
“Ngelamun aja.” Ramadhan mengejutkan Zinnia yang sedang duduk di teras depan villa. Ia sedang serius memilah foto-foto di dalam galeri ponselnya. Menghapus yang menurutnya tidak bagus.
“Bosen, Dhan. Aku pengen jalan-jalan deh, tapi enaknya motoran. Sayangnya aku gak bisa naik motor.”
“Sayangnya aku lagi sibuk. Kalau gak sibuk aku mau-mau aja nemenin.” Ujar Ramadhan.
Zinnia mengerucutkan bibirnya tanda kecewa. Ia ingin menjelajahi lingkukan di sekitar itu. Memaksimalkan waktu untuk menikmati landskap alam yang luar biasa indah. Kapan lagi dia bisa kesini dan menikmati ini semua?
Dari dalam villa, Ren yang baru saja hendak keluar hanya mematung saja di balik pintu mendengar pembicaraan Zinnia dan Ramadhan. Dan tiba-tiba seperti ada angin segar yang berhembus di otaknya. Ia mendapat sebuah ide
menarik.
Ren masih mengintip. Menunggu sampai Ramadhan pergi ke belakang. Setelah pemuda itu pergi, ia segera menyusulnya dan menghampiri Ramadhan.
“dhan!” Panggil Ren.
“Iya, Den?”
“Pinjem motormu, dong. Aku mau keluar tapi males banget bawa mobil.” Ujar Ren.
“Oh, kebetulan, Den. Itu si Zinnia juga pengen keluar motoran katanya. Sekalian aja di ajak.” Ramadhan memberi saran. “Ini kuncinya.” Ujar Ramadhan memberikan kontak sepeda motornya kepada Ren.
“Makasih, Dhan.”
Ren segera kembali ke dalam untuk mengambil dompet dan ponselnya. Setelah itu ia melenggang dengan santai keluar villa. Melewati Zinnia begitu saja. Ia ingin melihat bagaimana reaksi Zinnia. Namun ia kembali mengernyit saat gadis itu tetap tidak peduli bahkan setelah ia mendorong sepeda motor Ramadhan ke depan villa.
“Aku mau keluar bentar, mau ikut, gak?” Tawar Ren pada akhirnya. Ia tersenyum karna berfikir Zinnia tidak akan menolaknya.
“Enggak, Kak.” Sebuah jawaban yang tidak pernah di bayangkan oleh Ren.
“Kenapa?” Tanya Ren heran.
“Kenapa apanya?”
“Ehm, maksudku, kenapa gak mau ikut? Tadi Ramadhan bilang kalau kamu mau jalan-jalan naik motor.”
Zinnia mengernyit. “Itu kan tadi. Sekarang lagi males.”
“Kenapa kok males?”
“Ya males aja. Kak Ren kok bawel, sih?”
Ren menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Ia jadi tidak tau bagaimana membujuk Zinnia. Ia tidak menyangka kalau Zinnia akan menolaknya seperti itu.
“beneran gak mau ikut? Nanti ngambek.”
Dan Zinnia tetap menggelengkan kepalanya.
Sebenarnya Zinnia sangat ingin ikut. Tapi ‘harga diri’nya sedang bertarung di dalam hatinya. Ia tidak ingin mengganggu Ren yang sudah punya calon. Ia takut kalau ia tidak bisa mengendalikan rasa sukanya kepada pria itu.
__ADS_1
“Beneran?” Tanting Ren.
“Iya.”
“Yakin?”
“Kak Ren apaan sih? Di bilang gak mau ikut juga.” Dengus Zinnia yang sudah kesal.
“Ya udah. Padahal aku mau jalan-jalan sambil lihat pemandangan sore. Pasti keren kalau buat foto.” Gumam Ren dengan suara yang agak tinggi sehingga masih bisa di dengar oleh Zinnia.
Dan ternyata, kalimat itu mampu membuat Zinnia mengalihkan pandangan kepadanya. Sorot matanya tidak bisa di sembunyikan, kalau gadis itu sebenarnya mau ikut dengan Ren.
Ren sudah kalah malu. Mau kembali memasukkan sepeda motor ke dalam garasi, tidak mungkin. Akhirnya Ren tetap mengenakan helmnya dan mulai naik ke atas motor.
Sementara Zinnia sedang perang bathin. Antara mau ikut, atau memilih ‘harga diri’ demi menahan rasa sukanya.
“Kak tunggu! Aku ikut!” Teriak Zinnia pada akhirnya.
Tentu saja Ren tersenyum puas dari balik helm yang ia kenakan. Tidak menyangka dia berhasil mengiming-imingi gadis itu.
“Buruan!” Pekiknya kemudian.
