Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 71. Tawa Itu, Telah Memantabkan Sebuah Rencana.


__ADS_3

Ren mengajak Zinnia untuk duduk di taman indoor hotel yang berada di samping gedung. Disana, terdapat air mancur setinggi dua meter. Di sekelilingnya juga terdapat berbagai tanaman yang semakin memperindah suasana.


Zinnia sedang memainkan jari jemarinya. Merasa canggung setelah apa yang ia ucapkan kepada fandi di depan Ren. Ia merasa lancang sudah bersikap arogan seperti itu.


“Kak Ren maafin aku ya, udah ngomong begitu sama Kakeknya Kak Ren tadi.”


“Memangnya kalian abis ngomongin apa sih?” Ren nampak bersikap biasa saja. Ia malah nampak tersenyum jika mengingat ucapan Zinnia yang menohok tadi.


“Tadi Kakek gak tanda sama aku. Terus malah jodohin aku sama Kak Ren. Mentang-mentang aku anaknya bu hakim sama pak menteri. Ya aku jadi kesel dong. Kemarin aja, kakek sepele sama aku. Sekarang malah nyuruh aku ngerayu Kak Ren.” Adu Zinnia.


Ren tidak henti-hentinya mengu lum senyum mendengar penuturan Zinnia. Sebenarnya ia tidak tega melihat kakeknya di perlakukan seperti itu. Tapi sepertinya kakeknya itu harus di kerjai begitu agar mengerti dan tidak menjodoh-jodohkannya lagi. Dan yang terpenting, tidak menilai seseorang dari luarnya.


“Kamu gak perlu ngerayu aku. Aku udah klepek-klepek sama kamu. Gimana dong?” Seloroh Ren.


Buk.


Zinnia memukul pelan lengan Ren sambil tersenyum malu. Setiap ucapan dan perlakuan Ren padanya membuatnya mati kutu.


“Kok malah mukul?” Protes Ren.


“Abis Kak Ren nyebelin. Profesional gombalin.”


“Hahahahahahaha.”


“Jangan bilang dulu Kak Ren juga begini sama mantan-mantan Kak Ren?” Entah kenapa Zinnia harus membahas itu diwaktu yang kurang tepat ini.


“Nyinggung. Nanti di ceritain beneran, protes. Marah. Ngambek.” Seloroh Ren kemudian.


Zinnia hanya mencibir saja. Yang dikatakan Ren itu ada benarnya.


Entah, sepertinya sudah menjadi sifat alami makhluk bernama perempuan untuk menyinggung-nyingguh hal-hal yang sebenarnya akan membuatnya sakit hati sendiri. Walaupun sudah tau begitu, tetap saja penasaran.


“Hehehehe. Tadi Kakek sempet cerita sedikit soal Kak Ren yang di jodohkan sama anaknya Pak Gubernur. Siapa itu namanya?” Tanya Zinnia sambil menyeruput jus jeruk yang tadi di belikan oleh Ren.


“Gladis?”


“Pasti orangnya cantik, soalnya namanya juga cantik.”

__ADS_1


“Kamu ini mancing-mancing terus maunya apa?” Ren nampak sudah tidak sabar meladeni selorohan kekasihnya itu.


“Hehehehehe. Kali ini aku gak akan sakit hati, Kak. Aku cuma ngerasa aku gak tau apapun tentang Kak Ren.”


“Masak sih, kamu gak tau apapun tentang aku?”


“Ehmm...” Zinnia berfikir.


Memang Zinnia benar-benar tidak tau apapun tentang Ren. Tentang masa lalunya, tentang sikapnya, kekurangannya. Yang ia tau hanya sebatas kalau Ren itu tampan, kaya, dan sangat menyayanginya. Selebihnya, ia tidak tau ada cerita apa yang menyelubungi pria itu. Hal itu seolah membuat jarak antara dirinya dengan Ren.


“Kamu gak perlu tau hal lain tentang aku. Yang harus kamu tau, aku sayang banget sama kamu. Itu aja.”


“Kalau itu sih aku udah tau, Kak. Aku tetep kepengen tau apa aja yang udah pernah Kak Ren lalui. Secara kan Kak Ren udah tau baik buruknya aku, sekaligus buruknya keluargaku.”


“Bisa gak sih gak bahas-bahas keluarga?” Ren nampak tidak terima Zinnia membahas masalah keluarga. Ia tidak mau mendengar Zinnia terus merendahkan diri karna keluarganya.


“Maaf, deh.”


“Jangan lihat kekuranganmu terus, Zinnia. Kamu punya banyak kelebihan. Gak usah fokus sama kekurangan. Aku sama sekali gak pernah ligat kekurangan kamu. Yang aku lihat, kamu adalah cewek hebat yang udah bertahan sendirian di tengah masalah yang menumpuk.”


