
Awan mendung mulai bergelayut di langit puncak. Menandakan kalau tidak lama lagi akan turun hujan. Pun hari sudah hampir temaram. Matahari sudah kembali ke peraduannya di temani oleh gerimis-gerimis kecil yang perlahan mulai turun.
Zinnia sudah menggigil karna ia hanya mengenakan kaus hitam berlengan pendek. Awalnya ia ingin menikmati udara sejuk yang ternyata berubah menjadi hawa dingin hingga menusuk ke dalam tulang-tulangnya.
Gerimis yang mulai menerpa membuat Ren menghentikan sepeda motornya di depan sebuah toko boneka. Sekarang baru ia menyesal karna tidak membawa mobil.
“Kita berhenti di sini dulu, ya. Sambil nunggu hujan berhenti.” Ujar Ren yang melepaskan helmnya. Ia berbicara kepada Zinnia yang sudah turun lebih dulu.
Ren merasa konyol saat menyadari kalau orang yang dia ajak bicara sudah ngeloyor pergi masuk ke dalam toko begitu saja bahkan tanpa melepas helm yang di kenakannya.
“Huuuffhhh.” Hela Ren.
Di dalam toko, Zinnia asyik melihat-lihat pajangan berbagai model karakter boneka yang berjejer di rak-rak yang tersusun rapi. Ia terkejut dan langsung menoleh saat merasakan lengannya di tarik oleh seseorang.
Tanpa banyak bicara, Ren segera melepaskan helm yang di kenakan Zinnia. Membuat beberap aorang melihat iri kepada mereka.
“Oh, iya. Lupa. Hehehehehe.” Ujar Zinnia lucu.
Ren membawa helm ke luar dan meletakkannya di sepeda motor. Kemudian ia kembali masuk ke dalam dan kembali menghampiri Zinnia yang kini tengah mengamati sebuah boneka karakter dari sebuah film animasi terkenal, Monster Inc., Sullivan.
“Kenapa di pelototin begitu? Mau?” Tawar Ren.
“Aku gak bawa uang.” Bisik Zinnia malu-malu.
“Ambil aja, aku yang bayarin.”
“Beneran boleh, Kak?” Zinnia memastikan tawaran itu.
Ren mengangguk dengan pasti.
“Yess. Oke. Aku mau beli ini.” Zinnia langsung mengambil boneka itu dan langsung membawanya ke kasir dengan di ikuti oleh Ren.
Selesai membayar dan mendapatkan barangnya, Zinnia bergegas keluar dengan masih di ikuti oleh Ren.
Gerimis yang tadi turun telah berubah menjadi hujan super lebat dan di sertai dengan angin. Zinnia yang berdiri di tempat paling pinggir semakin terdesak oleh para pengendara yang sedang berteduh juga di teras toko. Hingga bahunya mulai terkena air hujan.
Zinnia terhenyak saat tiba-tiba Ren merangkul bahunya dan membuat tubuhnya menempel dengan pria itu. Seolah Ren sedang melindunginya dari terpaan air hujan.
Tubuh Zinnia membeku. Bukan karna merasakan udara dingin yang menyesapi tulang, melainkan karna sikap yang dilakukan Ren barusan. Debaran itu kembali muncul di hatinya. Ia bahkan tidak berani menatap Ren. Ia hanya terus mendekap plastik bungkus boneka di dadanya.
Entah kenapa Zinnia merasa malu seperti itu. Padahal selama ini ia tidak pernah merasa semalu ini saat di perlakukan manis oleh mantan kekasihnya dulu. Tapi kenapa dengan Ren ia harus merasa malu? Seolah ia sudah kehilangan dirinya sendiri.
__ADS_1
Sudah 1 jam berlalu, dan hujan masih belum mereda sedikitpun. Sementara semakin banyak pengendara yang berhenti dan ikut berteduh dengan mereka.
Angin yang berhembus dari samping membuat sebelah pundak Zinnia basah. Padahal ia sudah berlindung di balik pria yang mengenakan mantel hujan yang berdiri di sebelahnya.
Baju yang basah di tambah dengan hembusan angin kencang yang menerbangkan butiran air hujan, membuat Zinnia sesekali menggigil. Ia semakin erat memeluk bungkus bonekanya berharap bisa mengusir hawa dingin. Bahkan pori-pori di lengannya sudah muncul semua.
Melihat itu, Ren langsung melepaskan jaketnya kemudian memakaikannya kepada Zinnia. Membuat Zinnia langsung menatap kepadanya dengan tanya.
“Jangan di lepas. Dingin.” Ujar Ren setelah selesai memakaikan jaket ke punggung Zinnia.
“Gak usah, Kak. Emangnya Kak Ren gak dingin? Kan pake kaus pendek juga.” Ujar Zinnia.
“Aku gak dingin. Udah, kamu pakai aja.”
“Gimana kita pulangnya, Kak? Hujannya gak mau berhenti.” Gumam Zinnia.
