Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 66. Masih Punya Banyak Kekuatan Untuk Mengendalikan Diri.


__ADS_3

“Ini bagus, gak?” Tanya Esta kepada Zinnia. Ia menunjukkan model tas merk ternama yang ada di etalase toko.


“Bagus, Tan.” Jawab Zinnia.


Sejujurnya, Zinnia tidak punya pemahaman tentang  barang-barang seperti itu. Karna ia biasa memakai apapun yang membuatnya nyaman. Ia tidak pernah melihat harganya walaupun ia punya banyak uang yang di berikan oleh kedua orangtuanya.


Perhatian Zinnia tertuju kepada sebuah tas mungil berwarna coklat muda dengan hiasan bunga yang elegan. Entah kenapa itu terlihat lucu di matanya.


“Oke. Mbak tolong yang ini sama ini, ya.” Tunjuk Esta kepada tas pilihannya dan tas yang sejak tadi diperhatikan Zinnia.


Petugas toko langsung mengangguk kemudian mengambil kedua tas itu dari atas etalase kaca.


“Dia yang bayarin, Mbak.” Tunjuk Esta kepada Ren.


Ren hanya terkekeh saja. Tapi ia tetap membayar semua barang yang di pilih oleh ibunya dan juga Zinnia. Ia senang melakukan itu.


Mereka melanjutkan berjalan untuk mencuci mata. Dan Zinnia tidak mau lepas dari Esta. Ia benar-benar senang luar biasa.


“Kamu kenapa gak banyak ngomong sama Ren?” Selidik Esta yang memang sejak tadi sudah merasa curiga dengan kecanggungan antara Ren dan Zinnia. Keduanya sedang berada di kamar mandi.


“Lagi sebel, Tan.” Jawab Zinnia.


“Kenapa emangnya?”


“Kemarin itu, kami lagi makan. Terus ketemu sama mantannya Kak Ren.”


“Mantannya Ren? Yang mana?”


“Yang dokter itu, Tan.” Zinnia nampak kesal menyebutkannya.


“Ooh, Sinta? Kenapa sama dia?”


“Masak Kak Ren akrab banget ngobrol sama dia, Tan. Mana bahas masa lalu. Kan aku jadi sebel.” Adu Zinnia.


“Hahahahaha. Tapi kan Sinta itu udah nikah dan udah punya anak.” Esta nampak ingin menengahi.


“Ya tetep aja, Tan. Gak perlu juga lah seakrab itu. Di depanku lagi. Gimana aku gak kesel, Tan?”


“Emang itu si Ren kurang sensitif kalau masalah beginian. Susah. Tapi di udahin dong cemburunya. Tante gak mau kalian marah-marahan. Tante maunya kalian akur sampai kapanpun.” Ujar Esta.


Zinnia merekahkan senyuman di bibirnya. Kemudian ia mengangguk. Sebenarnya kemarahannya memang sudah mereda saat Ren meminta maaf di dalam mobil tadi.


“Iya, Tante. Aku udah gak marah lagi kok sama Kak Ren. Setelah aku fikir-fikir, lucu juga kalau aku cemburu sama masa lalunya Kak Ren. Hehehehe.”


“Nah, gitu dong. Ayo keluar.” Ajak Esta kemudian. Lantas mereka melanjutkan untuk berkeliling.


Saat sedang berkeliling, tiba-tiba ponsel Esta berbunyi. Itu adalah telfon dari suaminya. Dan Esta segera mengangkatnya.


“Kenapa, Ma?” Tanya Ren saat ibunya sudah selesai bertelfon.


“Papa nanyain udah selesai apa belum.” Jawab Esta. “Ya udah kalau gitu. Kalian lanjut aja kelilingnya, ya. Mama mau pulang dulu. Papa udah nyariin. Kangen katanya.” Seloroh Esta sambil terkekeh lucu.


“Yaah, kok gitu, tan? Pulang bareng aja.” Ujar Esta.


“Gak usah. Kalian lanjut aja pacaran. Hahahahaha. Mama pulang dulu ya, Ren.”

__ADS_1


“Mama mau pulang sama siapa?”


“Gampang. Naik taksi juga bisa.”


“Kita juga pulang aja.” Desak Zinnia lagi.


“Tante mau mampir ke suatu tempat dulu. Kalian gak boleh ikut.” Esta beralasan untuk mencegah mereka mengikutinya.


“Tapi, Tante...” Zinnia merasa berat hati melihat Esta pergi lebih dulu.


“Udah, gak apa-apa. Tante pulang duluan, ya.” Pamit Esta yang kemudian langsung ngeloyor pergi meninggalkan mereka begitu saja.


Raut tidak rela jelas terpancar dari wajah Zinnia. Ia masih ingin bermanja-manja kepada Esta.


“Udah, gak usah sedih. Nanti kalau udah jadi menantunya, mau tiap hari ngekorin juga gak masalah.” Seloroh Ren sambil tersenyum nakal.


