Metalmorfosis

Metalmorfosis
BAB 11. Malu Dan Tidak Mau Mengakui.


__ADS_3

Pagiku cerah.


Matahari bersinar.


Kugandeng tas merahku.


Di pundaaaaaakkkkkkk.


Gadis berambut pirang sebahu itu sedang berdendang di depan cermin meja rias. Bernyanyi dengan nada metal sambil membenarkan kaus hitam kesukaannya.


Setelah di rasa pas. Ia segera keluar dari kamar dan menuju ke dapur untuk sarapan. Saat itu sudah pukul setengah sembilan.


Zinnia memang selalu menunggu keluarganya pergi bekerja lebih dulu baru ia akan sarapan. Ia tidak suka makan bersama mereka karna ayah dan ibunya selalu membahas hal-hal yang menyakitkan hati. Ia lebih bisa menikmati makanan saat ia makan sendiri seperti ini.


“Mau kemana, Non? Udah rapi aja.” Tanya Lida sambil melayani Zinnia dengan sarapannya.


“Hehehehe. Ada lahhh... Mbak Lida kepo.”


“Abis dandannya rapi bener. Mau nge-date ya?” Tebak Lida.


“Nge-date sama singa? Pacar aja gak punya, nge-date... Pokoknya adalah. Aku gak mau ngasih tau Mbak.”


Lida hanya terkekeh saja. Selesai mengambilkan nasi untuk Zinnia, ia kembali melanjutkan pekerjaannya.


Zinnia memakan sarapannya dengan lahap. Ia ingin mensuplay banyak tenaga untuk hari istimewanya ini.


Selesai makan, ia menyambar tas selempang kecilnya kemudian keluar. Di luar rumah, sebuah ojek online sudah menunggunya dan namPak mengobrol dengan security.


“Kenapa gak minta di antar aja, Non? Itu mobil nganggur.” Tanya security.


“Enggak, Pak. Enakan ngojek. Yuk Mas.” Ajak Zinnia menghampiri driver ojol.


Setelah mengenakan helm, Zinnia langsung nangkring di atas motor dan ojol segera mengantarkannya ke tempat tujuan.


Butuh waktu sekitar 20 menit sampai mereka tiba di gerobak bakso Pak Jaya biasa mangkal. Zinnia segera turun kemudian mengembalikan helm kepada driver.


“Makasih, Mas.” Ujarnya kemudian berbalik.


“Pagi, Pakkk..” Sapanya ramah kepada Pak Jaya.


Pria paruh baya itu nampak sedang mempersiapkan dagangannya. “oh, pagi juga. Udah dateng, Zinnia? Belum jam 10.” Kata Pak Jaya melirik jam tangan usang di pergelangan tangannya.


“Gak apa-apa, Pak. Supaya bisa bantuin bapak beres-beres.”

__ADS_1


Zinnia sigap membantu Pak Jaya membuka dagangan. Ternyata ia cepat tanggap dalam melayani pembeli. Membuat Pak Jaya senang karna sudah menerimanya sebagai karyawannya. Ia juga cekatan dalam mencuci mangkuk yang kotor.


Saat waktu makan siang tiba, membuat Zinnia dan Pak Jaya sibuk bukan main. Karna banyak karyawan kantoran yang memilih untuk makan siang dengan bakso di tempat mereka. Bakso Pak Jaya terkenal dengan kelezatannya. Tempatnya juga strategis. Berada di antara gedung-gedung perkantoran.


*****


Ren sedang serius membaca sebuah proposal bisnis di mejanya. Di depannya, Navya berdiri menunggu tanggapan dari direktur utamanya itu.


“Siapa yang  buat ini?” Tanya Ren tanpa melihat kepada Navya.


“Saya dan tim 2, Pak.” Jawab Navya.


Ren nampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia sepertinya puas dengan proposal itu.


“Tapi bukannya udah banyak ya, yang pakai produk ini di luar.”


“Memang banyak Pak. Tapi perbankan digital ini punya banyak produk unggulan dibandingkan dengan produk lainnya. Prediksi kami, ke depannya akan banyak masyarakat yang menggunakan mata uang digital dibanding uang cash. Dan itu adalah peluang besar di lini perbankan berbasis digital.” Jelas Navya.


“Dan masalah aplikasinya, kalau bapak gak keberatan, saya punya kenalan di bidang ini.”


“Oke. Kita lanjutkan yang ini aja. Setelah analisis pasar selesai, kasih laporannya ke aku. Detail perusahaan pengembangnya juga jangan lupa.”


