas itu. Joo satu-satunya orang yang ngertiin aku. Eh, tapi sekarang ada dua, joo sama Kak Ren. Hehehehe.”
Ren tertawa. Secepat itu suasana hati Zinnia bisa berubah. Tapi dia juga senang melihat senyuman Zinnia sudah kembali.
“Tadi kamu bilang putus sekolah?”
Zinnia mengangguk. “Kelas 2 SMA. Tapi aku rencananya mau ambil ujian kesetaraan Paket C.”
“Bagus itu. Nanti aku bantu urusin semuanya.” Janji Ren.
“Makasih, Kak.”
“Masih mau disini apa gimana?” Tawar Ren.
Mendengar pertanyaan itu, tiba-tiba Zinnia seperti bisa merasakan udara dingin yang kembali menelusupi tulang-tulangnya. Padahal tadi ia tidak merasa kedinginan. Kenapa sekarang ia merasa sangat dingin?
“Ssshhhhhh huh. Kita balik aja yuk, Kak. Dingin banget.”
Ren kembali terkekeh karna ulah Zinnia. Ia segera bangun mengikuti Zinnia yang sudah bangun dan berjalan di depannya. Terus memperhatikan punggung gadis itu yang tertutupi oleh selimut.
“Gimana, sunrisenya?” Tanya Esta yang sedang menyeruput teh hangat di teras samping bersama dengan Rai.
“Keren banget, Tan. Ini pengalaman pertama aku lihat sunrise sebagus ini.” Adu Zinnia. Ia mengambil duduk di samping Esta. Sementara Ren duduk di kursi terpisah di dekat Rai.
“Emangnya kamu gak pernah liburan selama ini?” Tanya Esta.
__ADS_1
Zinnia menggeleng. Dia memang sering bepergian untuk berburu konser, tapi entah apa itu bisa disebut sebagai liburan.
“Kapan-kapan kita kesini lagi. Sama Ranu dan istrinya sekalian. Gimana? Mau?”
Zinnia langsung saja menganggukkan kepalanya dengan yakin. Tentu saja ia senang mendapat tawaran itu. Ia suka berada bersama dengan keluarga Ren, terutama Esta.
Mereka melanjutkan mengobrol sampai istri Mang Bardi datang dan memberitahu kalau sarapan sudah siap.
“Sarapan dulu, yuk.” Ajak Esta. Semua orang langsung berdiri dan masuk ke dalam villa.
Zinnia sudah duduk manis di meja makan. Menatapi banyaknya makanan yang tersaji di atas meja yang sebagian masih mengepulkan asap. Aromanya sangat menggugah selera sekali.
“Kalian mau pulang jam berapa?” Tanya Rai.
“Agak sorean lah, Pa.”
“Wah, pas banget. Kalau gitu kita main dulu ya, ke waterboom.” Ajak Esta bersemangat.
“Emang disini ada waterboom, Tan?”
“Ada dong. Gimana? Mau?”
“Mau banget, Tan.” Ujar Zinnia bersemangat. Ia melihat kepada Ren. Pria itu hanya membalas dengan senyuman.
“Bajumu yang semalam udah di keringin kok.”
Zinnia semakin bertambah sumringah saja. “Waaah. Makasih, Tante.”
“Sama-sama.”
Sekitar pukul 11 siang, mereka semua sudah meluncur menuju ke sebuah wahana permainan air yang tak jauh dari villa.
Kali ini, mereka menggunakan satu mobil. Ren yang mengemudian mobil ayahnya, sementara Rai duduk di samping kemudi. Dan Esta beserta Zinnia duduk di kursi belakang.
Sepanjang perjalanan, Zinnia sudah tidak sabar ingin segera sampai.
“Jadi kapan Mama berangkat ke Aceh?” Tanya Ren.
“Besok.” Jawab Esta. “Nanti sore Om Akash sama Tante Leka bakalan dateng ke Jakarta. Sama Arnav sama Haris juga.”
“Mereka jadi ikut?”
__ADS_1
“Jadi dong.”
