Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 18. Entah Lelah Fisik, Atau Lelah Hati.


__ADS_3

Ariga baru saja kembali dari mengantarkan Ren pulang ke rumah. Entah kebetulan atau apa, malam ini sekretaris Ren itu mengambil rute yang berbeda dari biasanya. Karna ia harus membeli roti pesanan adiknya terlebih dahulu   sebelum pulang.


Ariga baru saja keluar dari toko roti saat ia mendengar suara tangis seorang wanita yang berada dua ruko di sebelah toko roti. Dengan orang-orang yang hanya memperhatikan sambil berbisik-bisik tanpa berani menolong. Karna mereka fikir yang menangis itu adalah orang dengan gangguan jiwa. Mereka takut jika malah di serang nantinya.


Namun dari kejauhan Ariga seperti mengenali sosok wanita itu. Rambut pendek pirangnya mengingatkannya pada seseorang. Ya. Itu adalah Zinnia yang sedang menangis meraung-raung di emperan toko yang sudah tutup. Gadis itu memeluk lutut sambil menenggelamkan wajahnya di sana. Dengan setengah memberanikan diri, Ariga mulai berjalan mendekati Zinnia.


“Bang, jangan. Nanti malah di cakar.” Cegah seorang anak remaja yang nampak takut.


Namun Ariga tidak menggubrisnya karna ia yakin kalau itu adalah Zinnia.


“Zinnia?” Panggil Ariga.


Zinnia menoleh dengan mata yang sembab.


“Ariga?” Lirihnya.


“Zinnia?! Kenapa kamu disini? Kamu kenapa?” Ariga berubah panik dan berjongkok di depan gadis itu. Memperhatikan penampakannya yang berantakan.


“Huaaaaaaahah.. Huhuhuhuhuuuu.” Zinnia malah semakin keras menangis. Membuat Ariga bingung. Kini orang-orang malah melihatnya dengan curiga.


“Zinnia? Kita masuk ke mobil dulu yuk. Gak enak di lihatin banyak orang.” Ujar Ariga membujuk.


Ariga lantas merangkul pundak Zinnia dan membawanya ke mobil. Ia mendudukkan gadis itu di jok belakang. Saat ia menutup pintu mobil dan berbalik, orang-orang memandanginya penuh curiga.


“Dia teman saya. Hehehehe.” Ariga menjelaskan hal yang hampir membuat salah faham.


Kini Ariga bingung harus bagaimana. Ia menawari Zinnia untuk mengantarnya pulang ke rumah.


“Gak mau. Tolong jangan antar aku pulang. Aku gak mau pulang.” Pinta Zinnia bersungguh-sungguh. Ia mulai bisa menenangkan diri. Mengusapi bekas airmatanya yang sudah hampir mengering di pipi. Penampilannya benar-benar berantakan.


Ariga sedang menggigit bibirnya. Ia sedang mencari solusi mau membawa Zinnia kemana. Ia tidak mungkin memabwa Zinnia pulang ke rumahnya. bisa gawat nanti kalau seluruh anggota keluarganya menyidangnya karna hal ini.


Satu-satunya solusi yang terlintas di fikirannya adalah memberitahu Ren tentang ini. Jadi iapun segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Ren.


Ren sedang mengobrol bersama dengan ayah dan ibunya. Mendengarkan cerita Esta tentang menantu barunya. Saat tiba-tiba ponselnya berdering dan itu adalah telfon dari Ariga.

__ADS_1


“Apa, Ga?”


“Pak. Ehm,, aku lagi sama Zinnia ini.”


“Hah? Zinnia? Kok bisa? Semalem ini?”


“Aku tadi abis beli roti. Terus ada cewek nangis di dekat toko. Ternyata Zinnia. Keadaannya kacau, Pak. Aku mau antar pulang tapi dia terus nolak. Gak mau pulang, katanya. Kayaknya dia ada maslaah deh di rumah, Pak.” Jelas Ariga.


“Kirimkan lokasimu.” Perintah Ren. Ia langsung menutup sambungan telfon. Keningnya yang berkerut membuat ayah dan ibunya heran.


“Kenapa, Nak?” Tanya Esta yang penasaran.


“Ma, kalau Ren bawa temen Ren nginep disini, boleh, kan? Cewek.” Pinta Ren.


“Hah? Cewek?”


“Ren juga gak tau apa masalahnya. Tapi dia bener-bener butuh bantuan sekarang.” Ren meminta dengan ekspresi bersungguh-sungguh.


Esta mengangguk. “Ya udah. Bawa aja kesini.” Esta memberikan ijin.


“Pa, pinjem mobil, ya.” Ujar Ren yang langsung bangkit dari duduknya dan menyambar kunci mobil di atas meja dekat pintu.