“Baik, Pak.” Navya nampak sangat puas dengan hasil kerjanya beserta tim. Ia mengangguk kemudian pamit keluar dari ruangan Ren.


Seketika Ren teringat dengan perusahaan pengembang milik Leka. Tapi itu akan terlalu jauh kalau mereka harus bolak-balik Jakarta-Semarang. Tidak apalah, ia akan mempercayakan soal pengembang dengan tim 2, yaitu tim pengembangan produk yang di pimpin oleh Navya.


“Iya, Pak?”


“Traktir tim 2 makan siang.” Perintah Ren.


“Makan siang, Pak?”


“Ini uangnya.” Ren menyerahkan beberapa lembar uang ratusan ribu dari dompetnya kepada Ariga.


“Bapak gak ikut?”


“Aku masih banyak kerjaan.”


“Yaahh. Gak seru dong, Pak. Walaupun bapak yang traktir, tapi kalau ada bapak juga kan mereka semakin semangat kerjanya, Pak. Anggap aja itu sebagai penghargaan buat tim 2.” Rayu Ariga.


Ren nampak berfikir sebentar. Kemudian ia mematikan komputernya dan menyambar jas dari gantungan.


“Kamu ini. Licin sekali mulutnya.” Dengus Ren. Yang di sindir cuma bisa terkekeh saja.

__ADS_1


Ren dan Ariga berjalan ke ruangan tim 2 yang ada di lantai di bawah mereka. Anggota tim yang terdiri dari 4 wanita dan 2 pria itu nampak terkejut dengan kedatangan Ren ke ruangan mereka.


Navya segera berdiri dan mengangguk sopan kepada Ren.


“Kalian udah bekerja keras. Ayo makan di luar, Pak Ren yang traktir.” Ujar Ariga.


“Wah, serius, Pak? Asiikk..”


“Tapi, kita kan udah terlanjur pesen bakso. Gimana, dong?”


“Bakso?” Tanya Ren.


“Iya, Pak. Barusan kami udah pesen bakso di depan.” Jawab Navya.


“Ehmm. Yaudah, ayo kita makan bakso aja.” Ujar Ren akhirnya.


Semua anggota tim 2 langsung bersorak senang mendapat perhatian kecil dari direktur utama mereka itu.


Seluruh anggota tim 2, Ren dan Ariga lantas bergegas keluar kantor untuk makan bakso.


Di trotoar dekat kantor, nampak grobak bakso sederhana yang di penuhi oleh pembeli. Bahkan beberapa dari mereka ada yang berdiri untuk mengantri.


“’Maaf, Pak. Kami pesennya di sini.” Ujar Navya merasa tidak enak hati karna harus membawa dirut mereka makan di tempat sederhana seperti itu.


“Gak masalah. Kayaknya enak baksonya. Rame banget yang antri.” Ren berusaha bersikap biasa agar para karyawannya tidak merasa canggung dengannya.


“Pak, itu ada tempat kosong. Gimana kalau bapak sama yang lain nunggu disana aja. Biar saya yang ambil pesanannya.” Ujar Fitri salah satu anggota tim 2.


Ren dan yang lainnya setuju. Lantas mereka duduk di bangku-bangku kecil yang baru saja kosong.


“Pak, pesenanku udah siap belum?”


Pak Jaya menoleh kepada Fitri yang berdiri di belakangnya.


“Oh, udah. Bentar ya.”


“Tambah 2 ya, Pak. Kami nunggu disana.” Tunjuk Fitri kepada teman-temannya.


“Siap.” Ujar Pak Jaya. Dan Fitri kembali untuk bergabung bersama dengan teman-temannya.


Pak Jaya segera menyuruh Zinnia untuk mengantarkan pesanan Fitri. Ia memberitahu gadis itu arah duduk pelanggannya itu. Dan Zinnia segera mengantarkan satu nampan berisi empat mangkuk bakso dulu ke mereka.


“Oh? Kak Ren?!!” Pekik Zinnia saat melihat ada Ren di antara pelanggannya. Ia terkejut namun juga senang.

__ADS_1


“Ayam cemani? Ngapain kamu disini?” Tanya Ren yang juga terkejut dengan kemunculan Zinnnia.


Di antara mereka, Navya tak kalah terkejut melihat kakaknya yang menjadi pelayan tukang bakso itu. Ia mengernyit kesal menatap kepada Zinnia. Seolah memberi kode kalau mereka tidak saling mengenal satu sama lain. Ia terlalu malu mengakui kalau gadis urakan yang sedang membagikan mangkuk bakso itu adalah kakaknya. Mau ditaruh mana mukanya di depan teman-temannya dan direktur mereka?


__ADS_2