
Ren tak bisa fokus dengan pekerjaannya. Ia teringat dengan senyuman kesedihan Zinnia tadi siang. Entah kenapa itu sangat mengganggunya. Ia jadi penasaran kenapa gadis itu sampai meneteskan airmatanya setelah melihat fotonya bersama Ranu?
Ren sudah berdiri hampir 10 menit lamanya. Pandangannya hanya tertuju kepada aktifitas kecil di pinggir jalan raya di depan gedung kantornya. Ya, dia tengah memperhatikan Zinnia dan Pak Jaya yang sedang membereskan dagangan mereka.
Tanpa basa basi, Ren segera menyambar jasnya dari gantungan dan ponselnya dari atas meja kemudian keluar dari ruangannya.
“Mau kemana, Pak?” Tanya Ariga heran. Seingatnya Ren tidak punya jadwal meeting di luar.
“Ga, mana kunci mobil.” Pinta Ren.
“Pak Ren mau kemana?”
“Udah, buruan. Kunci mobil.” Desak Ren. Ia terus mengulurkan tangannya kepada Ariga.
Ariga lantas memberikan permintaan Ren itu walaupun dengan mengernyitkan keningnya.
Dan secepat kilat, Ren langsung melesat menghilang di balik tembok.
Apa yang membuat Ren sangat terburu-buru begitu? Batin Ariga.
Zinnia sedang menunggu taksi dan berdiri di pinggir trotoar. Saat tiba-tiba ada sebuah mobil yang berhenti di depannya sambil membunyikan klakson.
Saat kaca mobil turun, ia melongok ke dalam dan melihat Ren yang sedang tersenyum padanya di balik kemudi.
“Masuk.” Perintah Ren.
Tanpa banyak tanya, Zinnia segera masuk ke dalam mobil. Ia tidak tau Ren mau kemana. Nanti ia akan meminta pria itu untuk mengantarkannya pulang.
“Kak Ren mau kemana?” Tanya Zinnia pada akhirnya.
“Mau ngajak kamu makan.”
“Ngajak makan?”
“Kamu belum makan dari tadi siang, kan?”
“Aku bisa makan di rumah. Mbak Lida pasti udah masak di rumah.”
“Gak usah cerewet. Ikut aja.”
“Kak Ren kenapa perhatian banget sama aku? Kak Ren suka sama aku?”
Ren tidak menggubris. Ia hanya tetap fokus ke jalan raya. Ia tidak ingin meladeni celotehan gadis itu.
“Kalau Kak Ren terus terusan perhatian begini. Nanti aku jadi suka sama Kakak.”
Dan Ren masih tak menanggapi.
__ADS_1
“Ih! Di ajak ngomong juga. Malah diem aja.” Dengus Zinnia kesal. Padahal ia ingin menggoda Ren.
“Apa, sih?”
“Telat.”
Ren hanya tersenyum. Ia membelokkan mobil ke arah restoran Limma. Ia teringat waktu itu Zinnia lahap sekali memakan makanan yang ia bawa dari restoran ini. Jadi ia ingin mengajak Zinnia makan disana.
Ren dan Zinnia berada di sebuah ruang private. Dengan berbagai menu yang sudah tersaji di atasnya. Mata Zinnia membulat melihat penampakkan lezat di hadapannya. Air liurnya bahkan hampir meleleh di buatnya.
“Cepetan makan. Abis ini aku antar kamu pulang.” Ujar Ren.
“Siap. Hehehehehe.”
Untuk beberapa saat Zinnia fokus menyantap berbagai hidangan lezat di hadapannya. Yang paling dia suka adalah olahan lobster super besar dengan saus pedas yang membuat wajahnya sudah memerah.
Sementara Ren, sesekali fokus memandangi gadis itu. Ia akan terkekeh saat melihat ekspsresi Zinnia yang kepedasan sambil menenggak air minum.
“Pelan-pelan makannya. Nanti keselek.” Ren memperingatkan.
“Gila. Ini enak banget, Kak. Aku belum pernah nemuin olahan lobster yang se enak ini.” Celetuk Zinnia di sela-sela rasa pedas yang membakar lidahnya.
“Ya udah. Abisin lah. Kalau mau nambah juga boleh.” Ren terkekeh.
Zinnia menggeleng. “Ssshhh hah. Enggak, kak. Udah kenyang.” Jawabnya. “Tapi nagiihhhh. Hiks. Ssshhhh hah.”
Keringat sebesar biji jagung sudah membasahi tubuh Zinnia. Pedas memang membuat ketagihan. Ren sampai meminta susu kepada pelayan untuk menetralkan rasa pedasnya.
