
Kokokan ayam jantan milik Mang Bardi terus menerus berteriak. Ditambah dengan bunyi ponsel yang juga terus memanggil.
Ren yang terlelap di sofa terpaksa membuka matanya. Ia sangat mengantuk tapi keadaan di sekitarnya sama sekali tidak mendukungnya.
Dengan malas Ren meraba ponselnya yang ada di atas meja kemudian mengangkatnya. Ia bahkan tidak melihat siapa yang menelfon karna kelopak matanya sangat sulit untuk terbuka.
“Hmm?”
“Pak? Aku udah di rumah Bapak sekarang. Bapak gak masuk kerja? Hari ini ada rapat sama developer jam 9.” Ariga segera menyerbu Ren.
“Aku masih ngantuk, Ga. Batalin dulu.” Ujar Ren yang kemudian duduk sambil menguap. Ia menggaruk belakang kepalanya. “Soalnya aku lagi di luar kota.” Sanggah Ren. Ia melirik jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 pagi lewat.
“Tapi, Pak, minggu kemarin juga udah di batalin...”
“Gak sempet, Ga. Batalin aja dulu. Atur ulang jadwalnya.” Perintah Ren kembali.
“Jadwal Bapak padet hari ini, apa harus di batalin semua?” Tanya Ariga.
“Batalin aja semua. Aku masih pengen istirahat. Awas kalau kamu ganggu!” Hardik Ren mengancam sekretarisnya itu.
Dengan sedikit kesal Ren mematikan sambungan telfon. Kemudian ia kembali menaruh ponselnya ke atas meja dan menoleh kepada Zinnia yang masih meringkuk di balik selimut.
Setengah menyeret kakinya, Ren mendekati ranjang dan memperhatikan wajah Zinnia lekat. Ada suara dengkuran kecil yang terdengar dari gadis itu. Posisi mulutnya yang sedikit terbuka membuat Ren tersenyum lucu. Teringat kegiatan yang menguras kewarasannya semalam.
Ren membenahi selimut Zinnia hingga gadis itu melenguh kecil dan berpaling memunggungi Ren. Ia mengernyit heran saat melihat selang infus yang sudah tidak ada di tempatnya.
“Aden udah bangun?” Sapa Ramadhan dari pintu. Ia muncul dengan membawa nampan berisi segelas kopi yang masih mengepulkan asap.
Ren menoleh dengan tatapan bertanya pada pria itu.
“Tadi dokter Sinta udah kemari, Den. Dia udah periksa Zinnia dan lepas infusnya.” Terang Ramadhan.
“Sekarang dia dimana? Kok kamu gak bangunin aku?”
“Tadinya udah mau di bangunin, tapi kata dokter Sinta gak usah di bangunin karna Aden kelihatan capek banget. Jadinya gak ku bangunin.” Terang Ramadhan sambil meletakkan gelas kopi di atas meja.
“Sekarang dimana?”
__ADS_1
“Baru aja keluar.”
Ren segera berlari mendekati jendela kamar dan membukanya. Ia bisa melihat Sinta yang sudah hampir masuk ke dalam mobilnya.
“Sinta! Tunggu!” Pekiknya.
Mendengar namanya di panggil, Sinta mendongak ke arah suara dan tidak jadi membuka pintu mobil.
Ren bergegas mencuci muka sekadarnya kemudian berlari turun ke bawah. Ia menemui Sinta karna belum sempat berterimakasih kepada wanita itu.
“Kenapa buru-buru? Minum dulu.” Ujar Ren begitu ia sampai di hadapan Sinta.
“Gak usah. Aku masih sibuk. Lagian kayaknya kamu capek banget.”
“Makasih ya, udah bantuin.”
“Sama-sama. Pacarmu, Ren?”
Ren tersenyum kemudian menggeleng. Membuat Sinta sulit mengartikan jawaban dari reaksinya itu.
“Doain aja, semoga lancar kedepannya.” Jawab Ren malu-malu.
“Apa? Jangan bilang kamu belum nembak dia?” Ujar Sinta terkekeh lucu. “Kebiasaan kamu tuh. Sifat gengsimu itu, Ren, di rubah. Ngulur-ngulur kesempatan itu gak baik, Ren. Gerak cepat, dong. Jangan kelamaan. Masih aja gengsi ngakuin perasaan.” Tebak Sinta dengan tepat.
Ya, Sinta memang sangat mengenal Ren. Karna sebelum mereka menjalin kasih, mereka sudah berteman sejak di bangku SMA.
