
Ren turun ke bawah sendirian tanpa Zinnia. Menghampiri Esta dan Rai yang sedang duduk di meja makan menunggu anak dan menantu mereka makan bersama.
“Zinnia mana?” Tanya Esta melongok ke belakang Ren.
“Lagi gak enak badan, Ma. Kayaknya dia kecapekan.” Jawab Ren sambil mengambil nasi dan lauk dalam satu piring. Ia ingin mengambilkan makan malam untuk istrinya yang memang sedang tertidur setelah dia gempur sore tadi.
“Waah. Udah kamu serang, Ren?” Tanya Rai menggoda. Dan Ren hanya tersenyum saja sambil terus mengambil lauk ke dalam piring.
Senyuman Ren itu menjelaskan segalanya. Esta dan Rai saling menatap dan entah kenapa mereka yang malah tersipu sendiri.
“Yang ini. Udang goreng tepung. Kali aja dia mau.” Esta mengambil piring berisi udang krispi kemudian mengambil sebagian dan meletakkannya ke piring yang di pegang Ren.
“Makasih, Ma.” Ujar Ren. Ia segera menyambar gelas air minum di tangan kanannya kemudian kembali ke kamar.
Tubuh Zinnia masih polos terbungkus selimut di atas ranjang. Ren tersenyum dan meletakkan piring beserta gelas ke atas nakas. Ia membelai wajah istrinya untuk menyingkirkan helaian rambut di wajah wanita itu.
“Sayang?” Panggil Ren lirih.
Zinnia hanya mele nguh lirih kemudian mengalihkan tubuhnya membelakangi Ren. Dia sangat lelah sekali.
Cup.
Ren mengecup kepala istrinya sampai Zinnia merasa terganggu.
“Bangun dulu. Makan.” Bisik Ren tepat di telinga Zinnia.
“Nanti aja, Kak. Aku belum laper.
“Gak boleh gitu. Selama kamu tinggal di rumah ini, peraturan pertama adalah, jangan sampai telat makan.”
“Ch. Bilang gitu. Padahal Kak Ren kalau di kantor sering lupa makan.” Gumam Zinnia.
“Itu kan di kantor. Beda sama di rumah. Ayo bangun.” Paksa Ren yang kini menyingkap selimut yang menutupi tubuh istrinya. Dan pemandangan menggairahkan kembali terpampang di depan mata.
Zinnia segera menutupi dadanya dengan tangan. Ia bisa melihat Ren yang tak berkedip memandangi dadanya sambil menelan saliva.
“Pengen itu.” Tunjuk Ren dengan dagunya. Pandangannya masih belum berkedip dari sana.
“Nah.” Tanpa di duga Zinnia malah membusungkan dadanya.
Langsung saja Ren kembali melahap dua buah itu kembali. Dan sore panas itu segera berlanjut hingga malam hari. Ren bahkan sampai lupa untuk memberikan makan malam istrinya.
“Kan aku jadi laper.” Rengek Zinnia. Ia mengusapi tangan Ren yang melingkar di perutnya. Pria itu menenggelamkan wajah di tengkuk Zinnia.
“Oh, iya. Aku sampai lupa. Gara-gara kamu sih.” Ren menyalahkan Zinnia.
“Kok aku?”
“Iya, gara-gara ini. Aku jadi lupa kan kalau tadi bawa makanan.” Ren mengguncang dua buah Zinnia. Membuat Zinnia tertawa cekikikan.
“Aku mau mandi dulu, Kak.” Zinnia hendak bangkit dari dekapan Ren. “Abis itu baru makan. Ah!” Zinnia kembali mengernyit sakit merasakan perih di pangkal pahanya. Ia berusaha untuk menahan rasa sakit itu .
“Kak! Turunin!” Pekik Zinnia saat tiba-tiba Ren membopongnya masuk ke kamar mandi.
__ADS_1
Ren menurunkan Zinnia kedalam bathtub. Kemudian menyalakan air hangatnya. Setelah itu, ia malah ikut masuk dan duduk di belakang istrinya.
“Kakak ngapain?”
“Mandi.”
“Barengan?”
“Iya dong. Kenapa emangnya?” Ujar Ren santai. Ia lantas mulai menggosok punggung istrinya dengan lembut.
Sebenarnya Zinnia merasa geli di perlakukan begini oleh Ren. Bukan apa, tangan Ren sudah bergerilya kemana-mana dengan dalih membantu membersihkan tubuhnya. Tapi apa boleh buat. Dia tidak dalam poisisi bisa menolak. Lagipula dia menikmatinya.
Baru setelah selesai mandi, Ren benar-benar tidak mengganggu istrinya kembali. Ia fokus memandangi Zinnia yang sedang melahap makanannya di sofa.
“Nasinya dingin.”
“Gak apa-apa, Kak. Malah enak. Aku gak rewel kalau masalah makanan.”
“Mau nambah?”
“Gak usah. Udah kenyang. Kak Ren gak makan?”
Ren membelai rambut istrinya. “Lihat kamu makan begini aja aku udah kenyang.”
“Lebay. Mana bisa gitu? Kan perutnya masing-masing.”