“Ngapain ke Aceh, Tan?” Zinnia ikut nimbrung.
“Acara pesta nikahannya Ranu. Kan istrinya asalnya dari sana.”
“Wah, jauh ternyata. Pasti pusernya Ranu dalem.” Seloroh Zinnia membuat Ren terbelalak. Ia langsung melirik ke arah spion untuk melihat Zinnia
“Lha? Apa hubungannya pusernya Ranu dalem, sama istrinya?” Tanya Esta yang sedang menahan tawa.
“Zinnia pernah denger dari Mbak Lida, Tan. Katanya kalau pusernya dalem, berarti jodohnya orang jauh. Nah kalau pusernya bodong, jodohnya orang deket, gitu.”
“Hahahahahahahahahah.” Esta dan Rai tidak sanggup menahan tawa mereka karna kekonyolan Zinnia. Sedangkan gadis itu hanya ikut terkekeh saja.
“Wah, berarti jodohmu orang jauh, Nak. Soalnya kan pusermu dalem. Hahahahah.” Ujar Esta lagi kepada Ren.
“Wah, pusernya kak Ren dalem? Berarti calonnya kak Ren orang jauh, dong?” Tanya Zinnia tanpa rasa malu. Sementara wajah Ren sudah memerah sejak tadi.
“Kenapa jadi bahas masalah perpuseran begini, sih? Kayak gak ada bahan lain aja.” Dengus Ren yang merasa malu karna mereka membahas pusarnya.
Sementara Rai dan Esta masih terus terkekeh lucu akibat Zinnia. Gadis itu, sama sekali tidak melihat keadaan kalau sedang berbicara. Tapi disitulah letak kelucuannya.
“Kalau pusermu, dalem apa bodong, Zinnia?” Tanya Esta melanjutkan pembicaraan. Ia masih ingin membahas topik perpuseran itu.
“Ma.... Apa sih? Malah di lanjutin.” Protes Ren tidak terima. Tapi protesnya itu tidak di gubris oleh Esta dan Zinnia.
“Gak bodong, Tan. Tapi juga gak dalem. Sedang.” Jawab Zinnia tanpa malu. Hal itu langsung memantik semua orang untuk tertawa terbahak-bahak. Esta bahkan sampai memegangi perutnya saking lucunya.
Hanya Ren yang tidak sanggup tertawa. Ia justru merasa malu karna membayangkan bentuk pusar milik Zinnia di kepalanya. Benar-benar aneh. Iahanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja.
Zinnia benar-benar sebuah kejutan. Tingkahnya tidak bisa di prediksi. Tapi justru itu membuat suasana menjadi menarik dan menyenangkan.
Mobil yang di kemudikan oleh Ren berhenti di area parkir di wahana permainan yang mereka tuju. Belum banyak orang yang datang karna ini masih belum siang. Biasanya tempat itu akan ramai saat setelah siang sampai malam menjelang.
Setelah membayar karcis untuk empat orang, Ren segera mengajak ayah dan ibunya serta Zinnia untuk masuk.
Zinnia benar-benar seperti anak kecil saat melihat air. Ia langsung menceburkan dirinya begitu saja. Tidak peduli Esta, Rai dan Ren menggelengkan kepala melihatnya. Ia seolah sedang menjadi dirinya sendiri. Tak berapa lama kemudian, Ren segera ikut bergabung bersama dengan Zinnia. Duduk di bawah sebuah ember raksasa yang siap menumpahkan air kepada mereka yang menunggu di bawahnya.
“Sekarang aku tau kenapa Ren bisa suka sama Zinnia, mas. Tuh anak gak ada jaim-jaimnya sama sekali. Beda banget sama cewek-cewek yang selama ini deket sama Ren. Zinnia cuma jadi dirinya sendiri di depan Ren. Gak perlu jaim demi menarik perhatian anak kita.” Ujar Esta kepada suaminya.
“Iya. Aku juga udah faham sekarang. Semoga mereka berakhir baik ya, sayang.”
__ADS_1
“Aminn..”
BERSAMBUNG...