“Gimana?” Tanya Ren.
“Udah mending.”
“Jadi bener gak mau nambah, nih?”
Zinia menggeleng. “Udah kenyang. Kapan-kapan traktir aku kesini lagi ya, Kak.”
“Boleh. Udah? Kalau udah ayo aku antar kamu pulang. Biar bisa istirahat di rumah.”
Zinnia mengangguk. Dan merekapun lantas keluar dari ruangan itu.
Ren menghentikan langkahnya sesaat setelah mereka keluar. Di depannya, Fandi nampak baru keluar juga dari ruang di sebelah mereka. Kakeknya itu langsung melihat kepadanya dan juga Zinnia.
“Kek..” Panggil Ren.
“Ren? Kamu disini juga?” Tanya Fandi. Pandangannya menyisir Zinnia dari ujung kepala hingga kaki. Nampak jelas kalau Fandi tidak menyukai penampilan Zinnia.
“Iya. Abis makan. Kakek ngapain kesini?”
__ADS_1
“Pak Gubernur ngajak makan-makan. Ya kakek mau aja.”
“Mana orangnya? Ren mau nyapa.”
“Udah duluan. Ini siapa?” Tanya Fandi kepada Zinnia.
“Halo, Kek? Aku Zinnia.” Gadis itu memperkenalkan diri. Ia mengulurkan tangan hendak menyalami Fandi.
Di luar dugaan, Fandi hanya melengos dan tidak mau menerima salam dari Zinnia. Zinnia nampak terkejut dengan perlakuan itu. Tapi lagi-lagi, ia berusaha menguatkan hati. Toh perlakuan macam ini sudah biasa ia terima.
“Kamu mau pulang?” Tanya Fandi beralih kepada Ren.
Perlahan Zinnia menarik tangannya yang tak mendapat sambutan. Ren bisa membaca situasi itu. Ia menatap kesal kepada sang kakek. Ia bahkan sempat mendengus kecil.
“Ayo, aku antar kamu pulang. Kek, kami pergi dulu.” Ujar Ren yang langsung menggenggam tangan Zinnia dan menariknya pergi dari sana.
Kini, Ren dan Zinnia sudah ada di dalam mobil. Untuk beberapa saat, tidak ada yang berbicara. Masing-masing tau kecanggungan yang sedang terjadi antara mereka dan Fandi.
“Aku minta maaf atas nama Kakekku.” Lirih Ren.
“Kenapa Kakak yang minta maaf? Gak apa-apa lagi. Aku udah biasa di gituin. Udah gak mempan. Orang memang cenderung ngelihat luarku kayak gimana. Dan oke, aku gak masalah dengan itu. Aku memakai apapun yang membuatku nyaman. Peduli setan sama pandangan orang lain. Jadi kakak gak perlu nerasa bersalah karna sikap Kakek.”
Sebenarnya Zinnia merasa sedikit tersinggung tadi. Tapi tak apa lah. Wajar jika Fandi risih dengan penampilannya. Karna kesan awal pertemuan adalah penampilan.
“Kamu pasti punya banyak luka.” Gumam Ren kemudian. Ia ingin bertanya kenapa tadi siang Zinnia menangis. Tapi tak tau bagaimana cara untuk menanyakannya.
“Luka? Maksudnya?” Zinnia mengernyit heran. Luka apa yang dimaksud oleh Ren?
“Tadi siang kamu nangis, kan? Kamu pasti lagi teringat dengan masa-masa menyakitkan yang kamu alami. Aku memang gak tau sebesar apa rasa sakitmu. Tapi, kamu hebat udah bertahan sampai saat ini, Zinnia.”
Itu adalah kali pertama Zinnia mendengar langsung Ren memanggil namanya. Karna biasanya Ren hanya menyebutnya sebagai ‘ayam cemani’. Ia menoleh kepada pria itu dan menatapnya intens.
“Kak Ren?” Panggil Zinnia dengan masih menatap dalam kepada Ren yang tengah mengemudi.
“Hmm?”
“Kan, aku jadi jatuh cinta sama kamu.”
Ciiiiittttt....
Decitan ban menggesek aspal tak bisa di hindari. Ren langsung menepikan mobilnya karna terkejut dengan ucapan Zinnia.
“Hahahahahahahahahahaha. Kaget ya? Hahahahaha.” Zinnia malah tertawa terbahak-bahak sampai memegangi perutnya.
Sedangkan Ren hanya menatap gadis itu saja dengan mata terbelalak dan peraasan yang tak menentu.
“Dasar ayam cemani!” Dengus Ren dengan kesal. Ia baru menyadari kalau ternyata Zinnia sedang mengerjainya.
__ADS_1