Zinnia segera menaruh ponsel ke dalam saku celananya, kemudian berlari menyusul Ren.
Ren memberikan helm kepada Zinnia. Namun tiba-tiba ia teringat saat Joham memakaikan helm kepada gadis itu. Jadilah dia menarik kembali helm itu kemudian memakaikannya kepada Zinnia.
“Pegangan yang kenceng.” Ujar Ren sambil menghidupkan mesin.
Terdengar Ren mendengus. Sepertinya ia tidak suka dengan cara Zinnia memegangnya.
“Kalau peganganya gitu tetep bisa kejungkang nanti.” Protes Ren.
Dan dengan segera kedua tangan Ren meraih tangan Zinnia dan memaksa gadis itu untuk melepaskan jaketnya. Kemudian melingkarkan tangan Zinnia ke perutnya sampai tangan gadis itu terkait satu sama lain.
“Awas kalau sampai lepas.” Ancam Ren sebelum melajukan sepeda motornya.
Zinnia masih membeku akibat ulah tiba-tiba Ren. Dadanya sedang berdegup dengan sangat kencang. Apalagi saat pipinya menempel di punggung pria itu. Punggung Ren terasa hangat sekali. Ia yakin, kalau sekarang wajahnya pastilah sudah merona.
Dengan perlahan, Zinnia mencoba mengatur nafasnya kembali. Namun ia tetap tidak melepaskan pegangan tangannya. Itu karna Ren sudah mengancamnya tadi. Lagipula, ia suka dengan posisi seperti ini.
Lama-kelamaan, senyuman perlahan muncul di kedua sudut bibir Zinnia. Untuk sesaat, ia lupa kalau pria yang sedang di peluknya itu sudah punya calon. Tidak apa, ia akan menikmati momen seperti ini, yang mungkin adalah yang terakhir kalinya untuk bisa dia rasakan.
Zinnia tidak tau, kalau pria yang di peluknya itu terus menerus mengu lum senyum di balik kaca helmnya.
“Kak Ren mau kemana, sih?” Tanya Zinnia memecah kehengingan di antara mereka.
“Muter-muter aja. Suntuk di rumah juga.”
“Wahhh...” Ujar Zinnia saat melihat pemandangan apik pegunungan yang brjejer di hadapannya.
__ADS_1
Ren menghentikan sepeda motornya di tepi jalan. Kemudian ia meminta Zinnia untuk turun.
“Mau foto?” Tanya Ren. Dan Zinnia langsung mengangguk semangat.
Zinnia segera mencari posisi yang bagus untuk mengambil gambar. Ia menyodorkan ponsel kepada Ren.
“Pake hapeku aja. Nanti kukirim lewat WA.” Ujar Ren.
“Oke.”
Dan Zinnia melakukan berbagai pose untuk sesi pemotretan dadakan itu. Ia lebih banyak tersenyum hingga memperlihatkan deretan gigi-giginya.
Tanpa di sadari oleh Zinnia, senyumannya itu sudah meluluh lantakkan sebuah hati akibat debaran yang semakin meningkat. Membuat detak jantung yang melihatnya hampir tidak terkendali.
“Jangan gitu-gitu aja gayanya. Di ganti dong.” Ujar Ren mengarahkan.
“Udah ah. Udah banyak kan, Kak?”
“Udah, sih. Mau cari tempat lain?”
“Iya, dong.” Jawab Zinnia langsung.
“Mau beli makanan dulu, gak?”
“Nanti aja.”
Ren dan Zinnia segera naik ke atas sepeda motor. Kali ini, Zinnia langsung memeluk Ren tanpa di perintah. Ia takut terjatuh karna ternyata Ren lumayan kencang juga membawa motornya.
“Kak!” Panggil Zinnia.
“Apa?”
“Emang bener ya kalau pagi bisa ngelihat sunrise dari villa?”
“Iya. Kenapa? Mau lihat?”
“Mau.”
“Ya udah, besok pagi aku temenin lihat sunrise.”
“Oke.”
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Ren mengemudikan sepeda motornya dengan perlahan. Ia seperti ingin membunuh waktu dengan berlama-lama bersama dengan Zinnia.
Mereka juga berhenti di beberapa titik untuk sekedar berfoto. Kemudian kembali melanjutkan perjalanan kembali.
Zinnia benar-benar lupa tentang prinsip barunya untuk menahan diri agar tidak terlalu dekat dengan Ren. Ia sudah terlanjur di buai oleh pemandangan indah dan rasa senang karna bisa berduaan bersama Ren. Padahal ia harus menerima konsekuensinya nanti.
Sakit hati. Itulah konsekuensi terbesarnya kalau ia tetap nekat menyukai Ren padahal Ren sudah punya calon.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
*Jangan lupa like sama komentarnya yaaa....