Pertemuan itu menyiratkan kenangan-kenangan saat keduaanya masih bersama. Benar itu adalah bagian dari masa lalu. Tapi keindahannya tidak mudah di lupakan begitu saja. Walaupun sudah tidak menimbulkan debaran apapun, tetap saja itu merupakan pertemuan yang menyenangkan bagi Ren dan Sinta.
Karna komitmen mereka sejak awal kalau tidak ingin membawa hubungan mereka ke tingkat yang lebih serius, dan saat waktunya tiba, mereka memenuhi janji itu dan berpisah secara baik-baik.
Sebenarnya ada alasan kuat kenapa mereka berpisah. Saat itu Sinta yang awalnya tidak mengetahui latar belakang Ren bersikap biasa saja saat memperlakukan pria itu. Namun setelah ia tau siapa Ren, sikap Sinta berubah drastis dan wanita itu terkesan mengejar-ngejar Ren. Sikapnya berubah palsu dan membuat perasaan Ren menghilang seketika.
Ren bertahan sebaik mungkin, tapi ternyata ia malah semakin membuang-buang waktu. Padahal Sinta adalah wanita yang sangat baik.
“Ya udah, aku pamit dulu ya.. Mau pulang ke rumah dulu soalnya dari kemarin belum pulang ke rumah.” Jelas Sinta yang tidak ingin berlama-lama berada disana. Tiba-tiba ia merasa canggung.
“Oke. Sekali lagi makasih banyak ya, Sinta. Maaf banget udah ngerepotin kamu pagi-pagi.”
__ADS_1
“Gak apa-apa. Kayak sama siapa aja. Mumpung disini mampirlah kerumah.” Sinta sekedar berbasa-basi.
“Kapan-kapan aja mampirnya.” Jawab Ren.
Sinta mengangguk. Ia tersenyum saat Ren mengelus sebelah pundaknya sebagai ungkapan rasa terimakasih.
“Ya udah, aku balik dulu, ya...”
Ren mengangguk. Ia mengantarkan kepergian Sinta dengan senyuman dan lambaian tangan.
Di kamar, Zinnia sudah terbangun sejak tadi saat mendengar Ren berteriak memanggil Sinta. Ia melirik bayangan Ren yang menghilang di pintu kemudian bangun dan duduk.
“Kak Ren mau kemana?” Tanya Zinnia pada Ramadhan yang juga hendak keluar dari kamar.
“Nemuin temennya di depan. Udah bangun. Zin?”
Zinia tidak menggubris saat ia mendengar ada suara seorang wanita dari arah luar. Ia segera bangun dan berjalan ke arah jendela yang terbuka. Dari sana, ia bisa melihat Ren yang sedang berbincang dengan seorang wanita cantik yang mengenakan atasan peach dan celana denim berwarna putih yang menampakkan kaki jenjangnya dengan jelas. Rambutnya yang kerli dibiarkan tergerai sehingga menambah kesan anggun dan menawan.
Sikap Ren terlihat hangat kepada wanita itu. Mereka sesekali tertawa dan nampak sangat bahagia. Membuat hati Zinnia mencelos melihatnya.
“Itukah calonnya Kak Ren?” Gumam Zinnia pada dirinya sendiri. Karna memang hanya ada dia di kamar itu. Ramadhan sudah menghilang entah kemana.
Pantas saja Ren tidak pernah menanggapi perasaannya, batin Zinnia. Ternyata calon istri Ren adalah wanita yang nampak sempurna itu.
Pembandingan secara otomatis muncul di kepalanya. Ia sedang membandingkan diri sendiri dengan sosok wanita cantik yang sedang tertawa bersama dengan Ren di bawah sana. Ia menjangkau mereka dengan tatapan irinya.
Hatinya bertambah cemburu melihat Ren mengusap bahu Sinta dengan lembut. Kemudian tetap tersenyum bahkan setelah wanita itu pergi dengan melambaikan tangannya.
Pemandangan itu membuat kesadaran Zinnia kembali seutuhnya. Ada rasa sakit yang bergelayut manja di hatinya. Rasa sakit yang enggan untuk di usir pergi dari sana.
Sebuah keyakinan perlahan muncul untuk menutupi luka. Kalau Zinnia tidak bisa mengusir Ren dari hidupnya, ia akan menempatkan Ren bersanding sejajar dengan Joham. Mereka bisa bersahabat seperti ia bersahabat dengan Joham selama ini dan kembali pada kehidupan masing-masing seperti sebelum perasaan aneh itu muncul di hatinya.
Ya, sepertinya itu pantas di coba.
BERSAMBUNG...
*Jangan lupa like sama kontearnya ya wargaa...
__ADS_1