
Pukul 4 sore, Zinnia sudah selesai membantu Pak Jaya mengemasi dagangannya. Dan Pak Jaya juga sudah mendorong gerobaknya ke arah pulang. Namun Zinnia masih berdiri untuk menunggu taksi yang lewat.
Namun sudah menunggu selama lima menit, belum juga ada taksi kosong yang lewat. Padahal disana biasanya rame. Ia hendak memesan lewat online tapi ponselnya mati karna baterainya habis.
Ia ingin naik ojek yang banyak berseliweran di depannya. Tapi tubuhnya sangat lelah. Ia takut nanti jatuh jika di paksakan.
Saat Zinnia menoleh ke arah kanan, pandangannya tepat menyapu arah depan lobi gedung FD Corp. Disana nampak Ren yang sedang masuk ke dalam mobil kemudian mobil mulai melaju. Tiba-tiba ia memikirkan sebuah rencana hebat.
“Stop!” Zinnia melompat di samping mobil Ren yang sedang berjalan keluar dari halaman kantor.
Ciiiittttt.
Seketika saja Ariga langsung mengerem mobil hingga mobil berhenti. Untung saja ia tidak kalap. Hampir saja ia malah menginjak pedal gas.
Ren yang kesal karna tubuhnya terhuyung kedepan, bahkan hampir terantuk sandaran kursi, membuka kaca jendelanya dengan melotot ke arah Zinnia.
“Kamu ini gimana sih?! Kalau tadi sampe ketabrak gimana?! Main lompat seenak jidat.” Teriak Ren yang kesal. Jantungnya sudah hampir copot.
“Hehehehe. Ya maaf, Kak. Aku numpang dong.” Ujar Zinnia yang tidak merasa bersalah sama sekali.
“Numpang gimana? Aku gak pergi ke arah rumahmu. Aku pergi ke arah sebaliknya.” Namun Zinnia malah berjalan memutari mobil.
Bluk!
Ren melotot saat Zinnia sudah menutup pintu dan sudah duduk manis di sampingnya.
“Kenapa malah masuk?”
“Anterin aku, plissssss.” Mohon Zinnia memasang wajah imutnya. Ren hanya berekspresi kesal melihatnya.
“Tapi aku mau rapat.”
“Pak, kita udah terlambat. Jadi gimana ini?” Ariga mengingatkan.
Ren tidak punya pilihan. Ia tidak punya waktu untuk berdebat dengan gadis aneh itu.
“Ya udah.” Perintah Ren pada Ariga untuk kembali melajukan mobil.
“Hehehehe. Makasih, Kak.” Ujar Zinnia. Sikapnya benar-benar seperti anak belasan tahun.
Ariga melajukan mobil ke arah sebuah stasiun tv yang juga merupakan anak perusahaan FD Corp. Ia menghentikan mobil di tempat parkir.
__ADS_1
“Udah sampai, Pak.” Ariga memberitahu.
Ren yang sejak tadi sibuk dengan tabletnya, melihat ke arah Zinnia yang sudah ternganga dan terlelap dengan kepala mendongak di sandaran kursi.
“Gimana dia, Pak?”
“Ya tinggalin aja disini. Mau gimana?”
Ren menurunkan kaca mobil hingga setengahnya agar sirkulasi udara masih bisa masuk saat mereka meninggalkan mobil. Sekali lagi melirik kepada gadis yang bahkan tidak berkutik itu. Lalu mereka masuk ke dalam gedung. Meninggalkan Zinnia dengan mimpi indahnya di dalam mobil.
Hampir dua jam Ren dan Ariga berada di sana. Saat mereka keluar, hari sudah berubah menjadi malam. Hanya ada setitik cahaya jingga di ufuk barat. Dan Zinnia masih di posisi yang sama. Membuat Ren menggeleng heran.
“Nih anak udah kayak koala aja. Dari tadi belum bangun juga?”
Perlahan, Ren membuka pintu mobil kemudian masuk kedalam. Begitu juga dengan Ariga. Entah kenapa dia harus mengikuti perilaku bosnya itu. Ia sendiri heran.
“Kak Ren udah selesai?” Lirih suara Zinnia dengan kelopak mata setengah terbuka. Tanpa memindah posisi, ia hanya melirik ke pada Ren di sampingnya.
Ren yang sudah hampir menutup pintu dengan perlahan, akhirnya tidak jadi. Ia menutup pintu seperti biasa. Padahal tadinya ia tidak ingin membangunkan Zinnia.
“Kamu ini kok sok akrab banget sih? Kita baru ketemu beberapa kali dan itu beberapa hari yang lalu.” Protes Ren.
“Kenapa? Kak Ren gak suka aku akrabin?”
“Terus?”
Ren bingung mau menjawab apa. Anehnya, ia memang tidak keberatan saat Zinnia bersikap akrab kepadanya.