Ren mengeluarkan ponselnya kemudian menghubungi Ramadhan. Ia meminta pria itu untuk menjemput mereka dengan mobil.
“Tunggu bentar, ya. Bentar agi Ramadhan dateng bawa mobil.” Ucap Ren.
Dan benar saja, 15 menit kemudian, sebuah sedan hitam mewah sudah berhenti di depan toko hingga menarik perhatian semua yang ada di sana.
Dari pintu pengemudi, keluar Ramadhan dengan membawa payung. Ia megedarkan pandangan untuk mencari Ren dan Zinnia. Setelah menemukan mereka, Ramadhan segera menghampirinya.
“Gak juga.”
“Ini payungnya.” Ramadhan menyerahkan payung kepada Ren agar Ren dan Zinnia tidak kehujanan saat berjalan ke mobil.
“Tapi motornya, gimana?” Tanya Zinnia penasaran. Sebenarnya hal itu terus menganggu fikirannya sejak tadi.
“Gak usah bingung. Bisa di titip disini. Yang punya toko ini kenalanku, kok. Besok tinggal di ambil.” Jawab Ramadhan.
“Ooo.” Akhirnya Zinnia bisa bernafas lega.
“Ayo.” Ajak Ren dengan langsung merangkul pundak Zinnia dan membimbingnya berjalan menuju ke arah mobil. Ia bahkan membukakan pintu mobil untuk Zinnia juga. Sementara Ramadhan hanya mengandalkan kedua terlapak tangannya saja untuk menangkis hujan dan segera masuk ke dalam mobil.
Setelah semua masuk ke dalam, Ramadhan segera melajukan mobilnya meninggalkan toko boneka itu menuju ke villa.
Bahkan di dalam mobilpun, Zinnia masih saja menggigil kedinginan. Ia sampai mengubah posisi jaket ke dapan tubuhnya untuk menghalau rasa dingin. Tapi ternyata jaket itu masih belum mampu membuat tubuhnya hangat.
“Dingin banget ya disini. Waaahhhh.” Ujar Zinnia memecah keheningan yang membosankan itu.
__ADS_1
“Ya begini lah. Apalagi ini hujan, jadi tambah dingin.” Jawab Ramadhan.
“Kayaknya aku gak bakalan sanggup kalau disuruh tinggal disini.”
“Memangnya siapa yang nyuruh kamu tinggal disini?” Seloroh Ren.
“Ih Kakak. Gak seru banget sih.”
“Emangnya aku salah? Emang ada yang nyuruh kamu tinggal di sini? Atau kamu mau tinggal disini?”
Zinnia hanya mencibiri Ren saja sementara pria itu hanya terkekeh padanya.
Sesampainya di villa, mereka segera di sambut oleh Esta yang nampak sedang mengkhawatirkan Ren dan Zinnia.
“Ya ampun. Kamu basah gini. Cepetan ganti baju. Abis itu turun dan makan malam. Kalian belum makan, kan?” Tanya Esta.
“Belum Tante. Ya udah, Zinnia mau ke atas dulu ganti baju.”
Esta mengangguk. “Kamu juga, Nak. Ganti baju yang tebel.”
“Iya, Ma.”
Ren dan Zinnia langsung naik ke atas dan masuk ke dalam kamarnya masing-masing.
Zinnia segera mengeringkan tubuhnya dengan handuk kemudian mengganti pakaiannya dengan yang kering.
Setelah selesai, ia melirik ke arah tempat tidur yang sedang menggodanya dengan menawarkan sebuah kehangatan. Bahkan godaan itu mampu mengalahkan rasa laparnya.
Akhirnya Zinnia berjalan dan menelusupkan dirinya di bawah selimut.
“Ahhhh. Hangatnya...” Gumamnya kemudian.
Kehangatan itu mampu membuai Zinnia hingga terlelap kemudian. Ia sudah sepenuhnya lupa kalau ia disuruh makan malam.
“Kok lama sekali Zinnia?” Gumam Esta yang sedang duduk di ruang tamu bersama dengan suaminya. Sementara Ren sedang melahap makan malamnya di meja makan.
“Nak! Udah selesai makannya? Coba kamu panggil Zinnia di kamarnya.” Perintah Esta kemudian setelah melihat Ren yang baru selesai makan. Ia khawatir kenapa Zinnia tak kunjung turun untuk makan.
Ren hanya mengangguk kemudian berjalan ke atas. Ia mengetuk pintu kamar Zinnia namun tidak ada tangapan. Ia melihat pintu itu terbuka sedikit kemudian memberanikan diri melongok ke dalamnya.
Lirih, terdengar suara dengkuran yang berasal dari Zinnia yang sudah nyaman terbuai selimut tebal di atas tempat tidur. Ren hanya tersenyum saja melihatnya kemudian kembali menutup pintu dengan perlahan. Ia kembali menemui kedua orangtuanya dan memberitahu kalau Zinnia sudah tertidur dan ia tidak mau mengganggunya.
__ADS_1
BERSAMBUNG...
*Jangan lupa like sama komentarnya yaaa....