“Kamu ini. Di romantisin kok malah bilang lebay, sih?” Dengus Ren yang merasa sangat gemas sekali dengan istrinya. Ia bahkan sampai mencubit pelan pipi Zinnia.
“Sayang? Kamu mau gak kalau kita pindah ke rumah sendiri?” Tanya Ren kembali.
“Kenapa?”
“Aku takut kamu gak nyaman tinggal disini.”
“Gak usah, Kak. Aku seneng tinggal di rumah ini. Ada Mama Esta soalnya. Kalau tinggal di rumah sendiri, aku jadi kesepian nanti. Kan Kak Ren harus kerja juga. Aku gak mau di rumah sendirian.”
“Ya udah, yang penting kamunya nyaman aja.”
“Aku gak tau harus gimana cara ngungkapin rasa terimakasihku sama Kak Ren. Aku ngerasa jadi wanita paling beruntung di dunia karna mendapatkan cinta sebesar ini dari Kakak. Padahal aku udah berkali-kali kabur dan nyakitin hati Kak Ren. Tapi kak Ren masih mau nikahin aku. Makasih banyak, Kak.” Zinnia melandaikan kepalanya di dada suaminya.
“Baguslah kalau kamu sadar.” Selorohan Ren itu membuatnya mendapatkan pukulan mesra di dada.
“Di ajak ngomong serius, juga.” Dengus Zinnia.
“Hahahhaha. Kamu mau kita honeymoon kemana?” Tanya Ren kembali.
“Ngapain honeymoon?”
“Ya nginep di hotel mana, gitu.”
“Sama aja, Kak. Ngapain honeymoon kalau ujung-ujungnya juga ke kasur lagi. Mending di rumah aja. Gak ngabisin waktu dan tenaga buat pergi-pergi.”
“Ya ampun. Istriku ini kok lucu banget sih jadi orang. Jadi pengen aku makan.”
__ADS_1
“Huum.” Zinnia memajukan bibirnya ke arah Ren yang langsung menyambut dan melu matnya dengan rakus.
“Kamu jangan pernah pergi-pergi lagi dari aku, ya. Awas aja kalau berani. Ke ujung bumipun aku bakalan nemuin kamu.”
“Bumi itu bulat, Kak. Gak ada ujungnya.”
“Iih.. Kamu ini..” Ren menjadi semakin gemas sendiri.
“Aw, aw. Ampun. Ampun.” Elak Zinnia saat Ren menggelitiki perutnya. Namun Ren kemudian kembali mendekap Zinnia ke dalam dadanya.
“Maaf ya, harusnya kita nikah secara normal. Pake acara besar kayak Ranu. Padahal aku udah bayangin mau pake baju adat jawa.”
“Aku gak kepikiran lagi kesana, kak. Semua kejadian ini udah meruntuhkan rencanaku. Kayak gini aja aku udah seneng kok, Kak. Aku tau sebesar apa Kak Ren sayang sama aku.”
“Karna itu, janji jangan sedih lagi. Karna aku janji bakalan buat kamu bahagia mulai sekarang.”
“Janji. Aku gak akan nangis karna sedih lagi. Aku akan bahagia seperti yang Kak Ren mau. Ayo kita bahagia sama-sama.”
Cup.
Zinnia mengecup pipi suaminya dengan mesra.
Kini, Zinnia sudah sepenuhnya terbebas dari padang kaktus yang mengurungnya. Pria bernama Ren Kaba Prianggoro ini yang telah bersedia menahan sakit dari tusukan duri demi menyelamatkannya. Menempatkannya dalam rengkuhan taman bunga kebahagiaan yang hangat.
Pria ini, sudah berkali-kali menjanjikan akan membahagiakannya. Dan Zinnia tau kalau Ren pasti akan menepati janjinya. Karna Ren tidak pernah mengingkari satupun janji yang pernah diucapkannya untuk Zinnia.
“Aku mencintaimu Ren Kaba....” Bisik Zinnia.
“Aku juga mencintaimu, Zinnia Nashira. Awas kalau kabur-kabur lagi.” Ancam Ren kemudian.
“hahahahahah.” Keduanya lantas tergelak bersama. Bersiap menahkodai bahtera rumah tangga itu bersama. Dan Ren sudah memastikan kalau ia akan menyelamatkan dan melindungi istrinya dari terjangan ombak biduk rumah tangga mereka. Ia akan memastikan kalau hanya akan ada bahagia di sisa perjalanan mereka.
^TAMAT^
Dari PiEl.
Warga. Terimakasih yang tak terhingga untuk dukungan kalian
sampai detik ini. Jujur, kalian adalah penyemangatku saat aku merasa down dan
mandeg ide buat nulis. Makasih banyak yaaa..
Aku tetap berharap, semoga kisah-kisah recehku ini masih
punya suatu kebaikan untuk di ambil pelajarannya. Dan kalaupun tidak. Aku tetep
berterimakasih sama kalian karna gak pernah putus semangatin aku. Semoga aku
masih tetep bisa menghibur kalian dan semakin baik lagi dalam menulis.
Sehat-sehat ya warga. Sampai ketemu di judul selanjutnya
yaaa. Tunggu notif dariku, oghey?
__ADS_1