“Udah, tidur lagi. Aku antar kamu pulang.”
“Leherku pegel, Kak.” Rengek Zinnia.
Ren langsung terbelalak saat Zinnia tiba-tiba saja mendaratkan kepalanya di pahanya. Nafasnya sudah berhenti beberapa detik.
“Numpang buat jadi bantal. Nanti kalau udah sampe tolong bangunin aku ya, Kak.” Pinta Zinnia kemudian. Gadis itu benar-benar tidak sensitif dengan setiap tindakannya. Ia tidak peduli kalau orang lain menjadi tidak nyaman karna ulahnya.
Ren menghela nafas kesal. Tapi anehnya, ia tidak menolak perlakuan gadis itu dan tetap membiarkannya saja tidur di pangkuannya.
Ariga kembali melajukan mobil menuju ke alamat yang sudah di beritahu oleh Ren. Sekretarisnya itu heran dan bertanya-tanya dalam hati, bagaimana bosnya itu bisa tau dimana gadis aneh itu tinggal? Tapi tidak berani bertanya langsung.
Zinnia tertidur dengan lelap. Tidak sekalipun ia terbangun walaupun dari yang terlihat, posisinya itu sangatlah tidak nyaman.
__ADS_1
Diam-diam, Ren memperhatikan wajah yang ada di pangkuannya itu dengan seksama. Gadis dewasa yang tingkahnya masih seperti anak SMP. Tapi entah kenapa ia seperti bisa melihat sekelebatan luka dari pancaran netra Zinnia. Semoga ia salah.
Lagipula, mana mungkin gadis seceria dan serandom Zinnia punya masalah hidup? Gadis itu bahkan bekerja di gerobak bakso hanya untuk mengisi waktu luangnya. Begitulah yang di fikirkan oleh Ren.
Hhhpppppppp!!!!
Nafas Ren berhenti dengan sempurna. Ia terperangah, terperanjat, terkejut, terheran-heran (haha). Saat ada sesuatu yang melingkar dan memeluk pahanya dengan sangat erat. Tubuhnya membeku. Apalagi saat tangan itu hampir saja sampai ke gudang sejatanya.
Jantungnya berdisko bukan main. Tubuhnya meremang hingga pori-porinya bermunculan. Bahkan keringat dinginpun ikut ambil bagian di tengkuknya.
Biar bagaimanapun, Ren adalah seorang pria tulen. Bagaimana bisa ia tidak terangsang saat mendapat sentuhan seperti itu? Tentu saja libidonya meningkat drastis.
“Kenapa, Pak?” Tanya Ariga dengan melirik lewat kaca spion.
“Ga. Tancap gas, Ga. Kalau lama-lama bisa mati duduk aku kalau begini.” Ujar Ren dengan masih berusaha untuk mengatur nafasnya. Ia mencoba menahan Gerry-nya untuk tidak terbangun.
“Hah?” Tanya Ariga tidak mengerti. Apa karna Ren sudah sangat lelah memangku Zinnia dan kakinya mulai kaku? Atau bagaimana?
“Buruan!”
“Iya, iya, Pak.” Dan Ariga mulai menambah kecepatan laju mobilnya.
Mobil mulai memasuki area perumahan mewah. Sambil menahan Gerry, Ren terus memberitahu arah rumah Zinnia. Dan ia baru bisa bernafas lega saat rumah Zinnia sudah nampak di depan mata.
“Itu, itu. Yang pagar coklat.” Ren menunjuk-nunjuk pagar rumah Zinnia. Dan Ariga berhenti tepat di depan rumah.
“Oi! Cemani. Bangun. Udah sampe rumah nih.” Ren mencoba membangunkan Zinnia. “Hei! Ayam cemani?!” Panggilnya lagi saat Zinnia tidak merespon.
“Zinnia!!!”
Perlahan, Zinnia mengerjap-ngerjapkan kelopak matanya. Ia menatap berat kepada Ren yang melotot ke arahnya.
“Udah sampe. Buruan turun. Lanjutin tidurmu di kamarmu sana.” Usir Ren. Ia masih berusaha mengatur detak jantungnya.
Zinnia bangun dengan menatap bingung. “Oh, udah sampe ya? Huaaaaaahhhmmmm.”
Zinnia mencoba mengumpulkan kesadarannya kembali. Kemudian ia mengucapkan terimaksih kepada Ren yang sudah bersedia megantarkannya.
“Makasih ya, Kak. Udah nganterin aku. Gak masuk dulu?” Tawar Zinnia.
Ren segera menggelengkan kepala kuat-kuat. “Udah sana buruan masuk.”
__ADS_1
Dan Zinnia segera keluar dari mobil Ren. Tanpa ba bi bu, Ren segera menyuruh Ariga untuk langsung tancap gas mengantarnya pulang. Ia harus segera mendinginkan tubuhnya.