“Beneran, ya? Kak Ren gak boleh ngambek kalau aku lebih banyak ngabisin waktu sama Tante daripada sama Kak Ren.” Tanting Zinia yang langsung pergi begitu saja. Meninggalkan Ren yang nampak menyesal telah memberi saran seperti itu.


“Eh, eh! Enak aja. Gak bisa gitu dong.” Protes Ren. Ia mengejar Zinnia dan mensejajarkan langkah dengan gadis itu.


“Tadi Kak Ren sendiri yang nyuruh.”


“Bukan nyuruh. Cuma bilang.”


“Sama aja.”


“Ya tapi gak gitu juga konsepnya. Terus nasibku gimana nanti?”


Zinnia hanya terkekeh saja sambil menyelipkan tangannya di lengan Ren.


“Kak Ren bisa main ice skating?”


“Enggak. Kenapa?”


“Yaaah. Padahal aku mau minta di ajarin.”


“Ya udah, ayo.” Ajak Ren.


“Kemana?”


“Katanya minta di ajarin main ice skating?”


“Katanya Kak Ren gak bsia?”


“Hehehehe. Bisa dong. Kamu masih belum nyadar juga ternyata kalau pacarmu ini bisa segalanya.” Seloroh Ren kembali.


“Mulaiii...”


“Hehehehe. Ayo.”


Lantas keduanya menuju ke wahana ice skating yang ada di lantai lima pusat perbelanjaan itu.


Ren menyewa perlengkapan ice skating untuk dirinya dan juga Zinnia. Perlahan, ia mulai mengajari Zinnia cara menjaga keseimbangan di atas es. Setelah Zinnia berhasil, perlahan ia mulai menarik Zinnia.


“Wahh,, wah... Tunggu, tunggu. Kak. Aku takut.” Ujar Zinnia yang hampir saja terjatuh.

__ADS_1


“Gak apa-apa. Aku pegangin. Gak usah takut jatuh.” Ren meyakinkan.


Ternyata sangat sulit, fikir Zinnia. Ia fikir tidak sesulit itu menjaga keseimbangan. Dan ternyata jauh lebih sulit saat mempraktekannya.


Setelah hampir satu jam, ternyata Zinnia tak kunjung berhasil menguasai medan. Padahal kakinya sudah pegal dan ia sudah menggigil kedinginan.


“Kak, udah. Aku gak mau lagi.” Dengus Zinnia yang kesal pada dirinya sendiri.


“Lho, kenapa?”


“Udah capek.”


“Ya udah.”


Dan mereka segera mengakhiri sesi pelajaran ice skating itu.


“Udah malem, Kak. Kita pulang aja ya.” Pinta Zinnia yang sudah terlanjur kesal sendiri.


Ren melirik jam tangannya. Dan ternyata sudah setengah sepuluh malam. Tidak terasa waktu sudah berlalu begitu cepat.


Zinnia dan Ren sedang beristirahat di dalam mobil. Ren tak kunjung menyalakan mobilnya dan malah memijiti kaki Zinnia.


“Udah, Kak. Gak sakit kok.” Ujar Zinnia yang kali ini berhasil menarik kakinya dari pangkuan Ren. Sebelumnya, ia sudah gagal dua kali karna Ren menahannya.


“Beneran udah gak sakit?”


“Iya.” Jawab Zinnia.


Ren menatapi dalam-dalam wajah kekasihnya. Ada guratan ketulusan yang terpancar dari netranya.


“Kenapa lihatinnya begitu?” Tanya Zinnia yang merasa malu.


“Pengen cium.” Jujur Ren.


“Gak mau.” Tolak Zinnia mentah-mentah.


“Kok gak mau?”


“Lagi gak pengen aja.”


Ren ternganga. Diam-diam ia menghela nafas kesal.


“Aku jadi gak sabar pengen cepet halalin kamu. Biar kamu gak ada alasan buat nolak lagi. Hahahahaa.”


“Bukan nolak, Kak. Tapi lagi gak pengen. Hehehehhe.”


Dan Ren mengalah pada akhirnya. Memang pada dasarnya itu hanyalah sebatas angan-angan yang terlintas dalam benaknya saja. Ia masih punya banyak kekuatan untuk mengendalikan diri agar tidak melewati batas yang sudah ia tetapkan pada dirinya sendiri. Ia sudah berjanji akan menjaga Zinnia dengan baik. Dan ia tidak akan melanggar janji itu.


BERSAMBUNG...


*Semoga kalian gak bosan sama cerita ini ya. jujur belakangan ini aku sedikit maksa ide buat alurnya. gak tau apakah bagus menurut kalian apa enggak. kendala menulis itu ya pas stuck ide. berjam-jam mantengin laptop tapi gak tau apa yang mau di tulis. aku sendiri ngerasa ada penurunan performa dari ide-ideku. maaf ya warga kalau kalian kecewa sama alurnya. aku tetep berusaha memberikan yang terbaik buat kalian dan berharap kalian tetap menyukai cerita-cerita sederhana dariku.


lop yu ol. jangan lupa kasih rate bintang 5 novel ini ya,,,


salam PiEl.

__ADS_1


__ADS_2