Zinnia terdiam. Kata-katanay tercekat di tenggorokan.


“Gak usah deh Kak. Difikir-fikir, nanti aku malah cemburu. Hehehehe. Cerita aja soal perjodohan sama Gladis. Aku penasaran waktu Kakek cerita tadi.”


“Ya gitu. Kakek ngatur waktu kencan kami. Aku datang ke restoran dan ternyata Gladis dateng sama pacarnya.”


“Sama pacarnya? Gila! Serius?” Zinnai tidak percaya.


“Ya serius. Ternyata dia udah punya pacar.”


“Kalau udah punya pacar kenapa mau ketemuan sama Kakak?”


“Katanya dia juga di paksa sama papanya.”


“Waaahhh. Keren.” Zinnia kehabisan kata-kata.


“Kamu tau yang paling keren? Kamu inget pas kita ketemu waktu aku bagi-bagi makanan? Nah itu aku abis ketemu sama Gladis. Makanan yang udah dipesen gak kemakan, jadi aku minta di bungkus terus aku bagi-bagi aja. Gak nyangka ada cewek cantik yang lagi duduk sendirian di tempat gelap. Katanya lagi healing.” Ujar Ren mengingat sambil geleng-geleng kepala. Tidak habis fikir dengan tingkah Zinnia saat mereka baru-baru bertemu.

__ADS_1


“Jadi secara gak langsung, aku harus berterima kasih sama Gladis. Karna dia bawa pacarnya, jadi Kak Ren gak jadi nge-date dan aku jadi kebagian makan malamnya. Hahahahaha.”


“Hahahaha. ada-ada aja kamu ini.”


Keduanya tertawa bahagia. Melepaskan rasa penat akibat terlalu banyak menyapa tamu. Bagi Ren, berada di samping Zinnia mampu membuat rasa lelahnya hilang seketika.


Gadis itu, terlihat lebih cantik saat tertawa seperti itu. Membuat jantung Ren terus berdegub kencang. Menghasilkan rasa geli di dadanya.


Tawa Zinnia telah memantapkan rencananya. Kini Ren sudah memutuskan kalau ia benar-benar serius akan bahtera masa depan bersama dengan Zinnia.


“Aku jadi gak sabar pengen nikah. Ngelihat Ranu tadi, kayaknya aku bakalan lebih ganteng pakai adat jawa. Hahahahaha.”


“Mulai deh narsisnya.”


“Bukan narsis. Kenyataan.”


“Kak Ren kok bisa sih se-pede itu?”


“Jadi kamu gak mau ngakuin kegantenganku?”


“Udah ah. Geli aku bahas ganteng melulu.” Dengus Zinnia yang mulai bosan membahas ketampanan.


Perasaan itu terus membumbung memenuhi rongga hati yang kosong. Memecahkan batu luka yang bersarang di hati Zinnia. Digantikan oleh sebuah harapan akan kebahagiaan bahtera masa depan.


Bahtera yang sedang dipersiapkan oleh Ren untuk dibawa berlayar dalam mengarungi biduk rumah tangga. Akankah bahtera itu berlayar pada akhirnya?


Tapi Ren memastikan, ia akan membawa Zinnia berlayar ke lautan penuh cinta. Ia sudah berjanji akan memastikan kebahagiaan gadis itu.


“Aku masih gak nyangka bisa dapet cinta yang sebesar ini dari Kak Ren.”


“Ini belum seberapa. Setelah nikah, aku akan buat setiap detikmu itu terasa bahagia. Itu janjiku.”


“Aku gak muluk-muluk kok, Kak. Aku cuma mau hidup tenang tanpa masalah. Bahagia menyambut semua perasaanmu buat aku. Aku gak pengen ngerasain sakit lagi. Aku pengen lepas dari semua rasa sakit ini.”


Ren menoleh dan tersenyum kepada kekasihnya itu. Lantas ia membelai lembut kepala Zinnia dengan penuh perasaan. Dan Zinnia langsung saja menyandarkan kepalanya di bahu Ren.


Bahu yang benar-benar membuatnya merasa sangat nyaman. Ia sudah sepenuhnya melabuhkan harapannya kepada pria itu. Pria yang sudah berjanji akan membahagiakannya dengan seluruh perasaan yang dia punya. Yang perlu ia lakukan tinggal mempersiapkan diri sebaik mungkin agar tidak ada yang kecewa dengan keputusannya.

__ADS_1


Sudah saatnya Zinnia lepas dari kekangan masa kecil yang tidak pernah membahagiakan.


BERSAMBUNG...~~~~


__ADS_2