Esta hanya mengangkat bahunya saja sebagai jawaban.


Ren memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi. Fikirannya sedang mengkhawatirkan Zinnia. Menurut keterangan Ariga, keadaan gadis itu sedang kacau. Membuatnya tambah khawatir saja.


Sekitar 20 menit kemudian, Ren sudah sampai di tempat yang di beritahu oleh Ariga. Dari kejauhan, ia bisa melihat Ariga yang tengah berdiri di dekat mobilnya. Ia langsung menghentikan mobil di belakang mobilnya.


“Pak.” Sapa Ariga mendekat.


“Dimana dia?” Tanya Ren.


“Ada di dalam, Pak.” Ariga memberitahu dengan menggerakkan wajahnya ke arah mobil.


Ren segera berlari ke arah mobilnya. Ia langsung membuka pintu mobil dan mendapati Zinnia yang sudah tertidur di kursi belakang. Langsung saja ia melepas jaketnya dan membuat bantal dari jaket itu. Kemudian ia mengalasi kepala Zinnia yang bersandar di jendela agar Zinnia nyaman.

__ADS_1


“Tukar mobil, Ga.” Ujar Ren yang langsung masuk ke dalam mobilnya. Sementara Ariga mengemudikan mobil Rai.


Bekali-kali Ren menoleh ke belakang. Takut kalau-kalau Zinnia terjatuh. Ia mengemudikan mobil dengan sangat hati-hati.


Sesampainya di rumah, Ren segera menghentikan mobil di halaman rumahnya. Disana, Esta dan Rai sudah menunggunya. Keduanya terus memperhatikan tingkah laku putranya itu.


Ren membuka pintu mobil belakang. Ia bahkan tidak mencoba untuk membangunkan Zinnia. Ia hanya langsung membopong tubuh Zinnia yang lemah keluar dari mobil. Dan hebatnya, gadis itu tak terbangun sedikitpun.


Entah karna lelah fisik karna sudah berjam-jam berjalan kaki. Atau lelah karna hatinya sudah tak mampu menahan rasa sakit yang ia terima. Jadi alam sadar Zinnia melenakan dia di alam mimpi.


“Kenapa dia, Nak?” Tanya Esta yang jadi ikut panik melihat Ren membopong gadis yang tak sadarkan diri.


“Kayaknya dia cuma ketiduran, Ma.” Jawab Ren. Ia segera berjalan masuk dan langsung membawa Zinnia ke kamarnya. Sementara Esta dan Rai juga mengikutinya.


Mata Esta menangkap beberapa luka yang terdapat di kaki gadis itu. Entah kenapa hatinya merasa pias dan kasihan melihatnya. Tidak tega.


Esta membantu Ren untuk menata tempat tidur agar bisa digunakan Zinnia beristirahat. Ia juga membantu melepaskan sepatu yang sudah lusuh itu dari kaki Zinnia yang terluka.


“Ya ampun. Kakinya sampe luka begini.” Lirih Esta kasihan. “Mbak Sur, tolong ambilin air hangat sama kain, ya.” Pinta Esta pada asisten rumah tangganya itu.


“Apa perlu Papa panggil dokter?” Tanya Rai yang juga nampak kasihan kepada Zinnia.


“Kita tunggu dulu, Pa. Solanya dia cuma kecapekan aja.”


“Ya udah. Kalian keluar aja dulu. Biar Mama bantu bersihkan badannya sama Mbak Sur.” Pinta Esta mengusir suami dan putranya.


Esta dengan di bantu oleh Mbak Sur, berusaha membersihkan kaki Zinnia dan bagian tubuh yang lain. Ia juga meminta Mbak Sur untuk meminjamkan pakaian yang mungkin bisa di pakai oleh Zinnia. Karna umur Mbak Sur yang tak terlalu jauh dari Zinnia jika di bandingkan dirinya.


Hampir setengah jam Esta dan Mbak Sur membersihkan Zinnia. Dan gadis itu tetap tidak terbangun sedikitpun. Sudah seperti orang pingsan saja. Tapi nafasnya teratur seperti sedang tertidur.


“Kasihan dia. Saking capeknya mungkin. Sampai gak kebangun.” Ujar Esta setelah selesai mengganti pakaian Zinnia dengan kaus dan celana milik Mbak Sur. Ia juga sudah mengolesi obat pada luka-luka di kaki Zinnia.


“Iya, Bu.”


Esta dan Mbak Sur keluar dari kamar. Ren segera menghampiri ibunya dan bertanya keadaan Zinnia.

__ADS_1


“Gimana, Ma? Udah?”


Esta mengangguk. Dan Ren langsung masuk untuk melihat kondisi Zinnia. Pias sekali hatinya melihat wajah Zinnia yang nampak sangat lelah.


__ADS_2